
A-apa tujuanmu tuan, untuk apa menjadikanku istri kedua??" ucap zahra penuh penekanan.
"sudah ku bilang, untuk menemani hari-hari ku yang sepi dan hampa" teriak axel jujur.
"tuan bisa tidak, anda kalau bicara jangan keras-keras. ini masih di rumah sakit" zahra memperingati axel.
axel menghela nafas frustasi melihat gadis itu begitu keras kepala.
"sudahlah kamu tidak usah protes, ikuti saja perintah ku" titah axel.
"aku bukan asistenmu ataupun karyawan mu." ucap zahra tak kalah sengit.
kenapa gadis ini semakin keras Kepala, dan tetap gigih dengan pendirian nya.
"apa kamu tidak tau, kalau rumah sakit ini adalah milik uncle ku." ucap axel sedikit mengancam.
zahra terdiam, ia lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan kesal dengan sikap seenak jidat orang yang ada di depannya ini.
"aku tau, terus masalahnya apa..!!" kamu mau mengancamku. " ketus zahra.
"lagian dokter hendrik tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini" sentaknya lagi.
Lagi-lagi axel di buat tak percaya dengan sikap bar bar nya.
"aku tau, kamu dan dokter hendrik tidak akur kan." sindir zahra.
jleb..
kenapa dia bisa tau, kalau aku tidak akur dengan orang itu. axel tampak gelisah, bagaimana caranya agar gadis ini mau. axel mengumpat dalam hatinya saking kesalnya terhadap gadis yang di depannya ini.
"kenapa diam, benarkan yang aku ucapkan." sindir zahra tersenyum mengejek.
axel menarik lengan zahra dan membawanya ke pintu darurat yang ada di depannya itu. zahra mulai panik ketika dibawa ke tempat ini, tapi sebisa mungkin ia harus menghilang rasa takutnya, namun gerak gerik zahra sudah terbaca oleh axel.
"untuk apa kita kesini. " jawab zahra pelan dan sedikit takut.
axel tersenyum licik, melihat gadis di depannya ini ketakutan. ia dengan sengaja menghimpit badan mungil itu hingga terbentur tembok dan wajah mereka begitu dekat sampai deru nafasnya terasa di hidung mancung zahra.
"M-mau A-apa K-kamu??" ucapnya tergugup-gugup.
membuat jantung zahra berdegup lebih cepat dari biasanya, karena saking gugupnya di tatap lebih dekat oleh seorang pria yang di depannya ini.
"ohh ayolah jantung, jangan keras-keras berdetak nya nanti terdengar olehnya" batin zahra berucap.
axel tersenyum simpul, mendengar suara detak jantung gadis yang di depannya ini.
"aku tau kamu takut." ucap axel tersenyum mengejek.
"S-siapa yang takut, aku enggak takut kok. "ungkapnya dengan begitu lantang.
"oh ya" axel menaikan satu alisnya dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah zahra hingga hidung mereka saling bersentuhan.
zahra reflek menutup matanya, hingga axel di buat gemas sendiri,melihat ekpresi gadis itu.
lalu axel menjauhkan wajahnya dan masih tersenyum mengejek melihat wajah zahra yang merah seperti kepiting rebus. saking merahnya hingga ia ingin mengerjai nya lagi.
"kenapa kamu menutup matamu, kamu berharap yahh." bisik axel di telinga zahra.
sontak zahra membuka matanya lebar-lebar, "siapa juga yang berharap, dihh kepedean banget" ucapnya ketus, lalu ia segera pergi dari sana hingga membuat axel terkekeh sendiri.
dia menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh. lalu axel dengan santainya masuk ke dalam lift yang telah terbuka dan bergegas pergi dari sana.
di sisi lain..
zahra yang baru saja sampai di ruang kerjanya, menutup pintu dengan keras hingga Mia Tersentak kaget mendengar nya.
"kamu kenapa sih ra, kok seperti di kejar-kejar setan aja..!! nutup pintu sampai make tenaga dalem. " cibir Mia.
"hehehe maaf mi, reflek " aku menggaruk kepala yang tidak gatal. lalu kembali ke kursi ku.
