
axel menyandarkan punggungnya dan memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu mau menjadi istri keduanya, ia mengetuk-ngetuk ujung pulpen untuk membuat rencana agar dia mau. sepintas ide terlintas di pikiran axel, ia tersenyum licik , lalu ia pun menelpon jo untuk datang kesini. tidak lama kemudian jo masuk ke dalam ruang milik nya.
"iya tuan, ada yang bisa dibantu" ucap jo
"jo kamu bikin surat perjanjian kontrak pra nikah untuk satu tahun untukku dan calon istriku" titah axel.
"dan satu lagi kamu urus pernikahanku semuanya tanpa terkecuali" timpalnya lagi.
"baik tuan, ada lagi??" tanya jo.
"ohh iya suruh gadisku untuk menemuiku nanti sore di restoran tempat biasa kita meeting dan jemput dia di tempat kerjanya, jangan lupa hubungi pemilik rumah sakit itu untuk datang juga. " titah axel lagi. ia enggan menyebut nama uncle nya itu.
jo menganggukkan kepala patuh dan segera keluar dari ruang milik tuan muda nya itu.
" bagus dengan begini dia gak akan berkutik lagi" axel dengan seringai licik di bibirnya.
"kamu akan terjebak dan mau tidak mau, kamu akan menerima pinangan ku" timpalnya lagi dengan tersenyum jumawa.
setelah beberapa menit , jo masuk ke dalam lagi dan menyerahkan dua lembar kertas di hadapannya.
"kerja bagus kamu jo, memang aku selalu percaya dengan kemampuanmu" puji axel dengan menepuk bahu jo.
"nanti sore kamu jemput gadisku" titahnya.
"kamu sudah menghubungi direktur itu??" tanya nya lagi.
"sudah beres tuan" ucap jo.
"bagus" ucap axel sangat puas.
di rumah sakit...
"ra ini sisa makanannya gimana??" tanya Sinta.
"kita bawa ke kosan aja kak sin" aku memberi usul.
"tapi kalau burger takutnya kalau dingin gak enak" ucap Sinta.
"yaudah kita makan lagi" ucap Mia santai.
Sinta menjitak kepala Mia dengan keras, hingga dia kesakitan..
"ishh sakit tau" gerutu Mia
"lagian kalau ngasih saran itu yang bener" desis Sinta.
"ya daripada mubazir kan." ucap Mia santai
Mia membuka bungkus burger dan melahapnya hingga habis tak tersisa.
Sinta melirik jam di pergelangan tangannya.
"guys bentar lagi kita mau pulang nih. " tutur Sinta.
aku dan Mia melirik jam di dinding ternyata bentar lagi waktunya pulang, untung saja sebagian pekerjaan sudah beres. lalu aku merapikan sisa-sisa makanan kami dan membuangnya ke tong sampah yang ada di pojok ruangan.
"aku balik dulu ya guys, thanks makanannya. nanti uangnya aku kasih pas kita pulang kerja. " Sinta melambaikan tangannya dan berlalu pergi keluar.
aku dan Mia menyelesaikan sisa pekerjaan yang masih ada,
"ohh iya hari ini kita gak ke kampus kan ya ra??" tanya Mia.
"sepertinya gak ada" jawabku.
"tapi ada tugas yang harus kita kerjain ra dari dosen" rengek Mia lagi.
"ya kita kerjain atuh mi, gimana sih" aku terkekeh
"yaudah ahh buru kita balik ke kursi kita masing-masing, " Mia menunjuk laporan yang masih tersisa.
kami berdua sama-sama terkekeh.. dan tetap melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
tak lama kemudian suara bell berbunyi, itu artinya sudah waktunya pulang.
"yey pulang" Mia tersenyum lebar.
"ishh udah kayak anak kecil aja mi" aku terkekeh melihat tingkahnya.
"yuk ahh kita pulang" Mia menarik lenganku untuk segera pulang.
kami berdua pun bergandengan tangan ke pintu keluar, dan tak lama Sinta juga baru keluar.
kami bertiga turun bersama-sama, namun aku seperti merasa ada yang memanggil namaku.
"zahra" ucap dokter hendrik.
kami bertiga pun menoleh bersamaan dan sontak saja kami bertiga terkejut siapa yang memanggil namaku ternyata dokter hendrik.
"zahra tunggu, ada yang mau saya bicarakan" pinta dokter hendrik.
mia, aku dan kak Sinta saling berpandangan. dan dengan berat hati aku pun menyetujuinya.
"kalian duluan saja, Oh iya kak sin. ini kunci motor, kamu saja yang bawa sama Mia. " tuturku.
__ADS_1
"yaudah aku dan Mia duluan yahh." kak Sinta menepuk bahuku begitu pun Mia.
dokter hendrik menghampiriku, seperti nya ada hal penting .
"emm ada apa ya dok??" aku bertanya pada dokter hendrik.
