
satu bulan kemudian....
aku masih tak menyangka, bahwa aku akan menjadi istri dari seorang pria pemaksa, bagaimana tidak memaksa. ternyata dia sudah sisipkan sebuah kertas yang aku tak tahu. dan memaksaku untuk segera mendatanginya. aku ingat betul hari itu.
********
Flashback on
**********
waktu itu aku lagi sibuk-sibuknya, meneliti laporan. Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan kami berdua, tak lama seorang suster membawa sebuah kertas yang aku sendiri tak tau, karena aku sedang fokus.
"maaf mba zahra, apa boleh saya minta tanda tangannya???" jawab suster itu.
aku mengernyit heran, lalu aku menganggukkan kepala dan mengambil pulpen yang ada di atas meja. lalu aku di arahkan untuk tanda tangan di atas kertas itu. setelah itu suster itu pamit dan segera pergi dari sini. aku tak mengeceknya terlebih dahulu main tanda tangan aja. begitu ceroboh nya aku, tidak membaca isi kertas itu.
#########
flashback off
#########
sudah satu bulan aku menjadi istrinya, yahh sudah sejak itulah aku tidak tinggal di kosan lagi, karena aku harus ikut dia. yahh dia sekarang sudah resmi menjadi suamiku. walaupun nikah secara agama. dia juga memaksaku untuk ikut bersamanya. sebenarnya aku gak mau, tapi dia tetap memaksa ku untuk tinggal di rumah nya. aku bersikukuh ingin tetap tinggal di kosan, karena disanalah saksi bisu berawal dari yang tidak punya apa-apa, sekarang aku sudah di angkat karyawan tetap. benar kata Mia. di bagianku dan Mia ternyata masih ada slot kosong untuk bisa di angkat jadi pegawai tetap disini. aku sangat sangat bersyukur, tak terbayang kan di dalam pikiranku kalau aku akan bisa bekerja tetap disini. tentu saja Mia juga ikut di angkat jadi pegawai tetap. sama seperti ku.
aku mempunyai niat ingin membagikan nasi kotak ke anak yatim dan anak-anak nya yang ada di jalanan. nanti kalau kami libur aku akan niatkan itu.
__ADS_1
aku begitu asing melihat kamar yang begitu besar, yahh aku dan axel pisah kamar, aku lebih memilih kamar tamu di bandingkan kamar utama milik istri pertamanya. sebenarnya aku takut. jika sewaktu-waktu istri pertamanya akan kembali. dan... ahh aku gak bisa membayangkan yang terjadi gimana.
aku sudah berganti pakaian dan akan bersiap kerja. karena hari ini aku masuk pagi. yap semenjak aku di angkat jadi karyawan. aku di pindah tugaskan lagi menjadi officer admin yang mengurus data-data pasien, begitupun Mia juga satu ruangan denganku.
aku berjalan menuju meja rias yang banyak sekali perlengkapan makeup dengan nama brand ternama. aku pun duduk di kursi sambil memoles wajahku. selesai makeup, aku berjalan mengambil tas di lemari dan betapa terkejut nya melihat berbagai tas berbagai macam merek tertata rapih di sana. katanya aku gak perlu membawa apapun. padahal semua baju-bajuku berada di kosan. tak lama pintu kamar ini terbuka, axel menghampiriku dengan pakaian yang rapih dengan setelan jas nya. tapi kok kenapa dasinya gak di pake. ahh kebiasaan ini mah pasti minta di pasangin.
"mau ngapain." ketusku.
axel bukannya menjawab, dia malah cengar-cengir gak jelas. lalu ia menyodorkan dasi itu. mau gak mau aku pun berjalan menghampiri dia dan mulai memasangkan dasi itu. lalu aku menepuk-nepuk hasil maha karya ku dan bergegas menghindar darinya.
"sudah kan, sekarang aku mau langsung berangkat." aku pun berjalan mendahului nya. tapi langkah kaki ku terhenti, ketika axel ingin mengatakan sesuatu.
