Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
38.


__ADS_3

sesampainya di mall..


kami berdua pun bergegas keluar dari pintu taksi dan menyodorkan uang ke supir taksi.


"kembaliannya neng" ucap supir taksi.


"gak usah pak, buat bapak aja" ucap Sinta.


"makasih neng" ucap supir taksi tersenyum.


kami berdua pun berjalan menuju mall terbesar di kota ini.


"kita mau makan apa ra" tanya Sinta.


"emm apa yahh kak, aku bingung" ucapku.


"gimana kalau makan steak" ucap Sinta semangat.


"boleh tuh kak, aku ingin mencoba" ucapku.


"ayo" Sinta menarik tanganku dan berjalan menuju lobby mall.


kami berdua pun berjalan menuju eskalator dan menaikinya, sesampainya di restoran steak. kami berdua pun masuk, namun tiba-tiba kami seperti melihat seseorang yang di kenal.


"loh itu bukannya Mia" ucap Sinta menunjuk ke arah meja di ujung sana.


aku pun menoleh, dan benar saja itu seperti Mia tapi dengan siapa dia" aku bertanya-tanya dalam hati.


kami berdua pun mendekat ke arah mereka.


"loh B-bima ngapain kamu sama Mia" sentak Sinta.


sontak saja mereka berdua terkejut dan terbatuk-batuk ketika melihat kami berdua berdiri di depan mereka.


"K-kalian S-sedang A-apa disini" ucap Mia terbata-bata.


"seharusnya aku yang tanya kalian kok bisa bersama" tanya Sinta penuh selidik.


kami berdua duduk di antara mereka berdua, suasana menjadi canggung, kak sinta menatap tajam mereka berdua.


"jelaskan" Sinta menatap tajam di antara mereka berdua.


"jelaskan apa maksudnya kak sin" Mia pura-pura tidak mengerti.


"halah kalian jangan berpura-pura tidak tahu" Sinta menatap tajam keduanya.


"Bima ngapain kamu bersama Mia, atau Jangan-jangan rumor itu benar" Sinta bertanya dengan penuh selidik.


"rumor apa sih sin" sanggah Bima.


"gak usah ngelak deh, aku tau kalian berdua ada sesuatu ya kan" tanya Sinta menatap tajam keduanya.


"ada sesuatu apa sih kak sin, lagian kita ketemu di resto ini kok" elak Mia berusaha untuk tidak gugup.


Sinta menghembuskan nafas menahan kesal,


"baiklah karena kita udah ketauan, lebih baik kita mengaku saja" Bima menggenggam tangan Mia.


"T-tapi kak" Mia menatap Bima dengan tatapan gugup.


Bima mengisyaratkan untuk percaya padanya, bahwa ini akan baik-baik saja. Mia menghela nafas dan mulai mengatur nafasnya supaya rasa gugup itu sirna.


"sebenernya kami berdua pacaran" bima menggenggam tangan Mia, dan membuat wajah Mia memerah saking malunya.


sontak saja kami berdua pun terkejut dengan penuturan kak Bima.


"sudah ku duga" ucap Sinta datar.


"maksudnya kak" tanya Mia mengernyitkan keningnya bingung.


"iya aku sudah tau dari awal kalau kalian ada hubungan, kenapa kamu gak cerita mi" Sinta menatap tajam Mia.


tapi yang di tatap malah cengar-cengir gak jelas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"sebagai gantinya, kalian berdua traktir aku dan zahra sepuasnya" ucap Sinta ketus.


"ihh kak sin kebiasaan deh, " Mia protes tidak terima.


"udah dek, biar aku saja yang traktir mereka" bisik Bima di telinga Mia.


"yaudah terserah kak" Mia menghela nafas pasrah.


"kamu kenapa sih kok perhitungan gitu sama kita ya gak ra" Sinta tersenyum sinis.


aku reflek menganggukkan kepala menyetujui ucapan kak Sinta.


"B-bukan gitu kak, tapi aku gak enak sama kak Bima" sanggah Mia menggelengkan kepalanya.


"sudah tidak apa-apa, sekali-kali aku traktir sahabat kamu" tutur Bima.


"nah Bima aja gak masalah kok kamu yang protes sih Mia" ucap Sinta tersenyum sinis.