"begini ra, apa kamu di beritahu axel. bahwa hari ini kamu dan Sayan suruh datang ke cafe x. " dokter hendrik bertanya balik.
aku menggelengkan kepala, "saya tidak tahu dok" ucapku jujur.
"baiklah kita berbicara sambil jalan aja gimana, itu pintu lift udah di buka." usul dokter hendrik.
kami pun segera masuk ke dalam lift, sesampainya di lobby rumah sakit, setiap kami jalan pasti ada aja yang menyapa. sepopuler itu dokter hendrik, yahh aku akui memang dokter hendrik memang tampan dan banyak para suster serta dokter wanita ingin dekat dengan dia. mereka semua ingin jadi pacar sekaligus calon istri tapi yang aku lihat dia biasa-biasa saja dengan wanita-wanita di rumah sakit ini.
"zahra, apa saya boleh bertanya sesuatu padamu??" tanya dokter hendrik.
"emm dokter mau tanya apa yahh." jawabku.
"apa kamu yakin ingin menjadi istri kedua dari axel, apa kamu menerima semua konsekuensinya. jika istri pertama axel kembali apa yang akan kamu lakukan" ucap dokter hendrik hati hati.
aku terdiam, aku tidak memikirkan sampai sejauh itu. apa aku harus menerima tawaran itu atau...* batinku bertanya-tanya.
"entahlah dok, saya juga gatau apa harus menerima tawaran itu atau tidak" ungkap ku jujur.
kami yang sedang asik mengobrol tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan orang yang sangat aku tidak ingin temui.
"sepertinya kalian asik banget sih yah, lagi bahas apa sih emang!!" axel mendekat ke arah mereka berdua.
"kamu ngapain kesini" aku bertanya padanya.
"tentu saja menemui calon istriku" ucapnya santai.
"aku bukan calon istri mu" sanggah zahra.
"kamu tetap calon istriku. TITIK." ucap axel penuh penekanan.
"sudahlah kenapa kalian kalau bertemu selalu bertengkar." dokter hendrik terkekeh.
"ayo masuk" axel menarik lenganku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"kamu mau bawa aku kemana." tanyaku.
"udah kamu gak usah banyak protes." jawab axel yang tetap menarik tanganku untuk naik ke mobilnya.
"kenapa kamu gak masuk, ayo buru." titahnya
aku menghela nafas dan terpaksa aku ikut dengannya.
selama di perjalanan tidak ada yang bersuara, aku menatap ke arah jendela sambil melihat jalan raya yang begitu padat .
buru buru zahra membuka pintu mobil dan segera keluar. zahra mengernyitkan kening nya bingung, untuk apa dia berada di resto yang sangat mewah itu.
"ayo kita masuk" axel menarik lengan zahra dan menggenggamnya.
"aku bisa jalan sendiri" ketusku melepaskan tangannya.
namun di tarik lagi oleh axel dan berjalan bersama menuju ke dalam restoran.
sesampainya di dalam, axel dan zahra berjalan mencari kursi tempat duduk. namun mereka berdua seperti ada yang memanggil, dengan kompaknya mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.
"axel, zahra. kemarilah" pinta dokter hendrik melambaikan tangannya menyuruh mereka berdua duduk di tempat yang sama.
axel menghela nafas, ini yang paling tidak dia suka, tapi demi rencana yang sudah ia susun. terpaksa dia menghampiri uncle nya itu.
axel dan zahra mulai duduk di kursi yang telah di sediakan.
"jadi... ada hal apa yang ingin kamu bicarakan axel" dokter hendrik membuka suara.
"aku kesini meminta mu untuk menjadi saksi di pernikahanku." ucap axel santai.
"lebih baik kita pesan makanan dulu" tutur dokter hendrik dan ia pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"kamu ingin pesan makanan apa" tanya axel dan menyodorkan buku menu ke hadapan zahra.
zahra menatap buku menu itu dan melihat-lihat ingin makan apa, dia sedikit bingung dengan tulisan nama makanan yang ada di buku menu.
"kamu mau pesan makanan gak sih" axel mengulang lagi ucapannya dengan bernada sedikit kesal, sampai sampai ia geregetan sendiri . melihat gadis yang di sampingnya hanya diam dan tidak menjawab.
"tolong steak sama spaghetti bolognese satu, dan minuman nya orange jus 2" ucap axel kepada pelayan itu.
"saya samain dengan mereka ya mba" tutur dokter hendrik.
"baik, apa ada lagi tuan" ucap pelayan wanita itu.
"gak ada mba, udah cukup" ucap dokter hendrik tersenyum.
"baik, di tunggu pesanannya" pelayan itu pun pergi.
"jadi kapan kalian akan menikah??" tanya dokter hendrik.
zahra terbelalak mendengar ucapan dokter hendrik.
"M-maksudnya apa yahh??" zahra yang tidak mengerti.
__ADS_1
"kita akan menentukan tanggal pernikahan" ucap axel.
"APA..!!!" aku terkejut mendengar ucapan si nyebelin ini, bisa bisanya dengan seenaknya menentukan tanggal segala.