"tidak bisakah kita sarapan disini aja." pinta axel.
aku menghela nafas dan menganggukkan kepala. lalu axel berjalan terlebih dahulu dan aku mengikutinya dari belakang. kami berdua pun turun ke bawah. dan menuju meja makan yang sudah tersaji banyak sekali makanan.
yahh semenjak aku tinggal di mansion ini, aku selalu menyapa ramah wanita paruh baya itu.
"selamat pagi juga nyonya." sapa balik bi sum.
"bi sum, jangan panggil zahra nyonya. panggil nama aja yahh. zahra gak enak sama bi sum." jawabku jujur sambil mencebikkan bibirku.
bi sum menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "tapi nyonya, saya kan... " ucapan bi sum. langsung ku potong. dan aku sangat gak suka di panggil nyonya.
"ahh gimana kalau non zahra" usul bi sum.
__ADS_1
"yasudah terserah bi sum, ayo bi sum kita sarapan bersama." aku mendorong wanita paruh baya itu untuk ikut dengan kami berdua di meja makan. tapi bi sum selalu gak mau karena gak enak ada axel. aku melirik ke arahnya untuk meminta persetujuan apakah bi sum boleh sarapan bareng kita dan di angguki oleh nya.
"sudah kemari lah bi sum, kita sarapan bareng." ajak axel.
bi sum yang semula ingin menolak, tetapi tuan mudanya itu menyuruh untuk sarapan bersama.
zahra tersenyum senang dan menarik lengan wanita paruh baya itu dan menyuruhnya untuk duduk. tentu saja dengan sigap zahra mengambil kan roti yang telah di olesi selai dan menaruhnya di atas piring. dan mengambilkan minuman jus jeruk di depan nya.
sebenarnya bi sum gak enak kalau makan bareng majikannya, karena semenjak zahra tinggal di mansion ini. bi sum selalu di paksa oleh zahra. katanya dia gak mau makan sendirian, lebih enak makan bersama-sama. gimana mau menolak, melihat nona mudanya yang begitu baik hati. ahh zahra pun balik lagi menuju kamarnya ingin mengambil sebuah amplop yang sudah di siapkan untuk para pekerja disini. itung-itung sekalian bagi-bagi rezeki. ada beberapa amplop dan juga ia akan kasih ke anak-anak jalanan juga. zahra sudah menyiapkan semuanya.
axel yang melihat istri barunya itu mengernyitkan dahinya heran, kesambet apaan itu anak kok senyam-senyum gak jelas.
"ahh ini untuk bi sum." aku menyodorkan amplop warna putih.
"maaf ya bi, kalau zahra ngasih cuma sedikit."
"ehh apa ini non, gak usah. bi sum gak enak jadinya." tolak bi sum.
tapi bukan zahra namanya kalau gak maksa bi sum buat nerima pemberiannya.
"udah gpp, ahh iya tolong kasih ke yang lain juga yahh bi sum. Terima kasih ya bi." zahra tersenyum ramah.
"makasih ya non." ucap bi sum.
"Sama-sama bi." ucapku ramah.
__ADS_1
kami semua pun melahap makanan yang ada di piring masing-masing dan menikmati nya dengan tenang. tak berselang lama aku mencium punggung tangan bi sum untuk berangkat kerja. bi sum sudah aku anggep ibu kandung sendiri. axel yang melihat zahra mencium tangan ke bi sum merasa tak percaya, axel terperangah melihatnya. seumur-umur baru zahra yang bersikap sopan santun ke bi sum, berbanding terbalik dengan amara yang malah membentak-bentak, atau menyuruh bi sum ini dan itu. pokoknya beda lah. aku saja sampai syok melihatnya. semenjak dia menjadi istri kedua ku, semenjak itulah aku tau banyak sifat dirinya yang sesungguhnya.