Menjadi Istri Kedua Sang Presdir

Menjadi Istri Kedua Sang Presdir
di usir dari rumah paman tio


__ADS_3

Aku dan kak sinta masih di taman kota sambil menikmati indahnya malam, karena ini adalah malam minggu banyak yang berkumpul di tempat ini. Terlihat banyak sekali penjual makanan yang ramai pengunjung.


Entah kenapa aku merasa betah di sini, begitu pun Kak Sinta juga merasa betah disini.


"Ahh lumayanlah ya ra, kita bisa menghirup udara di malam hari. Apalagi mumpung kita masuk shift pagi jadi bisa refreshing sebentar." Ucap kak Sinta sambil menikmati angin malam dan melihat orang-orang yang berlalu lalang.


Aku juga menikmati tempat ini, karena aku jarang-jarang bisa seperti ini. Karena kalau di kampung tuh beda sama disini. Kalau disana mah masih terlihat asri tapi sayangnya kalau malam tuh sepi dan hanya di temani suara jangkrik saja. Di depan rumah pun hanya ada sawah dimana-mana.


"Beda banget yahh di kampung sama di kota, kalau di kampung tuh setiap hari cuma lihat sepanjang jalan tuh sawah semua tau." Seru ku menceritakan kampung halamanku.


Kak Sinta hanya manggut-manggut seperti burung beo mendengar aku bercerita tentang rumahku yang di kampung.


Kak Sinta melirik jam di pergelangan tangannya ternyata sudah mau malam, tapi disini semakin malam.. Semakin ramai. Dan kami berdua memutuskan untuk pulang. Kami berdua pu  berjalan menuju keluar dari taman kota menuju gang yang tak jauh dari sini. Dan terus berjalan menuju rumah atau biasa di sebut kosan wanita yang rumah nya bertingkat dua.


Sesampainya di kosan...


Kak Sinta menutup gerbang kosan dan kami berdua pun berjalan masuk ke dalam kosan menuju kamar kami masing-masing. Namun langkah kaki kak Sinta terhenti dan menatap ke arahku.


"oh iya ra kamu belum masuk ke grup tempat kita bekerja yahh," ucap kak Sinta padaku


Dan aku menggelengkan kepala, "belum kak, aku kan hari ini baru masuk." Ujarku jujur padanya. kak Sinta terkekeh dan merogoh saku celana nya untuk mengambil benda pipih sejuta umat, lalu menyodorkan nya padaku. Aku mengernyit dan merasa heran untuk apa ponsel kak Sinta. Lagi-lagi kak sinta menahan tawa dan itu semakin membuatku semakin bingung


"minta nomor ponselmu dong biar nanti kalau ada apa-apa bisa saling menghubungi dan juga untuk pergantian shift mau pun libur bisa kamu lihat di grup.." ucapnya lagi sambil menahan tawa melihat aku yang terlalu polos.


aku mengambil ponselmya dan mengetik nomor ponselku dii ponsel milik kak Sinta, lalu ia mengetik pesan WA padaku. buru-buru aku save nomor ponsel nya. dan meletakkan kembali ponselku di saku celanaku.


ting...


ponselku berbunyi, ternyata aku sudah di masukan ke grup di bagian tempat aku kerja. Terlihat banyak sekali anggota grup dan semuanya terlihat asing. Karena aku anak baru di tempatku bekerja sekarang.


"nanti biar kamu gak bingung ra, kalau ada apa apa tanya saja sama aku." tuturnya lagi


"Iya kak, makasih ya udah bantuin aku terus." Ucapku merasa tak enak.


"It's ok ra, emmm.. Anu ra, bukannya aku mau kepo atau mau ikut campur? Kamu kenapa kok dari tadi hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu." Ucap Sinta pelan sambil menatap mataku lebih dalam.


aku terdiam, bingung harus menjawab apa. aku hanya mampu menundukkan kepala dan tak berani mengucapkan kata-kata.


"kalau kamu gak mau cerita gpp kok jangan di paksakan, aku tahu kita baru saja kenal mungkin kamu merasa sungkan bercerita denganku." tuturnya lagi memberi pengertian padaku sehingga membuatku semakin merasa tak enak. Apa aku harus cerita masalahku padanya.


Tapi sepertinya aku harus menceritakan masalahku yang cukup pelik ini, supaya bebanku hilang sedikit. Aku mencoba menatap manik mata itu dan menghela nafas. Karena merasa bimbang dengan semuanya. Lebih baik aku menyimpannya sendirian.


