
sekelebat bayangan zahra dengan raut wajah kecewa dan marah membuat axel tak fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya. axel mengacak-acak rambutnya frustasi, kenapa dia begitu bodoh mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
"aaarrrrghhhh..." umpat axel. dia pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju kaca yang tinggi nya melebihi badannya yang kekar itu. dia menatap gedung-gedung pencakar langit dengan pikiran yang berkecamuk. axel melipat kedua tangannya di dada sambil terus menatap yang ada di depannya dengan pikiran yang acak-acakan.
tak lama jo masuk dengan membawa kertas dokumen untuk di tanda tangani oleh tuannya itu.
"jo, tolong buatkan aku kopi." pinta axel tanpa menoleh dan terus menatap gedung-gedung pencakar langit yang sama dengan perusahaan miliknya.
axel menghela nafas dan menjambak rambutnya hingga berantakan. dasi yang melilit di lehernya sengaja dia longgarkan agar rasa sesak itu segera hilang. namun nyatanya di sudut hati seperti di tusuk sebuah belati yang tak kasat mata. namun disaat itu juga dia menepis semua perasaan itu. dia tidak mau terjebak dalam permainannya sendiri.
"aku menikahimu hanya untuk mengisi hatiku yang kosong, namun maaf aku tak bisa memberimu apa yang kamu harapkan. hanya amara yahh, hanya dia yang masih ada di relung hatiku." gumam axel pelan dengan tangan yang masih terlipat di depan dada.
axel mengambil ponsel miliknya di dalam saku jas itu. dan membuka kunci layar ponsel itu dan akhirnya terbuka. dia menekan aplikasi WA dan mencari kontak nama seseorang. tangannya terhenti ketika jarinya tak sengaja menekan nomor ponsel zahra tanpa foto profil itu.
__ADS_1
apakah dia harus meminta maaf padanya atau justru sebaliknya. baru saja axel ingin mengetik pesan, Tiba-tiba jo masuk dengan membawa secangkir kopi untuknya.
"ini tuan kopinya, kalau gitu saya pamit." ucap jo. lalu ia segera keluar dari ruangan milik axel.
axel lalu berbalik dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerjanya. dia lalu duduk dan mengambil kopi yang asapnya masih mengepul itu. axel pun meniup nya secara perlahan agar kopi nya tak terlalu panas. setelah itu dia menyeruput minuman menyegarkan hati dan pikiran itu.
"ahh segarnya, memang minum kopi bisa menghilangkan stress dan yang lainnya." gumamnya dan melanjutkan minum kopi itu hingga habis.
axel lalu mengambil ponsel itu di depannya, lalu ia mengecek ponselnya dan betapa terkejut nya nama amara terlihat di panggilan tak terjawab. buru-buru axel menelpon balik istrinya itu. setelah menunggu lebih dari 10 menit, akhirnya amara mengangkat telepon darinya.
"iya halo sayang." suara lembut amara membuat axel bertambah rindu dengannya.
"kamu kenapa telepon??" jawab axel tanpa basa basi.
__ADS_1
seketika amara yang ada di seberang sana merasa heran dengan pertanyaan axel. emang kenapa kalau seorang istri menelpon suaminya, karena dia rindu dengan suami tercintanya itu.
"apa aku gak boleh telepon suamiku sendiri hmmm." jawab amara kesal.
"ohh masih anggep aku suami, kirain udah lupa." sindir axel.
Kata-kata axel sangat menohok dihati amara, hingga dia tak mampu membalas perkataan sinis itu.
"maafkan aku sayang, aku disini sangat sibuk jadi lupa mengabarimu hmm." amara berucap dengan nada yang terdengar manja.
sebenarnya apa yang di ucapkan amara tidak sepenuhnya bohong, memang dia sangatlah sibuk, tapi kan dia ada waktu break dan segala macam. tapi ini seolah-olah amara lupa bahwa dirinya sudah memiliki suami. karena dia asik berkencan dengan seseorang.
"ahh ya sudah, aku tutup teleponnya ya sayang, karena sekarang waktunya aku take untuk foto sebuah produk yang ada disini. love you honey and i'm miss you." amara memberi sebuah kecupan jarak jauh dan mematikan panggilan telepon itu secara sepihak.
__ADS_1