
sudah satu bulan amara di diamkan oleh suaminya itu, dan hari ini adalah hari terakhir dia di Indonesia. dia harus segera bersiap dan membereskan barang-barang yang akan dia bawa.
amara baru saja keluar dari kamar mandi. lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaian, membuka pintu lemari dan amara memakai kemeja bermotif dan rok di bawah lutut, tak lupa ia memakai sepatu high heels yang selalu ia pakai. dan berjalan menuju meja rias, memoles makeup tipis dan lipstik berwarna merah menyala yang membuat bibirnya nampak seksi. ia menuju lemari tas yang terpajang , mengambil salah satunya dan bersiap untuk berangkat menuju bandara. ia tidak membawa banyak pakaian, karena disana sudah di sediakan oleh management nya sendiri. amara milirik foto pernikahan mereka yang terpanjang di atas nakas, ia mengambil foto itu dan mengusapnya tanpa terasa air mata itu jatuh di pipi. ia mengusapnya dengan kasar, karena takut makeupnya luntur.
amara mencoba menelpon suaminya itu, di dering pertama tidak di angkat, lalu ia mencoba lagi . dan akhirnya di dering ketiga baru lah di angkat.
"halo sayang, " ucap amara tersenyum bahagia
"ohh maaf nyonya amara, tuan muda sedang ada rapat. jadi sayang yang angkat, " ucap asisten jo.
senyum yang semula lebar, kini menyusut dan berubah menjadi sendu. amara tersenyum kecut ketika suaminya lebih mementingkan rapat di bandingkan dirinya.
"O-oh iya jo, B-bisakah kamu berikan ponselnya ke axel. aku ingin bicara penting, " pinta amara penuh harap.
"baiklah nyonya, sebentar saya akan beritahu tuan muda. " ucap jo di seberang sana.
beberapa detik kemudian barulah axel menjawab.
"iya ada apa, apa yang kamu ingin bicarakan. " ucap axel ketus.
"apakah kamu tidak merindukanku atau kamu tidak ingin mengantarkan aku ke bandara, untuk terakhir kalinya. " lirih amara menahan sesak di dada.
__ADS_1
"untuk apa aku mengantarkanmu, kamu bisa pergi sendiri kan. " desis axel.
hati amara sakit mendengar ucapan sang suami yang begitu acuh, sangat acuh terhadap dirinya. tidak ada tutur kata lembut yang dilontarkan dari mulut suaminya itu, ia rindu sekali dengan suaminya yang hangat dan penuh cinta itu. tapi harapan dia harus sirna.
"apakah aku sudah tidak ada harapan lagi, " ucap amara sembari menahan isak tangisnya.
"itu tergantung dari kamu, aku sudah meminta satu permintaan tapi apa kamu menolaknya?? " ucap axel penuh penekanan.
amara terdiam, dia tidak mampu membalas ucapan suaminya itu.
"kenapa kamu diam??? " tidak bisa menjawab kan. " ketus axel.
deg...
jantung amara berdegup kencang, setelah mendengar ucapan suaminya itu.
"A-apa katamu tadi??? " ucap amara terbata-bata.
"aku akan mencari istri baru untuk mengandung anakku, " axel mengulang ucapannya itu.
"tidak, kamu tidak boleh mencari istri lagi. aku tidak rela, pokoknya aku tidak rela. " bentak amara dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
__ADS_1
"kenapa tidak, aku tidak perlu meminta persetujuan darimu. " ucap axel santai. lalu axel mematikan telepon nya secara sepihak.
