
Malam harinya Emma menyempatkan diri untuk bertemu dengan Farhan, dia juga mengajak sahabatnya Qonita sudah lama dia tidak bertemu ada rasa rindu terhadap sahabatnya. saat Emma menghubungi Qonita dan mengatakan bahwa dia telah membuka kedai sendiri di Bali dia sangat bahagia.
"mas Farhan, Qonita." sapa Emma yang baru sampai di restoran cerry.
Qonita yang melihat penampilan sahabatnya berubah terkejut, dia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan melakukan sampai sejauh ini. Qonita menangis haru dia menghambur ke pelukan sahabatnya itu.
"apa kabar kamu Emma, aku merindukan kamu." ucap Qonita disela-sela tangisnya.
"aku baik Qonita kamu bagaimana?" tanya Emma antusias tersenyum lebar.
"aku juga baik Emma." ucap Qonita sambil menghapus jejak air matanya.
"hmm... lebih baik kalian duduk." ucap Farhan yang melihat kedua wanita itu terus berpelukan.
"maaf mas Farhan kami terbawa suasana." ucap Emma terkekeh sambil duduk di sebelah Farhan yang diikuti oleh Qonita.
"baiklah kita nikmati suasana malam ini selagi Fani ada di Jakarta." ucap Farhan senang.
"Iya pak karena sebentar lagi nona Fani akan pulang kembali ke asalnya." gurau Qonita.
"apa sih Qonita, aku disana mengurus kedai kecil aku. besok kalian datanglah ke sana." ucap Emma menawarkan.
kesana itu membutuhkan uang banyak Emma, aku hanya menunggu kamu saja pulang ke Jakarta." ucap Qonita menjelaskan.
Farhan dan Emma tertawa melihat raut wajah Qonita. Emma tahu biaya untuk ke Bali tidak murah, dia juga dahulunya mengalami kesulitan untuk sekedar pulang ke kampung halamannya. dia mulai bisa memulai buka usahanya karena bantuan dari Farhan.
"tenang saja bulan depan aku kembali ke Jakarta. aku ada pekerjaan disini." ucap Emma memberitahu.
"sekarang kamu benar-benar menjadi pastry chef Emma." ucap Qonita dengan senyumnya.
"Emma bagaimana tadi?" tanya Farhan yang penasaran tentang pertemuannya dengan keluarga Pradipta Wijaya.
aku sebenarnya takut mas, apalagi mas Andra juga berada di rumah tersebut. dia sepertinya mencurigai aku tapi entahlah." keluh Emma seketika.
"kamu harus waspada Emma, besok pagi kamu sudah memesan tiket kembali." ucap Farhan mengingatkan.
"sudah mas Farhan semuanya sudah diurus oleh Alex." ucap Emma dengan senyuman.
__ADS_1
pertemuan mereka akhirnya berakhir, kini Emma kembali kepenginapannya. esok pagi dia akan kembali lagi ke Bali, guna mengurus kedai yang dia rintis.
Alarm membangunkan Emma yang masih bergumul dengan selimut, dia segera mandi dan bersiap. pesawat hari ini akan berangkat pukul 9 pagi. Alex semalam juga mengabari bahwa dia tidak bisa mengantar Emma ke bandara karena ada urusan penting di perusahaan Farhan. yang akan menggantikan Alex adalah anak buahnya.
Emma yang tidak tahu menahu permasalahan perusahaan milik Farhan. dia hanya menurut saja apa kata Alex dan Farhan. karena menurut Emma Farhan dan Alex adalah orang yang bisa dipercaya akan melakukan apapun yang terbaik untuknya.
Tok! tok! tok!
Emma yang tidak merasa aneh segera membuka pintu kamarnya. ter tampak seorang staff membawakan sarapan untuknya.
"sarapannya, nona?" ucap staff tersebut.
"baik terima kasih." ucap Emma dengan senyuman.
saat Emma akan mengambil alih makanannya, tapi staff hotel tersebut menolaknya.
"biar saya yang membawa masuk, nona." ucap staff hotel tempatnya menginap.
Emma yang tidak menaruh curiga apapun akhirnya mempersilahkan petugas tersebut masuk.
Emma masuk terlebih dahulu, dia menuju samping ranjangnya untuk mengambil uang sebagai tips untuk petugas tersebut.
seketika tubuh Emma membeku diam beberapa saat, dia mulai menyadari bahwa ada seseorang yang kini mulai memeluknya dari belakang. napasnya memburu dia tahu aroma parfum itu dan suara berat khas seseorang.
