
selepas kepergian dokter hendrik, hanya ada kami berdua yang masih di tempat ini.
kenapa aku jadi canggung begini"batinku berucap.
suasana menjadi canggung di antara kami berdua.
"lebih baik aku pergi" gumamku pelan, dan aku mulai bangkit dari kursi. tapi lagi-lagi tanganku di tarik dan akhirnya duduk lagi.
"aku bilang duduk" ucap axel tegas.
"untuk apa aku masih disini..!! " ketusku
"karena kita masih ada urusan." axel tersenyum licik.
tak berselang lama, jo pun akhirnya datang dengan membawa map yang di perintahkan oleh tuan muda nya itu.
"duduklah jo" titah axel.
jo pun menganggukkan kepala dan akhirnya ikut duduk juga.
"jo berikan surat yang aku kasih" titah axel lagi.
"baik tuan muda" jo menyodorkan nya ke hadapan tuan muda nya itu.
"ini" axel menyodorkan kertas di hadapan zahra.
"apa itu??" zahra mengernyitkan kening nya bingung.
"baca saja" ucap axel
zahra pun mengambil kertas itu dan mulai membacanya dengan begitu serius, hingga ia mengernyitkan keningnya beberapa kali.
"apa maksud dengan isi di dalam kertas ini" ucap zahra nyolot.
"kenapa" jawab axel singkat.
"kamu keberatan" jawabnya lagi.
"iyalah keberatan, gimana sih" sewot zahra.
"pokoknya aku gamau tanda tangan, TITIK."ucap zahra sengit.
"HARUS, pokoknya kamu harus tanda tanganin surat itu. " ucapnya dengan tatapan mata tajamnya
aku menelan saliva, tenggorokanku rasanya tercekat, aku seperti merasa terpojok oleh tembok dan aku tidak berbuat apa-apa selain menuruti keinginan orang itu. tapi aku harus tetap menolak. karena aku sudah berubah, semenjak kak Sinta dan Mia mengajarkanku menjadi lebih berani, mudah beradaptasi dengan semua orang dan tentu saja yang aku suka dari Mia yaitu sifat bar bar nya menular padaku. apa karena sering kerja bareng jadinya sifat itu lama-lama menurun ke aku. entahlah tapi yang jelas aku suka dengan perubahanku yang sekarang.
"sudahlah kamu menyerah saja dan turuti perintah ku" ucapnya lagi
"tidak akan" ketusku.
axel mengeraskan rahangnya melihat gadis yang di depannya itu tetap bersikukuh tidak mau tanda tanganin surat itu.
"aku bilang tanda tangan" bentak axel.
"tuan muda" ucap jo memberi isyarat kepada tuan muda nya itu agar bisa menahan emosi.
untung saja tidak terlalu terdengar keluar, kalau tuan muda nya itu sedang berteriak, karena tempat duduk mereka adalah VVIP, karena axel tidak terlalu suka keramaian jadi dia memesan ruang khusus ini untuk melancarkan rencananya.
zahra terkejut setelah mendengar orang itu membentak nya.
"gak usah bentak juga kali, sakit ini kuping" ucapku sewot.
axel terkejut melihat serangan balik dari gadis itu, ternyata ia sangat keras kepala juga sama seperti dirinya.
"nona di dalam surat itu ada sebuah keuntungan" ucap jo dengan ekpresi datarnya.
__ADS_1
"keuntungan???" aku menaikan satu alis dan menatap asistennya itu.
"iya benar nona, keuntungan yang di dapat untuk anda nona zahra" ucapnya lagi.
"apa keuntungan yang aku dapat" ucapku dengan penuh selidik.
"nona sudah baca kan isi dari surat itu" jo balik bertanya.
aku reflek menganggukkan kepala mengerti maksud dari ucapan asistennya itu.
"karena nona zahra sudah membaca isi dari surat itu, nona akan di beri kebebasan oleh tuan muda. dan akan menjelaskan maksud dari ucapan saya barusan.
jo pun mempersilahkan tuan muda nya itu untuk bicara lagi.
"nah benar yang di katakan oleh jo, kamu akan mendapatkan keuntungan dariku" ucapnya tersenyum jumawa.
"tapi dengan satu syarat, kamu harus tinggal di mansion ku dan kamu harus keluar dari kosanmu yang sempit itu" titahnya.
"tidak bisa, aku gak akan keluar dari kosanku" protes ku.
"sudah ku bilang jangan banyak protes" sengit axel.
"dan kamu juga akan mendapatkan keuntungan yang lain, yaitu aku akan memberikanmu kartu unlimited tanpa batas, dan sebuah mobil hanya untukmu,
" tidak perlu, aku gak butuh semuanya" ucapku sewot.
"iya aku tau, kamu bekerja, tapi selama kamu jadi istri ku. kamu harus patuh dan nurut. dan satu lagi, ini adalah syarat terpenting. " katanya lagi.
"syarat terpenting adalah tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. " axel menekan ucapannya.
aku menghela nafas, melihat axel yang begitu memaksa dirinya.
"aku tetap tidak mau" aku bersikukuh dengan pendirianku.
