Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
11.


__ADS_3

Sesampainya di kosan....


Aku dan kak sinta turun dari taksi itu, setelah membayarnya dan berjalan ke arah gerbang kosan dan mendorongnya hingga terbuka. Kak sinta menarik tanganku dan berjalan cepat masuk ke dalam.


"Aku duluan ya ra, ngantuk banget nih." Ucap kak sinta menguap, karena menahan ngantuk dan melambaikan tangannya untuk masuk ke dalam kamarnya begitupun aku membuka pintu kosan ku dan segera masuk ke dalam.


Aku pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang lengket, baru habis itu aku bersiap untuk tidur. Selesai mandi, aku berjalan menuju tempat tidur ku untuk mengambil pouch skincare ku.


Setiap hari aku selalu melakukan perawatan wajah supaya kulitku tetap sehat dan glowing. Selesai memakai skincare, aku menaruhnya lagi di dalam pouch dan menaruhnya di dalam laci kecil.


Aku pun berjalan ke arah ranjang, untuk merebahkan tubuhku. Tak lupa menyalakan AC supaya suhu ruangan dingin dan sejuk. Setelah itu barulah aku memejamkan kedua mataku dan tanpa terasa aku pun tertidur.


Sayup-sayup aku seperti mendengar suara alarm dan mencoba mencari dimana letak suara itu dan aku pun membuka kedua mataku dan mematikan alarm itu. Aku pun segera bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Sekitar 20 menit, aku pun baru selesai mandi dengan rambut yang aku gulung dengan handuk. Dan berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di tepi ranjang itu dan mulai menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutku yang sehabis keramas.


Setelah itu aku merias wajahku, supaya tak terlalu pucat banget. Dan tak lupa memakai baju yang kemarin aku beli dan berjalan ke arah cermin yang ada di lemari baju. Aku meneliti outfit yang aku kenakan dan tak lupa aku menyemprotkan parfum. Lalu aku menggulung rambutku supaya tampak rapih.


Dan segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit, tempat aku bekerja di sana. Suara ketukan pintu terdengar hingga ke ruang tengah dan aku mendengar suara pintu terbuka dan benar saja yang buka pintu itu adalah kak sinta yang sudah terlihat rapih dan wangi tentu saja.


"Loh ra, aku kira kamu belum siap?" Sinta kira sahabatnya itu belum bersiap-siap, nyatanya dia sudah rapih juga.


"Ayo kak, kita berangkat." Ajak ku dan menarik tangan kak sinta untuk segera keluar dari kamarku. Sinta mengernyit merasa heran dengan perubahan di diri zahra.


"Oh iya ra, by the way kok kayak ada yang beda tapi apa ya?" Sinta bertanya-tanya dan memperhatikan zahra dari atas sampai bawah. Ia merasa seperti ada yang berbeda dari penampilan zahra yang semakin lama terlihat semakin manis.


Aku terkekeh melihat wajah kak sinta yang merasa heran seperti itu, " Ya ampun kak jangan meledek deh. Aku sengaja pakai makeup sama pakai baju baru yang kemarin aku beli loh." Ucapku pelan sambil menyelipkan anak rambutku, karena saking malunya ditatap seperti itu.


"Serius loh ra, aku gak bohong ataupun ngeledek kamu. Sumpah deh!!" Sahutnya cepat.


Sinta pun menarik tanganku dan bersiap untuk berangkat ke rumah sakit yang tak jauh dari kosan ini. Hanya berjalan sedikit ke depan gang dan menyebrang saja sudah sampai di tempat tujuan kami.


Aku sengaja nyari kosan yang dekat dengan tempatku bekerja. Aku dan kak sinta tak lupa membeli sarapan untuk makan disana saja. Takutnya tidak keburu waktunya saja, padahal jam menunjukkan masih jam 06.30 pagi.


"Ra kita sarapan dulu aja ya, lagi pula masih lama ini." Kata kak sinta dan menarik ku ke arah penjual soto ayam itu dan segera masuk ke dalam. Sambil menunggu pesanan siap. Aku dan kak sinta mengecek ponsel masing-masing, karena takutnya ada info penting yang terlewat dan tak kami baca sebelumnya.


Tak lama pesanan kami berdua pun telah siap dan tentu saja aku melahap makanan itu hingga habis tak tersisa. Selesai membayar sarapan, aku dan kak sinta bergegas menyebrang ke jalan raya yang lumayan padat.