"maafkan aku kak, A-aku belum sanggup untuk cerita sekarang nanti kalau aku sudah siap mungkin dengan sendirinya aku akan menceritakan keluh kesah ku pada kak sinta." Ucapku lirih dan tak berani menatap matanya.


suasana nampak canggung, Sinta memberanikan diri memelukku dan menepuk-nepuk pundakku, mengusapnya dengan lembut dan tanpa terasa air mata ini jatuh juga. Aku tak sanggup memikul beban yang begitu berat ini.


"menangislah ra mungkin dengan kamu menangis akan lebih baik, beban yang kamu pikul akan terasa ringan jika kamu menangis." ucapnya lembut sambil mengusap-ngusap punggungku dan aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa sakit hati yang aku pendam selama ini akhirnya tumpah juga. aku menangis di pelukan kak Sinta mungkin baju dia basah karena air mataku. aku menangis sesegukan, dan yahh setiap aku terisak kak Sinta mengusap punggungku dengan lembut. dan itu membuatku terasa nyaman dan seperti memiliki kakak kandung.


"Udah gapapa ra..semua akan baik-baik saja. aku jamin itu. "serunya memberi semangat padaku


akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya, kak Sinta seperti terkejut lalu dia seperti mengepal kan kedua tangannya kuat-kuat seperti menahan kesal, ia ikut geram dengan kelakuan bibiku dan anaknya padaku.

__ADS_1


"kenapa kamu gak melawan ra, mungkin dengan melawan kamu bisa berani jangan mau di tindas begitu saja." Ucap Sinta menahan kesal melihat ku lemah tidak melawan sama sekali.


flashback on


********


setelah sampai rumah pamanku dan menyodorkan uang kepada ojek yang ku tumpangi lalu aku mendorong pintu gerbang dan mulai masuk ke dalam . baru saja beberapa langkah menuju pintu masuk rumah pamanku, aku berpapasan dengan hana.


ya seperti biasa dia melirik ku dengan tatapan siinis dan berjalan lebih dulu dariku dengan begitu angkuh nya, aku hanya mampu menggeleng kan kepala dan mengelus dada melihat kelakuannya.


aku bergegas naik ke lantai atas ingin segera ke kamar rasanya tubuhku sangat gerah dan lengket, dengan langkah terburu buru aku membuka pintu kamar dan mengunci nya rapat dan berjalan menuju kamar mandi dan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhku dan menceburkan diri di air dingin dan memejamkan mata sebentar menikmati sensasi air dingin yang membuat ku rileks, setelah selesai berendam.


aku berjalan keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian untuk berganti baju dengan baju rumahan biasa. baru saja aku merebahkan tubuhku, suara ketukan pintu mengurung kan niatku untuk merebahkan tubuhku. lalu aku membuka pintu kamar dan betapa terkejut nya aku ternyata yang mengetuk pintu kamarku ternyata bibi Rani dengan wajahnya yang seakan melihatku seperti musuh.


"A-ada apa ya bibi Rani." Ucapku gugup karena di tatap seperti itu.


" ada apa,, ada apa, enak sekali kamu bersantai- santai di dalam kamar." bentaknya padaku dengan berkacak pinggang.


hatiku sakit mendengar bentakan dari bibi Rani, tapi sebisa mungkin ku alihkan rasa sakit ini agar aku bisa kuat menghadapinya. lalu bibi Rani berjalan menghampiriku dan menarik lenganku dengan begitu kasar, lalu menyeret ku menuruni anak tangga seperti seonggok karung yang tak berguna.


"Ayo sekarang kamu ikut bibi." ucapnya ketus, lalu menarik-narik lenganku begitu kencang.


" ini mau kemana bibi Rani, kenapa tanganku di tarik-tarik, "ucapku menahan sakit karena kuku-kuku bibi Rani menancap di kulit ku mungkin akan berbekas karena sakit sekali bila di tarik-tarik seperti ini.


"sudah kamu diam saja, dan nurut sama bibi." Bentaknya dengan begitu sewot.


aku hanya diam mengikuti kearah mana bibi Rani ingin membawaku, lenganku sampai merah dan bibi . Tapi sebisa mungkin aku menahan air mata yang hampir lolos ini.


dan baru saja mau keluar dari pintu, kami berpapasan dengan pamanku yang baru saja turun dari mobilnya dan alangkah terkejutnya pamanku buru-buru menghampiri kami berdua dengan berlari kecil untuk sampai ke hadapan kami berdua.


bibi Rani terkejut melihat suaminya yang baru saja pulang. ia gelagapan sendiri, karena sudah melihat kelakuannya menarik paksa zahra dan akhirnya  cekalan tangannya pada lenganku pun terlepas.


pamanku berkacak pinggang, dan melempar tas kerjanya asal di sofa dan berjalan cepat ke arah kami berdua.


