
selepas makan siang bersama. suasana di meja sangat ramai. tapi hanya kelvin dan Bima yang terus berbicara. tidak dengan Sinta, zahra dan Mia. mereka hanya diam sambil memakan makanan dengan tenang.
"kok ini kita aja sih yang ngobrol yahh bim, kok kalian malah diam saja." celetuk kelvin.
"kami hanya jadi penonton kalian aja."cibir Sinta.
"wow akhirnya ada yang ngomong juga." kelvin membalas sindiran dari Sinta.
Sinta dan kelvin menatap satu sama lain dengan tatapan sinis dari mata mereka masing-masing. aku, Mia dan kak Bima hanya menyimak sebagai penonton yang gak di bayar.
"kalian ini kalau ketemu selalu debat kusir mulu." Bima melerai antara Sinta dan kelvin.
"ehh tapi kita jarang-jarang loh reuni dadakan seperti ini." cetus kelvin.
"tapi kok menurut ku kalian berdua cocok loh." celetuk Bima lagi.
sontak saja kelvin dan Sinta saling beradu pandangan dan kemudian mereka tertawa terbahak-bahak melihat ekpresi bingung Bima.
"halah kamu bim, ngaco deh. aku dan Sinta hanya teman. kamu kan tau." ucap kelvin.
Sinta terkesiap mendengar kalau kelvin menganggap dirinya hanya teman. dia tersenyum getir dan mencoba menepis perasaan itu. Sinta ingin membuang perasaannya itu. agar tidak ada rasa cinta di hatinya.
zahra menatap mata kak Sinta berubah menjadi sendu. aku ingin bertanya namun urung. karena disini banyak sekali orang. nanti saja kalau lagi berdua.
tanpa sadar ada sepasang mata yang menatap dirinya tanpa berkedip. ia ingin sekali mengobrol dengannya. tapi dia malu, karena disini sangat ramai.
ia hanya mampu menatap matanya saja. mata yang menurutnya sangat indah.
bima sepertinya peka dengan suasana di meja ini. ia pun berinisiatif mengajak kelvin pindah duduk. karena ada yang ingin di bicarakan.
kelvin yang mau protes pun. di bungkam mulutnya dengan tangan Bima. dan menarik tangan kelvin menuju meja yang ada di ujung sana.
selepas kepergian kelvin dan Bima. suasana nampak canggung. tidak ada yang berbicara sama sekali.
Bima yang melihat dari kejauhan. tersenyum tipis melihat mereka bertiga malah diam seribu bahasa.
Mia sebenarnya dari tadi sudah sangat-sangat gugup. ia meremas jari-jari nya di bawah meja.
"mia." kak Sinta memanggil namanya. sontak saja Mia mendongakkan kepalanya menatap kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"I-iya kak." jawab Mia gugup.
zahra yang mendengar percakapan yang begitu singkat pun mengernyitkan keningnya. kenapa cuma basa basi saja. entah kenapa zahra merasa gemas sendiri dengan kedua sahabatnya dengan gengsinya masing-masing.
"emm kalau gitu aku pergi dari sini aja yahh, daripada kalian diam saja." ucap zahra dan membuat Sinta dan Mia berteriak barengan.
"JANGAN." ucap Mia dan Sinta.
sontak saja Mia dan Sinta beradu pandangan dan tiba-tiba saja mereka tertawa terbahak-bahak. zahra yang melihat mereka berdua tertawa bersama. tersenyum bahagia. akhirnya Mia dan kak Sinta kembali lagi seperti kemarin-kemarin.
"Mia maafkan aku yah." ucap Sinta tulus.
"kak Sinta jangan minta maaf. seharusnya aku lah yang minta maaf ke kalian berdua. karena aku menyembunyikan kalau aku berpacaran dengan kak Bima." ujar Mia jujur bin tulus.
