Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
10.


__ADS_3

"Habis ini kita mau kemana guys?" Tanya Sinta yang masih melahap makanannya itu.


Aku mengangkat kedua bahuku dan menatap ke arah mia yang sedang berpikir.


"Ahh sebenarnya aku ingin beli baju sih guys, kalian mau gak temenin aku dulu." Pinta Mia penuh harap. Sinta yang asik makan pun terdiam sesaat dan malah menatapku.


"Aku sih gak masalah, tapi kita habisin makan dulu. Baru nanti kita beli baju." Sahut Sinta.


Mia menoleh ke arah kami berdua dengan senyum mengembang. Akhirnya kami bertiga menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing. Selesai makan kami bertiga berjalan menuju butik yanh tak jauh dari restoran itu dan segera masuk ke dalam.


Aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sebuah toko baju yang sangat luas itu di buat takjub. Rasanya tak percaya aku bisa berjalan-jalan ke tempat seperti ini. Aku berjalan-jalan sambil melihat baju apa yang aku ingin beli. Tapi tunggu dulu aku mengecek sisa saldo uang yang ada di M-bangking ku.


Baru saja aku ingin mengecek M-bangking, ada satu notif pesan dari SMS bangking ku masuk. Dan betapa terkejutnya aku melihat angka nominal uang yang begitu banyak.


"Ya ampun ini gak salah, banyak banget." Gumamku pelan sambil memastikan sekali lagi dengan isi pesan itu dan buru-buru aku mengecek di aplikasi M-bangking nya dan mengecek mutasi saldo ku dan melihat ada nama Tio Hendrawan mentransfer uang dengan nominal 3 digit.


Aku menghela napas dan memijat pelipisku yang tiba-tiba saja pusing melihat angka nominalnya dan benar saja paman Tio mengirim aku pesan whatsapp. Dan aku pun membuka isi pesan itu.


"[Zahra, paman sudah transfer uang untuk satu bulan ke depan untukmu. Nanti kalau uangnya kurang, kamu bisa chat saja ok. Sudah dulu ya ra, paman mau meeting dulu. Kamu kalau ada apa-apa bisa chat asisten paman.]"


Begitulah isi pesan dari pamanku, sebenarnya ada rasa sungkan di kirimkan uang segitu banyaknya tapi selalu saja paman tio tak mau di bantah sekalipun dan aku pun akhirnya pasrah. Takutnya nanti bibi Rani tau, jika paman Tio mengirimkan uang kepadaku. Bisa-bisa dia ngamuk pasti.


Sinta melihat zahra terdiam dengan wajahnya yang pias itu pun mencoba menghampiri teman barunya itu dan menepuk bahunya pelan.


"Ra, kamu gapapa kan?" Tanya Sinta menepuk bahunya. Sontak saja aku terjingkat kaget ketika kak Sinta menepuk bahuku.


"K-kenapa K-kak sin, tadi kak Sinta bicara apa?" Aku bertanya balik dengan suara yang terdengar gugup. Sinta menghela napas dan menatap temannya ini.


"Aku tanya sama kamu ra, kamu gapapa kan. Soalnya wajah kamu tegang banget kayak lihat setan aja." Celetuknya menatap ke arahku.


"Ahh bukan apa-apa kok kak, aku hanya kaget dengan sisa saldoku."Kelit ku untuk mencoba menutupinya dari kak Sinta dan menariknya berjalan ke arah sebelah sana dan berniat untuk membeli beberapa baju baru.


Begitupun kak Sinta juga memilah-milah baju yang ingin dia beli dan matanya menatap satu baju yang menurutnya ok.


"hmmm, bagus sih bajunya tapi sayangnya mahal banget ya ampun." Jeritnya pelan dan ia juga melirik sisa saldo di M-bangking nya sendiri.


Aku mengernyitkan dahiku dan menghampirinya, "kenapa kak?"


