Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
19.


__ADS_3

selepas kepergian asisten jo,


zahra termenung, masih tidak percaya dirinya berada di rumah sakit tempat nya bekerja.


"apa yang terjadi, kenapa bisa aku berada disini???" ucapnya masih memegang dahinya yang masih terasa ngilu.


triing,, triing,, " dering ponsel membuyarkan lamunanku. aku melirik siapa yang menelpon ternyata dari kak Sinta. Buru buru aku menekan tombol warna hijau, dan menempelkan benda pipih itu di daun telingaku. "


"iya halo kak, " jawabku


"kamu dimana ra, kok belum sampai juga. " ucap Sinta di seberang sana.


"aku,, aku di rumah sakit kak. " ucapku pada kak Sinta.


"rumah sakit??" rumah sakit mana ra, " jawab Sinta bingung.


"rumah sakit tempat kita bekerja kak, " ucapku pelan.


"maksudnya ra, aku tidak mengerti?? " Sinta menggaruk Kepala nya tidak gatal


"A-aku,, aku kecelakaan kak. " ucapku lirih.


"hah A-apa, " Sinta terkejut.


"sekarang kamu di kamar berapa, apa kamu baik-baik saja???" cecar Sinta.


"aku di kamar melati, No. 235." sepertinya ini kamar VVIP, " zahra menengok ke kanan dan ke kiri melihat seisi ruangan yang hanya ada dirinya saja.


"baiklah, aku akan segera kesana. kamu istirahat saja, gak usah banyak bergerak. okay, " tutur Sinta panik.


telepon di matikan secara sepihak oleh Sinta .


Sinta berjalan menuju ruangan Mia dan zahra, lalu sinta mengetuk pintunya.


tok tok tok


"masuk, " titah Mia di dalam


ceklek,,, "


pintu terbuka, aku pun menghampiri Mia, tapi sepertinya dia sedang sibuk. tidak menoleh sama sekali.


"Mia, " ucap Sinta.


lalu Mia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.


alis Mia bertaut heran, kenapa kak Sinta wajahnya panik gitu. apa ada masalah.


"kamu kenapa kak, " tanya Mia dengan bingung.


"zahra mi, zahra,, " ucap Sinta panik.


"zahra kenapa kak sin, " Mia mengerutkan kening nya.


"zahra kecelakaan mi, " ucap Sinta pelan.


"A-apa kecelakaan, kok bisa kak sin. " teriak Mia


"ishh gak usah teriak-teriak juga kali, bikin sakit kupingku. " gerutu Sinta.

__ADS_1


"hehehe sorry sorry, reflek kak. " Mia nyengir tanpa dosa.


"sekarang dia ada dimana kak, " tanya Mia lagi


"dia ada di kamar melati, no. 235 ." cicit Sinta pelan


"yaudah kita kesana kak, tunggu apalagi. " ucap Mia yang tak kalah panik.


"bentar aku beresin berkas laporan ku dulu, " timpal Mia lagi.


"ayo buru kita kesana. " desak Sinta gak sabaran.


"iya iya sabar dulu apa kak, "ini nanggung bentar lagi.. nah beres deh, ayo kak kita kesana. " Mia menarik lengan Sinta dengan tergesa-gesa dan menutup pintu ruangannya.


tiiing,,, "


pintu lift pun terbuka, dengan buru buru mereka berdua pun masuk ke dalam. setelah menunggu 5 menit..


tiingg,,"


pintu lift pun terbuka, lalu mereka berdua segera keluar dan bergegas menuju ruang rawat inap zahra.


"kamu tau letak kamarnya dimana kak sin, " tanya Mia


"kita tanya resepsionis yang ada di lantai ini, " ucap Sinta setengah berlari..


sesampainya di resepsionis.. "ia bertanya pada temannya.


" megan kamu tau dimana zahra di rawat, " tutur Sinta panik.


"zahra?? " ucap megan bingung.


"hehehe,, aku hanya bercanda sin.. kok pagi-pagi udah marah marah aja. " ucap megan tersenyum menampilkan giginya yang putih.


"nanti kamu lurus belok kiri, nah kamarnya ada disitu. " tutur megan.


"okay makasih meg, " ucap Sinta melambaikan tangannya dan menarik tangan Mia yang jalannya lambat seperti siput.


"ishh pelan pelan napah kak, sakit ini tanganku. " cebik Mia mendengus kesal.


"udah gak usah banyak protes, ini kita harus mengecek keadaan zahra gimana dulu." ucap Sinta makin panik.


sesampainya di ruang rawat zahra, Sinta membuka pintu kamar itu dan tidak lupa ia mengetuk pintu nya terlebih dahulu.


tok tok tok,, "


"kok gak ada suara yak kak sin, " bisik Mia


"jangan bikin aku makin panik mi, " desis sinta


"ayo kita langsung masuk saja, gak usah ketuk pintu lagi . titah Sinta lagi.