"ohh ayolah, kamu sudah tidak ada pilihan lain" katanya dengan percaya diri.
"kamu mau kemana??" tanya axel dengan tatapan tajamnya.
"mau pulang" ucapku santai.
"kamu tidak boleh pulang, karena urusan kita belum selesai" bentak axel.
"kenapa sih kamu maksa banget" ucapku memasang wajah jutek.
"pokoknya kamu harus turuti perintahku atau kamu akan tau sendiri akibatnya" geramnya.
"silahkan, aku gak takut" aku pun segera pergi dari sana karena ojek ku sudah sampai.
dan aku pun berjalan ke luar restoran,
"atas nama mba zahra" tanya tukang ojeknya.
"iya benar mas" ucapku dan ia lalu menyodorkan helm kepadaku dan segera pergi dari sana.
axel yang melihat gadisnya pergi, mengepalkan tangannya kuat-kuat karena saking kesalnya.
"aku tidak akan melepaskanmu, lihat saja seberapa gigihnya dirimu" ucapnya tersenyum sinis.
"ayo jo kita pulang" titah axel.
dan mereka pun segera keluar dari sana. setelah jo sudah membayar semua makanan yang tadi.
"jo aku ingin kamu melakukan sesuatu" ucap axel ketika ia sudah masuk ke dalam mobil.
"apa itu tuan" tanya jo.
__ADS_1
"kamu harus sisipkan surat ini di ruangan nya, tapi ingat jangan sampai ketahuan olehnya. kamu mengerti" titahnya lagi.
"baik tuan muda" ucapnya.
"bagus" ucap axel tersenyum jumawa.
sesampainya di kosan,
zahra turun dari motor dan mengambil uang tunai untuk membayar ojeknya.
"kembalian nya mba" ucap tukang ojeknya.
"udah buat mas nya aja" ucapku tersenyum.
zahra pun membuka pintu gerbang kosan dan segera masuk. setelah mengunci gerbangnya.
ia pun segera masuk ke kamar kosannya.
"loh ra kamu baru pulang??" tanya Sinta.
iya nih kak, macet soalnya " ucapku.
"ohh iya ini kunci motor kamu" Kak Sinta menyodorkan kunci motor kepadaku.
"makasih kak, yaudah zahra mau mandi dulu yahh kak" ucapku.
"ra, nanti kita cari makan okay" ajak Sinta.
"okay, loh tapi Mia gak di ajak kak" tanyaku.
"gak mau, katanya ada urusan" ucap Sinta.
"yaudah kak, aku mau mandi dulu soalnya gerah banget" ucapku dan langsung berjalan menuju kamar kosan ku.
aku pun merogoh tasku untuk mengambil kunci dan membuka nya. menyalakan saklar lampu dan berjalan menuju kamar mandi. aku menyalakan shower dan menekan tombol warna merah untuk air hangat, aku pun menanggalkan semua pakaian dan merasakan sensasi air hangat yang menerpa pori-pori kulitku. selepas mandi aku memakai handuk yang di gantung di belakang pintu. dan aku pun membuka pintu kamar mandi dan segera keluar. berjalan menuju lemari dan memilih memakai baju dress rumahan. aku pun merogoh pouch makeupku di tasku dan memoles wajahku tipis dan memakai lipstik warna merah tipis juga. dan aku pun meneliti hasil makeup ku, setelah di rasa oke. aku pun menyisir rambutku dan mengepang rambut ku melingkar, suara ketukan pintu membuyarkan ku. aku tau pasti itu kak Sinta dan benar saja kepalanya menyembul di pintu.
"ra udah siap belum" tanya Sinta.
lalu ia mendorong pintunya, dan menampilkan sosok wanita cantik yang rambut panjangnya di ikat tinggi menampilkan leher yang begitu jenjang .
"udah kok kak, ehh tapi kok rapih amat" ucapku heran.
"kok kamu make baju itu" ucap Sinta.
"emang kita mau kemana??" tanyaku.
"kita ke mall yuk ra, taksi yang ku pesan sudah datang di depan" ucap Sinta.
"yahh kak, kok gak bilang kalau ke mall" cebikku kesal.
Sinta terkekeh melihat zahra ngambek.
"ihh yaudah aku ganti baju lagi deh" ucapku dan buru buru aku ganti baju lagi.
aku memakai kemeja kotak-kotak dan memasukkan nya ke dalam celana jeans dan aku memakai sepatu flatshoes. tidak lupa tas sling bag memasukkan dompet serta ponsel.
"ayo kak " ucapku sambil bercermin untuk melihat make up ku masih oke apa enggak..
kak Sinta menggandeng tanganku dan aku tidak lupa mengunci pintu kosan dan segera berjalan keluar gerbang untuk melihat taksi yang di pesan kak Sinta.
"nah itu dia ra" Sinta melambaikan tangannya ke supir taksi untuk menghampiri mereka.
kami pun masuk ke dalam nya dan duduk berdampingan.
"ke mall x ya pak" ucap Sinta.
__ADS_1
"baik neng" ucap supir taksi.
taksi pun keluar dari gang kosan kami, menuju jalan raya yang ada di depan kosan. dan taksi pun melaju menuju tujuan kami.