Ini kesempatan kami untuk menyebrang di trotoar khusus pejalan kaki dan berjalan cepat, takut lampu lalu lintas berganti warna dan akhirnya kami berdua pun telah sampai di tempat tujuan, yaitu rumah sakit.


Aku dan kak sinta bergegas masuk ke dalam, setelah melihat pintu lift terbuka dan bersiap masuk ke dalam. Dan pergi menuju ruangan masing-masing.


Selama aku tinggal di kota ini, aku sudah hapal dengan sekitaran sini saja dan pekerjaan ku cukup lumayan dan aku yang baru satu bulan bekerja disinia Pun sudah naik jabatan menjadi admin khusus untuk mengecek data pasien yang ada disini. Tentu saja partner ku tak lain dan tak bukan adalah mia. Dia juga naik jabatan yang sama denganku.

__ADS_1


Berkat kegigihan ku bekerja di tempat ini, aku di promosikan oleh ketua di bagian apoteker untuk menempati posisi yang kosong dan sekarang yang menempati itu adalah aku dan Mia.


Dan disini lah aku berada, di sebuah ruangan khusus admin data personal pasien.


Aku menatap sebuah name tag yang bertuliskan nama panjangku. Senyumku tak pernah pudar dan aku sangat bersyukur bisa bekerja di tempat ini dan aku sangat mengucap rasa syukur kepada Tuhan atas hikmah dan nikmat di balik rasa kesedihanku, dan aku sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang baik, memiliki teman sekaligus sahabat yang sangat baik padaku.


Aku yang tak sadar, bila Mia telah masuk ke ruangan ini pun seketika aku menoleh padanya.


Cklek!!!


Pintu pun terbuka, menampilkan sosok wanita cantik berjalan masuk ke dalam.


"Pagi ra, kok tumben sih rajin banget udah sampai aja." Celetuk Mia merasa heran dengan temannya yang satu ini. Dan meletakkan tas miliknya di lemari yang tak jauh darinya.


"Ehh Mia, aku kira siapa." Ucapku sampai tak sadar bila Mia sudah sampai.


Aku pun menyalakan komputer ku dan mengecek data laporan yang berada di sebelahku. Lumayan banyak juga laporan yang harus di periksa, sepertinya akan sibuk hari ini. Begitupun Mia juga menyalakan komputer miliknya.


"Kamu udah sarapan ra?" Tanya Mia.


Seketika aku menoleh kepadanya, "sudah kok, tadi di depan rumah sakit.


Mia mencebik kan bibirnya, " Kok gak ngajak-ngajak sih."


Ia pun membuka tas nya dan mengambil makanan yang ia beli untuk sarapan.


Tring!!!


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milikku, aku melirik ponselku dan melihat satu pesan masuk dari seseorang yang sangat aku kenal.


"[Zahra, ini paman. Apa uang saku mu masih kurang? Kalau masih kurang, kabari paman]"


itulah isi pesan itu, ada rasa tak enak dan ada rasa sungkan padanya, aku takut nanti bibi Rani ataupun hana tau pasti mereka berdua akan memaki-maki atau menghinaku lagi dengan wajah sinisnya itu. Aku mencoba positif thinking tapi pada kenyataannya memang mereka seperti itu. Eeitss tapi tunggu dulu, mereka kan tidak tau nomor ponselku. ada rasa cemas di hatiku kalau itu benar terjadi. ahh sudahlah lebih baik aku membalas pesan paman Tio dulu.


[Anu paman, sebenarnya zahra tak enak dengan paman. Lagi pula uang yang kemarin masih cukup kok, bahkan masih sisa banyak. Takutnya nanti kalau bibi Rani tau, nanti beliau akan marah sama zahra paman]"


Tring!!!


Aku melihat pesan aku balas sudah centang biru, itu berati beliau sedang tak sibuk.


"[Sudah tak apa zahra, untuk masalah bibimu. Biar paman yang akan bicara padanya. Oh iya kamu katanya mau lanjutin kuliah]"


Seketika tanganku berkeringat seperti orang yang sedang terciduk saja sampai-sampai pegang ponsel pun gemeteran seperti ini.. ku tepuk pelan punggung tanganku supaya tidak gemetar lagi. Usap keningku yang basah karena keringat. Saking gugupnya takut bibi Rani tau.

