
akhirnya sampai kosan juga, setelah tuan muda dan asistennya itu pergi dari sini. Sinta menarik lengan zahra dan segera masuk ke kamar kosan zahra yang sudah di buka kuncinya.
"kak sin kenapa sih kok nutup pintunya kayak seperti ngeliat setan aja sih." aku merasa heran melihat tingkah kak Sinta.
"aku ingin menanyakan yang tadi kita di restoran??" ucap Sinta to the point.
glekk..."
mampus aku, gimana nih kak Sinta menangih janji. kalau sudah sampai kosan harus jelasin semuanya.
aku memilin ujung bajuku dan menimang-nimang, apakah harus malam ini juga. aku harus cerita. dengan menarik nafas berulang kali dan membuang nafas secara perlahan-lahan. akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang si dingin itu.
"emm kak sin, yang di bilang tuan muda yang ngeselin itu. benar" ucapku pelan.
betapa terkejut nya Sinta, hingga matanya melotot dan mulut yang terbuka. saking syok nya mendengar penuturan dari mulut zahra sendiri.
"K-kok bisa sih, K-kamu jadi istrinya??" ucap Sinta terbata-bata saking terkejut nya, ia sampai mengosok-gosokkan kedua matanya dan aku di suruh mencubit lengannya. apakah dia mimpi atau nyata dan ternyata benar-benar nyata. zahra tidak berbohong.
karena ia tahu betul seperti apa sifat zahra.
aku hanya menganggukkan kepala membenarkan ucapanku.
"iya tapi aku gak mau kak sin, dia aja yang maksa-maksa aku terus." keluhku mencurahkan kekesalan dengan dia.
"ya ampun ra, kamu beruntung banget ehh bentar deh ra.., bentar..., " Sinta seperti melupakan sesuatu
"bukannya dia sudah menikah dengan seorang model internasional yak" ucapnya lagi.
"iya kak, aku di suruh menjadi istri kedua dia. cuma untuk menemaninya aja. aneh gak sih kak." ungkap ku jujur.
"APA, kok bisa ra." teriak kak Sinta di telingaku hingga telingaku sedikit berdengung.
__ADS_1
"ya ampun kak bisa gak sih gak usah teriak-teriak." aku mendengus kesal.
kak Sinta terkekeh, " ya maaf ra, namanya juga reflek gimana sih."
"sudah buru cerita gak." desak Sinta tak sabaran.
aku pun menceritakan dari awal aku ketemu dia, sampai-sampai mendapat sebuah cek dengan nominal yang sangat banyak. dan ketemu dia di rumah sakit. selama hampir 2 jam aku menceritakan semuanya . tidak ada yang aku tutupi ataupun di sembunyikan. karena aku sudah menganggap kak Sinta seperti kakak kandungku sendiri.
Sinta menepuk-nepuk bahuku dengan kencang dan aku mengaduh kesakitan akibat tepukan bahu yang sangat bar bar.
"kak sin bisa gak sih kalau nepuk gak usah bar bar." protes ku.
"terus kamu gimana ra, apa kamu mau nerima jadi istri keduanya. pasti kalian menikah hanya secara agama saja. terus apa istri pertamanya tau kalau suaminya itu mau menikah lagi." kak Sinta bertanya kenapa banyak sekali. aku sampai pusing mau jelasin yang mana dulu. karena rentetan pertanyaan yang membuatku bingung.
"kak bisa satu-satu gak, aku bingung mau jawab yang mana dulu nih." keluhku padanya.
"hehehe, apa istri pertama nya tau kalau suaminya akan menikah lagi." kak Sinta mulai dengan mode seriusnya.
aku menggidikkan bahu saja, karena aku tidak tau seperti apa rupa istri nya itu.
"lah iya yak kak, kok aku gak kepikiran kesana." ucapku polos.
"ya ampun ra, kamu polosnya gak berubah-ubah yahh." Sinta mengacak-acak rambutku hingga berantakan.
"kak sin bisa gak, kakak tidur disini. nemenin aku." pintaku lirih
kak Sinta yang awalnya tertawa kini terdiam melihat wajahku. dia pun mengusap lembut punggungku.
"kamu pasti rindu mereka yahh." tanya kak Sinta.
entah kenapa pertanyaan kak Sinta membuatku ingin menangis tapi sebisa mungkin aku menahannya agar tidak jatuh ke pipi.
__ADS_1
"ishh apa sih kak sin, enggak kok." aku mengelak ucapannya.
"sudahlah ra, kamu gak bisa bohong dariku." katanya dan menghambur memelukku serta menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.
tanpa aku sadari, air mata itu tiba-tiba luruh juga, aku terisak dan mulai meneteskan air mata ketika membahas kedua orang tuaku. memang kalau sudah bahas mereka pasti, aku akan menangis. Sekuat-kuatnya aku pasti juga bisa rapuh.
"gpp ra, menangislah bila kamu rindu." tutur nya lembut.
aku pun menangis sesegukan dengan linangan air mata yang jatuh ke pipi. mungkin baju kak Sinta basah karena air mataku.
"baiklah aku akan menginap disini, sudah kamu jangan menangis lagi oke." kak Sinta menghapus air mataku dengan lembut. sangat lembut.
beruntung sekali aku bertemu dengannya. aku seperti punya seorang kakak kandung padahal aku anak tunggal yang tidak punya adik ataupun kakak. terkadang aku sangat iri dengan orang lain yang memiliki seorang kakak. yang bisa cerita ataupun curhat tentang keluh kesahnya. tapi kalau aku..!!!siapa yang harus aku buat jadi sandaran dan bercerita tentang keluh kesahku ataupun curhat masalah percintaan dan sebagainya. aku hanya mampu memendam sendiri. tidak mau menjadi beban untuk kedua orang tuaku.
karena aku tidak ingin mereka mencemaskanku ataupun khawatir dengan keadaanku atau apapun itu. aku gak ingin itu terjadi. biarlah hanya aku yang tau masalah ku bukan orang lain.
aku ingin membuat mereka bahagia, tapi Tuhan tidak mengijinkan ku untuk mengabulkan keinginan itu. semua harus pupus. karena itu tidak akan terjadi. karena mereka sudah tenang disana. sudah mendapat tempat yang nyaman. disini aku hanya bisa berdoa dari jauh. mungkin saja setiap doa ku akan menjadi amal ibadah untuk mereka berdua.
dengan ragu-ragu Sinta ingin menanyakan yang selama ini di pendam. akhirnya di ungkapkan juga.
"apa kamu gak ingin melihat atau menemui makam mereka ra??" ucap Sinta hati-hati.
"aku minta maaf ra, kalau aku lancang membahas masalah ini." ungkapnya lagi.
"gpp kok kak santai saja, sebenarnya aku belum sanggup untuk pulang ke rumah, karena banyak sekali kenangan dengan mereka berdua." ucapku lirih.
Sinta mengusap lembut tanganku, dan aku mendongakkan kepala untuk menatap netra hitam yang bikin hatiku tentram dan damai.
"makasih ya kak, sudah mau dengerin curahan hatiku." ujarku jujur.
"gpp ra, santai saja. anggap aku ini saudaramu." pinta Sinta.
__ADS_1
Sinta melirik jam di dinding, ternyata sudah hampir tengah malam, ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi. itulah kebiasaannya. aku sangat paham semua sifatnya.
aku sangat beruntung bisa bertemu dengan kak Sinta yang begitu baik, sangat baik. yang sudah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri.