Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
68.


__ADS_3

rasanya Amara begitu tak sabar untuk bisa bertemu dengan mantan suaminya itu. ya ia tak sabar menunjukkan benda pipih yang dimana terdapat garis dua berwarna merah. senyum merekah di bibir yang di poles dengan lipstik berwarna merah merona.


"aku sudah tak sabar untuk menunjukkan benda ini pada Axel." gumam Amara dengan mata yang berbinar.


ya selepas kepergian Jack, Amara pun buru-buru langsung berjalan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


entah kenapa semenjak ia di nyatakan hamil, tubuh Amara terasa remuk redam dan seolah-olah ia tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. ia selama ini Amara tak pernah melakukan pekerjaan rumah atau apapun itu. karena selama ini Jack sudah memperkerjakan seseorang untuk membersihkan apartemen milik calon istrinya.


ya jadi Jack tak mengijinkan Amara untuk melakukan pekerjaan yang terlalu berat, karena mengingat bahwa calon istrinya tengah mengandung calon anaknya.


hanya butuh waktu 15 menit saja, Amara sudah selesai mandi dan berganti pakaian.


tak lupa ia pun memoles wajahnya secantik mungkin.


karena baginya, penampilan itu sangat penting untuknya. Amara melirik jam di pergelangan tangannya.


ternyata hari sudah semakin sore, dan tak lupa ia mengecek ponselnya. apakah taksi yang dia pesan sudah sampai atau belum dan ternyata taksi yang ia pesan sudah sampai di depan lobby apartemen miliknya.


dengan hati yang bahagia, setelah itu Amara keluar dari apartemen miliknya dan bergegas pergi menuju lift yang terletak di pojok ruangan.


setelah pintu lift terbuka, Amara menekan tombol angka satu untuk segera turun menuju lobby apartemen.


sesampainya di bawah, Amara pun berjalan cepat menuju taksi yang ada di depan matanya.


perempuan cantik itu pun membuka pintu taksi dan segera masuk ke dalam. tak lupa ia pun memerintahkan kepada sang supir taksi itu untuk segera pergi menuju tujuannya.


sepanjang jalan, tak henti-hentinya Amara menyunggingkan senyuman manisnya.


tak butuh waktu lama, hanya sekitar 30 menit. akhirnya taksi yang membawanya kini telah sampai di sebuah gedung pencakar langit yang begitu tinggi sekali.


Amara pun langsung menyodorkan beberapa lembar uang kepada supir taksi dan segera turun.


perempuan cantik itu pun tak lupa menegakkan tubuhnya dan mengambil kaca kecil yang selalu tersimpan di dalam tas miliknya.


ya hari ini, Amara harus terlihat cantik di depan mantan suaminya. selesai bercermin. perempuan cantik itu pun berjalan menuju ke sebuah gedung yang begitu tinggi dan menaiki anak tangga dengan begitu anggun sekali.


tak lupa Amara juga memakai kacamata, supaya menambah kesan anggun dan elegan. semua orang menatap ke arah dirinya, tapi Amara memilih untuk mengabaikan tatapan semua orang dan melenggang pergi menuju lift yang pintunya terbuka lebar.


*****


di sisi lain....


seseorang yang begitu sibuk di kursi kebesarannya pun langsung menghentikan jemari tangannya yang berada di atas keyboard laptop miliknya.


sosok itu melirik foto yang selama ini menemani hari-harinya. ya lelaki itu hanya mampu tersenyum tipis sekali dan meletakkan figura itu ke tempat semula.


"andai waktu bisa ku putar, pasti semuanya baik-baik saja." gumamnya dan mencoba kembali fokus.

__ADS_1


Brak!!!!


Tak lama pintu di dorong begitu kencang, membuat sosok itu menatap ke arah sumber suara. terlihat jelas ada satu sosok yang paling dia tak ingin temui.


ya siapa lagi kalau bukan Amara yang dengan berani langsung masuk ke dalam ruangan milik sang CEO.