Mata sinta terbelalak melihat harga di price tag di sebuah dress cantik itu, "ahh I-ini ra, baju ini mahal banget ra." Dan berniat mengembalikan baju itu, tapi dia bimbang ingin sekali membelinya.


Aku melirik harga baju itu yang lumayan mahal, baju itu seharga 300 ribu. Aku yang belum pernah beli baju semahal itu dan biasanya aku paling suka beli baju di pasar dengan harga yang lumayan miring sih tapi harga baju di pasar itu sangat pas di kantong.


"Aku pengin sih beli, tapi...." Ucapannya terhenti dan ia pun mendadak gelisah sendiri. Ingin beli tapi mengingat ini tanggal tua, Sinta harus berpikir matang-matang untuk kebutuhannya sehari-hari.


Aku menaikkan satu alisku dan menatap ke arahnya lagi. Terlihat dari kerutan di wajah sinta yang bingung itu.


"Masalahnya ra, ini tuh tanggal tua. Dan uangku itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari aja. Kalau aku beli baju ini, nanti aku pasti akan lebih hemat. Supaya uangku cukup sampai akhir bulan nanti." Lirih Sinta dan meletakkan kembali baju itu ke tempat semula. Tapi aku menahannya untuk membawanya dulu.


"Udah kak jangan ditaruh lagi, udah pegang aja. Ayo kita cari ke sebelah sana, aku juga ingin beli baju. Tapi aku tak tau baju apa yang cocokĀ  untukku." Ungkapku jujur.


Sinta terkekeh dan menarik tangannya menuju rak baju yang begitu feminim. Dan memilah-milah satu persatu baju itu dan mengambil satu baju yang cocok untuk zahra.

__ADS_1


"Ini ra, nanti kamu coba dulu. Takutnya gak pas, aku juga mau coba dulu. Nanti kapan-kapan aku beli baju ini." Ucap Sinta pelan.


"Udah gapapa kak, kak ambil baju yang kak pengin. Hari ini aku traktir kak Sinta beli baju sepuasnya." Seruku padanya.


"Tapi ra, ini harganya tuh mahal banget. Lebih baik beli di pasar malam harganya murah tapi berkualitas. Lah ini baru lihat harga satu baju aja udah bikin Dompetku kejang-kejang tau gak." Cebiknya menahan kesal. Dan aku pun menahan tawa melihat jokesnya itu.


Mata Sinta terbelalak mendengar ucapanku, apa ada yang salah dengan ucapanku ya. Sampai kak Sinta melongo seperti itu.


"Ra, kamu gak salah ini. Aku gak enak sumpah!!!" Katanya dan aku tetap memaksanya memilih baju yang dia suka.


Akhirnya Sinta pasrah, tapi bibirnya menyunggingkan senyum senang.


"Makasih ya ra, aku jadi merasa gak enak sama kamu." Sahutnya pelan


"Udah sih kak, santai aja. Itung-itung aku ingin membalas budi sama kakak yang udah mau dengerin curhatan aku semalem." Ungkap ku jujur.


"Ya ampun ra, pake segala balas budi hanya karena kamu curhat sama aku." Godanya cepat sambil tertawa.


Aku tersenyum malu, rasanya kedua pipiku pasti merah seperti tomat. Kak sinta semakin menggodaku dan itu membuatku tersipu malu.


"Ihh kak Sinta mah, udah ahh ayo kita cari baju lagi." Sela ku dan mendorongnya mencari-cari baju. Tapi Sinta masih aja tertawa cekikikan, ya ampun emang ya kak Sinta itu bobrok banget. Padahal aku sama dia tuh ibaratnya baru kenal banget tapi terasa seperti udah kenal lama banget sama dia.


"Hey kok kalian tertawa gak ngajak-ngajak sih." Cebik mia kesal.


