
Zahra yang baru saja pulang, mengernyitkan dahinya bingung melihat tingkah aneh dari suaminya itu. Bagaimana gak aneh, lah tiba-tiba saja berlari seperti orang yang di kejar-kejar setan. "Mungkin kesurupan kali, lebih baik aku berjalan tanpa menoleh ke arahnya." Ucapnya dan terus berjalan.
Axel melongo tak percaya, zahra mengabaikannya dan melenggang pergi menuju atas.
"Apa dia masih marah." Batin axel bertanya-tanya dengan sikap acuh zahra.
Dia pun mengekor di belakang sang istri, tapi zahra tak sadar kalau di belakangnya ada seseorang yang mengikuti dirinya. Baru saja zahra ingin membuka pintu kamarnya, tangan kekar itu menghalangi jalannya.
"Kamu mau ngapain, bisa tolong menyingkir." Zahra berucap acuh, dan aku sama sekali tak mau menatap axel.
Seketika axel merasa gemas dan membalikkan badan istrinya itu dan menatap wajah cantik itu.
Zahra pun memberanikan diri menatap suaminya itu, mereka berdua saling beradu pandang satu sama lain.
"Ada apa??" Ketus zahra.
"Apa aku gak boleh menatap istriku sendiri, Hmm." Jawab axel yang masih menatap lekat istrinya itu.
Zahra tersenyum mengejek, apa katanya tadi istriku, zahra berdecih dan bersidekap dada menatap ke arah axel.
"Cih..., istri...., sejak kapan kamu menganggapku istri hah." Sentak zahra sewot.
"Sudahlah kita masing-masing saja mulai dari sekarang." Jawabnya lagi dan menghempaskan tangan kekar itu.
Tak lama zahra pun masuk ke dalam dan mengunci pintu itu, supaya axel tak bisa masuk.
Di dalam kamar, zahra wajahnya langsung berubah sendu. Entah kenapa aku ingin sekali menangis, tapi aku harus kuat. Gak boleh cengeng di depan lelaki ngeselin itu.
Tapi ya namanya hati wanita gak ada yang tau, sebenarnya zahra sudah membuka hati untuk axel, semenjak dia di nikahi olehnya. Dari situ zahra sudah mulai menerima axel sebagai suaminya. Tapi setiap kali bersitatap dan berdebat dengannya, selalu saja membanding-bandingkannya dengan istri pertamanya itu. Zahra tau, axel menikahinya karena terpaksa. Lalu aku pun berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan pikiranku yang kalut.
__ADS_1
Di luar pintu axel semakin merasa bersalah dengan istri keduanya itu, dia pun menghela nafas berulang kali dan berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar zahra.
Axel berjalan menuju ranjang, setelah dirinya mengunci pintu kamarnya. Dia termenung, dan yahh mungkin selama ini axel tak bersikap baik dengan sang istri. Apalagi baik axel dan zahra sama-sama sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Hanya karena axel selalu membandingkan zahra dengan amara. Padahal jelas sekali berbeda. Zahra sangat baik kepada siapa saja, termasuk para pelayan yang ada disini. Dan dia juga sopan kepada yang lebih tua. Seperti bi sum, dia menganggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.
Sedangkan amara, dia wanita egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia tak pernah bersikap baik pada siapapun termasuk penghuni di rumah ini.
"Maafkan aku zahra." Gumam axel pelan.
"Jika amara kembali, apakah aku harus mempertahankanmu atau...." Ucapan axel terhenti dan menghela nafas frustasi. Dia bingung harus bagaimana jadinya.
Namun tanpa axel sadari, sebenarnya dia sudah jatuh cinta dengan zahra. Tapi dia belum menyadari perasaannya itu. Dan memilih menepis semuanya. axel memilih merebahkan tubuhnya dan tanpa terasa dia terlelap. suara ketukan pintu membangunkan axel yang tertidur terlelap. ia mengerjapkan matanya dan bangkit dari ranjang menuju pintu, sesampainya di depan pintu, axel membuka knop pintu itu dan membukanya. ternyata bi sum yang datang menghampiri tuan mudanya itu.
