
Entah kenapa dunia ini begitu sempit. Emma ingin lari dari kehidupan Andra tapi justru dia mengenal keluarganya. tidak mungkin dia ingkar akan janjinya kepada Reina dan bu Indira. baru kali ini dia menyadari bahwa nama Andra juga ada Pradipta Wijaya.
Alex hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menjawab pertanyaan Emma tadi.
"Alex apa yang akan aku lakukan nanti?" tanya Emma dia masih bingung apa yang harus dia lakukan.
"kita lihat ke depannya saja neng Emma. fokuslah untuk memulai kehidupan baru di Bali, masalah itu akan saya pikirkan nanti." jawab Alex dengan wajah datar.
waktu menunjukkan pukul 8 malam yang mana adalah jadwal keberangkatan pesawat yang di tumpangi Emma. baru kali ini dia menaiki pesawat pribadi. Emma cukup takjub akan desain dalam pesawat ini. sekarang Emma mulai berpikir bahwa Farhan bukan orang sembarangan juga. siapa sebenarnya Farhan? waktu tempuh perjalanan memakan waktu 1 jam 40 menit, lebih baik dia mengistirahatkan tubuhnya.
"neng Emma, kita sudah sampai. mari segera turun dan saya antarkan sampai tujuan." ucap Alex sambil membangunkan Emma. Emma yang merasa terusik tidurnya segera bangun.
"maaf Alex saya ketiduran." ucap Emma dan bergegas bangkit berdiri dari kursinya.
sementara di tempat lain seorang pria sedang murka, Ya dia adalah Yosandra Regan Pradipta Wijaya yang sudah mengetahui kepergian Emma. bisa-bisanya penjaga lengah mengawasi Emma. Andra memang memerintahkan penjaga di lobby bawah jika Emma keluar, tapi dia tidak menyangka bahwa Emma bisa kabur dari pengawasannya.
Arghhhh!
"harusnya aku menaruh penjaga di depan pintu." geram Andra kesal.
Andra masih memutari jalanan, dia bahkan sudah sampai di kontrakan Qonita. Andra menanyakan keberadaan Emma tapi hanya sia-sia belaka, Emma tidak berada di kontrakannya.
"Farhan, awas kamu jika kamu yang menyembunyikan Emma dari aku." gumam Andra di dalam mobilnya.
Andra sampai di cafe milik Farhan, dia mencarinya di sana bahkan mereka sampai bertengkar hebat. Andra sangat yakin jika Farhanlah yang menyembunyikan Emma hanya dia yang bisa berbuat seperti itu, Andra meminta anak buahnya untuk terus memantau Farhan.
"Emma! setelah kita bertemu nanti kamu tidak akan pernah aku lepaskan." geram Andra lagi.
malam ini untuk pertama kalinya dia merasakan begitu bebas tanpa beban, menikmati malam dengan deburan ombak dan ditemani bintang-bintang kecil di langit yang indah.
__ADS_1
"neng silahkan makan terlebih dahulu, makanan sudah siap di meja makan." ucap Alex yang mengagetkan Emma.
"hmm... baiklah kita makan bersama." ucap Emma mengajak Alex.
"maaf neng Emma itu tidak bisa, nanti saya makan sesudah neng Emma selesai." ucap Alex menolak halus.
Emma menautkan alisnya mendengar penuturan Alex.
"itu peraturan dari mana Alex? tidak ada penolakan temani aku makan malam bersama." ucap Emma marah sambil membulatkan bola matanya.
saat Alex akan protes Emma mendelikan matanya, dan seketika itu juga Alex langsung menunduk mengikuti langkah Emma menuju ruang makan.
"maaf neng Emma saya akan kembali ke villa malam ini, tapi besok pagi saya akan datang lagi menemani neng Emma selama di Bali." ucap Alex memberitahu tujuannya.
"tunggu Alex kamu kembali saja, biar aku disini. aku sudah minta dengan mas Farhan." ucap Emma memberitahu.
"maaf neng Emma, saya di suruh menemani selama 1 bulan setelah neng Emma membuka usaha dan beradaptasi saya akan kembali lagi." ucap Alex menjelaskan.
"baiklah, Alex." ucap Emma menyetujuinya.
pagi hari Emma telah bersiap menunggu kedatangan Alex. tidak lupa dia juga sudah membuat sarapan sederhana pagi ini. rencananya hari ini, dia akan meminta Alex untuk menemaninya berbelanja kebutuhan untuk isi kulkasnya.
dengan identitas nama palsu ini, Emma akan memulai kehidupan barunya. dia berharap tidak akan bertemu kembali dengan Andra sudah cukup baginya untuk merasakan sakit hatinya.
"Alex hari ini antarkan aku untuk berbelanja kebutuhan pokok, sekalian melihat-lihat barang untuk aku memulai membuka kedai dessert." ucap Emma meminta bantuan.