Mia memalingkan mukanya ke sembarang arah,

__ADS_1


"ahh kenapa sih harus ketauan dengan mereka berdua* Mia menggerutu di dalam hati.


"aku tau kamu menyumpahi kami berdua" ucap Sinta datar.


"E-enggak kok kak sin" ucap Mia gugup.


"udah yuk ra, kita pergi dari sini aja. jadi gak mood disini" ucap Sinta menarik tanganku.


kami berdua pun bangkit dari duduk dan bergegas pergi dari sini.


"loh kalian mau kemana" ucap Mia, menahan kami berdua.


"terserah kami mau kemana" ketus sinta.


"ayo ahh ra, kita pergi dari sini" timpalnya lagi.


lalu kak Sinta menarik lenganku dan kami berdua pun bangkit dari kursi dan segera pergi dari sana. aku tau kak Sinta marah sama mia, karena ucapannya yang membuat nya tersinggung.


"kak" ucapku pelan. setelah kami sudah keluar dari restoran steak.


kak Sinta melepaskan cekalan tangannya di lenganku.


"lebih baik kita duduk aja yuk disitu" ucapku, lalu aku menarik lengan kak Sinta untuk duduk di sebelah sana.


"kak Sinta duduk sini, aku akan beli minum di sebelah situ" aku menunjuk kedai minuman yang ada di depan kami.


Sinta menganggukkan kepala, dan aku pun berjalan menuju kedai itu.


aku pun melihat papan menu yang ada di atas.


"permisi, saya mau pesan milkshake stroberi 2 dan ice cream 2 rasa coklat stroberi. ucapku ke penjual kedai.


" baik kak, sebentar yahh" tutur penjual kedai itu.


15 menit kemudian, pesananku pun telah siap.


"ini kak, total semua jadi 70 ribu. " ucap penjual kedai itu.


aku pun menyodorkan selembar uang berwarna merah.


"ini kembaliannya kak, Terima kasih sudah berbelanja" ucap penjual itu dan menyodorkan kembaliannya.


aku pun berjalan menghampiri kak Sinta yang sedang merajuk.


"ini kak" aku menyodorkan milk shake dan es krim kesukaan kak Sinta.


"makasih, emang kamu paling ngertiin aku ra" ucap Sinta tersenyum tipis.


kami berdua pun menikmati minuman yang membuat kita menjadi lebih jernih dan rasa kesal dan emosi seketika hilang dengan sendirinya.


"gimana keadaan kakak" ucapku pelan.


"yahh seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. cuma yahh aku masih sedikit kesal sama mia." ucap Sinta datar.


"sekarang kita mau kemana kak sin" aku bertanya padanya.


"emmm gimana kalau kita makan ramen" susul Sinta.


"setuju" ucapku semangat.


ketika kami berdua sedang menikmati minuman kami, bayangan seseorang menghampiri kami berdua. sontak saja kami pun mendongakkan kepala kami berdua melihat siapa itu.


"loh K-kamu ngapain disini" aku terkejut melihat orang yang sangat tidak ingin ku lihat.


"kok seperti pernah lihat yahh" ucap Sinta menggaruk tengkuknya.


"emangnya kenapa kalau aku disini" ucapnya datar.


"selamat malam nona zahra dan temannya" ucap jojo ramah.


"ohh ya ampun kenapa sih tuan muda itu menyusul kemari apa jangan-jangan dia ngikutin aku lagi* batinku berucap.


" loh kamu bukannya keponakan dokter Hendrik " ucap Sinta menunjuk ke arah axel.


"benar sekali nona" jo yang berucap.


"kalian ngapain disini" tanya axel.


"entahlah kami bingung, tadinya mau makan steak tapi gak jadi. " ketus Sinta.


"ohh iya kalau kalian mau, bisa bergabung dengan kami." ajak Sinta.


"boleh" singkat axel.


"kami ingin makan ramen, kalian mau ikut" ajak Sinta lagi.


"ayo tunggu apalagi" ucap axel santai.


"hey siapa juga yang mengajak kamu" ketus zahra.


"lah itu tadi teman kamu yang ngajak" axel berucap santai.


"ihh kak sin, kenapa dia di ajak" bisikku di telinga kak Sinta.

__ADS_1


"emang kenapa ra" Sinta mengerutkan keningnya.