"sudahlah yang lalu biar lah berlalu yang .penting sekarang kita bertiga udah akur lagi. yakan." aku berucap dan memeluk kedua sahabatku.
dari kejauhan Bima melihat semuanya. iya tersenyum. akhirnya masalah mereka bertiga berujung damai dan saling memaafkan satu sama lain.
kelvin yang baru saja membeli batagor pun mengerutkan keningnya bingung. melihat Bima senyam-senyum sendiri.
"bim kamu kesambet yahh, kok senyam-senyum sendiri kayak orang gila." celetuk kelvin.
"sakit bim. buset dah bar bar amat." keluh kelvin.
"siapa suruh ngatain orang hah." ketus Bima. dan di balas tertawa terbahak-bahak ala kelvin dengan senyum mengejek.
memang dari dulu baik kelvin dan Bima. kalau setiap becanda pasti selalu absurd. ada aja yang di ributkan. karena mereka teman masa kecil.
"loh mereka bertiga kenapa tertawa-tawa sendiri yahh." celetuk kelvin sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"udah kamu gak usah kepo, balik gih ke ruangan sendiri." usir Bima.
"dih masih lama kali baru juga jam berapa, kan aku kepo kenapa mereka tertawa seperti itu." kelvin semakin penasaran.
dia kembali menghampiri meja yang di duduki oleh Sinta, Mia dan zahra. saking kepo nya tanpa sadar sudah berada di depan mereka bertiga.
melihat kelvin datang, mereka bertiga pun mendongakkan kepalanya dan menatap kelvin. kelvin menoleh ke arah Sinta menatapnya dengan tatapan sinis dan ada kilatan amarah.
ia menelan saliva berulangkali.. sampai tak sanggup untuk menelan ludahnya sendiri saking gugup nya di tatap seperti itu.
__ADS_1
"kamu ngapain vin." tanya Sinta dengan sorot mata yang begitu tajam.
"A-aku..." kelvin tak mampu membalas tatapan mematikan ala Sinta dan merutuki dirinya sendiri lagi dan menghembuskan nafas frustasi. pasti hari ini iya akan mendapat tatapan mata ala setajam silet.
"kenapa kamu diam." ketus sinta.
Bima yang melihat kelvin di tatap tajam oleh Sinta terkikik geli.
ia pun mendekat ke arah meja para wanita.
"kok ada hawa-hawa panas dari mana yahh." Bima pura-pura gak tau. dan duduk dengan santainya di sebelah sang kekasih.
"bagaimana kalian sudah baikan??" tanya Bima.
dan di angguki oleh Mia dan zahra.
Bima pun tersenyum, dan mengelus pucuk kepala Mia dengan lembut.
"oi..., oi.., oi..., kalau mau ada adegan ftv sana tuh pindah meja." cebik kelvin sambil menunjuk meja yang tadi
bima terkekeh melihat kelvin sewot..
"gimana sin udah baikan kan kalian??" tanya Bima lagi.
"sudah lah. jangan di bahas." ketus sinta.
"ya ampun kalian berdua kok kalau merajuk barengan sih. berarti kalian jodoh." celetuk Bima dan sontak saja mendapat pelototan dari Sinta maupun kelvin.
ya ampun Bima sampai meringis melihatnya.
"udah yuk ahh, udah waktu nya masuk." ajak Sinta.
lalu Sinta, Mia dan zahra bangkit dari kursi meninggalkan dua lelaki tampan yang mematung dan melongo melihat tiga wanita itu pergi tanpa pamitan. dengan cepat kelvin ikut-ikutan menyusul mereka. begitupun Bima.
mereka berdua setengah berlari mengejar sinta, Mia dan zahra.
"hey..., kalian kok tega sih ninggalin kita. ya gak bim." kelvin menyenggol lengan Bima. dan di angguki olehnya.
akhirnya pintu lift pun terbuka dan mereka semua masuk ke dalamnya. seperti biasa Bima dan kelvin yang banyak bicara. sedang ketiga wanita hanya diam. sambil menyimak perdebatan di antara kelvin dan Bima.
__ADS_1