"baik neng Emma, mari kita berangkat." ucap Alex mengajak.
Emma ditemani oleh Alex mengelilingi pusat perbelanjaan dan masuk ke pasar tradisional juga. Emma langsung memborong berbagai perlengkapan untuk dia memulai usaha.
"maaf pak apa ruko ini di kontrakan?" tanya Emma kepada seseorang yang sedang memasang tulisan di rukonya.
"Iya kak, jika berminat silahkan melihat-lihat dalamnya ruko ini." ucap orang tersebut tersenyum ramah.
__ADS_1
Emma tertarik untuk melihat ruko tersebut, dia juga tertarik harganya tidak begitu mahal untuknya. Emma juga meminta pendapat dari Alex, dan Alex menyetujuinya. walupun Emma sudah di setujui membangun kedai di halaman rumah milik Farhan, tapi dia tidak mau terlalu bergantung dengan kebaikan Farhan. cukup baginya sudah dibantu sejauh ini.
"Neng Emma mungkin mulai saat ini saya akan memanggil dengan nona Fani saja, agar lebih terbiasa dan tidak menimbulkan Kecurigaan. mulailah dengan nama baru sesuai dengan identitas sekarang." ucap Alex mengingatkan.
"baiklah Alex, terima kasih sudah membantu aku dan mengingatkan aku." ucap Emma tersenyum.
"satu lagi nona Fani softlens jangan lupa digunakan, selalu berhati-hati jika berhubungan dengan orang-orang. pak Andra bukan orang sembarangan, saya yakin saat ini pak Andra sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari anda, dan untuk sementara waktu pak Farhan tidak akan menghubungi anda." ucap Alex panjang.
Emma mengerti akan hal tersebut, dia tidak masalah atas keputusan Farhan. yang terpenting dia juga sudah mengganti nomor ponselnya beserta ponselnya juga, karena ponsel lama Emma masih berada di tangan Andra. dia berharap semoga ini menjadi jalan terbaik untuknya.
"tapi kalau aku ingin menghubungi keluarga aku bagaimana?" tanya Emma bingung.
"mari ikut saya, kalian bisa tetap berhubungan, nona Fani." ucap Alex menjelaskan.
Emma tersenyum bahagia setidaknya dia tidak akan menjauh dari keluarganya. dia masih bisa tetap berhubungan dengan kedua orang tuanya. masalah kirim uang Emma akan membuka rekening baru.
sebenarnya dia penasaran apakah sebegitu bahayanya Andra, sampai-sampai semua harus dilakukan secara hati-hati. siapa Andra sebenarnya? itu yang ada di pikiran Emma saat ini. ingin menanyakan langsung kepada Alex tapi dia sungkan.
"Alex besok aku akan ke bank untuk membuat rekening baru dan memasukkan uangnya kesana." ucap Emma mengutarakan maksud tujuannya.
"tidak perlu nona Fani semua sudah di atur oleh pak Farhan, apa nona belum memeriksa semua dokumennya?" tanya Alex mengarahkan.
Emma menggelengkan kepalanya, dia sungguh benar-benar belum memeriksa dokumen yang diberikan oleh Alex di bandara kemarin. yang dia pikirkan hanyalah secepatnya dia meninggalkan Andra menjauhinya.
"semuanya sudah lengkap nona Fani, nona tidak perlu khawatir semuanya sudah diatur oleh pak Farhan." ucap Alex lagi.
"terima kasih Alex, jika kamu menghubungi mas Farhan tolong sampaikan terima kasih aku kepadanya." ucap Emma tersenyum lega.
"baik nona Fani." jawab Alex menyetujui.
Emma berpamitan untuk beristirahat di kamarnya, dia lelah setelah seharian pergi berbelanja. dia masih tidak menyangka bahwa dia sanggup membuka kedainya sendiri sekarang. cita-citanya sudah mulai dia dirintis dari sini, mulai dari sinilah dia akan membesarkan usahanya.
"Mama akhirnya cita-cita aku akan terwujud walau dengan semua cobaan yang aku terima saat ini. inilah akhir dari semua kesabaran aku." gumam Emma di dalam kamarnya.
__ADS_1
dikamarnya Emma memikirkan nama yang pas untuk kedai dessertnya nanti. hmm... jika Qonita tahu bahwa Emma membuka kedainya sendiri pasti sahabatnya itu akan antusias sekali. Qonitalah yang selama ini selalu mendukung dan selalu berharap agar Emma segera membuka kedai miliknya sendiri.
"Qonita aku akan membuka kedai aku sekarang, aku harap kamu bisa mengunjungi aku nanti." batin Emma, setetes air matanya terjatuh saat dia mengingat kebersamaannya dengan sahabatnya. kini dia akan melewati semuanya sendiri.