Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
49.


__ADS_3

selepas abis makan siang, kami kembali ke rumah sakit. axel dengan pede nya menggenggam tangan zahra dengan mesra. Mia dan Sinta yang di belakang mereka beradu pandang dan seketika mereka berdua tertawa terbahak-bahak.. hingga kedua insan itu menoleh dan menaikkan kedua alisnya dengan bingung. axel yang bodo amat tetap melanjutkannya menuju mobil yang terparkir cantik disana. axel membuka pintu depan dan menyuruh nya untuk masuk, tapi Lagi-lagi mereka selalu bertengkar cuma karena masalah sepele. Mia dan Sinta pun menggelengkan kepalanya. melihat kucing dan tikus itu bertengkar lagi. baru saja beberapa detik yang lalu kedua insa itu akur dan kini mereka bertengkar lagi. axel yang merasa gregetan pun mendorong gadisnya untuk masuk. dengan terpaksa zahra duduk di depan samping axel. axel pun langsung masuk ke kursi mengemudi dan di ikuti kedua sahabatnya yang juga masuk ke dalam. axel menoleh melihat gadisnya tidak memakai sabuk pengaman. dengan terpaksa ia mendekatkan wajahnya ke arah zahra. sontak saja zahra yang terkejut wajahnya dengan wajah axel sangat dekat. sampai-sampai deru nafas mereka saling bersahut-sahutan. zahra dengan reflek menutup matanya hingga membuat axel terkekeh. ia ingin sekali menggoda gadis yang ada di hadapannya. namun urung karena disini banyak sekali orang. buru buru iya mengenakan sabuk pengaman ke tubuh zahra. dan ia pun memakai sabuk pengaman juga. mobil pun mulai di nyalakan dan keluar dari area restoran menuju jalan raya.


perlahan-lahan zahra membuka kedua matanya, entah kenapa jantung nya terasa berdebar-debar bila dekat dengannya. zahra segera menepis nya dan menetralkan detak jantung yang semakin kencang. takut nanti ketauan olehnya. bisa bisa dia akan semakin kepedean tingkat dewa.


axel melirik gadisnya itu sedang bergumam gak jelas sesekali ia menggelengkan kepalanya. sehingga tanpa sadar axel terkekeh melihat tingkah lucunya. zahra yang merasa di tertawakan pun mendelik tajam menatap pria yang ada di sampingnya. axel bukannya takut justru dengan berani memegang pipi gembul itu dan mencubit nya pelan. zahra segera menepis tangan itu yang sudah dengan lancang memegang pipinya.


akhirnya mobil yang dikendarai axel sudah tiba tepat di depan rumah sakit. Mia dan Sinta terlebih dahulu membuka pintu mobil dan segera keluar darisana. karena merasa pengap melihat tingkah keduanya yang membuat mereka panas sendiri. zahra pun melepaskan sabuk pengaman itu. dan dia baru saja membuka pintu mobil. tangan seseorang menghentikannya. zahra terkesiap melihat tangan kekar itu menghalangi dia untuk keluar.


"lepaskan tanganmu, aku mau keluar." jawab zahra tanpa menoleh.


"tidak akan." axel tersenyum licik.


"jangan macam-macam di luar ada kak Sinta dan Mia yang sedang menungguku." ujarnya lagi.

__ADS_1


axel pun menoleh melihat samping tidak ada siapa-siapa hanya ada dirinya dan zahra.


"mana...!!!"Teman-teman mu sudah meninggalkan dirimu sendirian bersamaku." seru axel sambil mendekatkan wajahnya ke belakang tengkuk zahra. hingga zahra dapat merasakan hembusan nafas yang menerpa di tengkuknya. jika dia menoleh sudah dapat di pastikan akan ada kejadian yang tak terduga. dengan cepat, ia menggigit lengannya axel. hingga tangan itu terlepas. sampai axel mengaduh kesakitan karena tangannya telah di gigit oleh zahra. dengan gerakan cepat, zahra membuka pintu itu dan segera keluar meninggalkan axel yang mengaduh kesakitan.


