
makan siang pun akhirnya berakhir,
"Terima kasih tuan hendrik, sudah mengajak kami makan siang disini" tutur jo.
"Sama-sama jo, lain kali mampirlah kemari. jika senggang" pinta dokter hendrik.
"itu takkan terjadi" acuh axel.
"ohh iya, apa perlu di ingatkan, bukannya baru saja kita melakukan suatu kerja sama. " ucap dokter hendrik tersenyum mengejek sekaligus mengingatkan.
"sial" umpat axel dalam hati.
"ayo jo" titah axel, mengajak jo untuk segera pergi dari sini. kalau aku berlama-lama disini bisa bisa aku darah tinggi. "batin axel berucap lagi.
Axel yang terlihat semakin kesal pun melontarkan sumpah serapah untuk uncle nya itu yang tak lain adalah dokter hendrik yang selalu membuatnya emosi sekaligus kesal secara bersamaan. mendengar suara orang terjatuh, ia pun membalikkan badan melihat siapa yang terjatuh.
" awww... ssshh,, " apes banget sih" zahra berusaha untuk berdiri namun terhenti tak kala melihat ada uluran tangan yang membantu dirinya untuk berdiri. zahra dengan ragu-ragu menerima uluran tangan itu.
"Terima kasih" ucap zahra tersenyum.
"maaf sudah membuat mu terjatuh, apa ada yang terluka" tutur axel khawatir.
"ohh gpp kok, gak ada yang luka" ucap zahra jujur.
axel menghembuskan nafas lega setelah mendengar penuturan zahra, bahwa dirinya baik baik saja.
jo yang tidak melihat tuannya itu pun berbalik melihat pemandangan yang membuatnya mengernyitkan dahinya, "kok tuan muda perhatian sekali dengan nona zahra, apa jangan jangan tuan muda....!!!" ucapan jo terhenti tak kala melihat tuan muda nya itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju arah pintu keluar.
"tunggu" ucap zahra yang menghentikan dua orang itu.
axel dan jo pun menoleh menatap zahra yang setengah berlari menghampiri dirinya.
"emmm maaf tuan, ini..!!!" zahra menyodorkan amplop berwarna putih kepada axel.
"ini apa??" axel mengerutkan kening nya bingung.
"itu untuk tuan dan maaf saya tidak bisa menerima pemberian tuan yang begitu banyak. " ucap zahra dan lagi lagi axel di buat bingung dengan ucapan wanita yang ada di depan nya itu..
"kalau begitu saya pamit yahh, permisi.. " zahra pun melangkahkan kakinya menuju lift yang sudah terbuka, ia pun tersenyum ketika kami saling menatap satu sama lain. setelah itu pintu lift pun tertutup dengan sempurna dan tidak menampilkan sosok wanita cantik yang ada di depannya tadi.
"itu apa tuan??" tanya jo.
"entahlah, coba kau yang buka jo" axel menyodorkan amplop itu kepada jo.
jo pun akhirnya menyobek amplop itu setelah tuannya menyodorkannya pada dirinya. dan betapa terkejut nya melihat isi di dalam amplop itu.
__ADS_1
"kenapa jo, kok kamu tegang begitu" tanya axel.
jo pun menoleh dan menyodorkan kertas itu kepada tuan muda nya.
"loh ini kan cek...!!!" ucapannya terhenti tak kala ia mengingat pernah menabrak seorang gadis yang menghalangi jalannya.
"aku ingat jo, ternyata dia gadis yang waktu itu kita tabrak, tapi kenapa dia mengembalikan cek yang sudah aku beri. " axel mengerutkan kening nya bingung. padahal itu cek untuk kompensasi buat dia tapi kenapa di tolak.
"jo cari tahu gadis itu dan beritahu hasilnya besok" titah axel dan terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir. jo pun mengikuti langkah kaki tuan muda nya itu dan membukakan pintu untuknya dan dia pun membuka pintu bagian depan dan menggunakan sabuk pengaman dan memerintahkan sang supir untuk kembali ke kantor.
selama di perjalanan, axel termenung. seperti memikirkan sesuatu. hatinya begitu kosong setelah sang istri lebih memilih untuk pergi ke Paris. bisa saja sih dia menyusulnya tapi dia takut mommy nya akan mengendus dirinya berada disana. karena memang disanalah tempat kelahirannya.
"amara" nama itu yang selalu ia sebut di setiap malamnya.
sesampainya di kantor..
axel berjalan menuju pintu lift khusus yang menuju ruangan dirinya, begitu pun jo yang selalu setia menemani tuan muda nya itu.
tiing..
pintu lift pun terbuka, axel dan jo segara masuk ke dalamnya dan tak lama kemudian. pintu itu pun terbuka, barulah axel dan jo berjalan keruangan masing-masing.