Mia yang melihat gelagat zahra aneh, ingin sekali bertanya. namun urung setelah melihat tumpukan laporan yang tidak ada habisnya.
sama seperti zahra, mejanya juga di penuhi berkas laporan yang menumpuk akibat kejadian tadi.
mereka pun kembali fokus dengan layar komputer masing-masing, tanpa terasa laporan yang tadinya menggunung sekarang sudah menyusut.
"zahra, ra.. woy" Mia memanggil dengan setengah berteriak.
"ada apa sih mi, berisik tau. " aku masih fokus ke layar komputer tanpa enggan menoleh.
__ADS_1
"muka kamu kenapa merah gitu ra" tanya Mia heran.
sontak zahra menghentikan jarinya untuk mengetik, ketika mendengar ucapan Mia barusan.
"O-oh ini aku abis lari, jadinya merah. " ucap zahra agar tidak gugup.
"loh kok lari-lari an sih ra, nanti kamu kena tegur suster loh." Mia memperingati zahra supaya tidak lari-lari an lagi.
"hehehe maaf atuh mi, lupa aku kalau ini di rumah sakit. " ucap zahra bohong.
pembicaraan pun terhenti, tak kala Mia merenggangkan kedua tangannya dan menyandarkan punggung nya sebentar untuk menghilangkan pegal-pegal.
"ahh akhirnya aku bisa leha-leha juga. " ucap Mia tersenyum senang.
"udah si ra, taruh aja itu laporan. kita santai-santai dulu. " titah Mia menghentikanku untuk lanjut bekerja lagi.
"apa kamu gak pegal, menatap layar komputer terus-terusan. aku aja kalau natap lama aja, sakit ini mata. maka dari itu aku membeli kacamata anti radiasi biar matanya gak kena" tutur mia.
"tapi ra, laper." rengek Mia.
"yaudah GO-FOOD aja mi." usul zahra.
"ah iya yak, kok aku lupa." Mia menepuk jidatnya.
lalu Mia mengambil ponselnya di atas meja, dan mulai menggulir layar ponsel nya mencari aplikasi gofood. dan mulai mencari-cari, ingin makan apa.
"kamu mau apa ra??" tanya Mia.
"emmm pengen bakso kayak nya enak mi, terus es teh manis sepertinya seger mi. manis-manis gimana gitu." ucap zahra sembari membayangkan 2 menu itu.
"door" Mia mengagetkan zahra..
"ishh kebiasaan deh" gerutu zahra.
Mia terkekeh melihat zahra yang merajuk.
"oke berarti kita pesan bakso 2 sama es teh manis 2 yak" tanya Mia.
"kak Sinta gak sekalian" zahra balik bertanya.
"ohh iya ya, hampir aja lupa. bisa bisa ngamuk kalau gak di pesenin juga. " jawab mia terkekeh.
"emmm cemilannya apa yak yang enak" ucap zahra bingung.
"gimana kalau rujak aja" Mia memberi ide.
"gak ahh, jangan itu. nanti aku sakit perut" tutur zahra.
"gimana kalau burger paket combo yang lagi promo itu mi" timpal zahra lagi.
"nah ide bagus tuh, baiklah berarti pesan 3 juga yahh, wahh ada gratisannya ra. manah banyak lagi gratisannya. " Mia menyodorkan ponselnya kepadaku.
"wah iya mi, enak tuh dapat es krim,kentang goreng,sama dapat minuman. " aku mengembalikan ponsel Mia.
"ehh tapi aku kepengin donat mi" pinta zahra.
"yaudah sekalian ehh tapi gak bisa ra, soalnya minimal orderannya cuma 2 aja." tutur Mia.
"biar di ponselku aja, tapi kamu mau gak" lumayan sisanya buat bawa di kosan. "zahra meraih ponselnya yang ada di atas meja, lalu ia membuka aplikasi gofood dan mencari donat yang brand nya lebih terkenal, wah dapet gratisan lagi . langsung ahh tekan tombol untuk pesannya " ucap zahra .
setelah memesan makanan, mereka melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.
tok tok tok..
suara pintu di ketuk dari luar.