"auw...bar bar banget sih. pake segala gigit tangan segala." keluh axel mengibas-ngibaskan tangannya ke udara supaya rasa sakit itu segera hilang. lengannya serasa kedat-kedut akibat di gigit oleh vampir cantik tapi selalu ketus padanya. rasa sakit itu tak kunjung hilang. axel mengusap-ngusap lengannya agar sakit itu hilang. Tiba-tiba ponsel axel bergetar di saku celana nya. dengan gerakan cepat axel mengambilnya dan segera menggeser tombol warna hijau dan menempelkannya di daun telinga.


"iya kenapa."


***********


axel pun mematikan telepon itu secara sepihak. dan segera menaruhnya di kursi sampingnya. axel memutar kemudi mobilnya untuk kembali ke kantor nya, yang tadi menelpon itu adalah jo. katanya kliennya sudah menunggu kedatangannya. axel mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. tapi sesekali iya ngebut. karena jalanan sangat sepi. akhirnya mobil axel tiba di kantor nya. ia membuka pintu mobil dan mengasih kunci mobilnya ke security untuk memarkirkan mobilnya di parkiran. tak lupa iya menyodorkan 3 lembar uang berwarna merah sebagai tips. karena sudah membantu nya memarkirkan mobil kesayangannya itu.


axel berjalan menuju lobby dengan memakai kacamata yang bertengger di hidung mancungnya dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana nya. semua mata memandang ke arahnya. menurut para karyawati disini. axel sangat tampan dan tentu saja tubuhnya yang atletis itu menambah kesan seksi. sehingga banyak wanita cantik mengantri suka rela untuk menjadi istri kedua, ketiga, atau apa pun itu. yang jelas istrinya sangat beruntung memiliki suami idaman seperti axel.

__ADS_1


axel menekan tombol lift khusus untuk dirinya, dan segera masuk ketika pintu nya terbuka. setelah itu ia pun keluar dari lift dan menuju ke ruangannya. dan ia dengan santainya membuka pintu itu dengan sekali hentak. hingga membuat yang ada di dalam terkejut bukan main. axel pun berjalan dengan wibawa. dan melepaskan kacamata itu dan lihat siapa yang datang. ternyata sahabatnya yang bernama reza.


reza menoleh ke arah pintu dan senyumnya mengembang ketika melihat axel sudah di sini.


"Hai bro udah lama kali kita gak berjumpa." reza memeluk tubuh axel dan sambil menepuo bahu masing-masing. jo yang ada di sebelah reza bergidik ngeri atau bergidik jijik. entahlah yang jelas di wajah jo tidak terlihat . karena ia sudah terbiasa dengan kelakuan absurd dari kedua sahabatnya itu. yap benar sekali jo adalah teman satu kampus dengan axel dan reza. maka dari Itu axel lebih percaya pada kedua sahabatnya di banding orang baru.


axel melirik tajam jo, namun jo yang di lirik hanya biasa saja dengan wajahnya yang tanpa ekpresi itu.


"maaf aku di suruh reza." jo menunjuk reza dengan tanpa dosa. reza yang merasa terpojok kan berdecak kesal dengan jo yang selalu membela axel. ya walaupun axel adalah atasan mereka berdua.


"bagaimana perusahaan cabang yang ada di negara x???" tanya axel santai dan berjalan menuju sofa.


"ya seperti biasa, aman terkendali. malah semenjak aku yang menjabat di perusahaan cabang semakin maju dan melesat di seluruh kota yang ada di negara itu." puji reza sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

__ADS_1


spontan saja axel memukul dada bidang yang hampir sama seperti dirinya. yang mempunyai badan atletis. ya walaupun jo juga memiliki badan yang serupa dengan kedua sahabatnya. karena ia selalu memakai kemeja longgar setiap hari. mereka bertiga pun duduk di sofa dengan membahas masalah bisnis dan sesekali mengenang masa-masa indah di bangku kuliah.


__ADS_2