Mia menganggukkan kepala, lalu ia mendorong pintu itu dan bergegas masuk ke dalamnya.


" astaga zahra, kamu gpp".ucap Mia setengah berteriak. membuat zahra yang awalnya tertidur kini tersentak mendengar ucapan Mia yang bikin kuping budek.


"emmm ehh kak sin, Mia. kalian disini , " zahra mengerjapkan kedua matanya.


"kapan kalian datang, " tutur zahra duduk.

__ADS_1


"baru saja ra, " ucap Sinta


"ya ampun itu dahi kamu kenapa ra, " Mia meringis melihat nya.


"ohh ini sepertinya aku terbentur aspal kak sin, mi. " ucapku pelan.


"tapi sepertinya luka itu cukup serius ra, " tutur Sinta panik.


"emmm ya sepertinya sih begitu kak sin, mi. ucapku tersenyum tipis menanggapi kepanikan kedua sahabatku.


" tapi kamu masih pusing gak ra, kamu sudah makan belum. tapi kamu gpp kan ra, "cecar Sinta bertambah panik.


aku bingung harus menjawab apa, dari semua rentetan pertanyaan dari kak Sinta yang bertubi-tubi.


" sepertinya agak ngilu sedikit kak, terus masih pusing mungkin efek obat biusnya belum hilang. " ucapku pelan.


"apa kamu mau di belikan makanan ra, supaya kamu mau makan. " ucap Sinta lagi


"nanti saja kalau aku lapar kak, lebih baik kak Sinta dan Mia kembali ke ruangan kalian Masing-masing . takutnya kerjaan kalian menumpuk . " tutur ku pada mereka berdua lembut.


"T-tapi kita berdua khawatir ra dengan keadaan kamu, " ucap Mia lirih.


"aku tersenyum, lalu menggenggam tangan kak Sinta dan Mia. " aku Baik baik saja okay, nanti saat makan siang kalian bisa kemari. "tutur ku lembut..


" ohh iya maaf ya mi, mungkin aku akan nyusahin kamu. tolong handle pekerjaanku dulu yahh, ucapku merasa gak enak.


"iya ra, udah kamu gak usah mikirin laporan yang menggunung. yang penting kamu sembuh dulu, istirahat saja kamu yahh. " ucap Mia mengusap lenganku lembut.


"baiklah kita berdua nanti balik lagi kesini, udah kamu tiduran aja okay. gak usah banyak gerak, " titah Sinta.


aku menganggukkan kepala, dan mereka berdua pun keluar dari kamarku.


"kenapa bisa aku kecelakaan, " zahra merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa ceroboh dengan tidak menengok ke kanan dan ke kiri ketika menyebrang di jalanan.


"tapi emang mobil itu yang salah kenapa mengendarai nya begitu kencang hingga aku terpental dan jatuh tersungkur ke aspal, untung saja hanya dahiku yang luka coba yang lain. " zahra bergidik ngeri membayangkan apa yang di pikirannya terjadi. buru buru ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan merebahkan tubuh nya yang lemah ,efek obat biusnya yang belum hilang. hingga rasa kantuk itu datang. zahra memejamkan kedua matanya dan akhirnya ia pun tertidur pulas.


sayup sayup aku seperti mendengar suara kak Sinta dan Mia, aku membuka perlahan kelopak mataku secara perlahan, dan ternyata benar mereka berdua datang kesini lagi.


"Hai ra, sudah bangun kamu. " ucap Sinta tersenyum.


"loh kalian kapan datangnya, kok gak bangunin aku sih. " cebik ku kesal memalingkan muka ke samping.


mereka berdua terkekeh melihat aku merajuk.


"kita berdua gak mau bangunin kamu yang tidurnya pulas, " tutur Sinta.


"ohh iya ini aku bawain makanan untuk kamu ra, dan jus buah untuk kamu. " Mia membuka kotak styrofoam yang berisikan bubur ayam yang masih panas, asapnya mengepul hingga terlihat.


"makasih mi, sampai repot repot segala padahal disini, kan kalau pasien pasti di kasih makan. " ucapku


"halah lagian makanan di rumah sakit mah ya begitu, kamu tau sendiri lah ra. " Mia mencibir


Sinta memukul lengan Mia, sampai dia mengaduh kesakitan .


"ishh kebiasaan deh, itu tangan ringan banget deh main mukal-mukul segala. " keluh Mia mendengus kesal.


"lagian itu mulut gak bisa di rem sih, makanya aku pukul. " sanggah Sinta.


aku terkekeh melihat mereka berdua yang selalu saja ribut hal hal kecil, hingga aku menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2