
"mas Andra, setelah ini bolehkah aku kembali lagi ke sana, aku tidak bisa melepaskan tanggung jawab aku begitu saja." ucap Emma meminta.
"kamu istirahat saja dahulu Emma! jangan banyak membantah aku, kalau kamu mau tetap bekerja." ucap Andra tegas.
Emma hanya menghela napasnya saja, jika Andra telah mengancam sedemikian rupa dia sudah tidak berani berkutik apa-apa lagi. selesai dengan makanannya kini Emma segera mandi. sedangkan Andra masih tetap fokus di atas ranjang dengan laptopnya.
"Emma nanti malam jam 8 kita akan makan malam bersama, jadi kamu kembali sebelum jam delapan." ucap Andra mengingatkan.
"Iya mas, Reina juga sudah mengirim pesan kepada aku." jawab Emma singkat.
sementara dikediaman keluarga Pradipta Wijaya kedatangan tamu wanita, yang mereka sudah tidak asing lagi. katakanlah mereka sudah sangat mengenalnya.
"sore tante Indira, apa kabar?" sapa Yuna dikediaman keluarga Pradipta Wijaya.
"baik Yuna, kamu sendiri bagaimana?" tanya Indira tersenyum ramah.
"baik juga tante, ini Yuna bawakan oleh-oleh dari Singapore." ucap Yuna sambil menyerahkan beberapa paperbag yang dia bawa kepada Indira.
"terima kasih Yuna, kamu baik sekali." ucap Indira dengan senyuman lebar.
"tante Indira, Andra kemana?" tanya Yuna tiba-tiba.
"ada kamu disini Yuna? sudah dari tadi?" tanya Yoga Pradipta Wijaya yang tiba-tiba masuk dari halaman belakang.
"barusan om, baru semalam juga aku sampai di Jakarta." ucap Yuna memberitahu.
Indira bernapas lega akan kehadiran suaminya, dia lupa bahwa pernah akan menjodohkan Andra dengan Yuna. namun, sekarang Andra telah mendapatkan kekasih dari pilihannya sendirinya.
__ADS_1
"Yuna, bagaimana dengan kabar kedua orang tua kamu?" tanya Yoga Pradipta Wijaya lagi.
"semuanya sehat om, lagi pula mereka sudah berada di Jakarta." ucap Yuna menjelaskan.
"nanti malam ajaklah mereka makan malam bersama kami, datanglah ke hotel Azura dekat lokasi gedung pernikahan Reina dan Sony." ucap Yoga Pradipta Wijaya mengundang makan malam untuk kedua orang tua Yuna.
Yuna yang mendengar ajakan makan malam dari Yoga Pradipta Wijaya tersenyum bahagia. itu artinya dia bisa berjumpa dengan Andra. ini adalah kesempatan bagus untuknya kembali mendekati Andra dan mendapatkannya.
"baik om, nanti aku sampaikan kepada Mami dan Papi. Yuna pulang terlebih dahulu." pamit Yuna bergegas pergi meninggalkan rumah Pradipta Wijaya.
Yuna kembali ke rumahnya, dia bersiap-siap untuk menemui Andra. sedangkan di kediaman Pradipta Wijaya Mami Indira masih kebingungan perihal kehadiran Yuna.
"Papi, Yuna kok diundang makan malam bersama sih? bukannya nanti ada Emma juga." tanya Indira menegur Yoga Pradipta Wijaya suaminya.
"Hendro itu sahabat Papi juga Mami. jadi apa salahnya Papi mengundangnya turut serta dalam acara makan malam ini?" tanya Yoga balik.
"itulah sebabnya kenapa Papi tidak pernah setuju jika Mami, suka menjodohkan anak kita. asal Mami tahu saja bahwa Yuna sebenarnya menyukai Andra sejak dahulu. otomatis jika Mami menjodohkan dengan Yuna dia akan menerima dengan senang hati, maka dari itu biar semuanya jelas Papi sengaja mengundang mereka untuk makan malam bersama sekalian untuk mengenalkan Emma." ucap Yoga menjelaskan, sebenarnya dia sudah mengetahui siapa Yuna. maka dari itu dia secara terang-terangan menolak Yuna menjadi istri anaknya.