"tapi bukannya kalau menikah lagi, apalagi menikah kedua kalinya. berarti kalian harus nikah siri dulu baru resmi, ehh tapi kan kamu belum bercerai kan dari amara??" tutur dokter hendrik.
deg
seketika axel menelan saliva nya ketika uncle nya itu menyebut kata cerai, memang benar ia dan amara belum bercerai tapi rasa cinta itu masih ada walaupun istrinya itu harus pergi darinya.
aku berpandangan dengan tuan muda yang ngeselin itu, dan menatap dokter hendrik dengan tanda tanya.
"ya mungkin aku akan menikahi kamu, hanya secara agama dulu nanti setelahnya aku akan mengurus segalanya" ucap axel sambil menggenggam tanganku.
sontak saja aku terkejut melihat perlakuan manis yang menurutku sangat aneh.
"terus surat-surat untuk menikah apa sudah di urus??" tanya dokter hendrik lagi.
"sudah, asisten ku yang urus semua. mungkin seminggu lagi kita akan menikah" ucap axel santai.
uhuk... uhukk... uhukk..
Tiba-tiba tenggorokan ku tercekat, ketika mendengar penuturan tuan muda itu, astaga kenapa aku terjebak dengan dia sih. malah aku di paksa untuk jadi istri kedua nya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana setelah habis menikah.
"ini minumlah ra" dokter hendrik menyodorkan air mineral kepadaku.
"Terima kasih dok" ucapku.
"jangan panggil dokter, karena ini sudah bukan di tempat kerja" tutur dokter hendrik.
"panggil saya uncle hendrik, karena axel adalah keponakan saya. " ucapnya lagi.
"tapi... " ucapanku terhenti di kala axel menatapku dengan tatapan tajamnya.
tak lama kemudian, pelayan itu pun membawa pesanan kami semua dan meletakkan makanan itu di atas meja.
"silahkan menikmati" tutur pelayan itu tersenyum dan pamit untuk segera pergi dari sini.
kami bertiga pun menikmati makanan yang ada di piring masing-masing, tidak ada yang bersuara. hanya denting sendok dan garpu yang saling beradu.
"apa amara tau kalau kamu akan menikah lagi" tutur dokter hendrik hati hati.
deg
jantung axel berdetak lebih cepat, ketika uncle nya itu membahas istrinya. axel menghembuskan nafas frustasi dan menggeleng lemah.
"aku belum kasih tau dia" ucapnya pelan.
"kenapa" tekan dokter hendrik.
"ini masalah pribadiku, kamu gak usah ikut campur" ucap axel mendengus kesal.
dokter hendrik menghela nafas melihat tingkah keponakannya itu.
"baiklah aku tidak akan mencampuri urusanmu tapi masalah ini akan menjadi urusanku juga." ucap dokter hendrik penuh penekanan.
"jika kamu menyakiti zahra suatu hari nanti, maka kamu akan berhadapan denganku. " timpalnya lagi.
*kenapa aku merasa suasana begitu tegang" batinku berucap.
suasana menjadi tegang, tidak ada yang bersuara malah yang ada tatapan tajam. aku berusaha menetralkan rasa canggung yang ada di hadapanku.
"bisakah kita lanjutkan makannya." ucapku gugup.
"ahh iya hampir lupa kalau kita lagi makan." dokter hendrik mencairkan suasana.
"emmm sepertinya aku sudah kenyang." ucapku dan mengelap sudut-sudut bibirku dengan tisu.
"emmm sepertinya A-aku harus pulang." ucapku lagi.
"kenapa terburu-buru sekali ra, santai saja. kita ngobrol-ngobrol dulu." ucap dokter hendrik.
"baiklah kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan, sepertinya aku harus pulang." ucapku sambil merogoh saku bajuku untuk mengambil ponsel.
"siapa yang suruh kamu pulang." ucap axel ketus.
aku terdiam, sebenarnya malas sekali kalau berdebat dengan dia.
"untuk apa aku disini, ohh iya terima kasih atas traktirannya." ucapku tersenyum manis. sangat manis sampai-sampai aku jengah melihat wajahnya itu.
"aku bilang duduk". tekan axel.
"kalau aku gak mau gimana." ucapku santai.
tanpa aku duga, axel menarik tanganku dan aku pun duduk kembali. aku memalingkan wajahku kesamping.
"emm baiklah, sepertinya aku harus pulang." ucap dokter hendrik melirik jam di pergelangan tangannya.
"yaudah sana pulang, siapa juga yang menyuruh mu disini." ketus axel.
dokter hendrik tersenyum kecut, ternyata axel menyuruh nya untuk segera pergi dari sana.
"kalau gitu aku pulang dulu ya ra, " tutur dokter hendrik tersenyum.
__ADS_1
"iya dok, Hati-hati di jalan." ucapku tersenyum.
di sudut hati axel yang paling dalam, entah kenapa ia tidak suka kalau gadis itu tersenyum kepada pria asing. tanpa sadar axel mengepalkan tangannya kuat-kuat.