
mereka semua kembali ke aktifitas masing-masing...
Bima dan kelvin kembali ke ruangan masing-masing. sedangkan zahra dan Mia kembali ke ruangan mereka juga. begitupun Sinta. ia juga kembali ke ruangannya yang ada di sebelah.
tak terasa hari sudah sore dan sebentar lagi waktunya pulang. zahra dan Mia bersiap-siap membereskan sisa-sisa laporan. dan merapikan file-file yang berantakan di kembalikan ke tempat semua.
sudah hampir 6 bulan aku bekerja disini. ternyata waktu cepat sekali berlalu. seperti biasa tiap bulan pasti paman Tio selalu mentrasfer uang bulanan untukku tanpa sepengetahuan anak dan istrinya.
aku dan kak Sinta berjalan menuju parkiran untuk mengambil motorku yang terparkir disana. baru saja aku dan kak Sinta berjalan mencarinya. kak kelvin menghampiri kami berdua.
"hoi sin..., mau bareng gak." ajak kelvin.
"gak usah, kami bawa motor kok." tolak Sinta.
"udah sih, motornya taruh aja disini. kalian berdua ikut aku. aku ingin mentraktir kalian. mau gak." Lagi-lagi kelvin memaksa.
kak Sinta beradu pandangan kepadaku untuk meminta persetujuan. untuk menerima ajakannya. aku menggidikkan bahu. yang artinya itu terserah kak Sinta.
"tapi besok aku dan zahra naik apaan. kalau motor aja di taruh disini." jawab Sinta cepat.
"yaudah nanti aku yang jemput kalian." kelvin terus memaksa.
"ahh tapi kalau sekarang aku dan zahra gak bisa, soalnya mau kuliah." tolak Sinta.
"lain kali saja yak vin." jawabnya lagi.
ahh iya aku lupa hari ini ada kuliah. ya ampun untung kak Sinta mengingatkan..
"kalian pulang kuliah jam berapa??" tanya kelvin.
"ya paling sekitar jam 7 malem baru pulang." jawab Sinta cepat.
"oke nanti aku akan menunggu kalian." kekeuh kelvin memaksa..
Sinta mengerti sifat kelvin yang suka memaksa kalau tidak di turuti..
namun tanpa di sadari ketiganya. ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka bertiga. ia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi. tapi dalam sekejap ia tersenyum senang karena misi nya sudah berhasil.
iya benar akhirnya zahra tanda tangani surat yang di selipkan di meja kerja.
"kamu gak akan bisa kabur lagi." gumamnya pelan.
"kamu akan menjadi milikku." ucapnya tersenyum jumawa.
zahra yang seperti merasa di tatap. mengedarkan pandangan mencari siapa yang memperhatikan dirinya. tapi nihil tidak ada siapapun. hanya ada kami bertiga.
"sudah... sudah... sudah... kalian kalau bertemu seperti kucing dan tikus." celetuk zahra.
sontak saja kelvin terkejut bukan main. melihat sifat zahra yang sama persis seperti Sinta. baru kali ini ia melihatnya..
"abisnya ra, tuh bocah batu." sungut Sinta menunjuk kelvin.
"yaudah kita ikut dia aja kak, motor taro sini aja. sebagai gantinya besok kamu jemput kita. gimana." zahra memberanikan diri menatap lekat mata kelvin. hingga membuat dia deg deg an.
"yaudah ayo,aku dan zahra setuju." jawab Sinta cepat.
"oke deal." ucap kelvin
kelvin mengajak kita berdua ke arah parkiran mobil dan segera masuk ke dalamnya. kak sinta duduk di depan di samping kak kelvin. sedangkan aku duduk di belakang. tidak ada yang bersuara sama sekali. kalau aku hanya menatap ke sembarang arah. namun aku seperti menangkap sosok yang sangat aku kenal.
__ADS_1
"I-itu kan hana, dia bersama siapa itu." gumam zahra dalam hati.
kok seperti pria yang sudah berumur, tapi kok mesra sekali. apa jangan-jangan." aku mencoba menepis nya dan tanpa terasa sudah sampai di area kampus. aku dan kak Sinta membuka pintu mobil bersama-sama dan turun berbarengan.
"nanti aku jemput kalian disini okay." kelvin mengingatkan.
"iya iya bawel banget sih." Sinta memukul lengan kelvin. hingga ia terjingkat kaget.
dan ternyata aku dan kak sinta berpapasan dengan Mia dan Bima yang baru turun dari mobilnya juga.
"loh kalian kok kenapa bareng kelvin. ngapain kamu disini vin???" tanya Bima dengan ekpresi bingung nya.
"yaudah kita masuk dulu yahh." kata sinta dan di ikuti oleh zahra dan sinta.
selepas kepergian mereka, kelvin dan Bima masih di sana. Bima yang dari awal masih penasaran. kelvin seperti mendekati seseorang.
"vin ada yang mau aku omongin." tutur Bima.
"omongin aja disini." ucap kelvin santai.
"kamu sepertinya mengincar sesuatu yahh." ucapnya lagi.
deg!
"mampus aku, kok bisa bisanya si Bima peka." batin kelvin menggerutu kesal.
"apa kamu suka dengan sinta atau zahra vin. katakan." desak Bima.
"engga kok, aku hanya menawari mereka berdua tumpangan." sanggah kelvin.
