Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
39.


__ADS_3

"ahh kenyang sekali" Sinta menepuk-nepuk perutnya yang kenyang sambil memakan eskrim yang ada di tangannya.


"kalian abis ini mau kemana???" tanya axel.


"entahlah, kami gatau" ucap Sinta.


"bagaimana kalau kita menonton film" usul axel spontan.


sontak saja jo terkejut mendengar tuan muda nya itu ingin mengajak menonton film bersama-sama. "ini seperti bukan tuan muda" batin jo berucap tak percaya.


"ga usah makasih" tolak ku halus.


"Ohh ayolah, kita jarang-jarang bertemu disini ya kan" desak axel.


"ga usah" ketusku.


"harus, kamu harus menuruti perintah ku" axel menatap tajam zahra. tapi yang di tatap tidak takut sama sekali.


"wahh ternyata zahra banyak berubah, tidak seperti pertama kali aku ketemu dia" batin Sinta berucap dan tersenyum tipis melihat zahra dan axel bertengkar.


"sudah.. sudah.. kenapa sih kalian ribut terus" Sinta berucap sambil terkekeh.


"lagian dia maksa banget ngajak kita" zahra menunjuk axel tanpa mau menyebutkan namanya.


"yaudah kita Terima tawaran dia ra" ucap Sinta santai.


"A-apa kak Sinta mau" zahra terperangah menatap Sinta tak percaya.


"nah teman kamu aja mau" ucap axel santai.


"baiklah, tapi traktir kami makan" tunjuk zahra pada piring-piring yang sudah kosong.


"tidak masalah" axel berucap santai..


kami berempat pun bangkit dari duduk, axel menyodorkan kartu kredit kepada jo untuk membayar semua makanan yang mereka semua pesan.


"ayo" titah axel.


"hey aku bukan bawahanmu" ketusku tak Terima.


"sudahlah zahra" Sinta menahanku supaya gak usah emosi.


kami pun berjalan menuju gedung bioskop yang ada di atas, lalu kami menuju lift yang terbuka dan masuk ke dalamnya. setelah itu kami pun keluar dari lift dan berjalan menuju gedung bioskop.


"kalian ingin nonton apa??" tanya axel.


"gimana kalau nonton film horor" usul sinta.


"yaudah kita pesan tiket dulu, jo pesankan tiket untuk kita berempat." titah axel.


"baik tuan" jawab jo pasrah.


"ra ayo kita beli cemilannya" ajak sinta.


"ayo" aku menarik lengan kak Sinta dan berjalan menuju tempat popcorn dan minuman.


aku dan kak Sinta melihat-lihat ingin membeli yang mana di papan menu.

__ADS_1


"ahh gimana kalau masing-masing satu" usul Sinta.


"setuju" aku ngikut apa kata kak Sinta.


"selamat datang, ada yang bisa di bantu" ucap petugas itu.


"kami mau pesan popcorn 4 dan cola 4," ucap Sinta.


"mohon maaf ini popcorn dan cola nya yang mana kalau boleh tau???" tanya petugas itu.


"yang ukuran sedang semuanya" ucap Sinta lagi.


"baik, jadi total nya 250 ribu" ucap petugas nya lagi.


namun baru saja kami mau menyodorkan uang ehh sudah ke duluan oleh axel, ia menyodorkan kartu ATM nya ke petugas itu.


"loh kok jadi anda yang bayar??" Sinta jadi merasa sungkan.


"gpp santai saja" ucap axel, lalu ia menoleh ke petugas itu untuk mengambil kartu ATM nya.


"makasih yahh, kita berdua jadi tidak enak" ucap Sinta dan aku.


tak butuh waktu lama, sekitar 15 menit pesanan kami siap. tapi lagi-lagi axel yang membawa cemilan popcorn dan minuman yang ada di nampan kecil. dari jauh jo pun menghampiri kami dan menyuruh kami untuk cepat-cepat masuk, karena filmnya akan di mulai.


kami berempat pun bergegas masuk ke dalam gedung filmnya. setelah lebih dari 3 jam lamai. akhirnya kami berempat keluar dari gedung bioskop.


"ahh seru sekali" ucap Sinta semangat.


"seru apaan kak sin, serem begitu tau" sebenarnya aku takut kalau di ajak menonton film seram.


"gak ahh biasa aja tuh" axel ikut menimpali ucapan dua orang wanita yang ada di depannya.


"kamu" geram axel.


jo hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala melihat keduanya yang tidak pernah akur, bagaimana kalau misalnya mereka menjadi sepasang suami istri pasti yang ada berdebat mulu.


