MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
KABAR KEHAMILAN EMMA


__ADS_3

Emma yang sedang beristirahat sambil menikmati suasana kota Dubai yang begitu indah di kejutkan dengan sebuah pesan masuk, dimana pesan itu berisikan gambar-gambar kemesraan seseorang yang dia sangat kenal. hati Emma terasa sesak tanpa sadar air matanya mengalir deras yang keluar dari mata indahnya saat itu juga.


Emma bergegas mengganti pakaiannya dan segera menuju lokasi dimana alamat kantor yang di tulis pada pesan tadi.


"aku harap ini hanya bohongan, mas!" batin Emma sedih, dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh lagi.


Emma juga harus berpikir positif kepada suaminya.



sesampainya di lokasi Emma segera mencari keberadaan suaminya, dia harus memastikan bahwa itu semua hanya kamuflase belaka. Emma tidak ingin hanya terjadi karena salah paham yang akan menghancurkan Pernikahannya yang baru saja dia jalani. Emma bertanya pada salah satu karyawan yang berada di sana.


setelah dia mendapatkan informasi dimana ruangan suaminya dia segera berjalan menuju ruangan kantor suaminya, terlihat suaminya sedang memimpin meeting untuk membahas proyek dengan beberapa pemegang saham. Emma menunggu sejenak hingga suaminya selesai bekerja.


sekian lama penantian Emma menunggu akhirnya rapat yang dipimpin suaminya telah selesai. terlihat semua teman-teman kolega bisnis Andra telah keluar satu persatu, dia menunggu sejenak hingga semua keluar dari ruangan suaminya.


Emma terbelalak kaget saat dia membuka pintu ruangan suaminya.



"mas Andra!" pekik Emma yang masih berdiri mematung diambang pintu dan seketika semua pandangannya gelap dan tubuh Emma terjatuh.


"Emma." pekik Andra berlari mendekati tubuh Emma yang telah pingsan di depan ruangannya.


Andra segera mengangkat tubuh istrinya sebelum dia benar-benar pergi Andra berbalik melihat ke arah Yuna.


"kalau sampai terjadi sesuatu pada Emma, kamu akan menanggungnya!" ucap Andra marah dengan suara keras menatap tajam ke arah Yuna.


Andra bergegas membawa tubuh Emma ke dalam mobil dan segera membawanya menuju ke rumah sakit terdekat. dia begitu cemas dan khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya.


"sayang bangunlah." ucap Andra pelan sambil mengusap lembut pipi Emma.


Andra menunggu di luar kamar rawat Emma dengan harap-harap cemas, dia begitu khawatir dengan keadaan istrinya. Andra sudah menduga bahwa keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi setiap Emma diajak memeriksakan dirinya dia selalu beralasan.


"awas kamu Yuna, aku akan segera membuat perhitungan setelah ini!" geram Andra sambil mengepalkan tangannya hingga kubu-kubu jarinya memutih.


Ceklek!



pintu ruang IGD pun terbuka dan nampak dokter yang memeriksa Emma keluar dari ruangan tersebut.


"bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Andra tergugup dengan suara patah-patah dan segera menghampiri dokter.

__ADS_1


"selamat pak Andra, istri anda mengandung dia pingsan karena kelelahan dan kekurangan cairan. saya harap selalu di jaga pola makan dan untuk istirahatnya, dan untuk sementara biarkan dulu istri anda dirawat semalam di rumah sakit ini, biar nanti siang dokter kandungan datang untuk pemeriksaan selanjutnya." ucap dokter tersenyum ramah.


ada rasa bahagia di hati Andra. penantiannya selama beberapa waktu akhirnya telah terwujud, dia akan menjadi seorang ayah. kabar bahagia ini akan dia sampaikan kepada keluarga besarnya.


"baik dokter, terima kasih." jawab Andra seketika perasaan gugupnya hilang berganti dengan senyum bahagia.


"sebentar lagi perawat akan memindahkannya ke ruang rawat inap. sekali lagi selamat pak Andra." ucap dokter dan setelah itu dokter segera berpamitan untuk menangani pasien lainnya.


Andra segera masuk dan berjalan menghampiri istrinya yang masih belum membuka matanya karena tidak sadarkan diri, dia berkali-kali mencium istri tercintanya.


"sayang terima kasih." ucap Andra lirih penuh kebahagiaan dan rasa syukurnya.



setelah Emma dipindahkan ruangannya Andra tetap menunggu istrinya hingga kesadarannya pulih kembali. dia tidak sabar untuk memberitahukan kebahagiaan ini kepada Emma. tidak berapa lama Emma sadar, Andra yang mengetahuinya segera menghampiri istrinya.


"sayang kamu sudah sadar?" tanya Andra sambil mengusap pipi Emma dengan lembut.


"aku dimana, mas?" tanya Emma yang baru saja sadar dari pingsannya.


"kamu tadi pingsan, sekarang kamu di rumah sakit." ucap Andra menjelaskan sangat hati-hati.


Emma terdiam sejenak mengingat-ingat kejadian sebelum dia pingsan tadi.


"stop, mas. aku ingin pulang sekarang!" ucap Emma tegas dan segera bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan mencoba melepaskan jarum infus yang setia menempel di tangannya.


"Emma, stop! apa yang kamu perbuat, kamu masih lemah!" pekik Andra mencegah Emma.