"Kamu mau ngapain emang, itu kenapa tangan zahra di tarik-tarik seperti itu,"ucap pamanku geram melihat istrinya itu dan langsung bibi Rani melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.


"E-enggak ng-ngapa-ngapain kok pa." ucapnya berusaha untuk menetralkan rasa gugupnya. Karena sudah ketahuan oleh suaminya sendiri.


"Lah terus itu kamu ngapain narik-narik tangan zahra." ucapnya menatap tajam ke arah kami berdua. Seketika bibi Rani mengepalkan tangannya kuat-kuat dan merasa kesal terhadap suaminya yang begitu membela gadis kampung yang ada di sebelahnya ini.


"papa kenapa sih bela dia terus." tunjuk bibi Rani padaku dengan menahan amarah dan muka yang memerah akibat menahan malu karena telah kepergok oleh pamanku alias suaminya sendiri. Tapi tetap saja dia terus mengelak dan berdalih tak melakukan apa-apa.


"Kalau gak ngapain terus kenapa harus di seret-seret seperti itu." Sentaknya menahan kesal .


bibi Rani seketika terdiam lagi, sambil meremas jari-jari nya karena gugup dan melirik ku dengan begitu sinis.


"Aku harus alasan apalagi untuk bisa mengusir gadis tengik yang ada di sampingku ini." gerutunya dalam hati dan mulai merencanakan sesuatu untuk bisa mengusir ku dari rumah ini.


terlintas sebuah ide di otaknya, dengan tersenyum licik bibi Rani melancarkan aksinya untuk mengusir ku. buru-buru ia memasang wajah tidak suka pada gadis yang ada di sampingnya ini. Beliau juga melipat kedua tangannya di depan dada dengan begitu angkuhnya dengan senyuman yang begitu licik.


"mama dari awal gak suka sama dia, sejak dari dia pertama kali datang kesini, mama sudah bilang ke papa bahwa jangan membawanya ke rumah ini. Tapi apa papa malah memaksa mama untuk menerima gadis tengik yang gatau diri ini..ckckck." Ketusnya sambil membuang air liur di depan mata kepalaku sendiri.

__ADS_1


Degh!!!


Jantungku terasa di remas dan tercabik-cabik, lalu aku berusaha untuk menahan air mata yanh sudah ada di pelupuk mataku. aku mencoba menarik nafas supaya rasa sesak ini hilang tapii sialnya mendengar perkataan bibi Rani membuatku tak sanggup lagi. Ketika dia mengatakan hal yang lebih menyakitkan hatiku ini.


"lebih baik usir dia dari sini pa, mama eneg lihatnya." Bentaknya dan menunjuk-nunjukku dengan tangannya yang runcing itu. Apalagi matanya melotot menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.


Aku bisa melihat di matanya penuh dengan kebencian. Dan seolah-olah ingin menelan ku hidup-hidup. air mata yang semula aku tahan akhirnya luruh juga. aku memberanikan diri untuk menatap mata yang penuh kebencian itu dengan begitu berani. Lalu aku menatap paman dan bibiku, lalu aku beralih menatap mata bibiku begitu tajam.


" A-apa salahku pada bibi Rani, sehingga bibi Rani selalu saja menghina, mengejek dan selalu menyudutkan aku terus-menerus." Ucapku lantang dengan sorot mata yang begitu tajam. Aku berusaha untuk mengontrol emosiku yang mulai meledak-ledak. Nafasku mulai memburu dan berusaha untuk meredamnya.


Karena aku masih menghormatinya yang masih ada ikatan persaudaraan dengan keluargaku. Tapi aku tak bisa menahan emosi yang sudah bergejolak di dadaku. bibi Rani terdiam, beliau diam seribu bahasa tak bisa menampik apa yang aku ucapkan itu. ia seolah-olah seperti ingin membalas ucapanku terlihat dari gelagatnya itu.


"kamu itu hanya beban di rumah ini, kamu itu nyusahin dan tak pantas tinggal di rumah ini. Karena aku berhak mengusir kamu kapanpun yang aku mau dengar itu." bentaknya tak kalah nyaring, kedua matanya seperti hampir keluar, karena saking kesalnya.


Paman Tio yang semula diam pun, kini tak tinggal diam dan berusaha melerai ku dan dia.


" MAMA," bentak pamanku penuh emosi.


"cukup ma cukup, kamu sudah keterlaluan." Bentak paman tio lebih keras lagi dan membuat bibi Rani langsung menciut tapi dia berusaha untuk tak takut dengan ucapan suaminya sendiri dan membalas ucapannya begitu sengit. Tak Terima bila suaminya lebih membela zahra di bandingkan istrinya sendiri.