"sudah-sudah..., kalian kok tiap ketemu selalu ribut" Sinta berusaha menengahi mereka berdua.


"dia duluan tuh yang selalu ikut-ikutan" elak zahra.


Sinta menghela nafas melihat zahra dan axel selalu bertengkar.


"kalian abis ini mau kemana??" tanya axel.


"entahlah" Sinta menggiddikkan bahu.


"bagaimana kalau ku traktir makan malam" usul axel.


aku dan kak Sinta saling beradu pandang, menimang-nimang ajakan dari tuan muda yang ngeselin itu.


"bagaimana kak" bisikku di telinga kak Sinta.


"Terima aja ra, kapan lagi kita di traktir sama tuan muda itu" Sinta tersenyum licik


"terserah kak deh, aku mah ikut aja" aku menghela nafas.


"boleh" ucap Sinta menyetujui.

__ADS_1


"baiklah, kali ini biar aku yang ajak kalian ke tempat lain. tidak jauh kok masih di sekitar mall ini" ucapnya.


kami pun menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki 2 orang lelaki yang ada di depan kami. namun naasnya aku dan kak Sinta berpapasan dengan Mia dan kak Bima yang berjalan ke arah kami berdua. sontak saja kita berdua terkejut melihatnya. Mia mencoba mendekat ke arah aku dan kak Sinta. tapi dengan cepat kak Sinta menarik lenganku dengan begitu kasar. aku tau kak Sinta masih marah dengan Mia. tapi aku gak membenarkan sikap Mia terhadap aku dan kak Sinta. kita berdua adalah sahabat dia tapi kenapa dia dengan entengnya menolak untuk mentraktir kami. aku baru tau sifat asli Mia. ternyata dia adalah orang yang sangat perhitungan.


"kak sin.., zahra..., " ucap Mia lirih dan berjalan mendekati kita berdua.


"ada yang mau aku bicarain ke kalian berdua." lirihnya lagi.


"tidak ada yang perlu di bicarain lagi." sentak Sinta dan menarik lenganku. mereka berdua mulai menjauh dari Mia dan Bima.


"kak." ucap Mia lirih


"sudah.. nanti juga kalian baikan lagi kok." tutur Bima lembut menenangkan sang kekasih.


"tapi..." ucapan Mia terhenti ketika punggungnya di usap begitu lembut.


"aku bukan mau menyudutkan mu dek, tapi sikapmu sudah keterlaluan dengan mereka. kamu harus minta maaf baik itu Sinta ataupun zahra. kamu mengerti." tutur Bima lembut menggengam tangan Mia.


"iya aku tau." ucap Mia lirih.


"tapi sepertinya mereka gak akan maafin aku kak." lirih nya lagi.


"pasti maafin kok, udah kamu duduk disana. aku akan belikan kamu minum okay." titah Bima.


Mia menganggukkan kepala menuruti perintah Bima dan Bima pun berjalan menuju kedai minuman.


"kak sin." ucapku pelan.


sontak saja Sinta menoleh dan melepas cekalan tangan zahra dari tangan diri nya.


"ohh sorry ra, kamu jadi kesakitan karena aku menggandeng tangan kamu dengan kencang. " Sinta merasa bersalah.


"gpp kok aku ngerti." jawabku.


"hey kalian jalannya kok lamban seperti siput." ejek axel.


"A-apa katamu tadi..!!! siput..!!! kamu ngatain kita berdua yak." ucap zahra sewot.


"emang iya kan." axel tersenyum mengejek.


"lebih baik kita pulang aja yuk kak sin, gak usah ikut dia." aku menunjuk axel dengan mata melotot.


"loh tapi ra." Sinta merasa tak enak.


"udah ayo kak, tinggalin aja dia." aku menunjuk ke arahnya dan terus berjalan lurus dan menuju eskalator untuk turun ke bawah.


"hey kalian... " axel mencoba menghentikan dua gadis yang sedang merajuk.


"gadis itu tidak sopan sama sekali." gerutu axel.


"jo ayo kita pulang saja." titah axel dan berjalan mengikuti zahra dan Sinta.


jo pun selalu setia mendampingi tuan mudanya itu.


"loh kamu...!!! ngapain ikutin kita turun pake eskalator." zahra menyipitkan kedua matanya tak percaya kalau tuan muda itu turun menggunakan eskalator biasanya juga lift. ini kok tumben sekali.


"terserah aku dong mau turun pake apa, ini kan tempat umum jadi semuanya juga berhak." axel sengit.

__ADS_1


Sinta menghela nafas melihat kucing dan anjing selalu bertengkar gatau tempat.


__ADS_2