"tidak usah pedulikan keadaan aku, mas. aku baik-baik saja. lebih baik, mas urus Yuna dari pada aku." ucap Emma menahan isak tangisnya di depan suaminya.


setelah jarum infus tercabut dari kulit tangannya, segera dia berdiri dan berjalan menuju keluar, walau darah masih menetes keluar dari tangannya akibat cabutan paksa dirinya. Emma tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya, dia hanya ingin segera pergi dan menjauh dari suaminya. suami yang dia nikahi selama sebulan lebih lamanya.


"Hei! Emma!" teriak Andra mengejar istrinya dan mengurung istrinya di dinding dengan kedua lengan kekarnya.


"semua salah paham, itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan, sayang." ucap Andra berusaha menyakinkan Emma.


"tidak usah mengelak lagi, mas. aku sudah punya banyak buktinya!" ucap Emma dengan suara lirih, namun terdengar ketus.


"bukti apa maksud kamu, sayang." tanya Andra mengeryitkan keningnya.


Emma segera mendorong tubuh Andra dan mengeluarkan ponsel genggamnya. dia membuka pesan yang di tujukan kepadanya.


"ini apa? ini jelas-jelas kamu, mas! masih mau mengelak lagi!" ucap Emma dengan kesal.

__ADS_1


Andra segera mengambil ponsel milik Emma dan melihat secara jelas, dia begitu kaget akan berbagai gambar potret dirinya bersama Yuna. foto-foto itu terlihat begitu dekat tapi sebenarnya tidak.


Andra mulai paham sekarang, kenapa istrinya bisa saja tiba di tempatnya bekerja padahal dia sendiri belum memberitahu kepada Emma alamat kantornya.


"aku bisa jelaskan semuanya, lebih baik kamu istirahat sayang." ucap Andra yang mulai khawatir akan keadaan Emma saat ini.


"apa yang perlu dijelaskan, semua sudah terbukti? semua sudah jelas siapa yang ada di dalam foto itu dan satu lagi aku juga sudah melihatnya secara langsung dengan kedua mata aku!" ucap Emma dengan suara bergetar menahan tangisnya.


air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi cantik Emma, dia tidak sanggup lagi menahan aliran air matanya yang sejak dari tadi dia tahan. air matanya terus mendesaknya untuk keluar dari kedua matanya. tiba-tiba saat akan berbalik meninggalkan Andra seketika Emma merasakan kram di perutnya.


"Awww." pekik Emma seketika dia memegangi perutnya.


Andra yang melihat istrinya kesakitan langsung berlari menghampiri dan menggendong istrinya untuk di baringkan di brankar, segera dia memencet tombol bel yang berada di dekat ranjang Emma agar dokter masuk dan memeriksa istrinya.


"tolong periksa istri saya, dok?" ucap Andra saat melihat dokter masuk ke dalam kamar rawat inap milik istrinya.


dokter pun kembali memeriksa Emma, perawat juga memasang kembali infus yang sempat dia lepas secara paksa tadi.


"Ibu Emma, anda harus beristirahat walaupun sebentar. jangan melakukan sesuatu hal yang secara mendadak, ibu Emma sedang hamil usia kandungannya masih sangat rentan baru 2 minggu." ucap dokter yang memeriksanya.


Emma membulatkan matanya sempurna, dia tidak menyangka akan secepat ini mengandung.


"pak Andra, tolong jaga istri anda. jaga emosinya, kondisi kandungannya masih sangat rentan." ucap dokter yang segera pamit untuk keluar dari ruangan rawat inap Emma.


"baik dok! terima kasih." ucap Andra tersenyum lebar.


setelah kepergian dokter dan juga perawat Andra kembali menghampiri Emma.


"stop! aku minta mas, keluar juga dari ruangan ini! aku ingin istirahat dan menenangkan pikiran aku. keluar, mas!" pekik Emma dari atas brankarnya.


Andra tidak mempunyai pilihan lain lagi, dia bergegas segera keluar dari kamar rawat inap istrinya. Andra tidak mau sampai terjadi sesuatu pada kandungan Emma. untuk sementara dia akan mengalah demi kebaikan istrinya dan juga calon bayinya.


Andra menunggu Emma di depan kamar rawatnya, dia masih saja terus memikirkan siapa yang mengambil gambar-gambarnya dengan Yuna dan mengirimkannya kepada Emma. hanya satu yang terbesit di pikirannya saat ini pasti ini perbuatan rencana Yuna hanya dia yang terobsesi dengan dirinya sejak dahulu.


"cepat selidiki nomor yang aku kirimkan kepada kamu, lalu awasi pergerakan wanita yang aku kirim gambar fotonya!" ucap Andra tegas dari seberang telponnya.


tanpa menunggu jawaban dari seberang telponnya dia segera mematikan sambungan ponselnya dan segera mengirim foto Yuna kepada orang yang dihubunginya barusan.


"lihat saja, jika ini semua perbuatan kamu. kamu akan menanggung akibatnya, Yuna!" geram Andra dengan suara lirih, dia menahan emosinya sekuat mungkin.


sedangkan di dalam kamar rawat inap Emma merenungi semua kejadian yang hari ini dia lalui. apalagi sekarang dia sedang mengandung buah hatinya dari Andra. namun, di sisi lain di lubuk hatinya yang terdalam dia ingin menyerah jika melihat sifat suaminya tidak berubah sama sekali. masih tetap sama seperti saat dia masih single. pikirannya kembali ke masa-masa indah saat awal-awal mengenal dan mengetahui sifat suaminya saat itu.


"apa yang harus aku lakukan?" ucap Emma berpikir merenungi setiap kejadian saat ini.

__ADS_1


__ADS_2