Bima menaikan satu alisnya, "ohh benarkah." ia memicingkan kedua matanya . menatap kelvin lebih dekat. lalu kelvin mendorong wajah Bima. takut di sangkat orang-orang kalau ia dan Bima belok lagi.
" udah ahh aku mau pulang." kelvin melambaikan tangannya dan masuk ke mobil miliknya. begitu juga Bima. iya juga masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu meninggalkan kampus.
sudah 3 jam kelvin menunggu disini, tapi sinta dan zahra tak kunjung nongol. tanpa di sadari axel juga berada di sana ingin melihat gadisnya.
tak lama kemudian akhirnya mereka bertiga pun keluar dan menuju gerbang.
"lah ada kak kelvin??" tanya Mia.
"hay... kalian kok lama kali." cibir kelvin.
"ohh sorry sorry tadi ada yang ketinggalan." ucap sinta.
"ayok , jadi kan??" tanya kelvin memastikan.
dan di angguki cepat oleh mereka.
"Mia, lah Bima gak jemput kamu??" tanya kelvin
Mia menggelengkan kepala.
"yaudah ayo ikut kita bertiga aja yuk." ajak kelvin.
baru beberapa langkah mereka ingin menaiki mobil kelvin. ada sebuah teriakan dan kami berempat pun menoleh.
ohh ya ampun kenapa dia ada disini." batin zahra kesal. tapi sebisa mungkin ia harus bersikap biasa.
"tunggu." teriak seseorang.
__ADS_1
sontak saja mereka semua terkejut, tapi yang terkejut hanya sinta dan zahra. Mia dan kelvin mengernyitkan dahinya bingung.
dengan langkah tegapnya axel dan tentu saja jo selalu mengikuti tuannya kemana pun dia pergi.
"kamu." jawab Sinta dan zahra berteriak kompak.
"bisa gak, gak usah teriak. sakit ini telingaku tau." gerutu axel.
"kamu ngapain disini." ketus zahra.
"ya tentu saja hanya lewat sini ehh sekalian aja jemput kalian." ucap axel santai.
zahra menyipitkan dan memicingkan kedua matanya. ingin memastikan apa benar yang di ucapkan itu betul-betul sekedar lewat saja.
"bohong.., aku tau kamu sengaja kesini kan." sindir zahra.
glek!!
"mampus aku, kok dia tau sih. ahh elah gak seru banget kalau ini bisa ketauan sama dia." axel meng'gerutu dalam hati.
"selamat malam nona zahra, kalian mau pada kemana??" tanya jo ramah.
"ahh kami mau makan di sebuah cafe dekat kampus sini." kelvin menjawab pertanyaan jo.
"ohh, apa boleh kita berdua bergabung??" tanya jo tersenyum.
"ahh iya mari ikut kami." kelvin tersenyum kikuk ketika mendapatkan senyuman yang ia tau mematikan.
axel menarik lengan zahra. tapi zahra menarik lengan kak sinta untuk ikut dengannya satu mobil dengan si rese itu.
kelvin yang melihat kejadian aneh itu. hanya mampu menatap punggung itu.
"ahh ayo Mia, kamu ikut denganku saja. nanti aku WA Bima untuk menyusul ke cafe ." jawab kelvin dan segera masuk ke dalam mobilnya.
begitu axel, zahra, jo, dan sinta masuk ke mobil miliknya.
axel dan jo duduk di depan, sedangkan sinta dan zahra di belakang. zahra berdecak kesal. kenapa bisa dia ada disini. ahh bikin mood jadi bete. sinta yang melihat wajah zahra di tekuk hanya mampu terkikik geli.
hanya butuh waktu 15 menit saja, mereka sudah tiba di cafe dan ternyata Bima sudah sampai di tempat yang sama.
"Hai.. maaf yahh tadi ada panggilan dari rumah sakit dadakan untuk menangani operasi." tutur Bima memberitahu.
kelvin menepuk bahu Bima tapi matanya menatap sosok yang sangat dia kenal. yap benar Bima kenal dengan axel. karena ia tau kalau axel adalah keponakan dari dokter hendrik.
"ohh selamat malam tuan axel dan asistennya tuan jo, benar bukan." sapa Bima dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan keduanya. dengan senang hati axel menyambut uluran tangan itu. begitu pun jo.
"wow aku terkejut ternyata kamu kenal dengan saya." jawab axel terkejut.
"ahh iya saya pernah bertemu anda di ruangan dokter hendrik." ucap Bima.
"ahh itu kamu ternyata." ucap axel menepuk bahu Bima.
kami semua pun masuk ke dalam cafe. tempat anak muda pada nongkrong disini. tempat nya yahh lumayan bagus apalagi cocok untuk foto-foto.
kami duduk di area rooftop. sangat cocok dengan melihat pemandangan bintang-bintang. di sertai angin malam yang sangat sejuk.
kami semua duduk di bangku panjang dengan meja di gabung menjadi lebih luas. tak lupa kami pesan makanan.
axel menatap tajam ke arah zahra, tapi tentu saja zahra tak mau kalah menatap tajam balik axel. sinta dan jo tentu saja mereka menghela nafas melihat kucing dan tikus itu bertengkar gatau tempat. Mia yang melihat situasi mencekam hanya mampu menggelengkan kepala. ia ingin bertanya pada zahra tapi urung nanti saja setelah mereka sampai kosan.
__ADS_1