"tuan muda sudah waktunya makan malam." ucap bi sum.
dan di angguki oleh axel, bi sum pun pamit untuk segera turun ke bawah. axel segera bersiap dan berjalan menuju kamar mandi. karena dari dia pulang kerja belum membersihkan tubuhnya yang lengket.
setelah lebih dari 20 menit axel sudah selesai mandi dan berganti baju. dia bersiap untuk keluar, namun langkahnya terhenti ketika di Pintu kamar zahra. apa gadis itu sudah turun atau belum. rasanya tangan axel gatal ingin mengetuk pintu itu, namun urung. mungkin saja dia sudah turun. gegas axel pun menuruni anak tangga , langkahnya terhenti ketika melihat zahra sudah ada di meja makan. dia mengulum senyum ketika melihat istrinya semakin hari semakin bertambah cantik saja.
axel semakin gemas melihat istrinya ngambek begitu, ia pun berjalan menuju ke arah kursi di sebelah zahra.
ekor mata zahra melirik axel dengan sorot mata yang tak bersahabat, tapi axel mengabaikan tatapan itu dan dengan santainya duduk di sebelah istrinya itu.
"ngapain kamu di sebelah, pindah gih. tuh di sana banyak kursi kosong." jawab zahra sengit dan mengambil nasi beserta lauk nya.
"loh kenapa, suka-suka aku dong mau duduk dimana." seru axel santai.
zahra memutar bola matanya malas dan tetap melanjutkan menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
axel pun mengambil nasi dan lauk juga, dia juga mulai memasukkannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1
suasana tampak hening, tak ada yang bersuara sama sekali. hanya bunyi denting sendok dan garpu yang beradu.
sesekali axel melirik istrinya itu yang fokus dengan makanannya, terlintas ide untuk mencoba jahil ke istrinya itu.
"yaelah sendok segala jatuh lagi, manah jauh beud di sebelah." ucap axel sambil sesekali melirik zahra yang seolah cuek dan mengabaikan axel yang meng'gerutu.
"aduh ini gimana makannya yahh, masa pake tangan sih." axel berucap lagi sesekali tersenyum kecil melihat zahra yang berubah sewot.
zahra yang mulai kesal pun mendorong kursinya dan mengambil sendok itu dan membantingnya di atas meja.
zahra mendelik dengan mata yang melotot dan berkacak pinggang, "bisa gak, gak usah rusuh. kan di depan matamu ada sendok lagi. kenapa juga kekeh ingin sendok yang udah jatuh. sengaja yahh kamu ngajak ribut." rentetan omelan zahra dan tentu saja dia cemberut dengan mengerucutkan bibirnya. dan jangan lupa tangannya yang ia lipat di dada adalah ciri khas zahra.
seketika axel tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi menggemaskan dari istri kecilnya itu. dia pun spontan mengacak-acak rambut panjang istrinya itu dan mendapat pelototan tajam dari zahra.
"hehehe oke oke maafkan aku hmm." axel sengaja memegang pipi kesukaannya itu hingga dia lagi-lagi mendapat mata elang dari zahra.
zahra mencoba memukul tangan itu supaya jauh-jauh dari pipinya, tapi tak di gubris sama axel. membuat dia pasrah dengan tingkah konyol dari seorang axel yang menyebalkan.
"Apa mau mu??" ucap zahra yang membuat axel semakin mencubit pipi itu.
"gemes banget jadi kangen." celetuk axel dan di hadiahi tabokan maut dari zahra.
axel seketika mengaduh kesakitan ketika tangannya di cubit dan di pukul secara bersamaan.
"ya ampun kok makin ganas sih istri aku." axel semakin meledek zahra dan zahra memutar bola matanya jengah.
"cih giliran gini aja bilang istri aku.. cih..." zahra mencibir.
"kemaren-kemaren kemana hah, kalau sudah bosan bilang. biar aku bisa pergi dari sini." geram zahra.
__ADS_1
tanpa sadar di situ hati axel merasa tak suka jika zahra pergi dari sini, tapi sebisa mungkin dia harus menurunkan emosi dan ego nya. supaya bisa meluluhkan hati sang istri yang lagi marah padanya.