
entah kenapa aku merasa risih di tatap seperti itu. aku menepuk lengannya hingga dia tersentak kaget.
"jangan ngelamun pagi-pagi ntar kesambet." Ucapku sambil menatap jalan raya dari kaca jendela mobil.
axel mengernyit heran, "dih siapa juga yang ngelamun." sanggah axel.
"jo nanti antarkan istriku dulu yahh," titahnya memberi titah.
"cihh... sejak kapan aku istrimu hah." aku mencibir.
"sejak sebulan lalu," axel tersenyum jumawa.
ya ampun entah kenapa aku bergidik jijik melihat tingkah nya yang absurd. kemana lelaki dingin yang dulu selalu jutek padaku, lah ini berbanding terbalik. aku geleng-geleng kepala.
"ahh iya nanti pas jadwal ku libur, aku ingin bagi-bagi rezeki ke anak-anak yatim dan anak-anak jalanan boleh gak." pinta zahra.
"untuk apa???" tanyanya.
"emm kan sebelum aku menikah denganmu, aku baru di angkat jadi pegawai. jadi aku ingin bagi-bagi kebahagiaanku." ucap zahra lirih.
__ADS_1
entah kenapa melihat istrinya ini kok seperti mau menangis, dengan sigap axel menarik tubuh mungil itu dan di dekap erat sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.
zahra yang merasa di penuhi sebuah rezeki yang berlimpah Sangat-sangat amat bersyukur, apalagi sekarang dia sudah jadi istri lelaki dingin ini. dia sangat ingat dulu, sewaktu di hina dan di ejek oleh bibi rani dan hana.. setiap hari selalu mendapat cacian, makian, bentakan yang selalu ia dengar. belum ada segenap sebulan berasa benar-benar di neraka.
ya ampun bukannya aku kurang bersyukur tapi aku sangat sangat sakit hati dengan ucapan dan perkataan dari mulut bibi Rani.
entah kenapa zahra ingin sekali ke makam kedua orangtuanya tapi...zahra belum sanggup untuk kesana.
zahra yang sedang melamun di kejutkan dengan tepukan di lengan.
"hey kok bengong sudah sampai tuh," axel menunjuk rumah sakit tempat nya bekerja.
"sekitar 1 bulan lagi, karena sketsa ku belum rampung.yaudah hati-hati kamu yahh, kalau ada apa-apa hubungi aku okay." axel mengusap lembut rambut zahra.
mereka berdua saling menatap mata masing-masing dengan begitu dalam. tapi entah kenapa axel menatap dalam mata cantik itu dengan pikiran yang sulit di artikan.
"yaudah kalau gitu aku duluan." zahra membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
axel yang melihat punggung sang istri, hanya mampu tersenyum tipis. dan memerintahkan jo untuk menjalankan mobilnya menuju perusahaan miliknya.
__ADS_1
selama di perjalanan axel termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
aku menikahimu hanya untuk menggantikan amara sebentar saja, menemaniku yang sepi ini. tapi kalau nanti setelah setahun istri tercinta ku pulang. mungkin aku akan menceraikan mu karena status kita hanya nikah agama saja." gumam axel tersenyum tipis.
dan maafkan aku jika sewaktu-waktu sifatku berubah terhadapmu, tolong kamu jangan tinggalkan aku. jika kamu benar-benar sudah tak sanggup bilang padaku, bahwa kamu tak kuat lagi bersama denganku." Lagi-lagi axel berkata dengan sorot mata iba kepada wanita cantik yang baru dia nikahi satu bulan yang lalu.
jo melirik tuan muda dari kaca tengah hanya mampu tersenyum tipis, jo merasakan kasian dengan nona zahra yang hanya di jadikan pelampiasan tuan mudanya itu.
semoga saja tuan muda menerima seutuhnya nona zahra, tapi seperti itu gak mungkin karena di hati tuan muda masih ada nama nyonya amara, walaupun dia telah egois mengatakan tak mau mengandung anak dari suaminya tapi dia tetap nekat pergi ke Paris juga." jo bergumam dalam hati dan turut prihatin terhadap nona mudanya itu..
di sisi lain..."
di sebuah apartemen..."
amara menggebrak meja saking emosinya mendengar bahwa suaminya telah menikah lagi, dan membawa wanita sialan itu masuk ke mansion milik mereka.
"sial." amara menahan kesal saking emosinya
dia takkan tinggal diam, wanita murahan itu merebut suaminya itu dan merebut status nyonya besarnya.
__ADS_1