__ADS_1


"[Zahra gak tau paman, mungkin sepertinya nanti dulu bila uangnya sudah terkumpul]"


tring!!!


pesan masuk dari paman Tio lagi..


[sudah tidak apa-apa zahra, itu uang saku kamu selama satu bulan. Nanti kalau kamu mau kuliah, nanti paman transfer lagi]"


[ohh iya zahra paman akan kirimkan uang lagi, tapi ini untuk daftar kuliah kamu sampai kamu lulus kuliah dan ahh nanti akan paman kirim ponsel, laptop dan motor untukmu]"


Aduh aku jadi makin tak enak kalau begini jadinya. malah paman mau kirim uang lagi. aku memijat pelipis ku dan benar saja, satu menit kemudian ponselku berbunyi. terlihat ada satu notif pesan masuk dari m-banking, walah beneran paman Tio mengirimkan aku uang lagi dan itu dalam jumlah yang banyak. Ya ampun semakin gendut ini mah atm ku lama-lama.


Seketika aku speechless melihat saldo ku yang semakin bertambah berkali-kali lipat. Aku pun membalas chat dari paman dan ingin mengucapkan rasa Terima kasihku padanya.


[emm makasih paman, atas kiriman uang yang begitu banyak. sampai-sampai zahra jadi bingung sendiri. Karena baru kali ini zahra di kirimkan uang segitu banyaknya]"


Tring!!!!


Dan tak lama pesanku centang biru dan paman Tio sedang mengetik sesuatu..


"[Kamu bisa gunakan uang itu sesuka hatimu, karena itu adalah milikmu. Bukan milik orang lain, jadi gunakan uang itu untuk kebutuhan kamu sendiri. Dan untuk bayar kosan beserta biaya kuliah kamu tak perlu risau]"


Aku menghela napas besar ketika paman Tio selalu memaksa apa yang dia ucapkan dan tak mau di bantah sekalipun. Aku hanya mampu memijat pelipis ku yang tiba-tiba saja berdenyut. Karena saking terkejutnya melihat saldo tabunganku yang semakin banyak. Mungkin uang ini bisa sampai dua tahun belum habis-habis, karena saking bingungnya bagaimana cara menghabiskan uang segitu banyaknya.


"[Untuk laptop, ponsel dan motor. Nanti akan paman kabari ke kamu. Paman akan menyuruh sekretaris paman untuk menyiapkan semua itu untukmu]"


Lagi-lagi paman Tio mendesak ku untuk menerima semuanya, aku semakin gelisah bila mana bibi Rani atau hana tau. Bisa-bisa aku di labrak olehnya, jika ketahuan. Kalau paman Tio mengirim uang dan memberi aku hadiah mewah seperti itu. Aku pun membalas pesan dari paman Tio.


[T-tapi paman zahra gak butuh barang-barang itu, zahra bisa kok beli itu semua pakai uang sendiri. Jadi paman tak usah memberi barang-barang mewah itu]"


Aku menolak secara halus pemberian dari beliau, dan aku pun mengucapkan kata-kata itu dengan begitu hati-hati. Supaya paman Tio tak tersinggung dengan ucapanku tadi.


Tring!!!


Aku melirik satu notif pesan di layar ponselku dan menghela napas besar melihat isi pesan itu. Paman Tio begitu kekeh ingin aku menerima semua itu.


[tidak usah kuatir, ini kado untuk kamu. kamu berhak untuk keduanya] . " titah nya dengan penuh penekanan.


Aku menghela napas, melihat paman Tio yang begitu keras kepala sekali dan tak mau di bantah sekalipun. Dengan terpaksa aku pun mengiyakan semua permintaan itu dan aku pun meletakkan kembali ponselku di tempat semula dan tetap fokus dengan pekerjaan ku yang sempat tertunda itu.


Mia melirik ku dengan alis yang berkerut dalam, melihat wajahku pucat pasi seperti mayat hidup.


"Kamu gapapa ra, kok wajah kamu pucat banget sih?" Tanya Mia sedikit khawatir.

__ADS_1


"Gapapa kok mia, aku cuma pusing dikit kok." Sahutku cepat.


"Yakin ra, atau kamu belum makan. Biar aku pesan delivery order untukmu." Katanya lagi dengan sedikit khawatir. Aku mengelus punggung tangannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.


__ADS_2