MENIKAHI PRIA ANGKUH

MENIKAHI PRIA ANGKUH
IDE UNTUK EMMA


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Andra, dia telah selesai mengantri obat dan segera menemui dua bidadari hatinya yang sedang menunggu dirinya di taman rumah sakit. Andra juga telah membawa vitamin yang diresepkan oleh dokter Aluna untuk istri tercintanya.


"Mami, Emma ayo kita pulang. obatnya sudah aku ambil semuanya." ajak Andra yang sudah sampai dihadapan Mami dan istrinya.


"Iya mas, ini juga sudah sore. bagaimana kalau kita makan dahulu." ucap Emma memberikan saran.


"boleh, kita makan di restoran bintang terang saja. Papi kamu juga masih ada di sana." ucap Indira menyetujui saran dari Emma.


Andra melajukan mobilnya menuju restoran bintang terang, restoran milik keluarga Pradipta Wijaya dimana restoran itu nantinya akan diserahkan kepada Emma.


kurang lebih 30 menit Andra baru sampai di restoran bintang terang, dia segera memarkirkan mobilnya di parkiran restoran. Emma dan Indira berjalan terlebih dahulu, Andra mengikutinya dibelakang mereka.


"sayang hati-hati jalannya." ucap Andra mengingatkan Emma.


"Iya mas, aku pelan-pelan jalannya. aku hamil mas bukan sakit." ucap Emma mengeluh kesal.


Indira yang mendengar perkataan Andra yang terlewat posesif hanya tersenyum. wajar jika Andra begitu posesif terhadap istrinya yang tengah hamil. ini pengalaman pertama bagi Andra sama seperti suaminya dahulu waktu dia hamil Andra. Papinya juga begitu amat posesif bahkan untuk jalan saja Indira tidak diperbolehkan, sehingga kemana-mana harus menggunakan kursi roda.


"kenapa Mami tertawa begitu?" tanya Andra mengeryitkan keningnya dia heran melihat Maminya senyum-senyum sendiri.


"kamu itu seperti Papi kamu, Ndra. waktu Mami hamil kamu, Papi kamu ya seperti kamu tingkahnya. kita hanya hamil tapi diperlakukan seperti orang sakit. bahkan Mami dahulu tidak diperbolehkan untuk jalan, kemana-mana harus menggunakan kursi roda." ucap Indira bercerita tentang kenangan masa mudanya saat pertama kali hamil Andra.


"sungguh, Mami?" tanya Emma yang penasaran.


"Iya Emma, Mami harus tetap di rumah jika Mami bosan Papi meminta asistennya untuk menggantikannya. Papi kamu akan menemani Mami jalan-jalan kemana saja sambil mendorong kursi roda untuk Mami." ucap Indira bercerita panjang mengenang masa mudanya dahulu saat hamil putranya yaitu Andra.


"tapi ide Papi ada benarnya juga, sayang. kehamilan kamu semakin hari semakin membesar, anak kita pasti tambah gemuk jadi gak ada salahnya jika sementara waktu untuk menggunakan kursi roda." ucap Andra santai sambil tersenyum menawan.


"astaga mas, aku gak mau. lagi pula aku keluar juga jarang hanya diam di rumah saja. dirumah pun sudah mas fasilitasi dengan lift, jadi gak ada masalah apapun. lagi pula ada Vega yang siap sedia setiap aku membutuhkan sesuatu." ucap Emma sambil memutar bola matanya malas.


"hmm... sepertinya baru seru, lagi pada mengobrol apa sih?" tanya Yoga Pradipta Wijaya sambil melirik ke arah Emma dan Andra yang kini sudah ikut bergabung di meja yang sudah mereka pesan.

__ADS_1


"Papi seberapa khawatirnya Papi waktu hamil Andra?" tanya Andra penasaran.


"hmm... Papi selalu khawatir, Ndra. setiap Papi ke kantor tidak tenang rasanya meninggalkan Mami kamu apalagi sewaktu Mami kamu hamil tua. Papi memilih bekerja dari rumah, ke kantor jika hanya ada rapat penting saja. selebihnya hanya diwakilkan oleh asisten Papi, bahkan Papi akan setia mendorong kursi roda untuk Mami kamu walau hanya ke taman Papi akan mengikutinya. Papi khawatir jika Mami kamu dengan perut besarnya berjalan dan terjatuh. Papi gak bisa membayangkan itu semua, jadi Papi memilih alternatif untuk Mami kamu bisa menikmati suasana diluar rumah." ucap Yoga Pradipta Wijaya panjang lebar menceritakan masa mudanya kepada putra tunggalnya.


"Ide Papi bagus juga sepertinya aku harus mencari kursi roda juga, nanti biar Rayken yang mencarikannya biar langsung dikirim ke rumah. aku juga khawatir jika terjadi sesuatu dengan Emma dan anak aku." ucap Andra tersenyum lebar.