"Ya sudah, biarlah kita fokus pada pernikahan Sony besok dan setelah itu kita harus mengurus pernikahan Andra. Mami tidak lupa bukan? kalau sebentar lagi anak kita meminta untuk melamar Emma." ucap Yoga mengingatkan.
"Mami tidak akan lupa kalau perihal itu, Mami sudah menyiapkan semuanya untuk Andra." ucap Indira tersenyum bahagia.
"bersiaplah sebentar lagi kita harus berangkat." ucap Yoga kepada istrinya.
malam hari telah tiba, semua keluarga Pradipta Wijaya sudah berkumpul tidak ketinggalan keluarga Yuna juga turut hadir di acara makan malam tersebut. binar kebahagiaan terpancar di wajah Yuna. dia tidak sabar untuk menunggu kehadiran pria yang dia cintai. setelah menghilang beberapa saat akan kesibukan pekerjaannya, malam ini dia akan mencoba kembali mendekati Andra.
"kamu semakin cantik Emma." puji Andra saat melihat Emma tengah selesai dengan riasan diwajahnya. Emma tersipu malu akan pujian tersebut.
__ADS_1
"sudah, ayo segera turun mas. semuanya pasti sudah berkumpul hanya kita yang belum turun." ajak Emma karena tidak enak hati dengan keluarga Andra.
Emma dan Andra turun ke bawah menuju ke tempat dimana acara makan malam diadakan. Andra terus menggandeng tangan Emma hingga ke dalam ruang VIP. seketika mata Andra menangkap sosok wanita yang sangat dia hindari berada di tengah-tengah keluarganya.
Andra berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut, dia tidak menghiraukan panggilan Maminya. Emma yang tidak mengerti apa-apa hanya mengikuti langkah Andra.
"mas, kita tidak jadi masuk? Mami memanggil kita." tanya Emma bingung.
Andra enggan menjawab pertanyaan Emma, dia terus melangkah menuju parkiran dimana mobilnya berada.
"kita mau kemana mas?" tanya Emma kembali, dia masih belum mengerti mengapa Andra memilih keluar dari ruangan tersebut. lagi dan lagi Andra tidak menjawab pertanyaan Emma. dia fokus pada jalanan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
"kita dinner berdua saja." ucap Andra yang telah masuk ke dalam restoran tersebut. Emma hanya mengangguk dan mengikuti Andra.
begitu sampai di sebuah meja yang mereka pilih, Emma ingin mengajukan pertanyaan kembali tapi dia merasa Andra tidak akan menjawabnya, lebih baik diam hingga moodnya membaik. dia sudah mulai cukup tahu bagaimana sikap Andra.
Pagi-pagi sekali Emma telah sibuk mengerjakan dessert-dessert untuk hidangan nanti malam. dessert yang Emma buat tidak main-main 8000 pack dessert. ini adalah hal pertama kali yang dia handle. Emma bersyukur berkat bantuan dari Andra dia tidak terlalu mengkhawatirkan pekerjaannya sebab Andra telah menyiapkan team yang begitu handal. Emma perkirakan team yang membantunya adalah karyawan hotel milik Andra.
hingga pukul 4 sore, Emma masih sibuk dengan pekerjaannya bahkan makan siangnya pun juga terlewatkan begitu saja. Vega, sudah berkali-kali meminta agar Emma beristirahat sebentar tapi tetap saja tidak dihiraukan sama sekali oleh Emma.
"nona Emma sebaiknya beristirahatlah sebentar, makan siang yang dikirim oleh pak Andra sebaiknya dimakan dahulu." ucap Vega mengingatkan.
"Vega nanti saja makannya, aku belum bisa meninggalkan pekerjaan ini." ucap Emma yang sibuk meracik dessertnya.
"tapi jika pak Andra kemari bagaimana?" tanya Vega khawatir.
"sudah tidak apa-apa, waktu kita tidak banyak Vega." jawab Emma lagi.
__ADS_1
Vega hanya membuang napasnya, dia bingung bagaimana cara menyuruh Emma untuk beristirahat dan makan siang.
"Emma! apa pekerjaan kamu belum selesai juga, ini sudah siang?" tanya Andra yang menghampiri Emma di tempat kerjanya. Andra sebenarnya sudah menunggu sejak tadi di dalam kamar tapi sampai siang yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.