
Menjelang pagi hari, sapaan seorang dokter membuat Emma tersadar dari lamunannya. dokter mulai memeriksa Emma dan calon bayinya.
"bagaimana kondisi saya dan bayinya, dok?" tanya Emma dengan raut wajah bahagia.
"semuanya sehat, Ibu boleh kembali nanti siang. jangan lupa sarapannya di makan dan juga vitaminnya di minum." ucap dokter dengan ramah menjelaskan kepada Emma.
"baik dok, terima kasih." ucap Emma dengan senyuman manisnya.
setelah kepergian dokter dan juga perawat. Emma segera bangun dari atas brankarnya, dia duduk termenung di sudut jendela kamar rawat inapnya. begitu banyak hal yang dia pikirkan, dia harus sanggup melewatinya saat ini.
tetapi dia belum bisa memaafkan suaminya, dia juga memikirkan calon buah hatinya yang hadir dalam kehidupannya.
Andra memberanikan dirinya masuk ke dalam kamar rawat inap istrinya. dia akan mencoba menjelaskan semuanya bahwa yang Emma lihat tidak seperti yang dia pikirkan, semuanya hanya fitnah belaka. dia mendapati istrinya sedang termenung sedih sendirian membuatnya mau tidak mau dia harus segera meluruskan permasalahan yang dia hadapi saat ini. Andra tidak mau karena masalah ini membuat kondisi Emma maupun calon bayinya dalam keadaan bahaya.
Andra mencium puncak kepala istrinya tidak lupa dia membelai lembut rambut istrinya. Andra sangat merindukan keceriaan istrinya.
"jangan bersedih kasihan anak kita, sayang." ucap Andra mencoba menghibur Emma dari kesedihannya.
Emma hanya diam tidak menanggapi perkataan suaminya, pandangannya masih tertuju ke arah luar jendela rumah sakit tempatnya di rawat. Andra berjongkok di depan Emma sambil sambil memegangi jari jemarinya penuh kehangatan. terlihat Andra menemukan gurat kekecewaan dan marah yang mendalam di mata indah milik istrinya itu.
"apa kamu tidak tidur semalaman? lihatlah mata kamu bengkak? seorang ibu hamil tidak boleh begadang, sayang." ucap Andra dengan suara lirih, dia memasang wajah sedihnya melihat kondisi Emma.
Andra hanya menghembuskan napas panjangnya.
"sayang kamu masih memikirkan perihal foto-foto itu?" tanya Andra mencoba membuka suaranya kembali, karena yang ditanya hanya bisa diam termenung.
Emma menarik napas panjangnya dan membuangnya, dia beralih memandangi suaminya yang kini berada tepat di depannya.
"sayang asal kamu tahu semua itu hanya fitnah untuk aku, semua foto yang dikirimkan kepada kamu semuanya bohong tidak ada benarnya. orang yang merencanakan semuanya hanya ingin memisahkan kita berdua. kamu harus tahu aku seorang pengusaha yang banyak sekali orang-orang yang ingin menghancurkan aku. mereka ingin sekali menghancurkan usaha-usaha aku lewat orang di dekat aku. apalagi sekarang kamu menjadi istri aku, maka semakin banyak orang ingin menghancurkan aku melalui diri kamu lewat foto-foto yang belum tentu kebenarannya." ucap Andra menjelaskan panjang lebar, dia mencoba mencairkan suasana.
"jika foto itu tidak benar, lalu apa yang aku lihat, mas?" tanya Emma dengan suara lirih dan lemah penuh penekanan, namun masih dapat di dengar jelas di telinga Andra.
__ADS_1
"kamu salah sangka, cobalah kamu lihat video ini. kamu akan tahu yang sebenarnya." ucap Andra sambil menunjuk layar ponsel miliknya kepada Emma.
Andra menyerahkan ponselnya dan menunjukkan video rekaman CCTV ruangannya kepada istrinya agar mempercayainya. hanya ini yang sanggup Andra berikan berharap istrinya percaya dan kembali ceria seperti sedia kala. jika dirinya hanya menceritakan saja tanpa menunjukkan bukti secara langsung dia yakin Emma tidak akan mudah mempercayainya.
Emma terus memperhatikan rekaman CCTV di ponsel milik suaminya. begitu terlihat jelas sebelum Emma melihat dan mendapati suaminya bersama dengan Yuna.
"sudah jelas semuanya?" tanya Andra saat melihat ekspresi wajah dari istrinya dan menyerahkan kembali ponselnya.
"bisa jelaskan hubungan kamu dengan Yuna, mas?" tanya Emma menyelidiki.
"aku akan menjelaskannya nanti, yang terpenting sekarang kamu makan dan minum vitaminnya dahulu. kasihan anak kita, ingat kamu sedang mengandung anak aku pewaris keluarga Pradipta Wijaya cucu yang di dambakan oleh kedua orang tua kita." jawab Andra mencoba menenangkan hati istrinya.
