Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
43.


__ADS_3

Mia yang sedari tadi menatap ku membuatku risih.


"emm kenapa kamu menatap ku begitu mi." aku memulai membuka suara.


Mia yang di tanya seperti itu pun langsung gelagapan sendiri dan salah tingkah.


"A-anu ra. A-aku ingin membicarakan sesuatu dengan kamu." Mia berucap sangat gugup.


aku menaikan satu alisku bingung dan tetap melanjutkannya lagi. tanpa menoleh.


"bicara saja mi." jawabku tanpa menoleh dan tetap melanjutkan makan yang masih banyak..


"G-gini ra, A-aku M-minta M-maaf." ucap Mia pelan dan membuatku mendongakkan kepala ku dan menatap manik mata itu. sambil tetap mengunyah makanan yang ada di mulutku.


"kenapa kamu minta maaf??" aku mengerutkan kening bingung dan tetap melanjutkan makanan ku yang masih tersisa.


"emmm masalah yang waktu itu kita ketemu di mall." ucapnya lirih.


aku menaruh sendok ku dan menatap nya. aku bisa melihat wajah Mia yang begitu tegang, panik, dan yahh mukanya sangat kusut. walaupun dia memakai makeup. tapi itu kelihatan sekali.


"kamu gak perlu minta maaf mi. santai saja." Lagi-lagi aku memakan sarapan ku dengan cepat karena sebentar lagi akan masuk.


setelah selesai sarapan. aku pun menyeruput minuman yang tadi aku beli bersama kak Sinta. dan meneguk nya hingga habis tak tersisa. hanya tersisa es batu nya saja.


aku pun segera bangkit dan berjalan ingin membayar pesanan ku tadi yang belum sempat aku bayar. setelah itu aku berjalan menuju ke arah lift yang sedang terbuka. begitu pun Mia mengikuti ku dari belakang. karena aku dan Mia satu bagian dan satu ruangan yang sama.


setelah masuk ke dalam lift, tak ada obrolan sama sekali. kami berdua hanya diam dengan pikiran masing-masing. dan berjalan menuju ruangan kami. dan membuka pintu itu . bergegas menuju meja masing-masing . karena disana ada kerjaan yang yahh seperti biasa menumpuk.


aku menarik kursiku dan mulai menyalakan komputer ku dan mengecek berkas laporan yang menumpuk.


Mia yang melihatku acuh hanya bisa menghela nafas. ia sudah meminta maaf kepada zahra tapi dia hanya bergeming dan bilang gpp. santai saja. dia pun menarik kursi dan mengecek laporan yang sama seperti zahra.


kami berdua tampak sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. tak ada yang bersuara sama sekali. hingga suara ketukan pintu membuyarkan kami yang sedang fokus.


tok..., tok...,tok...,


"masuk." ucap Mia datar.


cklek..., "


pintu terbuka menampilkan sosok lelaki tampan yang memakai jas berwarna putih seperti seorang dokter dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.


"Hai.." sapanya dengan tersenyum.


ia pun berjalan menghampiri meja kami ehh ralat. ia berjalan menuju meja Mia..


"Hai ra." sapa lelaki itu.


yap benar, lelaki itu adalah Bima kekasih Mia. awalnya sembunyi-sembunyi takut ketauan aku dan kak Sinta. kini terang-terangan kalau mereka berdua secara resmi sudah pacaran.


aku menghentikan jariku yang sedang mengetik lalu menatap sekilas kak Bima dan tersenyum ramah. lalu melanjutkan lagi untuk mengerjakan tugas.


"loh kalian gak istirahat???" tanya Bima melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"hah makan siang apa sih kak baru juga jam berapa." sanggah ku.


"kalau gak percaya coba lihat jam di tanganmu ra." ucap Bima.


dan sontak saja aku reflek melirik jam di pergelangan tanganku dan benar saja sudah waktunya istirahat.


"emmm kalian duluan aja, aku masih nanggung nih." ucapku tersenyum.


melihat zahra yang menolak untuk makan siang ?bersama mereka dua. Mia hanya mampu tersenyum tipis.


Mia bengong memperhatikan sahabatnya itu, terkejut ketika tangannya di genggam oleh sang kekasih. lalu ia menoleh dan menatap netra hitam milik kekasihnya itu. Bima mengerti melihat suasana diruangan ini pun. memberi isyarat lewat mata. agar ia mau ikut bersamanya.


Mia pun menganggukkan kepala patuh dan menghela nafas pasrah.


"yaudah ra, kalau gitu aku duluan yahh sama kak bima." ucap Mia pelan.


"iya mi, nanti aku menyusul kok. lagi nanggung soalnya ini." aku menoleh sekilas ketika Mia dan kak Bima pergi ke luar dan menutup pintu itu.


memang benar kerjaan zahra belum kelar, tapi bisa saja dia ikut. cuma gak enak saja sama kak Bima. takut nanti jadi nyamuk di antara mereka. tak lama kemudian kak Sinta masuk dan membuka pintu ruanganku.


"ra, kamu gak istirahat???" tanya Sinta.


"emm bentar kak, nanggung nih." jawabku tanpa menoleh dan tetap fokus ke layar komputer.


