Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
66.


__ADS_3

amara memakan rujak itu hingga habis, tak lama mereka berdua telah Sampai di rumah sakit. Jack keluar terlebih dahulu dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.


"sayang ayo." Jack mengulurkan tangannya untuk menuntun amara keluar.


"tapi aku baik-baik aja jack." amara tetap bersikukuh untuk tak mau di bawa kesini.


Jack tetap membawa amara dengan menggendongnya ala bridal style dan meminta tolong suster untuk membawa calon istrinya itu untuk menggunakan kursi roda.


amara pasrah dan menurut saja. tapi entah kenapa hatinya merasa gelisah dan pikirannya campur aduk.


Jack yang mengurus semuanya dan tinggal menunggu namanya di panggil untuk di periksa. tak lama nama amara pun di sebut, dengan perlahan Jack menuntunnya ke dalam ruang dokter itu. dengan cekatan dokter itu menyuruh amara untuk berbaring di atas brankar pasien. lalu dokter itu membawa stetoskop itu dan memulai memeriksa kondisi kesehatan amara. setelah selesai, dokter itu pun berjalan menuju meja kerjanya dan mencatat kondisi kesehatan amara.


lalu dokter itu menceritakan secara rinci bahwa amara kecapean aja. lalu amara bercerita ke dokter itu, bahwa dia sering merasa mual-mual dan pusing.


"hmm, dari analisa saya. bahwa ibu amara sedang mengalami yang namanya ngidam seperti orang yang sedang hamil." ucapnya tegas dan serius.

__ADS_1


deg


jantung amara berdetak kencang, tenggorokannya entah kenapa terasa tercekat mendengar sebuah fakta yang mengejutkan.


"T-tidak mungkin dok, pasti saya hanya kelelahan aja." sanggah amara menggeleng-gelengkan kepalanya.


dokter itu tersenyum tipis, "saya hanya menebak saja ibu, untuk lebih jelasnya silahkan kalian ke dokter obgyn." tuturnya lembut.


seketika aku terdiam dan aku pun begitu syok mendengarnya. berbeda dengan Jack dia tersenyum bahagia mendengar penuturan dari dokter itu.


lalu mereka berdua mengucapkan Terima kasih dan segera keluar dari sana, Jack dengan semangat pun berjalan ke petugas resepsionis itu dan menanyakan ingin mendaftar cek kandungan. setelah semuanya beres, Jack mendorong kursi roda itu menuju ruangan obgyn. dan menunggu giliran, karena masih sepi dan tidak terlalu banyak orang. akhirnya mereka berdua pun menunggu.


mereka berdua pun masuk, seketika Jack mematung melihat wanita cantik yang berprofesi dokter kandungan itu.


dan tentu saja dokter cantik itu pun terkejut bukan main, tapi sebisa mungkin dia harus profesional.

__ADS_1


dokter itu menyuruh amara untuk berbaring di ranjang pasien, abis itu dokter cantik itu pun mulai memeriksa semuanya. dan dia pun berjalan kembali menuju meja kerjanya.


"selamat ya pak... bu... istri anda sedang hamil di usia 24 minggu dan sudah memasukki trimester kedua, jadi harus lebih berhati-hati dan jangan terlalu banyak melakukan aktivitas, jadi harus kurangi ya bu." serunya dan menjelaskannya secara rinci.


Jack begitu serius mendengar penjelasan dari dokter itu, dia sesekali manggut-manggut. berbeda dengan amara dia begitu kaget bukan main, di dalam hatinya ini anak siapa.. apa anak axel atau Jack, entahlah memikirkan itu membuat kepalanya menjadi semakin pusing tak karuan.


setelah selesai periksa, Jack begitu posesif dan over protect ke amara untuk jangan kemana-mana dulu. lebih baik di apartemen di banding pergi-pergi tak jelas.


selesai dari rumah sakit, Jack pun menyuruh sang supir itu untuk ke supermarket untuk membeli semua keperluan untuk sang calon anaknya itu.


di dalam mobil amara diam saja, dia masih tak percaya dengan semua ini. yahh amara berpikir bahwa anak ini adalah hasil buah cintanya dengan axel bukan dari hasil hubungan gelapnya dengan Jack.


akhirnya mereka berdua sampai di supermarket, dan tentu saja Jack mengambil kursi roda yang dia beli tadi di rumah sakit dan membawanya ke arah pintu mobil yang sudah di buka dan menyuruh amara untuk duduk.


amara lagi-lagi menolak untuk duduk di kursi roda nya tapi Jack selalu memaksanya, hingga amara mengangguk patuh dan nurut untuk duduk di kursi roda itu.

__ADS_1


Jack dengan perlahan mendorong kursi roda itu dan masuk ke dalam mall terbesar di kota ini.


amara begitu terkejutnya lagi, Jack membawanya benar-benar ke supermarket dan membeli semua kebutuhan ibu hamil, dari susu, buah-buahan itu.


__ADS_2