Emma membulatkan matanya, dia terkejut dengan pemikiran Andra. dia hamil dan justru malah bagus bagi ibu hamil untuk jalan-jalan agar saat persalinan berjalan lancar, bukan malah harus selalu duduk manis di kursi roda.


"Mas." pekik Emma sambil mengerucutkan bibirnya tanda dia tidak menyetujui ide Andra.


selesai makan siang bersama, kini Andra dan Emma kembali ke rumahnya. sedangkan Indira dan Yoga Pradipta Wijaya memilih untuk tetap berada di restorannya karena akan ada rapat dengan para staff restoran bintang terang.


Emma masih kesal dengan suaminya lantaran ide dari Papinya dahulu akan ditiru oleh Andra, bahkan dengan terang-terangan tadi dia juga sudah menghubungi Rayken untuk mencarikan kursi roda.


"sayang kenapa kamu masih cemberut seperti itu? ibu hamil harus banyak tersenyum. hei anak Papi bujuk Mami kamu agar tidak marah dari tadi Mami kamu cemberut terus." ucap Andra sambil mengusap perut istrinya mengajak berbicara calon anaknya.


Emma masih tidak merespon akan perkataan Andra, dia hanya diam memandang jalanan yang padat di sore hari.




"...."



"baiklah aku juga hampir sampai, kamu tunggulah dahulu di sana." balas Andra kepada orang yang berada di seberang telponnya.


setelah mengatakan itu Andra segera mematikan panggilan telponnya, dia fokus pada jalanan tidak sampai 10 menit Andra dan Emma telah tiba di halaman rumahnya. disana sudah terparkir mobil berwarna putih.


"ayo sayang, kita segera masuk. kamu segeralah istirahat." ucap Andra sambil menggandeng tangan Emma.

__ADS_1


Emma tetap diam tanpa mengeluarkan suaranya, dia akan menghubungi dokter Aluna dan ingin berkonsultasi secara langsung. semoga setelah mendengar penjelasan dokter Aluna, suaminya bisa mengerti.



di dalam rumah sudah ada Rayken yang menunggu Andra. Andra menyambut kedatangan Rayken dengan senyuman senang.



"selamat datang di rumah aku, Rayken. tunggu aku di ruang kerja, aku akan mengantarkan istri aku ke lantai atas dahulu." ucap Andra sambil menggenggam tangan Emma dan berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"baiklah, Ndra. aku masuk ke ruangan kamu." jawab Rayken dan segera merapikan berkas-berkas kantor yang berserakan di meja.


Andra mengajak Emma untuk naik ke atas dimana letak kamarnya berada. Emma segera meletakkan tas dan juga mengambil sandal di kamar, setelah itu dia bergegas membersihkan tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.


"sayang aku turun sebentar, setelah ini jangan lupa minum vitaminnya." ucap Andra sambil mencium kening istrinya.


"Iya mas." jawab Emma singkat, dia tidak mempermasalahkan perhatian posesifnya Andra. Yang menjadi permasalahan bagi Emma karena mengikuti perkataan Papi mertuanya.


selesai membersihkan badannya dan berganti pakaian, Emma naik ke atas ranjangnya. dia ingin beristirahat sejenak karena merasa lelah. kehamilannya semakin membesar membuatnya mudah lelah. Emma meraih kantong plastik yang suaminya letakkan di nakas samping tempat tidurnya, dia segera meminum vitaminnya dan segera merebahkan dirinya.



sementara di tempat lain Andra dan Rayken sedang membahas pekerjaan, tidak lupa dia menanyakan pesanannya.


"Rayken bagaimana pesanan aku, apa sudah ada?" tanya Andra antusias, dia tidak akan bisa berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan kantornya jika pesanannya tidak bisa didapatkan.


"sudah, Ndra! memang untuk apa kursi roda itu, apa om dan tante sedang sakit?" tanya Rayken mengerutkan keningnya tanda penasaran.


"bukan, mereka masih sehat-sehat semuanya. itu untuk istri aku dia sedang hamil, makanya aku belikan kursi roda agar memudahkan dia beraktivitas. kasihan dia sedang hamil besar, aku juga khawatir jika dia sedang jalan-jalan terus tersandung atau terpeleset bukannya itu membahayakan dirinya dan juga calon anak aku. aku ingin membuat mereka nyaman dan aman saja." ucap Andra menjelaskan panjang lebar dengan santai di hadapan asistennya.


"astaga Andra, aku kira ada yang sakit dan harus menggunakan kursi roda. bukannya ibu hamil harus banyak jalan, ya?" jawab Rayken sambil terkekeh, dia menertawakan bosnya yang terkadang melebih-lebihkan.

__ADS_1


"aku tidak mau ambil resiko, Ray. ini menyangkut hidup aku dan buah hati aku. aku sudah sangat sulit untuk mendapatkan hati Emma jadi aku tidak ingin kehilangannya dan membuatnya berada dalam bahaya." jawab Andra lagi dengan tatapan mata tajam ke arah Rayken.


__ADS_2