"Ada deh, kepo banget ihh. Ayo ahh ra, kita cari di sebelah sana." Imbuhnya tapi matanya seolah-olah mengejek Mia. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua yang selalu ribut itu.


Aku melirik ke arah Mia yang sudah menenteng satu keranjang yang isinya beberapa pakaian. "Mia, itu kamu belanja gak salah?" Tanya sinta merasa heran dengan temannya yang satu ini.


"Udah ahh, yuk kak kita cari lain lagi. Siapa tau ada yang pas dan cocok sama badan kita." Kataku dan menarik mereka berdua.


Selesai belanja dan menghampiri kasir untuk membayar semua pakaian yang kami beli tadi.


Kasir itu pun menghitung semuanya dan menyebutkan angka nominal yang harus kami bayar kepadanya.


"Totalnya jadi satu juta lima ratus kak." Kata petugas kasir itu dan aku pun mengangguk, lalu mengambil debit card dan menyerahkannya padanya dan petugas kasir itu mengangguk dan menyodorkan kembali debit card itu dan tak lupa mengucapkan Terima kasih padanya.


Selesai berbelanja, kami pun duduk di kursi panjang itu dan menaruh barang belanjaan kami di depan kursi kosong itu.


"Kita mau kemana lagi nih?" Tanya sinta cepat dan menetap kita bedua.


"Ahh kita duduk dulu aja deh kak, gak enak aku." Sahutku cepat dan sinta pun menganggukkan kepala pelan.


"Ahh kita nonton aja yuk, udah lama banget nih gak nonton. Ada film bagus loh ini." Serunya senang. Aku dan kak Sinta menatap satu sama lain.


"Boleh juga tuh, ayo ahh ehh tapi ini belanjaan kita gimana." Katanya lagi dan Mia pun menarik tangan kami berdua dan ternyata tak jauh dari kami ada tempat penitipan barang.


Setelah itu kami pun masuk ke gedung bioskop dan pesan tiket dan beberapa makanan ringan untuk kami bawa ke dalam gedung itu.


3 jam kemudian akhirnya film pun telah selesai dan kami pun segera keluar dari sana dan duduk di sofa yang ada di gedung bioskop.


"Habis ini kita kemana lagi guys?" Mia bertanya pada kami berdua.

__ADS_1


Aku mengangkat kedua bahuku merasa bingung, begitupun kak sinta juga melakukan hal yang sama sepertiku.


"Ahh gimana kalau kita makan es krim yang lagi viral itu loh." Serunya antusias.


Aku dan kak sinta saling beradu pandang dan menganggukkan kepala menyetujui ajakannya itu. Akhirnya kami bertiga memutuskan masuk ke restoran cepat saji lagi dan ingin membeli es krim yang lagi viral itu.


Akhirnya pesanan kami pun siap, lalu membawanya menuju meja yang berada di pojok dekat jendela. Memang suasana terlihat ramai pengunjung. Lalu kami bertiga pun menarik kursi masing-masing dan mulai duduk dengan tenang sambil menikmati es krim yang ada di atas meja.


"Ehh guys kita ke time zone yuk, udah lama banget gak kesana." Usul Mia yang asik makan es krim itu dan lagi-lagi aku dan kak sinta saling tatap satu sama lain. Kak sinta selalu meminta persetujuan padaku dan aku hanya menganggukkan kepala saja.


Mia pun tersenyum senang dan melanjutkan makan es krim yang sisa setengah. Begitupun denganku dan kak sinta.


"Ehh tapi aku masih kurang nih, nanti kita beli dulu baru kesana oke." Ucap Mia.