"akhirnya aku menemukan kamu." bisiknya di telinga Emma.
seketika Emma berbalik dan betapa terkejutnya dia bahwa kini pria tersebut ada dihadapannya dengan senyum yang terlihat menawan di mata perempuan, tapi tidak dengan Emma senyum itu membuatnya takut. senyum yang sulit dia artikan.
"apa kabar Emma, akhirnya aku menemukan kamu." ucap petugas itu lagi.
Emma mendorong tubuh kekar itu.
"maaf anda salah orang, saya bukan Emma. saya Geovani Unaya Humairah!" ucap Emma cepat.
__ADS_1
"kamu tidak bisa membohongi aku lagi Emma." jawab pria itu kekeh.
"maaf silahkan keluar, saya tegaskan bahwa sekali lagi bahwa saya bukan Emma. nama saya Fani." ucap Emma memperjelas.
"kamu bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan aku, Emma. seberapa besar kamu merubah penampilan kamu, aku akan dengan mudah mengenalinya!" ucap pria itu dengan suara khas baritonnya.
"kini Emma mendorong sekuat tenaganya, dia mencoba berlari keluar dari kamar itu, tapi sayangnya Andra lebih cepat dan lebih sigap menangkap pergelangan tangan Emma.
"jangan mencoba kabur dari aku lagi, Emma. kali ini tidak akan aku biarkan kamu pergi begitu saja dengan mudah!" ucap Andra dengan senyum tipisnya.
Emma yang sudah terpojok oleh Andra hanya bisa menahan napasnya dan berdoa di dalam hatinya, memohon pertolongan.
"kenapa diam? aku tidak suka melihat kamu seperti ini!" gertak Andra.
"mas aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pergi dan hidup tenang, mas." ucap Emma memohon.
"sudah aku bilang, kamu tidak akan aku lepaskan begitu saja." ucap Andra dengan tatapan tajam.
"ahhh... mas sakit!" rintih Emma.
"kamu harus tahu selama ini, aku gila mencari kamu! kamu enak-enakan bersenang-senang dengan Farhan. betapa bodohnya aku yang mencari kamu, tapi sekarang kamu meminta aku untuk melepaskan kamu begitu saja. itu tidak akan pernah terjadi Emma!" ucap Andra meluapkan semua keresahannya selama ini.
"maaf mas, bukan maksud aku untuk bersenang-senang. maaf-maafkan aku mas!" isak Emma.
Andra melepaskan tangannya, dia mengusap wajahnya kasar. dia frustasi selama pencariannya boleh dikatakan Andra telah benar-benar jatuh hati kepada Emma.
Emma terduduk lemas, dia tidak menyangka kepulangannya ke Jakarta untuk menangani acara pernikahan keluarga Pradipta Wijaya akan berakhir bertemu dengan Andra, pria yang dia hindari selama sebulan terakhir ini.
hening, Emma maupun Andra sama-sama tidak bersuara. mereka diam dalam lamunannya masing-masing.
"makanlah sarapan kamu sekarang." ucap Andra pelan, pandangannya masih tertuju pada suasana luar jendela kamar tersebut.
Emma masih terdiam tidak bergerak maupun menghiraukan perintah Andra. dia sendiri sudah kehilangan nafsu makannya. Andra yang merasa tidak ada pergerakan dari Emma pun berbalik dan mendorong troli yang berisi sarapan untuk Emma.
"makanlah Emma!" perintah Andra sekali lagi, dengan malas Emma memakan sarapannya.
"setelah ini kamu ikut aku!" ucap Andra lagi, Emma diam tidak menjawab. dia bingung akan melakukan apalagi setelah ini.
__ADS_1
Emma menginginkan untuk bisa kabur kembali. terlindas dipikirannya, tapi lagi dan lagi dia tidak mungkin kabur karena pernikahan dikeluarga Pradipta Wijaya akan diselenggarakan sebentar lagi. meminta tolong kepada Farhan dirasa tidak mungkin.
selesai dengan sarapannya kini Emma dan Andra keluar dari penginapan itu. Emma tidak mengerti dibawa kemana setelah ini, dia hanya bisa pasrah untuk detik ini. Andra tidak main-main dengan ucapannya. sekarang saja begitu banyak anak buah Andra yang mengawal perjalanan kami. kesempatan untuk lari dari Andra sangatlah kecil sekali.