Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
semoga betah tinggal di sini


__ADS_3

semoga aku betah tinggal disini, aku mensugesti diri sendiri. Supaya aku akan lebih mandiri disini.


"gimana kamu suka gak ra?" Tanya Sinta padaku. Sinta menepuk bahuku dan aku tersentak dari lamunanku ketika kak Sinta mengajak ku berbicara.


"emmm,, M-maksudnya A-apa kak Sinta," ucapku gugup dan berusaha untuk tetap tenang.


"itu loh kamu suka gak dengan kosan disini, ya menurut ku lumayanlah ra, lagi pula dekat dengan arah rumah sakit juga kan." ucapnya lagi dan aku manggut-manggut saja.


"oh iya ngomong-ngomong kamu kenapa mau nge'kost ra? bukannya kamu tinggal di rumah pamanmu." Celetuknya dan aku seketika terdiam sesaat dan memilin baju yang aku pakai. Aku bingung harus menjawab apa, pasalnya ini adalah hal yang sensitif. Dan kami berdua masih baru kenal dan itu membuatku enggan menceritakan masalah pribadi ku pada orang lain, mungkin nanti saatnya bila aku sudah lebih mengenal sifat kak Sinta, barulah aku akan menceritakan keluh kesahku.


"emm anu kak, A-aku mau belajar mandiri, gamau nyusahin pamanku. "ucapku gugup supaya gak ketahuan kalau aku berselisih dengan bibi Rani dan hana, ya walaupun mereka masih saudara sepupu dari keluarga mamaku. Tapi aku berusaha untuk menghormati paman Tio yang sudah baik padaku.


tapi kalau mengingat aku masih tinggal disana beberapa hari yang lalu, rasanya aku geram dan sakit hati sekali. masih teringat betul bagaimana hinaan dan ejekan yang selalu aku Terima. padahal aku tinggal disana belum genap sebulan tapi mereka berdua selalu ada aja cara untuk selalu menghina dan menyudutkanku. Itu yang membuatku ingin pergi dari rumah itu.


"ra.. zahra, kamu kenapa ra?" Tanya Sinta merasa tak enak hati. Karena terlalu kepo dengan masalah pribadi seseorang.


aku menggelengkan kepala, " aku baik-baik aja kok kak," ucapku tersenyum tipis dan menatap manik mata hitam pekat itu.


"tapi kok wajah kamu pucet sekali ra, mau ku belikan makanan gak atau mau teh hangat. jawab ra kok kamu diam saja." cecar Sinta menanyakan pertanyaan yang bertubi-tubi hingga aku bingung harus menjawab yang mana dulu.


"sepertinya zahra belum makan kak dari pas pulang kerja." ucapku malu sambil menundukkan kepalaku.


"owalah kamu lapar toh, ayok kita cari makan di depan dulu yuk ra. tas nya kamu taruh aja di dalam. jangan lupa kunci pintu nya, bentar ya ra aku mau ke sebelah dulu mau ngambil dompet sama kunci kosan." tuturnya lagi lalu bergegas menuju ke sebelah. Sinta berjalan cepat menuju kamar kosan miliknya dan mengambil barang yang di perlukan olehnya.


Setelah itu dia menghampiri ku dengan senyum manisnya membuatku merasa tak enak hati aja.


"yuk ahh ra, kita nyari makan dulu." Ajak kak sinta, lalu kak Sinta mengunci pintu kamar kosan dia, dan menggandeng tanganku berjalan ke arah depan untuk mencari makanan.


sesampainya di depan dekat ujung gang ternyata banyak sekali penjual makanan, baru pertama kali ini aku keluar dari rumah, biasanya aku di larang keluar malam. Itu dulu sebelum kedua orangtuaku masih hidup.