Aku dan kak sinta membentuk tanda oke untuk menyetujuinya. Dan kami pun menghabiskan es krim itu dengan begitu cepat. Dan kembali lagi ke kasir untuk membeli es krim lagi. Dan setelah itu barulah ke wahana permainan yang tak jauh dari tempat kami berada.


lalu kami pun berjalan menuju ke arah time zone, sebuah wahana permainan. ada berbagai macam permainan . sesampainya disana aku begitu takjub karena sudah lama sekali tidak ketempat ini lagi.. sekilas aku jadi mengenang dulu.. buru-buru ku alihkan ke arah yang lain supaya aku tidak sedih lagi..


tanpa sadar seseorang menubruk ku dari arah belakang dengan begitu kencang.


Brukk!!!


Hampir saja aku terhuyung ke belakang kalau kak sinta tak menahan tubuhku. Dan aku menatap wanita cantik berpostur tinggi bak model itu.


"Kamu gapapa ra?" Tanya kak sinta sedikit khawatir. Tapi aku menganggukkan kepala dan mengatakan padanya, aku tak apa-apa. Baru saja kak sinta ingin mengucapkan sesuatu, seseorang menyela ucapannya deng


"Hey kalau jalan tuh pakai mata," bentak seorang wanita yang menurut ku sangatlah cantik bak model.. sekilas aku terpana melihat nya, buru-buru aku alihkan pandangan menatap ke arah lain


tiba-tiba kak Sinta menarik ku ke belakang tubuhnya dan langsung memotong pembicaraan wanita yang ada di depanku yang begitu angkuh.


" hey nona, kalau ngomong tuh ngaca bukannya anda yang jalan gak pakai mata main nubruk teman saya bukannya minta maaf malah marah-marah gak jelas," Tantang Sinta berkacak pinggang dengan mata melotot tajam ke arah wanita angkuh itu. lalu wanita itu tampak geram sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia malah mengibaskan rambutnya dengan begitu angkuh dan menghentak-hentakkan kaki nya dengan sangat keras. Sampai semua orang menatap ke arah kami.


Aku menarik tangan kak sinta dan segera pergi ke tempat duduk yang tak jauh kami. Kak sinta seperti menahan kesal karena gara-gara wanita angkuh yang tak mau minta maaf.


"ishh dasar wanita aneh bukannya minta maaf malah pergi dengan gaya sok angkuh nya.." Sungut sinta menahan kesal..


"kamu yang sabar ra, tadi mah kamu bentak balik itu nenek sihir, geram sekali aku melihat nya." Geram nya lagi sambil mengumpat serapah untuk wanita yang tadi.


"sudah kak, mungkin aku yang gak lihat jalannya jadinya nubruk dia.. "ucapku mencoba meredam amarah kak sinta. Kak sinta membuang napasnya kasar dan memijat pelipisnya yang tiba-tiba pusing.


Dan tak lama Mia pun menghampiri kami berdua dengan kening yang berkerut dalam.


" loh kamu kenapa kak, kok mukanya cemberut gitu??" Tanya Mia menatap Sinta heran yang wajahnya memerah akibat menahan kesal.


"itu aku kesal dengan nenek sihir yang sok cantik itu.." cebik nya kesal.


"nenek sihir?? siapa itu??" Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan merasa bingung dengan maksud dari ucapan kak sinta.


"ahh sudahlah lebih baik kita pulang yuk, kalau berlama-lama disini bisa darah tinggi." Cibir sinta. lalu ia menarik kedua lengan sahabatnya itu dan menggandeng nya menuju ke arah lift dan menekan tombol untuk ke bawah menuju lobby mall, lalu pintu lift pun terbuka dan segera masuk ke dalam lift itu


sesampainya di lobby mall, kami bertiga pun keluar dari mall dan berjalan ke arah depan mall untuk mencegat taksi untuk mengantarkan kami pulang ke kosan. Selama di perjalanan kak sinta tak henti-hentinya mengumpat untuk wanita yang tak tau sopan santun itu. Aku mengelus punggung tangannya supaya amarahnya bisa reda.

__ADS_1


Sinta pun menoleh ke arahku dan menghela napas kasar dan mengelus dadanya supaya amarahnya bisa mereda.


__ADS_2