"nanti aku cerita ke kak sin, kalo udah sampe kosan." bisikku lagi.


"kenapa kalian bengong, ayo" ajak axel.


kami berdua saling beradu pandang.


sesampainya di restoran Jepang.


kami berempat pun mencari tempat duduk yang kosong. karena di tempat ini sangat ramai pengunjung.


"wahh ramai sekali nih kak" ucapku pada kak Sinta.


"iya ya, nah disana ada tempat duduk yang kosong" Sinta menunjuk tempat duduk paling pojok dekat jendela.


"ayo kita kesitu" aku menarik lengan kak Sinta. begitupun 2 lelaki yang ada di belakang kami.


kami berempat pun duduk di kursi masing-masing, suasana menjadi canggung.


"kok kita seperti double date ya ra" bisik kak Sinta di telingaku.


"iya sih kak" bisikku di telinga kak sinta.


"kalian sedang bicara apa, kok pake segala bisik-bisik. " jawab axel penasaran.


"pengen tau banget sih" ketusku.


jo hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.


"kalian mau pesan apa??" tanya axel.


kami pun melihat di buku menu ingin memakan apa. dan axel melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan. tak lama pelayan itu datang ke meja kami.


"kami mau pesan ramen 4, sushi, kimbap, okonomiyaki,masing-masing 4 porsi." ucap axel menatap pelayan itu lalu beralih menatap buku menu.


"kalian mau pesan minum apa??" tanya axel lagi.


"terserah" ketusku.


"yasudah saya pesan milkshake stroberi 2,ice cream coklat dan stroberi 2,jus jeruk 2" ucap axel lagi kepada pelayan.


"baik, di tunggu makanannya." ucap pelayan itu segera pergi dari meja kami.


"kok kamu kenapa kenapa seenaknya pesan minum" ucapku sengit.


"loh tadi katanya terserah, gimana sih" ucap axel santai.


"tau ahh.. nyebelin" ketusku sambil memalingkan muka ke sembarang arah.


"ra, zahra" bisik kak Sinta.


"ahh iya apa kak" bisikku


"kok kamu bisa kenal dengan 2 orang itu" Sinta berbisik di telingaku.


"kalian kalau mau ngobrol jangan bisik-bisik" ucap axel menahan kesal.


"suka-suka kita dong, bilang aja mau ikutan kan" ejek ku.


"iyalah" ucap axel sewot.


"sudah.. sudah.. kalian kenapa berantem sih" kak Sinta menengahi kami berdua. sedangkan jo hanya diam dan tidak mau membantu sama sekali.


"Ohh iya kenalin namaku axel, dan ini asistenku jo" axel memperkenalkan dirinya sendiri beserta kak jo.


"Ohh, namaku Sinta, aku temannya zahra" ucap kak Sinta tersenyum.


"Ohh kamu teman satu kerjaan dengan dia" axel menunjuk zahra tanpa mau memanggil namanya.


"iya benar, kamu keponakan dokter Hendrik??" tanya Sinta.


"emmm yahh begitulah" ucap axel malas mengakui uncle nya itu.


"Ohh ya kalian tadi abis belanja apa??" tanya sinta.


"ahh kami abis ketemu klien disini" ucap axel jujur. jo pun menganggukkan kepala tanda setuju.


sebenarnya memang benar axel dan jo abis meeting di mall ini, tapi ketika mereka berdua ingin turun ke bawah. axel tiba-tiba melihat sosok yang sangat di kenalnya. tanpa sadar menghampiri zahra dan Sinta.


tak berselang lama, makanan yang kami pesan sudah datang. pelayan itu meletakkan makanan di atas meja.


"selamat menikmati" ucap pelayan itu ramah.


"makasih kak" ucapku tersenyum kepada pelayan itu.


ada rasa tak suka ketika zahra tersenyum kepada pelayan lelaki itu, tanpa sadar axel mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"ya ampun banyak banget" ucapku.


"iya yah kok banyak banget sampai gak muat meja" Sinta menimpali ucapan zahra.


"emm baiklah apa kita bisa makan sekarang" ucap axel.

__ADS_1


mereka bertiga pun menganggukkan kepala menyetujui ucapan axel.dan melahap makanan yang ada di piring masing-masing. menikmati makanan yang sangat banyak sampai perut kenyang.


__ADS_2