Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
34.


__ADS_3

sesampainya di perusahaan


axel bergegas keluar dari pintu mobil, dan berjalan menuju lobby perusahaan. begitu pun jo yang setia mendampingi tuan muda nya itu.


setiap axel dan jo melangkah masuk ke dalam perusahaan, setiap karyawan menyapa dirinya dan juga jo. tapi axel tidak menjawab hanya diam sembari terus berjalan menuju lift khusus untuk nya.


pintu lift pun terbuka, mereka berdua pun segera masuk ke dalamnya dan menuju lantai tempat ruangan mereka berada .


mereka pun segera keluar dari lift dan menuju ruangan miliknya.


"jadwal hari ini apa aja jo?? " tanya axel tanpa menoleh.


"hari ini tuan muda akan bertemu dengan klien dari perusahaan logistik. " tutur jo


axel menganggukkan kepala, dan berjalan menuju kursi kebesarannya itu. ia penasaran dengan map yang berwarna biru itu, axel pun duduk dan membuka map tersebut. dan ia membaca keseluruhan yang ada di dalam map itu. Tiba-tiba terlintas ide, ia tersenyum licik memandang map biru itu.


axel menelpon jo melalui interkom, untuk segera datang ke ruangannya.


tak berselang lama, jo pun masuk ke dalam ruang tuan muda nya itu.


"iya tuan, ada apa memanggil saya" ucap jo


"setelah makan siang, antarkan aku ke rumah sakit" titah axel.


jo mengernyitkan dahinya bingung, kenapa tuannya itu ingin sekali kerumah sakit, apa atas perintah dari tuan hendrik." batin jo bertanya-tanya.


"baik tuan akan saya siapkan mobil untuk menuju rumah sakit. " jawab jo dan di angguki oleh axel.


"bagus, dengan ini aku akan mendapatkan apa yang ku mau" axel tersenyum licik sembari menyandarkan punggung nya.


"zahra alesha" gumam axel tersenyum tipis memandang wajah cantik itu.


"aku tidak akan pernah melepaskanmu" axel berucap dalam hati.


dan segera bangkit dari kursi nya dan berjalan menuju pintu keluar, karena ia sudah tidak sabar ingin merencanakan apa yang ada di isi kepalanya itu.


"mobil sudah siap tuan" tutur jo


"bagus, ayo jalan" titah axel


mereka pun menuju lift yang masih terbuka dan segera masuk ke dalamnya, sesampainya di basement. mobil yang membawa axel dan jo sudah berada di sana. mereka berdua pun segera masuk ke dalamnya, mobil pun bergerak keluar dari gedung perusahaan dan berjalan menuju jalan raya.


sesampainya di rumah sakit x,


dengan langkah panjang, axel segera berjalan menuju lobby rumah sakit dan menanyakan ruang kerja zahra dimana. ia menuju resepsionis untuk menanyakan tujuannya.


"maaf permisi, dimana ruangan zahra alesha " tanya axel kepada seorang wanita yang bertugas menjadi resepsionis.


"di lantai 5 tuan" tutur wanita itu.


"Terima kasih" ucap axel datar.


"Sama-sama tuan" ucap wanita itu ramah.


axel bergegas menuju lift yang terbuka dan segera masuk ke dalam dan menekan tombol 5 menuju ruangan yang di tuju.


sesampainya di lantai 5, ia mencari ruangan tempat zahra bekerja.

__ADS_1


axel lalu bertanya kepada suster dimana letak ruang kerja zahra. dan setelah bertanya, ia pun berjalan menuju ruangan dengan tulisan admin.


ia pun mengetuk pintu itu dan terdengar suara menyuruhnya untuk masuk.


"masuk" titah Mia di dalam sana.


axel pun dengan santai membuka pintu itu dan segera masuk ke dalamnya.


"permisi" ucap axel.


dan membuat 2 wanita itu menghentikan pekerjaannya dan mendongakkan kepalanya, betapa terkejut nya melihat siapa itu..


sampai-sampai Mia reflek membuka mulutnya saking terkejut nya.


"tutup mulut kamu mi, nanti nyamuk masuk" bisik zahra di telinga mia.


sontak Mia yang masih terkejut langsung menutup mulutnya . hingga zahra terkekeh.


buru buru Mia yang menjawabnya dengan gugup


"I-iya ada yang bisa saya bantu??" tanya Mia gugup.


"maaf kalau boleh tau yang namanya zahra alesha siapa yahh??" axel balik bertanya.


"iya saya sendiri, ada apa ya tuan mencari saya. " ucap zahra tersenyum ramah.


"bisa keluar sebentar, ada yang mau saya bicarakan dengan kamu" tutur axel penuh harap.


zahra mengernyitkan dahinya heran, "kenapa tuan muda itu ingin menemui dirinya" batin zahra berucap.


axel yang tidak sabaran menarik lengan zahra dengan kasar, dan membuat Mia mematung di tempat.