Emma menganggukkan kepalanya, dia segera mengambil makanannya. belum sempat mengambil sarapannya Andra terlebih dahulu mengambilkannya.
"biar aku suapi saja, istri aku harus banyak beristirahat. aku tidak ingin sampai kamu jatuh sakit lagi." ucap Andra sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut Emma.
Andra dengan telaten menyuapi istrinya hingga Emma sampai kenyang. tidak lupa dia juga memberikan vitamin agar diminum oleh Emma.
"tidak mas, aku sudah kenyang."jawab Emma singkat.
"beristirahatlah aku ingin mengurus administrasi sebelum kamu pulang." ucap Andra mengecup kening istrinya, dia segera keluar dari kamar rawat inap istrinya dan berjalan menuju meja administrasi rumah sakit.
siang ini Emma kembali ke apartemen bersama dengan Andra. Andra juga merencanakan semuanya untuk nantinya mereka akan menetap selama beberapa bulan lamanya hingga kandungan Emma kuat di bawa kembali menuju ke Jakarta. Andra tidak menginginkan terjadi sesuatu pada kandungan Emma begitu juga dengan keadaan Emma.
"mas, bolehkah aku jalan-jalan?" tanya Emma dengan senyumannya yang masih terlihat tipis.
"kita akan jalan-jalan jika kamu sudah benar-benar sehat. aku janji kamu ingin kemana saja akan aku turuti." ucap Andra memberikan semangat kepada istrinya agar lekas sembuh.
"aku sudah sehat, aku sudah bosan di dalam rumah terus, apalagi hanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini?" keluh Emma dengan tujuan merayu suaminya agar dia diajak jalan-jalan.
"besok kita akan keluar jalan-jalannya, kamu baru saja kembali dari rumah sakit. lebih baik sekarang beristirahat saja, ingat kata dokter jangan kecapean harus lebih banyak beristirahat. aku tidak akan membiarkan istri cantik aku ini kembali masuk ke rumah sakit. ingat ada anak aku di dalam perut kamu ini!" ucap Andra memperingati dan mengingatkan Emma terus menerus.
__ADS_1
"ya sudah janji ya, mas." ucap Emma mengalah mendengarkan nasihat suaminya.
"Iya aku janji, kamu istirahatlah aku akan ke ruang kerja aku untuk menyelesaikan pekerjaan. jika ada apa-apa panggil aku saja, tinggal tekan tombol ini sudah bisa tersambung ke ruang kerja aku." ucap Andra mengelus puncak kepala istrinya dan mengecup kening dan perut Emma.
"anak Papi sehat-sehat berada di dalam perut Mami ya, jangan nakal Papi kerja dahulu jagain Mami kamu." ucap Andra yang mencium perut Emma berulang kali.
"mas, sudah! aku geli jika terus-terusan seperti ini." protes Emma pada suaminya sambil terkekeh.
"aku sudah tidak sabar ingin mengajaknya bermain bersama, sayang. aku bahagia akhirnya aku akan menjadi seorang ayah, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." ucap Andra yang sambil berjongkok di hadapan Emma dengan senyum menawannya.
"aku juga bahagia mas, akhirnya aku mengandung. orang tua kita pasti bahagia sekali mas. astaga aku lupa memberikan kabar bahagia ini, mas. apa kita buat kejutan saja setelah pulang dari sini." tanya Emma dengan mata berbinar bahagia.
"Iya, mas juga belum memberitahu kedua orang tua kita, sayang. tapi kemungkinan kita disini akan lama. Mas, ingin jika kamu dan calon bayi kita kuat dan sudah bisa dibawa perjalanan jauh." ucap Andra memberikan penjelasan.
"Tapi -"
Emma belum sempat meneruskan perkataannya, Andra sudah mencium bibir manis istrinya.
"Mas!" pekik Emma membulatkan matanya lebar.
"makanya patuh dengan suami, jangan banyak protes. Mas ingin kamu dan calon anak kita baik-baik saja. ini hanya beberapa bulan saja, setelah itu aku janji kita akan kembali pulang ke Bali." ucap Andra menenangkan istrinya kembali.
"serius mas?" tanya Emma singkat.
"Iya tapi dengan syarat kamu tidak boleh kecapean. biar semuanya diurus oleh Vega dan adik kamu saja." ucap Andra menerangkan yang dari tadi menerangkan secara detail.
"terima kasih, mas." ucap Emma dan segera memeluk suaminya, dia bahagia akhirnya dapat kembali mengelola usahanya. usaha pertamanya dengan perjuangannya sendiri dengan perjuangan yang penuh liku, dia berhasil membuka usahanya. walaupun setelah dia menikah kebanyakan semua di handle oleh asisten dan orang kepercayaannya.
Hingga kini usaha yang didirikan Emma sudah sangat berkembang pesat, suaminya juga sudah membuatkan bangunan cafe untuk cabang kedai milik Emma selanjutnya. bahkan adiknya Emma juga turut ikut mengembangkan bisnis yang Emma bangun dari nol tersebut.
__ADS_1