"masuk" titah Mia
"permisi, mba ini ada berkas laporan yang harus di teliti???" ucap suster.
"ohh iya sus, taruh di meja aja yahh" Mia tersenyum ramah dan kembali fokus ke layar komputer nya.
"Terima kasih, saya permisi dulu" ucap suster itu sopan. setelahnya suster itu menutup pintu dan segera pergi dari ruangan nya.
tak berselang lama, security mengetuk pintu ruangan mereka.
tok tok tok..
"masuk" ucap kami berdua kompak.
__ADS_1
"permisi, ini ada dari gofood atas nama neng Mia dan neng zahra. " tutur security itu.
"benar pak, " Mia menyodorkan 3 lembar uang berwarna merah.
"boleh minta tolong pak, kasihkan uang ini, sisanya buat bapa. " timpalnya lagi.
"ohh iya ini pak" zahra menyodorkan uang 5 lembar berwarna merah.
"itu uang kayaknya gak cukup mi, udah aku tambahin. sekalian bayar donat juga" ucapku lagi.
"ohh iya yak, lupa aku" Mia menepuk jidatnya.
"yaudah makasih ya pak, udah nganterin makanan kita" aku berkata dengan tersenyum ramah.
"sama-sama neng zahra" tutur security tersenyum ramah.
"kalau begitu, kami berdua pamit ya neng" tutur nya lagi.
"sekali makasih ya pak" ucap kami berdua serempak.
security itu pun menganggukkan kepala dan pergi dari ruangan kami.
Mia dengan semangat membuka isi kantong plastik itu.
"wahh kok banyak banget ya ra" tanya Mia dengan senyum senangnya.
aku menghampiri Mia, dan yahh banyak juga isi di dalam kantong plastik.
"kamu beli donat berapa ra??" timpalnya lagi
"2 kotak tapi yang isi 24 mi" ucapku.
"hari ini kita makan besar" ucap Mia lagi dengan senyum nya yang makin melebar.
"yaudah aku telepon kak Sinta suruh kesini yahh" ucapku dan segera meraih gagang telepon, menekan tombol angka . setelah itu aku tempelkan gagang telepon itu ke daun telingaku. dan menunggu yang empunya mengangkat nya.
"iya halo ra, kenapa??" tanya Sinta di seberang sana.
"kak cepat ke ruanganku" pintaku pada kak Sinta.
"untuk apa" Sinta mengerutkan keningnya bingung.
"udah cepat kesini" aku berucap lagi.
"baiklah tunggu sebentar, aku selesain pekerjaanku dulu. " kak Sinta menutup telepon nya sepihak.
"bagaimana??" tanya Mia.
"katanya lagi selesain pekerjaannya dulu" aku mengulangi ucapan kak Sinta.
"ahh kebiasaan" cebik Mia.
yaudah ahh kelamaan nunggu kak Sinta mah, keburu adem dah itu bakso. "gerutu Mia lagi.
kami berdua pun membuka bungkus bakso dan masukkan ke dalam mangkuk styrofoam.
tak berselang lama, pintu terbuka menampilkan sosok yang di tunggu-tunggu.
Mia dan aku menoleh dan melihat kak Sinta baru saja datang.
" nah itu orangnya udah datang" sindir Mia.
"wow kayaknya lagi pesta besar nih" Sinta balik menyindir.
"sini kak, baru saja kita mau makan" aku melambaikan tanganku ke arah kak Sinta
"kok gak ngajak-ngajak sih" cebik Sinta.
"ini punya kak sin" aku menyodorkan bakso beserta mangkuk styrofoam kepadanya.
"makasih ra" tutur Sinta.
kami bertiga pun makan di meja yang ada di pojok ruangan.
"kalian kapan pesan ini makanan" tanya Sinta sambil menyeruput kuah bakso nya.
"tadi kok" ucap Mia.
"ohh pantesan" ucap Sinta dan menyuapkan bakso nya ke dalam mulutnya sendiri.
__ADS_1
mereka pun melahap makanan masing-masing dan di selingi canda dan pertengkaran kecil antara Sinta dan Mia.