Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
64.


__ADS_3

Kelvin yang berpapasan dengan zahra dan Sinta pun menoleh dan tersenyum manis sekali.


"Loh kalian mau ke kantin juga, kalau gitu ayo bareng aja." Ajak kelvin dan di angguki oleh Sinta dan zahra.


Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin bersama-sama, sesekali kelvin melirik zahra yang terlihat diam tak seperti biasanya.


Sesampainya di kantin, Sinta menyuruh zahra untuk mencari tempat duduk. Biar dia saja yang membeli makan siang. Aku hanya mengangguk pasrah dan berjalan mencari tempat duduk yang ada di pojok dekat tembok.


"Loh sin, kok zahra gak di ajak." Kelvin bertanya dengan alis yang berkerut dalam.


"Gak usah, zahra lagi gak enak badan." Sinta menjawab padat singkat dan jelas.


Kelvin manggut-manggut saja dan mengikuti Sinta dari belakang. Setelah membeli makan siang, kelvin dan Sinta berjalan menuju meja yang di duduki oleh zahra.


Sinta dengan cekatan membuka nasi campur dan menyodorkan nya ke hadapan zahra dan tentu saja minumannya pun tak lupa dia taruh di depannya.


Aku mengangguk dan menyuapnya dengan perlahan, rasanya malas sekali makan tapi pasti kak Sinta akan marah kalau aku gak makan.


Dokter Hendrik dan selly berjalan menuju kantin, dia tak sengaja melihat wajah zahra yang pucat. Dia menghela nafas, semenjak dia tau bagaimana kondisi rumah tangga zahra dan axel, dan lebih parahnya lagi axel hanya memanfaatkan kepolosan zahra hanya untuk sebuah ambisi. Yahh ambisi hanya untuk membuat zahra sakit hati, karena selalu di banding-bandingkan dengan amara.


Tapi menurut kabar amara dan axel sudah berpisah juga, entahlah dokter Hendrik tak mau ikut campur. Tapi kalau menyangkut zahra, dokter Hendrik akan bertindak.


"Sel, tolong belikan aku semangkuk bakso yahh nanti kamu bilang penjual baksonya beliin dua tapi satunya kamu kasih ke zahra oke." Titahnya dan di angguki oleh selly.


Selly pun bergegas membeli apa yang di suruh oleh atasannya itu.


"Zahra entah kenapa kamu seperti mirip seseorang, yahh seseorang itu adalah teman baikku." Gumam dokter Hendrik pelan dan menatap wajah cantik itu.


"Apa jangan-jangan mereka berdua bersaudara, ahh nanti aku akan menghubungi dia." Katanya lagi.


Dokter Hendrik menghela nafas mengingat kejadian satu tahun yang lalu, dia juga mencabut semuanya. Terutama proyek yang sudah rampung berkat tangan ajaib dari seorang axel. Yahh axel adalah arsitek sekaligus ceo juga.


Tak lama selly pun datang dan membawa makanan yang sudah di pesan oleh beliau. Selly menaruhnya dengan cekatan dan dia pun ikut duduk.


"Dok, pesanan yang tadi sudah di kasih zahra." Ucap selly pelan dan di angguki oleh dokter Hendrik.

__ADS_1


Di tempat yang sama...


Aku begitu terkejut mendapat sebuah makanan dari dokter Hendrik, aku menghela nafas ternyata dokter Hendrik perhatian juga. Tapi mengingat keponakannya itu dia jadi tak berselera makan.


"Kak sin ini baksonya buat kamu aja yahh." Ucapku pelan dan menyodorkan nya di depan kak Sinta.


Kak Sinta mengernyit, dia merasa heran kok tumben zahra gak mau.


"Kita bagi dua aja gimana, kamu harus makan ra. Gak mau tau pokoknya kita makan bareng." Titahnya.


Aku mengangguk pasrah dan mulai menyuapkannya ke dalam mulutku. Dengan pelan-pelan aku mengunyah bakso dan nasi juga.