"Kenapa pa...kenapa, apa ucapan mama ada yang salah, memang benar kan dia tuh hanya bisanya nyusahin kita dan beban di rumah ini. Lagi pula dia tak pantas tinggal di rumah ini. Lagipula mama malu punya saudara dari kampung yang membuat derajat mama turun." ucapnya tak kalah sengit dengan nafas yang memburu.


Lagi dan lagi bibi Rani berusaha menyudutkan ku dan menghina-hina keluarga ku, mentang-mentang aku berasal dari kampung terus dengan seenaknya bibi Rani menghina martabat dan harga diri keluarga dan itu semakin membuatku muak dengan sikapnya yang begitu angkuh bak ratu.


Aku tau dia lebih kaya tapi tak seharusnya menghina kedua orang tuaku, dulu juga mereka sama seperti keluargaku. Tapi nasibnya lebih baik, karena usaha paman Tio berkembang pesat sampai mereka menjadi orang kaya baru tapi sudah sombongnya minta ampun.


Aku mengelus dada dan berusaha untuk tak terpancing dengan mulut pedas itu dan keputusan ku sudah bulat, aku akan pergi dari rumah ini. Supaya rasa sakit hatiku tak semakin banyak dan aku lebih memilih mundur demi kewarasan ku ini.


Daripada tinggal disini makan hati mulu padahal aku baru sebulan tinggal disini tapi bibi Rani seolah-olah mengeluarkan bendera kebencian secara terang-terangan di depan mataku sendiri.


"baiklah kalau itu yang bibi Rani mau, oke zahra akan keluar dari rumah ini sekarang juga. Supaya bibi bisa puas." Ucapku lantang tanpa takut sama sekali dengan wanita paruh baya itu. Aku sudah tak peduli dengan ikatan sialan itu. Yang jelas keputusan ku sudah final. Dan aku akan pergi dari sini. Supaya hidupku tenang dari bayang-bayang wanita itu.


"bagus kalau kamu sadar diri, sekarang kamu pergi dari rumah ini sekarang juga." Sentaknya dan menunjukku dengan tatapan sengit nya itu. Sudut bibirnya melengkung sempurna karena rencananya sudah berhasil.


"baik aku akan pergi dari rumah ini, sudah puas kan sekarang bi. Zahra takkan mengganggu keluarga ini lagi dan aku juga sudah muak dengan anda." Sahutku cepat dan aku melirik pamanku. Paman tio seperti tak rela kalau aku pergi dari rumah ini tapi karena suatu keterpaksaan aku harus pergi dari rumah terkutuk ini.


Aku berjalan menghampiri paman tio dan menatap manik ma hitam pekat itu, terlihat wajahnya begitu tak rela bila aku pergi. Tapi aku harus berusaha meyakinkannya untuk tak perlu khawatirkan itu.


"Zahra apa kamu yakin akan pergi dari sini, kamu mau tinggal dimana nak?" Ucap paman tio lirih.


"Tak apa paman, Zahra insa Allah bisa jaga diri kok. Lagi pula sekarang Zahra sudah mendapat pekerjaan. Jadi paman tio tak usah khawatir." Tutur ku lembut.


Paman tio menghela nafas besar karena aku kekeh ingin segera pergi dari sini. Aku sudah muak dengan penghuni rumah sini yang selalu menghina, mencaci dan menyudutkan aku terus-menerus.


"baiklah paman ijinkan kamu pergi dari sini, nanti kalau ada apa-apa kasih tau paman hmm." Pintanya penuh harap. Bibi Rani seolah tak Terima bila dengan ucapan suaminya itu dan berlalu pergi meninggalkan aku dan paman tio dengan sengaja menghentak-hentakkan kakinya naik ke lantai atas.


aku pun pamit dengan beliau untuk naik ke atas dan membereskan semua barang-barangku yang tertinggal di kamar yang aku tempati selama satu bulan ini. Paman tio hanya mampu tersenyum tipis selepas kepergianku.


flashback off


##########

__ADS_1


setelah aku menceritakan semuanya, aku masih menangis terisak dengan suara hampir serak karena menangis terus terusan. Kak Sinta menepuk-nepuk punggungku dan mengusapnya dengan lembut. hingga aku tenang dan sudah tidak ada lagi isak tangis dari bibirku ini. Aku mengusap air mataku dengan kasar, lalu kak Sinta menyodorkan tisu kepada ku dan aku menghapus kembali air mataku yang memenuhi wajah cantikku ini.


"It's ok ra, semua akan baik-baik saja. aku jamin itu." Ujarnya dan kak Sinta tersenyum padaku dan Memelukku begitu erat supaya aku jangan bersedih lagi meratapi nasibku ini.


__ADS_2