
Tibalah mereka pada sebuah restoran, suasana tempat itu sangatlah romantis. Emma yang baru pertama kali menikmati malam seperti ini hanya bisa diam dan takjub. Andra sungguh-sungguh berubah menjadi pria yang sangat romantis. hal inilah yang membuat bimbang hati, Emma.
"bagaimana Emma, apa kamu menyukainya?" tanya Andra dengan tersenyum manis.
"Iya mas, aku menyukainya sungguh ini adalah hal yang pertama kalinya untuk aku. terima kasih, mas Andra." ucap Emma menganggukkan kepalanya.
"baiklah kalau begitu aku akan sering mengajak kamu untuk makan malam seperti ini lagi nanti." ucap Andra bahagia mendengar jawaban Emma.
"hmm... maksud aku-"
"tidak ada penolakan, Emma!" ucap Andra yang memotong pembicaraan Emma sambil menutup mulut Emma dengan tangannya.
"diamlah dan jangan membantah." ucap Andra menatap tajam.
Andra berdiri dari tempat duduknya dan mengitari meja lalu berlutut di depan Emma, dia sambil mengeluarkan cincin yang sangat cantik. Emma sungguh terkejut akan hal yang dilakukan oleh Andra. Andra menyematkan cincin berlambang hati dijari manis, Emma. tidak hanya itu saja Andra juga memakaikan kalung dengan liontin berbentuk hati yang sangat cantik senada dengan cincin yang dia sematkan barusan.
"jangan lepaskan cincin ini, bulan depan selepas pernikahan Sony kita akan bertemu dengan keluarga kamu. aku berjanji." ucap Andra tersenyum sambil mengecup punggung tangan Emma.
Emma terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, dia masih mencerna kejadian barusan, apakah ini hanya mimpi? lamunannya seketika buyar saat dia diajak berdansa oleh Andra. Emma baru menyadari bahwa ada musik di tempat tersebut. seingatnya tadi saat makan malam hanya terdengar deburan ombak saja.
disela-sela mereka berdansa Emma memandang wajah Andra dengan seksama, wajah yang penuh kharismatik.
"ada apa kamu memandangi wajah aku seperti ini Emma?" tanya Andra bingung, dia heran melihat sikap Emma malam ini.
"hmm... maaf mas." ucap Emma kaget mengerjapkan kedua matanya, lalu menunduk dan berusaha melepaskan pelukan hangat dari Andra.
"maaf mas, ini terlalu cepat untuk aku." ucap Emma sambil terus menundukkan kepalanya.
"Ya sudah kita pulang saja, kamu kecapaian bukan?" ucap Andra yang tetap menggandeng tangan Emma, sesuai perkataannya dia tidak akan melepaskan Emma barang sedetikpun.
Emma terus memandangi jari manisnya, kini dijari tersebut terpasang satu cincin yang sangat indah. cincin yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Andra mengantarkan Emma hingga di dalam kamarnya. kamar ini memang di desain khusus oleh Andra untuk Emma.
"beristirahatlah besok masih ada hari yang panjang." ucap Andra sambil mengelus puncak kepala Emma.
"Iya terima kasih mas." ucap Emma tersenyum manis.
"apakah itu beneran mas Andra? tadi pagi dia begitu mengerikan sekali dan malam ini dia berubah dalam sekejap, apakah itu cara dia menaklukkan wanita-wanitanya terdahulu? bila mengingat kembali foto-foto itu dan pengakuannya membuat aku bimbang, apakah dia sudah benar-benar berubah atau tidak? apakah dia benar mencintai aku? tapi cincin ini?" gumam Emma didepan meja riasnya dan terus memandangi cincin yang telah melingkar di jarinya.
__ADS_1
pagi hari seperti janji Andra semalam, kini Emma sudah berada di kedai miliknya bersiap untuk kembali membuka kedainya.
"mas Andra-"
"Iya bekerjalah sebelum kamu menjadi istri aku. ingat jangan pergi kemana-mana sebelum aku menjemput kamu." ucap Andra lagi dan lagi memotong perkataan gadis pujaan hatinya.
"terima kasih mas." ucap Emma sambil membuka pintu mobilnya.
Emma segera turun dari mobil yang dikendarai Andra. Andra langsung meninggalkan Emma dikedainya bersama asistennya yang telah menunggu Emma di dalam kedai.
tidak hanya Vega asistennya yang ada di kedai, tapi ada 2 orang pria bertubuh kekar di depan kedainya.
"Vega mereka semua juga anak buah mas Andra?" tanya Emma penasaran.
"Iya nona Emma." jawab Vega mengangguk tanda mengiyakan.
mendengar penuturan Vega, Emma hanya menghela napas panjang. dia tidak mengira bahwa Andra akan melakukan sejauh ini.
"Ya sudah aku kebelakang dahulu Vega." pamit Emma beranjak pergi meninggalkan Vega sendirian.
Emma dibantu oleh karyawannya dan juga Vega untuk membuat beberapa dessert box, aneka kue dan pastry untuk kedainya. saat sedang melayani pelanggan yang berkunjung di kedainya Emma dikagetkan dengan suara yang memanggilnya.
