Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
60.


__ADS_3

Axel menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan itu dan menatap netra hitam itu.


"Maafkan aku yahh kalau sudah membuat kamu marah." Ucapnya pelan dan terus menatap matanya.


Zahra semakin risih di tatap seperti itu, dan melepaskan tangan itu dan berbalik memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudahlah gak usah di bahas, lagian udah di maafin kok." Jawabnya datar dan melanjutkan makanan yang masih tersisa. Tapi rasanya dirinya tak berselera dan menaruhnya kembali.


Axel menghela nafas lagi, "aku sungguh-sungguh minta maaf padamu, apa aku bercanda. Lihat aku." Pintanya dan membalikkan kembali badan zahra.


"Sudahlah aku gak ingin ribut denganmu, dan ahh tenang aja suatu saat nanti ketika istrimu kembali. Aku akan pergi dari sini." Zahra mendorong kursi dan mulai bangkit. Tapi lagi-lagi tangannya di tarik lagi dan kembali duduk. Zahra menghela nafas dan menatap balik pria nyebelin itu.


"Apa mau mu???" Zahra langsung to the point.


Axel ikut menghela nafas juga, "aku hanya ingin mau menebus semuanya." Axel berucap sangat jujur.


Zahra mengernyit dengan alis yang bertaut, "apa maksudmu???"


"Mulai hari ini aku akan menjadi suami yang baik untukmu." Seru axel.


Zahra berdecih, "ada angin apa kok tumben, abis ke jedot dimana. Udah deh gak usah pura-pura lagi dan jangan sok lugu dan sok polos. Aku tau kamu menikahiku hanya untuk pelampiasan karena istri kesayanganmu itu gak mau melahirkan seorang anak, dan akulah yang menjadi tumbal iya kan." Zahra langsung menghentakkan kursi itu dengan kasar. Dan berlalu pergi darisana. Sebenarnya Zahra sudah tau semuanya, ketika malam itu dia tak sengaja mendengar percakapan antara axel dan jo di ruang tamu. Karena posisi udah sangat malam. Zahra juga tau, axel menghindarinya. Karena dia takut terjebak lebih dalam lagi. Zahra yang semula menaruh hati, kini semakin membenci axel. Karena dia sudah di bohongi habis-habisan. Lagian ini hanya nikah siri kok. Mungkin zahra akan menggugat cerai ke pengadilan agama. Dia yang akan mengurus semuanya atau perlu meminta bantuan pamannya yang sudah tau kalau zahra sudah menikah. Tapi hanya pamannya saja yang tau tidak dengan hana dan bibi Rani.


Deg

__ADS_1


Seketika jantung axel berdetak berkali-kali lipat, kok Zahra tau niat sebenarnya, dia menikahi Zahra. Axel diam membisu setelah Zahra tau yang sebenarnya. Axel mengacak-acak rambutnya frustasi dan menyandarkan punggungnya. Dia sudah kehilangan kata-kata ketika zahra sudah tau semuanya. Entah kenapa hatinya begitu sakit. Tapi lagi-lagi dia mencoba menepis rasa itu.


Beberapa minggu kemudian, ehh ternyata sudah hampir 6 bulan lamanya,


zahra menghindari axel. Semenjak itu hubungan di antara mereka semakin renggang. Dan zahra sudah menceritakan semuanya ke kak Sinta dan Mia, mereka berdua terkejut bukan main, mereka berdua gak nyangka bahwa axel sungguh-sungguh merencanakan ini begitu sangat rapih hingga tak terlihat sama sekali. Semenjak itu juga zahra kembali ke kosannya dan membawa beberapa pakaian yang di bawa di rumah itu, sisanya dia taruh dengan rapih dan mengembalikan 2 kartu ATM unlimited. Yang sama sekali gak pernah di sentuh.