"kamu mau beli makan apa ra?" Tanya Sinta sambil melihat ke kanan dan ke kiri banyak sekali penjual makanan berjejer rapih di setiap jalan. terlihat banyak orang yang berhenti untuk sekedar membeli atau makan di tempat itu.


aku mengangkat kedua bahuku bingung, "terserah kak Sinta, aku mah ngikut aja." Ucapku padanya dan kak Sinta sejenak berpikir ingin makan apa. dan akhirnya kami berdua berjalan ke arah penjual nasi bebek yang ada di sebelah sana.

__ADS_1


Lalu kami berdua pun duduk dan tak lama penjualnya bertanya pada kami ingin pesan apa dan kak Sinta lah yang menyebutkan pesanan itu. Aku hanya diam sambil mengamati kak Sinta yang sedang berbicara dengan penjual itu.


"pak nasi bebeknya 2 porsi ya, nasinya pisah saja." ucap Sinta ke penjual nasi bebek itu.


" baik neng, silahkan duduk dulu. Nanti pesanannya akan siap, mohon tunggu sebentar." Ucap penjual nasi bebek itu sopan dan segera pergi dari meja kami berdua.


aku melirik ke arah ke sekeliling ternyata ramai juga ya, kalau malam hari pasti akan ramai orang-orang yang berlalu lalang di sekitaran sini.


"disini nasi bebek nya enak loh ra, apalagi sambalnya beuhh maknyoss banget. ya pokoknya mah endul pisan euy." seru nya terkekeh menjelaskan makanan itu sampai membuatku tak sabar ingin segera mencicipinya.


setelah menunggu 20 menit pesanan kami berdua pun telah siap dan pelayan itu menaruh pesanan di atas meja yang kami tempati.


" ohh iya Pak minum nya 2, es jeruk aja 2 pak." Seru Sinta berbinar.


penjual nya pun menganggukkan kepala dan berlalu pergi dari meja kami berdua.


"ayo ra kita makan dulu." Sinta mulai menyuapkan nasi bebek nya ke dalam mulut nya dengan menggunakan tangan dan langsung melahapnya begitu nikmat. Sinta yang asik makan pun tiba-tiba saja berhenti dan menatapku dengan heran.


"emm...ini ga ada sendok dan garpu nya." ucapku polos dan itu membuat Sinta menahan tawa.


"Kenapa kak." kataku sambil menggaruk kepala yang tak gatal dan merasa heran dengan kak Sinta yang malah tertawa seperti itu. lalu kak Sinta bangkit dan menyodorkan sendok dan garpu kepadaku.


aku hanya mampu tersenyum malu, mungkin wajahku sudah seperti kepiting rebus. Karena malu sendiri dan merasa tak enak hati saja.


kami berdua pun menikmati makanan yang di jual di pinggir jalan dengan sangat tenang dan sesekali kami berdua tertawa saking senang nya tak terasa makanan yang ada di piring masing-masing habis tak tersisa.


"ohh iya ra, abis ini kita mau kemana?" Tanya sinta menatap ke arahku. Seketika aku menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahuku merasa bingung, karena aku tak terlalu tau daerah sini.


"Yaudah kita jalan-jalan aja dulu sekalian cuci mata yuk." Seloroh Sinta tertawa cekikikan.


Selesai makan, kami berdua pun bangkit dari kursi dan membayar semua pesanan kami ke kasir. Setelah itu pun kami keluar dari tempat itu dan berjalan-jalan menuju taman kota yang tak jauh dari kami.


dan kak Sinta tetap menggandeng tanganku, lalu ia pamit bergegas menuju minimarket yang ada di sebrang penjual nasi bebek yang tadi. setelah sampai kami berdua pun masuk ke dalam sebuah minimarket. Di dalam banyak sekali berbagai jenis makanan dan kebutuhan lainnya.