"sialan, " bentak amara penuh emosi, dengan dada yang bergemuruh hebat, dan hati yang begitu panas. setelah mendengar ucapan suaminya itu, yang ingin mencari pengganti dirinya. tidak.. "itu tidak mungkin terjadi. "karena aku lah nyonya di rumah ini, " amara berucap dalam hati dan menyakinkan bahwa dirinya lah nyonya Valdemar bukan yang lain.
amara menghembuskan nafas menahan kesal, ia mengusap-ngusap dadanya supaya hatinya tenang. ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya dia berangkat menuju bandara. taksi yang ia pesan sudah berada di depan mansion, dengan berat hati ia harus segera berangkat karena manager nya sudah menghubungi dirinya beberapa kali. dengan terpaksa ia harus segera pergi dari rumah ini. amara mendorong koper yang ia pegang dan membawanya menuruni anak tangga secara kasar.
"mari nyonya saya bantu, " ucap bi sum
amara melempar koper itu di depan bi sum, dan berjalan dengan angkuhnya tanpa menoleh sedikit pun. bi sum hanya mampu mengusap dadanya pelan. ia sudah biasa melihat nyonya mudanya seperti itu, bi sum pun mendorong koper itu sampai depan gerbang mansion. dengan sigap pak supir taksi membantu bi sum memasukkan koper itu ke dalam bagasi mobil.
amara langsung masuk ke dalam taksi tersebut tanpa berbicara sama sekali. dia hanya diam, setelah sopir itu masuk ke dalam mobilnya.
"jalan pak, " titah amara
"baik nyonya, " ucap sang supir. lalu supir itu menyalakan mobilnya dan bergerak keluar dari perumahan mewah itu, dan berjalan menuju jalan raya .
di perusahaan lebih tepatnya.... "
axel memijit pelipisnya yang tidak begitu pusing, setelah mendengar bentakan dari istrinya itu. ia tau kalau istrinya itu pasti marah,
tapi axel tidak berniat untuk mencari lagi. itu hanya menggertak istrinya saja, agar kekecewaan yang di dapat dari istrinya itu terbayarkan. memang dia sangat mencintai istrinya itu, tapi amara sangat keterlaluan hingga tidak mau menuruti keinginan axel sebagai suaminya sendiri. sekarang buktinya apa dia malah pergi ke Paris untuk mengejar mimpinya menjadi model internasional, axel menghela nafas berat, dan axel berjalan menuju jendela perusahaan yang sangat besar. ia sebenarnya ingin mengejar amara ke bandara dan menyuruhnya untuk membatalkan keberangkatannya untuk pergi ke Paris. tapi axel tetaplah dirinya sendiri yang egois dan gengsinya tinggi, jika memang dia lebih mementingkan karier di banding rumah tangganya. lebih baik ia akan mencari sosok wanita yang ada di mimpinya itu untuk menjadikannya sebagai istri kedua. sebenarnya ia juga rindu dengan istrinya tapi rasa sakit mengalahkan segalanya. bayangan itu terlintas lagi, ia masih ingat kata-kata amara yang sudah menyakiti hatinya, ia tidak mau mengandung anak darinya. dia hanya mementingkan diri sendiri, dari dulu axel selalu memenuhi keinginan amara. apapun itu pasti ia turuti, tapi apa giliran suaminya sendiri meminta satu permintaan saja malah di tolak mentah-mentah. axel tidak habis pikir dengan apa yang amara lakukan, ia menghela nafas panjang . dan memutuskan tidak akan memikirkan kejadian itu lagi. ia akan fokus dengan pekerjaan saja dan tidak akan memikirkan apapun. ya dengan begitu rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya, ia akan menutup diri dari yang namanya wanita. ia akan balik lagi ke sifatnya yang dulu yaitu dingin dan kejam. inilah yang dulu amara rasakan sebelum menikah dengan axel, karena sangat susah untuk meluluhkan hati axel yang sekeras batu. axel tidak akan mengucapkan kata cerai itu, karena di hatinya masih ada nama amara. yang takkan bisa di gantikan oleh siapapun itu. iya dia masih mencintai istrinya tapi tidak sebesar dulu, karena satu kesalahan istrinya sudah menyakiti hatinya yang paling dalam.
__ADS_1