"untuk apa kamu kemari? sudah ku katakan berkali-kali padamu, untuk jangan datang lagi kesini." ucapnya dengan nada yang begitu dingin.


bukan Amara namanya, jika ia takut dengan tatapan itu. justru perempuan cantik itu malah terus berjalan dan menghampiri meja milik mantan suaminya.


"tenanglah, aku kemari ingin memberitahukan sesuatu padamu?" ucap Amara santai.


perempuan cantik itu berjalan menuju sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa empuk.


Axel bukannya menjawab, justru ia merasa heran. apa maksudnya ucapannya.


"sudahlah aku tak punya banyak waktu, langsung saja to the point." ucap Axel dingin.


Amara pun bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Axel yang wajahnya semakin tak bersahabat dengannya.


lalu perempuan cantik itu pun merogoh tas jinjing miliknya untuk mengambil benda pipih itu.


ia meletakkan benda pipih itu di hadapan Axel, sedangkan lelaki itu hanya diam saja dengan ekspresi wajahnya yang datar.


"apa itu?" tanya Axel datar.


sebenarnya Axel Begitu paham dengan benda pipih yang di sodorkan oleh mantan istrinya itu.


"apa kamu tak tahu benda itu, baiklah biar aku yang memberitahumu." seru Amara tersenyum manis sekali.


tapi Axel tak menjawab dan memilih diam saja, membuat Amara menggelengkan kepalanya pelan. ternyata sifat Axel tak pernah berubah, sesekali Amara tersenyum kecil dan mulai menjelaskan semuanya.


"Aku hamil Axel, lihatlah benda pipih itu bertuliskan garis dua berwarna merah yang artinya aku hamil anakmu." sambung Amara pelan dengan mata yang berbinar.


tapi anehnya Axel malah bersikap acuh, seolah tak perduli dengan apa yang di bawa oleh Amara.


Axel mengangkat satu alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. ia ingin tau maksudnya kedatangan mantan istrinya yang tiba-tiba datang kemari.


entah kenapa melihat ekspresi wajah dari seorang Axel, membuat Amara gelisah tak menentu. sampai ia tak sadar menggenggam kedua jemari tangannya.


"Oh ya! aku tak yakin itu anakku atau jangan-jangan itu anak hasil dari selingkuhan mu bukan." Celetuk Axel menaikkan satu alisnya menatap mantan istrinya.


mendadak wajah Amara langsung berubah menjadi pias, dan tentu saja wajahnya langsung berubah menjadi pucat.


"K-kenapa kamu meragukan hasilnya, apa kamu tak percaya padaku. oh ayolah Axel, kita dulu pernah melakukan hubungan itu bukan. atau kau berpura-pura lupa." ucap Amara santai, padahal dalam hati ia merasa sangat gugup. karena dirinya di tatap tajam oleh lelaki yang ada di depannya.


"Terserah, yang jelas jangan ganggu aku. lagipula kita sudah tak memiliki hubungan apapun lagi. dan ahh, aku sampai lupa memberitahu padamu. kita sudah tak pernah melakukan hubungan itu sejak 6 bulan yang lalu. sejak kamu lebih memilih pergi dibandingkan menuruti apa yang aku inginkan, jadi lebih baik mintalah tanggung jawab padanya bukan padaku." seru Axel.

__ADS_1


entah ada angin apa, tiba-tiba Amara mendekati kursi yang di duduki Axel dan ia dengan berani duduk di pangkuan mantan suaminya itu. sontak saja Axel terkejut bukan main, melihat Amara yang begitu berani melakukan hal menjijikkan seperti itu.


Amara pun seketika berbalik dan menangkup wajah tampan yang ada di depan matanya. kini mata mereka berdua saling bertemu satu sama lain.


Amara tersenyum kecil, melihat Axel yang diam saja dan tak melawan ataupun mengusir dirinya. tapi lihatlah, justru Axel malah menatap ke arahnya dengan wajahnya yang serius.