__ADS_1


"ra bentar yahh aku mau ngambil uang di ATM di dekat situ" tunjuk kak Sinta dan di angguki olehku.


aku berjalan melewati tiap rak demi rak. aku mengambil keranjang yang ada di sudut ruangan dan untuk aku taruh belajaanku biar gak repot. setelah di rasa sudah siap, aku melirik dompet ku ternyata uang cash nya sisa sedikit apa aku sekalian saja menarik uangĀ  juga di ATM.


baiklah aku akan ambil beberapa lembar uang saja sisanya akan aku tabung karena pemberian dari paman Tio sangatlah banyak, aku sampai bingung harus ku gunakan apa. aku menghampiri mesin ATM lalu mulai mengetik pin nya, tidak lama keluar lah uang yang jumlahnya ada 3 juta, untuk aku bayar DP kosan dan sisanya untuk keperluan ku yang lain. dan sisa uang di ATM akan aku tabung. mungkin uang paman akan aku tabung juga ntuk membeli motor mungkin. setelah di rasa sudah semua aku menghampiri kak Sinta, ia lagi memilah-milah snack di rak etalase dan memasukkan nya ke dalam keranjang yang aku bawa. Kak Sinta menoleh dan melambaikan tangannya menyuruhku untuk menghampirinya.


"Kamu udah selesai ra?" Tanya kak Sinta padaku


"sudah kak, ini sudah semua kok." Ucapku dan memperlihatkan hasil belanjaan ku tadi.


Aku melirik keranjang bawaan Kak Sinta hanya membeli beberapa snack dan makanan ringan lainnya.


"emm...mungkin aku beli minuman sekalian, soalnya uangku sisa sedikit ra."ujarnya dan ia hanya nyengir memperlihatkan giginya yang putih itu.


"udah ambil saja yang kakak mau nanti zahra yang traktir," ucapku menawarkan padanya.


" ehh gak ahh, ga enak aku ra. "ujar Sinta merasa tak enak padaku. Tapi aku tetap memaksanya untuk mengambil apa yang dia inginkan. Dan akhirnya ia pun pasrah dan mengambil beberapa snack beserta coklat.


" emm...makasih ya ra, aku jadi gak enak sama kamu." tuturnya merasa sungkan padaku.


aku tersenyum, "sama-sama kak, aku juga makasih untuk traktiran nasi bebek nya yang tadi." Ucapku padanya.


"Sudah semua kak, ayo kita ke kasir untuk bayar semuanya." Kataku dan menuntunnya menuju kasir untuk membayar semaunya.


"sudah kok, sekali lagi makasih ya ra.' kak Sinta sekali lagi mengucapkan terimakasih nya padaku


"kak Sinta gak perlu merasa sungkan sama aku,"tutur ku memberi pengertian.


lalu kami berdua menuju kasir untuk membayar semua yang kami beli. setelah semuanya sudah di bayar lalu aku mendorong pintu minimarket. tiba-tiba aku seperti melihat sosok yang aku kenal. aku menggosok-gosokan mataku apakah yang ku lihat itu benar atau bukan. "Ahhh masa sih itu seperti... "ucapanku terhenti ketika seseorang menepuk pundakku. aku menoleh ternyata kak Sinta. dan dia menghampiri ku yang sedang memperhatikan seseorang yang aku kenal. Tapi sosok itu sudah pergi dengan memakai mobil yang cukup mewah.


"hayo kok kamu melamun bukannya jalan." Goda sinta menarik lenganku dan kami pun bergegas berjalan menuju taman kota. rasanya sangat menyenangkan berjalan jalan seperti ini bersama kak Sinta. sudah lama sekali aku tidak begini, melihat pemandangan di malam hari. Dan andaikan saja mereka masih hidup, mungkin akan terasa menyenangkan bisa jalan-jalan dan tertawa bahagia bersama tapi... aku hanya mampu tersenyum getir menatap langit yang mulai senja dan berganti dengan malam .


Kami berdua pun duduk di kursi taman, dan terlihat suasana di taman kota di saat malam hari begitu ramai. Banyak orang-orang yang berkumpul di sini.

__ADS_1


__ADS_2