Zahra menghentikan ketikan di tangannya, dan menyandarkan punggungnya di kursi itu. Dia menghela nafas terus-terusan supaya rasa sesak itu hilang tapi nihil. Karena sebenarnya zahra sudah membuka hatinya untuk axel tapi dirinya merasa terkhianati ketika mendengar suatu fakta yang sebenarnya.


Semenjak zahra pergi dari mansion miliknya, semakin axel tak fokus untuk bekerja. Karena sudah 6 bulan ini dirinya gusar dan pikirannya menjadi kacau dan semua pekerjaannya menjadi berantakan.


Tiba-tiba suara langkah kaki seseorang menggema di semua sudut ruangan, sepatu high heels nya berjalan anggun dengan menggeret sebuah koper besar. Bi sum yang sedang bersih-bersih terkejut ternyata amara sudah pulang lebih cepat.


"Loh NY-nyonya sudah pulang." Ucap bi sum terbata-bata.


Bi sum menghela nafas melihat kelakuan nyonya mudanya itu yang seenaknya berbeda sekali dengan nona zahra yang tak mau kalau di bantu, karena baginya gak enak kalau minta tolong sama yang lebih tua. Tak terkecuali orang tua seperti bi sum.


Amara berjalan menaiki tangga dan terus berjalan dengan terburu-buru ingin sampai ke kamar miliknya dan axel.


"Sayang." Ucap Amara dan membuka pintu kamarnya dan ternyata axel gak ada di kamar milik mereka berdua.


Amara pun segera turun ke bawah ingin menanyakan keberadaan suaminya itu. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga ternyata axel baru saja pulang. Amara dengan senyum mengembangnya berlari dan memeluk suami yang sangat di rindukan itu.


"Sayang aku kangen." Rengeknya manja. Amara melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan yang sudah lama tak dia lihat.

__ADS_1


Axel yang terkejut saking tak percayanya dia diam mematung mencerna semuanya. Apa dia gak salah lihat. Amara istri yang begitu masih di cintainya itu sudah pulang dan kembali ke sisi nya.


"Sayang kok kamu diam aja sih, apa kamu gak kangen aku hmm." Amara merasa gemas lalu ia mengguncangkan bahu suaminya itu pelan.


Axel menatap wajah itu yang sudah lama tak bertemu. Sekilas bayangan zahra terlintas di pikirannya. Buru-buru axel menepisnya.


"Kamu kok tumben sudah pulang lagi kesini, bukannya katanya kamu setahun disana." Ketus axel dan mengabaikan Amara yang terus merengek.


Amara mengerucutkan bibirnya dan mengejar suaminya itu, ia tau axel masih marah dengan dirinya. Maka dari itu Amara sengaja meminta ke direktur tempatnya bekerja agar 6 bulan saja disana. Dan keinginannya tercapai dan di setujui olehnya. Sekarang Amara sudah balik lagi kesini. dia masih penasaran seperti apa sosok istri keduanya itu tapi kok dari tadi Amara tak melihatnya.


axel terus naik ke atas dan berjalan menuju kamarnya dan melepaskan jas dan melonggarkan dasi yang melekat di lehernya. dan menaruhnya di sofa.


axel pun duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya dan sedikit memejamkan kedua matanya. seketika Amara berjalan menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya.


"kok kamu tumben pulang jam segini??" tanya Amara yang melirik jam di pergelangan tangannya.


"kamu sudah makan siang." tanyanya lagi.


axel hanya diam sambil menutup matanya menggunakan tangan kanannya. dia merasa geram karena Amara terus mengoceh yang membuat axel tak bisa tidur.


"cukup..., tolong tinggalkan aku sendiri..., kepalaku pening..." ucapnya yang masih memejamkan kedua matanya.


Amara pun mengulurkan tangannya dan berinisiatif untuk memijat kepala suaminya itu. namun baru saja tangan Amara menyentuh dahi axel, langsung di tepis begitu saja.

__ADS_1


Amara begitu terkejut ketika axel menepis tangannya itu.


__ADS_2