"Aku merindukanmu Axel, apa kita tak bisa seperti dulu." Bisik Amara dengan nada menggoda dan memainkan jemari tangannya di dada bidang miliknya.


sontak saja Axel menepis tangan itu dan menyuruh Amara untuk segera turun dari pangkuannya.


tanpa mereka berdua sadari, ada seseorang masuk ke dalam dan lebih terkejutnya lagi adalah seseorang itu yang sudah sejak lama di tunggu-tunggu oleh sang pemilik ruangan itu.


sosok itu pun terkesiap dan terkejut bukan main, melihat pemandangan di depan matanya. entah kenapa hatinya begitu sakit melihat pemandangan yang ada di depan matanya. apalagi di sebelahnya hanya diam saja dan menghela napas pelan.


tak lama sosok pria yang tak lain adalah Jo sengaja mengetuk pintu itu begitu keras, hingga membuat kedua orang yang asik bermesraan pun langsung menoleh ke arah sumber suara.


mata Axel membola, ketika melihat sosok yang sangat dia rindukan berada di ruangan miliknya. tentu saja Axel pun tiba-tiba bangkit dan membuat Amara jatuh ke lantai.


tentu saja Amara terperangah tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Axel.


Axel pun berjalan cepat ke arah sosok itu yang tak lain adalah mantan istri keduanya.


entah kenapa hati Axel begitu bahagia melihat sosok perempuan cantik yang ada di depannya dan langsung menggenggam tangan lentik itu, tapi anehnya langsung di tepis olehnya.


hari Axel tercelos, melihat sosok itu malah memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


Amara pun mencoba bangkit dan menepuk-nepuk dress miliknya yang terkena debu dan menatap ke arah mereka bertiga.


"oh jadi itu maduku ya," celetuk Amara dan membuat Axel langsung membalikkan badannya dengan alis yang terangkat satu.


"Apa katanya tadi, suami? jadi dia Amara, istri pertama pria nyebelin itu." batinku menerka-nerka dengan situasi yang aku alami sekarang.


entah ada angin apa, tiba-tiba ada ide licik yang terlintas di pikirannya. Amara pun berjalan begitu angkuhnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada. dan menghampiri mereka bertiga.


"jadi kamu istri kedua suamiku Axel ya, hmmm! ternyata gak selevel ya denganku." cemooh Amara dengan nada mengejek.


tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat. ketika sosok perempuan sombong itu mengejek dan menghina diriku. tentu saja aku tak terima dengan perkataannya itu.


"itu dulu, sekarang kami berdua sudah bercerai. jadi anda yang bernama nona Amara. pantas tuan muda selalu menyebut dan memanggil-manggil nama ada terus." celetuk ku dan aku pun mencoba menatap balik tatapan menyebalkan itu.


"Cih omong kosong apa ini, Halah dasar pelakor yang tak tau diri. sudah tau dia sudah punya istri, tapi kamu mau jadi istri kedua dari suamiku. apa itu yang disebut murahan namanya, kenapa kamu tak mencari laki-laki yang single untuk kau nikahi. bukan pria yang sudah beristri," teriak Amara sembari menunjuk-nunjuk ke arahku dengan wajahnya yang menyebalkan itu.


entah ada angin apa, tiba-tiba Amara menjadi sangat emosi. ketika melihat istri kedua dari mantan suaminya itu datang.


dengan cepat, aku pun langsung menangkis tangan itu yang hendak mau menamparku.


"Cukup, anda sudah melewati batas. Anda boleh menghina saya tapi tidak dengan kedua orangtua saya," balasku dengan nada sewot.

__ADS_1


aku pun langsung menatap tajam ke arah perempuan sombong itu, tentu saja aku bisa membalas ucapannya yang membuat hatiku mendidih. perempuan itu telah menghina kedua orangtuaku. siapa sih yang mau kedua orangtuanya di hina habis-habisan oleh orang lain. tentu saja aku akan membalasnya. aku bulan Zahra yang dulu, yang bisa di injak sesuka hati. kini aku akan membalas perkataan orang-orang yang telah menghinaku dan kedua orangtuaku.


"cukup, kau sudah melewati batas. kamu boleh menghina dan mencemooh ku, tapi tidak dengan kedua orangtuaku." aku pun mencoba menunjuk-nunjuk telunjuk tanganku di dahinya. dan menatap sengit ke arah perempuan itu.


__ADS_2