"tuan kenapa anda menarik tangan saya dengan kencang, sakit tauk" cebik zahra.


axel dengan reflek melepaskan cekalan tangannya.


"ayo ikut aku keruangan dokter hendrik" titah axel.


"untuk apa kita kesana??" tanya zahra bingung.


"sudah jangan banyak tanya. " axel menarik lengan zahra dengan kasar.


dan bergegas menuju ruangan uncle nya itu.


tanpa banyak bicara, ia mendorong pintu ruangan uncle nya itu dengan kasar. hingga dokter hendrik tersentak mendengar pintu di dorong dengan keras.


"ohh ya ampun axel, uncle kira siapa!! kok kamu gak bilang-bilang kesini" ucap dokter hendrik terkejut.


"loh zahra kenapa kamu disini??" dokter hendrik di buat heran dengan kedatangan zahra dan axel.


"ada apa kalian berdua kemari??" desak dokter hendrik sembari mengerutkan kening nya bingung.


"tolong jadi saksi pernikahan kami berdua" ucap axel santai.


"A-apa maksud mu axel, bukannya kamu sudah menikah dengan amara. " tutur dokter Hendrik terkejut.


"iya benar, tapi aku ingin menikah lagi" axel menatap uncle nya dengan datar dan terlihat santai.

__ADS_1


deg


jantung zahra berdegup kencang, apa yang di ucapkan tuan muda itu. hingga zahra tak mampu menjawab. seketika tubuhnya membeku,bibirnya kelu, tanpa mampu mengucapkan kata-kata. zahra hanya diam sembari menyimak pembicaraan 2 orang yang ada di depannya ini.


"untuk apa kamu menjadikan zahra sebagai istri keduamu axel??" tanya dokter hendrik lagi.


"karena aku mencintainya" ucap axel mantap.


dokter hendrik di buat terkejut oleh keponakannya itu, tapi tidak mungkin axel mencintai zahra. pasti ada sesuatu, ia harus memastikannya sendiri.


"kamu yakin??" tanya dokter hendrik penuh selidik.


"yakinlah" ucap axel santai.


"baiklah, kita tanya zahra terlebih dahulu" dokter hendrik menatapku dan membuatku bertambah gugup.


"apa kamu bersedia untuk menikah dengan axel??" tanya hendrik lagi. ia ingin memastikan sendiri, ini murni apa ada sebuah kesepakatan di dalamnya.


"emm A-aku... ucapanku terhenti, aku hanya mampu menundukkan Kepala. tidak tau menjawab apa karena saking terkejut nya mendengar lontaran kata dari axel. yang menjadikan dirinya istri kedua.


" sudahlah axel, jangan paksakan zahra. lagian kalian seperti nya baru bertemu bukan" skakmat dokter hendrik.


membuat axel terdiam, dan mencari cara agar uncle nya itu percaya dengan ucapannya.


"benarkan yang aku ucapkan" dokter hendrik menatap zahra tegas.


zahra menganggukkan kepala membenarkan ucapan dokter hendrik.


"benar dok, saya baru bertemu tuan itu" zahra menunjuk axel.


axel dengan menahan amarah, ia menarik lengan zahra dengan kasar hingga tanpa sadar menubruk badan mungil zahra ke tubuhnya.


"kamu harus bilang ke dokter itu, kalau kita sudah lama kenal" bisik axel di telinga zahra.


zahra menghembuskan nafas kesal, karena dengan seenaknya bilang kalau mereka sudah lama kenal. padahal mah baru aja ketemu tadi di ruang kerjanya.


"maksudnya??" dokter hendrik menaikan satu alisnya heran.


"emm B-benar yang di bilang axel, K-kalau kita sudah lama kenal" ucap zahra gugup.


"kamu tidak usah takut zahra, ada saya yang akan membela mu bila dia membuat masalah denganmu" dokter hendrik menunjuk ke arah axel dengan tatapan tajamnya.


"ya sudah terserah kalian, kapan kalian akan melangsungkan akad nya" timpal nya lagi.


"secepatnya, saya akan menghubungi anda" ketus axel. dan berlalu pergi dari ruangan itu.


axel menarik lengan zahra, namun segera di tepis olehnya.


"apa maksud ucapanmu tadi tuan??" tanya zahra dengan mata melotot karena menahan kesal.


"kenapa kamu bilang ke dokter hendrik, bahwa kamu ingin menikahi ku, tapi kenapa harus jadi istri kedua. " ketus zahra.


"karena aku butuh sosok yang menemaniku di setiap saat" ucap axel menatap netra coklat itu.


"lalu kemana istrimu tuan, kenapa bukan dia saja yang menemanimu, kenapa harus aku" sentak zahra lagi.


axel langsung diam membisu, tidak bisa menjawab pertanyaan dari setiap lontaran kata yang di ucapkan oleh zahra.

__ADS_1


__ADS_2