"jo, jangan lupa kamu cari tahu gadis itu. dan besok serahkan hasilnya di meja kerjaku" titah axel tanpa menoleh dan berjalan terus menuju ruangan dirinya. ia pun mendorong pintu itu dan memasuki ruangan miliknya, berjalan menuju kursi kebesarannya. ia pun duduk dan melihat semua berkas-berkas yang harus di tanda tangani olehnya, sekelebat bayangan zahra melintas di pikiran axel, bagaimana gadis itu tersenyum yang sangat indah di matanya, memandang wajahnya yang takkan pernah bosen untuk di lihat.
sudah lebih dari 3 jam axel berkutat di meja kerjanya tanpa menoleh sedikitpun, sampai-sampai jo yang sudah masuk ke ruangan dirinya pun axel tidak menyadari.
"tuan muda sudah waktunya kita pulang" ucap jo.
axel mendongakkan kepalanya melihat jo, dan melirik jam di pergelangan tangannya. ternyata benar sudah waktunya pulang.
"kau duluan saja jo, aku masih ada pekerjaan yang belum di selesaikan. " tutur axel
"tapi tuan.. ucapan jo terhenti setelah mendapatkan kode isyarat untuk menyuruhnya segera pulang. baru saja jo berbalik badan, axel menghentikan langkah kaki jo dan berkata " jangan lupa misi yang aku tugaskan" axel mengingatkan.
"baik tuan, kalau begitu saya duluan. " jo pun membungkukkan badannya dan berbalik badan, untuk segera pergi dari ruangan itu untuk pulang.
setelah kepergian jo, axel menyandarkan punggung nya di kursi kebesarannya. ia menghela nafas dan pandangan matanya menatap jendela yang tembus melihat Gedung gedung yang menjulang tinggi. matanya menatap ke sembarang arah tapi hatinya memikirkan yang lain.
ia menghela nafas berulang-ulang, dan berjalan ingin keluar namun terhenti ketika sekelebat foto yang terpajang di atas meja kerjanya. ia pun menghampiri mejanya dan mengambil figura itu. melihat foto pernikahan dirinya dan amara, bayangan bahagia terpampang jelas di bayangannya. namun seketika senyum itu memudar teringat kata-kata amara yang sudah menyakiti hatinya.
axel pun mengembalikan figura itu dan berjalan keluar untuk segera pulang. sesampainya di luar gedung ia pun segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke mansion miliknya.
keesokan harinya...
axel yang baru saja bangun, dikejutkan oleh ketukan pintu dari luar.
__ADS_1
tok tok tok...
"tuan muda" ucap bi sum mengetuk pintu tuan muda nya.
dengan mata yang masih terpejam, axel berjalan menuju pintu dan membukanya.
ceklek...
pintu terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang rambut dan matanya seperti orang yang baru bangun tidur.
"ada apa bi sum??" tanya axel.
"tuan muda, sarapan sudah siap. " tutur bi sum.
"baiklah bi, saya mandi dulu. "ucap axel dan di angguki oleh bi sum.
axel menutup pintunya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya. selepas abis mandi, ia pun berjalan dengan handuk yang melilit di pinggang nya dan menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan setelan jas yang selalu ia kenakan. setelah di rasa sudah rapih, tak lupa memakai dasi yang melilit di lehernya supaya nampak semakin tampan. axel pun keluar dari kamar untuk turun ke bawah. baru saja axel turun, ia melihat jo sudah ada di ruang tamu. dengan langkah cepat, axel bergegas turun dan menghampiri jo.
"selamat pagi tuan muda" ucap jo.
"bagaimana apa kamu sudah mendapatkan hasilnya?? " tanya axel dan di angguki oleh jo.
"bagus" timpalnya lagi.
"sekarang ayo kita sarapan bersama" titah axel dan di angguki lagi oleh jo.
mereka berdua berjalan menuju meja makan dan menarik kursi masing-masing..
axel mengambil dua lembar roti dan selai coklat, lalu mengoleskan ke dalam roti dan memakannya dengan begitu lahap.
"ohh iya bi sum, bolehkah aku minta tolong" pinta axel.
"minta tolong apa tuan muda?? " tanya bi sum.
"tolong buatkan aku roti isi selai coklat untuk aku bawa ke kantor"pinta axel lagi.
" baik tuan muda "bi sum pun dengan cekatan membuatkan roti isi selai Coklat dan memasukkannya kedalam kotak bekal. bi sum membuatkan roti isi itu menjadi 2 kotak. satu untuk tuan muda nya dan satu lagi untuk asisten jo. setelah membuat roti isi, bi sum pun memasukkannya kedalam paper bag ukuran sedang . dan memberikannya kepada tuan muda nya.
"ini tuan muda makanannya" bi sum menaruh paper bag di atas meja.
"Terima kasih bi sum" ucap axel tersenyum ramah.
"baiklah saya berangkat dulu" timpalnya lagi.
axel dan jo segera bangkit dari kursi, dan berjalan menuju ke pintu rumah. dan bersiap untuk berangkat bekerja. setelah memasuki mobil, dan seperti biasa jo memerintahkan sang supir untuk berangkat menuju kantor. mobil pun berjalan keluar dari mansion dan menuju jalan raya yang padat merayap karena jam kerja yang membuat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
__ADS_1