"yaudah aku tungguin deh." Sinta berjalan cepat menuju kursi yang ada di depanku.


Sinta seperti mencari sesuatu atau mencari seseorang. ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.


"kak Sinta nyari Mia yahh." ucapku tanpa menoleh.


"enggak kok, aku gak nyari dia." sanggah Sinta.


"emm kak, boleh gak aku nanya sesuatu??" aku menunda pekerjaanku dan menatap mata kak Sinta.


Sinta yang ditatap, menelan salivanya dan bingung harus menjawab apa.


"aku tau kak Sinta masih marah sama Mia, apa kak Sinta gak ingin berbaikan dengannya." ucapku pelan dan masih menatap mata nya.


Sinta yang di tanya seperti itu pun. hanya mampu menghembuskan nafas panjang.


"sebenarnya aku udah gak marah dengan dia, tapi aku kesal dengan sifatnya itu." Sinta berucap tanpa mau menyebutkan namanya.


"aku tau kak, tapi bisakah kita seperti kemarin-kemarin yang kalau kemana-mana selalu bertiga." pintaku dan menggenggam tangan kak Sinta.


"tapi ra, sepertinya udah gak bisa seperti dulu. karena dia udah punya pacar." tutur Sinta pelan.


"aku tau kak, mungkin waktu kebersamaan kita akan terbagi-bagi. tapi itu kan bisa di atur lagi kalau kita mau kumpul bertiga. hemm." aku berucap se'lembut mungkin. agar kak Sinta luluh dan mau memaafkan Mia.


Sinta yang di tanya seperti itu pun terdiam, dan menghembuskan nafas berulang kali dan membuang ego nya. dan menetralkan hatinya yang bergemuruh akibat kesal terhadap sikap dia kepada dirinya dan zahra.


"Kak Sinta udah lebih baik??" tanya zahra.


Sinta menganggukkan kepala dan menarik tangan zahra untuk keluar .

__ADS_1


"ayo ra" ajak Sinta dan menarik tanganku. kita berdua pun masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka dan masuk ke dalamnya.


sesampainya di bawah, kita berdua melangkah menuju kantin. untuk makan siang.


aku mengedarkan pandangku untuk mencari Mia dan kak Bima. dan ternyata mereka ada di bangku panjang .


"nah itu mereka kak sin." aku berbisik di telinga kak Sinta.


"yaudah ayo kita beli mie ayam aja yuk ra." Sinta menarikku ke penjual mie ayam.


aku dan kak Sinta berjalan menuju penjual minum dan memesan es jeruk 2 dan menyodorkan uang selembar dan menunggu pesanan kami siap. aku meminta penjual minum itu untuk mengantarkan ke meja yang ada di tengah. dan penjual itu menganggukkan kepala.


Mia mendongakkan kepala ketika melihat aku dan kak Sinta berjalan ke arah meja mereka berdua.


"hay apa boleh aku bergabung dengan kalian berdua??" tanyaku pada kedua sepasang kekasih itu.


"wahh ada zahra sama Sinta, sini sini." ajak Bima menepuk-nepuk bangku panjang yang masih kosong.


"kalian sudah pesan makan??" tanya Bima.


"sudah kok kak." jawabku.


"loh kak Bima gak pesan makanan juga???" aku balik bertanya.


"lagi nunggu nih." jawab Bima.


sayup-sayup seperti suara seseorang yang sangat tidak asing berteriak ke arah meja kami. sontak saja kita berempat menoleh dan melihat siapa itu dan ternyata itu kak kelvin melambaikan tangannya dengan senyum yang sangat menawan.


"bim... Bima.." kelvin menepuk bahu Bima.


"woy bro, kamu juga lagi istirahat??" tanya Bima


dan mereka berdua pun saling berjabat tangan dan tos ala lelaki.


kelvin menoleh dan menatap kami semua.


"wah rame yak, kalau gitu aku gabung dengan kalian ahh." ucap kelvin dan dia pun mulai duduk di depanku. aku yang di tatap olehnya hanya mampu menundukkan kepala.


kelvin yang melihat zahra menunduk. tersenyum kecil dan terkekeh pelan. Bima yang di sebelah nya merasa heran melihat temannya tertawa sendiri.


"bro, kamu kenapa??" bisik Bima.


"hah kenapa bim." kelvin kaget ketika Bima membisikkan sesuatu.


"kamu kenapa ketawa-tawa sendiri. aneh banget." sindir Bima dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


tak berselang lama, pesanan mereka masing-masing pun datang secara bersamaan.


dan menaruh semua makanan di atas meja. minuman mereka pun sudah datang dan menaruhnya.


"wahh kita kompak banget yahh pesanan makanan yang sama." kelvin terkekeh.


"lah iya yak vin. gak engeh aku." Bima yang menjawab.

__ADS_1


yang lainnya hanya diam dan menatap ke arah Bima.


mereka berlima pun menikmati makan siang bersama-sama. hanya kelvin dan Bima saja yang mengobrol . sedangkan para wanita hanya diam dan memakan makanan yang mereka pesan.


__ADS_2