
sesampainya di bawah, aku dan kak Sinta berjalan menuju keluar dari mall untuk menyetop taksi. namun suara seseorang menghentikan langkah kami berdua.
"tunggu...," axel menghentikan langkah kaki dua wanita yang ada di depannya.
aku terperangah. tak percaya tuan muda itu menghentikan aku dan kak Sinta.
"ada apa." ucapku ketus.
"bisakah kalian ikut dengan kami." pinta axel.
"untuk apa??" aku bertanya padanya.
"kan tadi aku sudah janji untuk traktir kalian makan malam." ujarnya lagi.
kak Sinta menoleh kepadaku dan beradu pandang meminta persetujuan untuk ikut dengan mereka apa engga.
"terserah kak Sinta aja." ucapku pasrah.
"apa gpp, kita berdua ikut kalian." Sinta merasa tak enak.
"gpp, kan yang ngajak kalian berdua. aku." ucap axel percaya diri.
"baiklah kita berdua ikut kalian." ucap Sinta
"kalau gitu ayo naik, jo sudah menunggu." axel menunjuk mobilnya yang berada di depan
aku dan zahra menganggukan kepala dan mengikuti langkah kaki axel. dan segera masuk ke dalamnya.
aku dan kak Sinta duduk di belakang, sedangkan axel duduk di sebelah jo yang mengemudi mobil itu.
mobil pun bergerak keluar area mall dan keluar lewat pintu keluar. membayar karcis parkir. dan mulai bergerak keluar ke jalan raya yang di penuhi gemerlap lampu-lampu jalanan. menambah kesan romantis. aku menatap ke jendela mobil untuk melihat lalu lalang kendaraan yang begitu padat.
sesekali axel menatap dari kaca mobil untuk melihat zahra. entah kenapa matanya ini tak lepas dari wajah cantik itu. jo yang peka dengan gelagat tuan muda nya itu hanya mampu tersenyum tipis melihatnya.
tak butuh waktu lama, sekitar 30 menit untuk sampai ke restoran mewah
aku dan kak Sinta saling beradu pandangan ketika melihat sebuah restoran yang sangat mewah.
"loh kok kalian malah diam saja. ayo masuk" titah axel..
dan kami pun mengikuti mereka berdua . jo yang sudah reservasi tempat dan langsung menuju sebuah meja yang sudah di pesan.
kami berdua pun duduk dan melihat-lihat di buku menu makanan sangat-sangat mahal.
"ra ini gak salah makanannya mahal semua." bisik kak Sinta di telingaku.
"iya yah." aku juga di buat terkejut melihat daftar harga yang membuat dompet kami kejang-kejang.
"kenapa kalian diam saja, ayo pesan makanan." ucap axel membuyarkan lamunan kita berdua.
"ahh mending kita cari yang murah ra." bisik Sinta lagi.
__ADS_1
"tapi ga ada yang murah kak." ucapku lirih dan berbisik di telinganya.
"kok kalian malah bisik-bisik bukannya pesan makanan." axel merasa geram melihat dua orang wanita di depannya malah bisik-bisik tetangga.
"ahh kami pesan spaghetti bolognese dua saja dan minum nya jus strawberry 2" ucap Sinta.
"baik ada lagi kak." tanya pelayan itu.
"saya pesan spaghetti, steak, dan minuman nya kopi panas satu dan jus jeruk . Masing-masing 4 yahh." ucap axel tanpa membaca buku menu.
"baik, silahkan di tunggu." ucap pelayan itu lalu ia pun pergi dari hadapan kami.
hanya 30 menit pesanan kami siap, dan di antarkan oleh pelayan yang tadi dan menaruh semua makanan di atas meja.
suasana nampak canggung ketika makanan sudah sampai.
"kok kalian bengong sih, ayo di makan jangan di pelototin aja." ucap axel semakin geram.
sontak saja kami pun terkejut melihat banyak banget makanan.
"kenapa banyak sekali." protes ku.
baru saja axel memotong daging itu dan ingin memasukkannya ke dalam mulutnya terhenti. ketika gadisnya protes tidak Terima.
"sudahlah kalian makan saja, dari pada mubazir." ucap nya santai sambil memasukkan daging itu ke dalam mulutnya.
Lagi-lagi aku dan kak Sinta saling beradu pandangan. dan kak Sinta memberi kode untuk memakan yang ada di depan kami.
aku menghela nafas dan mulai memakai spaghetti yang aku pesan dan mulai memasukkannya ke dalam mulutku.
"sudah beres tuan" ucapnya pada majikannya itu.