"nona Fani." pekik pria tersebut memanggil.
"Iya nona Fani, nona tidak ada di rumah dan juga tidak dapat di hubungi maka dari itu pak Farhan meminta saya untuk datang kemari." ucap Alex menjelaskan.
"maaf Alex masalahnya aku tidak tahu dimana ponsel aku berada." ucap Emma singkat.
"tidak apa nona Fani, tapi kalau boleh tahu nona kemana? semalam saya sampai di sini tapi rumah itu kosong, dan kemarin anak buah saya yang bertugas mengantarkan ke bandara katanya tidak berjumpa maupun mengantarkan nona Fani ke bandara langsung." ucap Alex panjang.
"maaf Alex, aku datang ke Bali dengan mas Andra. penyamaran aku sudah terbongkar maka dari itu sekarang aku tinggal di rumahnya." ucap Emma lagi.
Alex yang mendengar itu menegang berarti kemarin semuanya adalah rencana Andra. harusnya yang menangani ke rumah itu bukan Emma langsung. semua usaha yang dilakukan oleh Farhan menjadi sia-sia, kini Emma kembali menjadi tawanan Andra.
"maaf nona Fani, mas Andra ingin berbicara dengan anda." ucap Vega yang menghampiri meja dimana Emma dan Alex sedang mengobrol.
"maaf Alex, aku tinggal sebentar." pamit Emma beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
Emma meninggalkan Alex yang masih bingung tentang kejadian barusan.
"apa Emma sudah menikah dengan Andra? aku harus mencari tahu segera." gumam Alex sambil terus menatap Emma dari kejauhan.
__ADS_1
Alex segera menghubungi Farhan dan menceritakan semua yang dia ketahui barusan.
"ada apa Alex, Emma sudah ketemu?" tanya Farhan dari balik telpon genggamnya.
"itu yang ingin saya sampaikan pak Farhan. maaf mungkin ini berita yang mengejutkan bagi anda, saat ini Emma masih membuka kedainya tapi-" ucap Alex menggantungkan kalimatnya.
"tapi kenapa Alex?" tanya Farhan tidak sabar.
"maafkan saya pak Farhan, saat ini nona Emma berada dalam pengawasan pak Andra, dia tidak mengatakan bahwa pak Andra sudah mengetahui penyamarannya dan nona Emma sekarang tinggal di rumah milik pak Andra, entah mungkin kekacauan kemarin itu penyebabnya.
"kenapa bisa seperti itu, kamu awasi terus Emma." ucap Farhan memutuskan sambungan telponnya sepihak.
Panggilan pun berakhir Emma menghampiri Alex kembali. Alex sangat beruntung sudah mematikan ponselnya sebelum Emma mengetahui bahwa dia barusan menghubungi Farhan.
"maaf Alex lama menunggu." ucap Emma yang sudah berdiri di hadapannya.
"tidak apa nona Fani." ucap Alex tersenyum matanya mengarah pada jari Emma yang kini terdapat sebuah cincin di jari manisnya.
"maaf nona Fani apa ada sesuatu maksud saya ada yang bisa saya bantu?" tanya Alex dengan penuh kehati-hatian.
"sepertinya untuk saat ini tidak ada Alex, biarkanlah berjalan seperti ini saja dahulu." ucap Emma membuang napas panjangnya.
"baiklah nona Fani, jika nona membutuhkan bantuan saya. segera hubungi saya. saya akan siap membantu nona." ucap Alex tersenyum lebar.
"terima kasih Alex, terima kasih kamu selalu membantu aku selama ini. maaf jika aku merepotkan kamu biarkan untuk sementara ini Alex. sampaikan permintaan maaf aku dan rasa terima kasih aku untuk mas Farhan." ucap Emma menitipkan pesan.
"baik nona Fani nanti saya sampaikan, kalau begitu saya izin pergi dahulu." pamit Alex bergegas pergi meninggalkan Emma.
setelah kepergian Alex Emma masih berdiam diri di kursinya dia masih memikirkan nasibnya kedepan.
"apakah aku akan menjadi istri mas Andra?" gumam Emma lirih.
Emma tidak mengira akan menjadi seperti ini jadinya, bagaimana jika semua menjadi kenyataan. apakah hidupnya akan lebih bahagia dari sekarang?
"nona Emma, maaf dessertnya semua sudah habis terjual apa akan membuatnya lagi atau menutupnya saja." tanya Vega asisten pribadi Emma.
"lebih baik tutup saja Vega kita buka besok pagi lagi, aku ingin istirahat." ucap Emma dengan suara lirih.
"baik nona Emma saya akan membereskan semuanya." ucap Vega setelahnya dia meninggalkan Emma yang masih termenung.
Vega telah memberitahukan kepada Andra bahwa kedai milik Emma telah tutup lebih cepat.
__ADS_1
Andra yang menerima laporan itu segera menuju lokasi dimana Emma kini berada. dia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. secepat mungkin dia mengendarai mobilnya. bertepatan dengan Emma yang keluar dari kedai miliknya. mobil milik Andra telah sampai di parkiran depan kedai.