Kelvin dari tadi selalu memperhatikan gerak-gerik zahra yang terlihat tak berselera makan, dia berinisiatif akan membeli makanan manis untuknya. Dia merogoh ponselnya di saku jas miliknya dan mengetik di sebuah aplikasi g*ofood dan pesan makanan manis seperti donat dan berbagai cemilan yang lain. Setelah itu kelvin memasukkan kembali ponselnya di saku jas miliknya.


Sinta menghela nafas melihat zahra makannya cuma sedikit.


"Ra, kamu harus makan yang banyak yahh." Pinta Sinta dan menghela nafas lagi.


Aku menggelengkan kepala, "udah kenyang kak."


Melihat kelvin yang bangun pun seketika Sinta mendongakkan kepalanya.


"Loh vin mau kemana kamu??" Sinta bertanya dengan alis yang berkerut.


"Sebentar aku mau ke depan mau ngambil sesuatu." Katanya dan meninggalkan dua orang itu.


tak lama kelvin pun membawa dua kantong plastik dan membawanya menuju Sinta dan zahra.


"ini buat kalian." katanya dan menyodorkan satu kantong plastik ke hadapan mereka berdua. zahra dan Sinta saling beradu pandang satu sama lain.


"loh itu kapan kamu belinya??" Lagi-lagi Sinta merasa heran.


"Ohh gak lama kok, di makan yahh. dan ahh ini aku kasih satu kotak donat, kamu bawa aja ke ruangan kamu." seru kelvin dan menyodorkan ke arah zahra. tapi zahra hanya diam dan melongo tak percaya.


"yaudah aku duluan yahh, soalnya masih ada pekerjaan yang tertunda." kelvin pun bangkit dari kursi dan meninggalkan mereka berdua yang melongo tak percaya.

__ADS_1


"ra, kok tumben sih kelvin kesambet apaan yahh. Tiba-tiba ngasih makanan seperti itu." ucap Sinta merasa heran.


"entahlah kak, aku juga gatau." ucapku menggidikkan bahu.


"lumayan ra, buat nambah imun." celetuk Sinta dan tertawa cekikikan.


ya ampun aku menggelengkan kepala melihat kak Sinta tertawa cekikikan seperti itu.


akhirnya kami berdua pun pergi meninggalkan kantin dan bergegas untuk masuk ke dalam lift yang terbuka.


sesampainya di lantai 5 , tempat kami bekerja. aku dan kak Sinta berpisah, aku pun menaruh makanan itu di atas meja yang ada di pojok ruangan.


aku mengambil ponselku dan melirik siapa yang mengirim pesan WA. entah kenapa nama itu membuat hatinya begitu sakit.


"mau ngapain lagi sih dia, bukannya istrinya sudah pulang dan balik lagi kesitu. kenapa dia masih menghubungi ku." aku menghela nafas dan meletakkan kembali ponselku.


entah kenapa aku merasa pusing, aku juga memijat pelipis ku yang semakin pusing. dan menyandarkan kepalaku di kursi. aku memejamkan sedikit kedua mataku. untung saja pekerjaan ku tak terlalu banyak.


baru saja aku ingin memejamkan kedua mataku, kak Sinta datang menghampiri ku


"loh ra, kamu kenapa. pucet banget kamu ra???" Sinta berjalan cepat ke arah zahra.


aku pun membuka kedua mataku, "ehh kak Sinta kenapa kak, aku baik-baik aja kok. tenang saja." aku mencoba untuk tetap bangun dan menegakkan badanku.


"benar kamu gpp ra, kalau ada apa-apa kasih tau aku okay." katanya lagi.


aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"ra kalau ada apa-apa cerita, jangan di pendam sendiri." tutur kak Sinta lembut.


aku menggelengkan kepala, "aku gpp kok kak, kenapa kamu kesini. emang kerjaan kamu udah kelar." aku malah balik bertanya padanya.


"sebenarnya aku ada meeting sekarang, ini lagi mau siap-siap. yaudah aku tinggal dulu okay, kabari aku kalau ada apa-apa hmm." serunya dan mengusap lembut pipiku.


sebenarnya aku lagi gak baik-baik saja setelah melihat seseorang terus menganggu ku. rasanya aku malas bertemu dengannya.

__ADS_1


__ADS_2