"bagus" axel berucap santai sambil menikmati makanannya.
begitu pun jo menikmati makanan yang ada di hadapannya.
kami berempat menikmati makan malam dengan tenang dan yahh sangat mewah sekali. kak Sinta makan sangat sedikit karena dia melihat daftar harga makanan yang sangat mahal.
dengan pelan-pelan, aku memasukkan lagi spaghetti itu ke dalam mulutku hingga habis tak tersisa.
setelah itu aku mengambil serbet yang ada di sampingku dan mengelap sudut-sudut bibirku dengan itu. lalu aku menyeruput jus strawberry hingga sisa setengah.
"kamu kok makannya cepat sekali, ayo di habiskan steak itu." axel menunjuk dengan dagunya.
"gak ahh, aku sudah kenyang." aku menolak secara halus.
"sudah kamu tidak usah membantah, makan saja apa susahnya." axel semakin sewot melihatnya.
"T-tapi aku..." ucapanku terhenti ketika mendapat tatapan tajam dari dia.
ahh menyebalkan sekali. dengan terpaksa aku mengambil steak itu dan mulai memakan sedikit demi sedikit..
__ADS_1
"Ohh iya Sinta kamu juga makan steak itu, aku sudah pesan untuk kalian berdua." ucapnya datar.
Lagi-lagi jo terkejut melihat perubahan dari sikap tuan muda nya itu, dia baru kali ini melihat wajah tuan muda seceria itu. di bandingkan dengan istrinya amara. ia selalu memasang wajah dingin tapi tidak dengan nona zahra. ekpresi tuan muda sangat berbeda. jauh lebih terlihat tersenyum. walaupun sesekali terlihat kesal karena nona zahra selalu membantah yang di ucapkan olehnya. tapi baru kali ini jo merasa kalau nona zahra bisa merubah sikap dingin, arogan dan keras kepala tuan muda itu menjadi lebih baik.
semoga saja nona zahra mau menjadi istrinya walaupun hanya menjadi istri siri alias kedua..
ia berdoa semoga tuan muda dan nona zahra semoga bisa akur ketika mereka akan menjadi suami istri.
ia hanya mampu tersenyum tipis melihat perdebatan yang terjadi antara nona zahra dan tuan muda nya sendiri.
"sudah sudah kalian bisa gak sih sehari gak bertengkar." Sinta mendelik tajam.
sontak saja aku dan si rese itu terdiam dan melanjutkan memakan makanan di piring kami masing-masing.
tanpa terasa makanan yang ada di meja habis tak tersisa.
"berapa yang harus kami bayar??" Sinta langsung to the point.
sontak saja hal itu membuat axel menaikan kedua alisnya.
"untuk apa kalian membayar, kan aku yang traktir." kata axel.
"oh benarkah." tanya Sinta penuh selidik.
axel menganggukkan kepala membenarkan ucapannya yang tadi.
"karena aku menyuruh jo untuk reservasi untuk makan malam dengan kalian juga. jadi jangan khawatir dengan bayarannya." tutur axel.
"tapi lagi-lagi kami merasa tidak enak dengan anda." ujar Sinta jujur.
"sudah tidak apa-apa, anggep saja traktiran ini adalah sebagai tanda aku bisa berteman dengan calon istri ku." axel berucap sangat santai.
"A-apa K-kamu barusan bilang." Sinta bertanya maksud dari ucapan axel.
"aku ingin menjadi teman dari calon istriku." axel menunjuk zahra dan sontak saja membuat dia terbatuk-batuk.
"apa benar yang di katakan oleh dia ra??" tanya Sinta menunjuk axel.
"tidak, jangan percaya omongan dia kak." elak ku.
"hey aku ini calon suami mu, kok malah gak di anggep sih." axel tidak Terima.
"tapi kok dia yakin sekali kalau kamu calon istrinya sih ra." Sinta ingin memastikan ucapan dari axel.
"aku menolaknya kak." ucapku santai.
"enak aja menolaknya, aku sudah memberikan kamu cincin." axel tetap bersikukuh dengan ucapannya.
"cincin darimana, lihat nih di jariku gak ada cincin." zahra membantah dan mengulurkan tangannya untuk di perlihatkan ada cincin itu atau tidak.
Sinta terperangah..."
__ADS_1
ia merasa tak percaya. ia lalu melihat keduanya yang sama-sama bertolak belakang. Sinta menggaruk tengkuknya yang tak pegal. manah yang harus dia percaya di antara kedua orang itu.
tapi ucapan zahra sepertinya jujur, yahh dia harus memastikannya sendiri dan bertanya pada zahra. tapi nanti pas mereka berdua sudah di kosan. jangan disini karena masih ada tuan muda dan asistennya itu.