
"sh*it, kenapa sih dia tidak angkat telepon ku. apa dia lagi sibuk yahh atau..." ucapannya terhenti ketika dimas masuk ke dalam ruangan miliknya.
"tuan muda di lobby ada nona amara, apakah dia di ijinkan untuk datang kesini." jawab dimas dengan ekspresi wajahnya yang datar.
axel menghela nafas, Lagi-lagi amara tetap keras kepala selalu datang menganggunya terus-menerus.
"bilang saja aku lagi sibuk, lagi gak mau di ganggu." jawabnya datar.
baru saja axel ingin memerintahkan dimas untuk mengusir amara pergi dari sini tapi apalah daya. dia sudah ada di sini.
"sayang kamu kok tega sekali, masa aku di suruh nunggu di lobby sih. kan aku..." ucapannya terhenti ketika axel memotongnya cepat, dia tak ingin amara semakin besar kepala.
"kita sudah resmi bercerai, jadi kamu sudah gak ada hak disini. jadi tolong kamu jangan mengangguku terus." ucapannya penuh penekanan.
amara terdiam, dia menatap mantan suaminya itu dengan tatapan sendu nya. supaya axel berubah pikiran dan memintanya untuk kembali rujuk padanya.
"jo apa boleh aku bicara dengan axel empat mata." pinta amara memelas dengan penuh hiba.
jo menghela nafas dan menganggukkan kepala, dia meninggalkan dua orang itu. amara tersenyum senang akhirnya dia bisa berduaan dengan mantan suaminya itu.
"axel apa kamu sudah tak ada rasa padaku hingga kamu selalu menolakku, apa kamu gak ingin kita kembali seperti dulu hmm." amara semakin mendekat ke arah axel dan dia pura-pura terjatuh dan bingo.. axel menangkap amara.
terlintas bayangan zahra hadir di benakknya. axel mencoba melepaskan pelukan itu. hati amara tercelos ketika axel malah berubah menjadi dingin.
"sudah cukup amara, kamu sudah di luar batas. kita sudah tak ada hubungan apa-apa. kita hanya mantan suami dan mantan istri. jadi kamu gak ada hak untuk mengatur-ngatur ku lagi. apa perlu aku ingatkan hmm." axel menatap tajam ke arah amara dan membuat amara beringsut mundur selangkah.
axel berjalan menuju meja kerjanya dan menelpon security untuk mengusirnya pergi dari sini.
tak lama security datang beserta dimas sudah di dalam, dan menyuruh amara untuk pergi dari sini dan jangan mengganggunya lagi.
"jo, kamu bawa amara keluar dan jangan sampai dia dengan berani masuk ke ruanganku lagi. dan tolong untuk semua security kalau nyonya amara masih bersikeras untuk masuk atau naik ke atas. segera usir dan seret dia pergi dari sini." tegas sang ceo dengan wajah yang sangat seriuss.
dua orang security itu berjalan ke arah amara dan memegang kedua tangan itu untuk ikut keluar dari sini.
"nyonya mari ikuti saya, dan jangan memberontak dan banyak protes." tegas security itu.
seketika amara beringsut mundur semakin menjauh, " axel kamu tega mengusir ku hmm. " amara begitu kecewa dan mencoba memasang wajah iba supaya axel luluh hatinya dan tak mengusir dirinya dari sini.
__ADS_1
"apa kamu gak ada pekerjaan, atau kamu nganggur sehingga terus menerus mencoba menganggu ku hah." bentak axel dengan mata yang menatap nyalang.
amara terdiam, sebenarnya dia membatalkan semua jadwalnya hanya untuk mendapatkan hati axel lagi. semenjak mereka berdua bercerai, amara sebenarnya masih punya kartu debit unlimited dari axel. itu pas waktu dia masih berstatus istri sah nya.
"dan ahh tolong kartu debit yang pernah aku kasih, tolong di kembalikan." axel menengadahkan kedua tangannya di depan amara.
deg
"tidak jangan kartu debit axel, nanti aku gimana." ucap amara menghiba.
axel terdiam dan meng' kode lewat mata, agar dimas untuk mengambilnya dari tangan amara.
amara dengan terpaksa akhirnya mengambil kartu debit itu di dompet miliknya beserta cincin pernikahan mereka juga di ambil olehnya. karena amara sudah memiliki banyak uang jadi tak perlu harta dari axel lagi.
lagi pula minta saja sama selingkuhannya yang kaya itu pasti juga akan di kasih.
"kan kamu tinggal minta saja sama pria itu pasti langsung di kasih kan." celetuk axel santai.
amara terdiam, dia menatap wajah itu dengan tatapan yang sangat dalam. dia masih mencintai axel di banding Jack. sebenarnya Jack kasih kartu debit yang sama seperti axel tapi dia tolak, cuma Jack tetap memaksa amara untuk menerima kartu itu. katanya sebagai nafkah untuknya. loh sebenarnya di antara amara dan Jack sudah menikah atau statusnya sebagai pacar gelap.
akhirnya amara pun di bawa pergi oleh kedua security itu tanpa perlawanan. di sepanjang jalan amara diam saja.
"ddrrrttt."
amara merogoh tasnya untuk mengambil ponsel miliknya dan melihat nama Jack terlintas di layar hpnya.
dengan sekali gerakan amara pun menggeser layar itu dan menempelkan nya di daun telinganya.
"hmm kenapa."
"sayang kamu dimana???" Jack bertanya kepada amara.
"aku di kantor axel kenapa."
"baiklah aku di seberang dirimu berada."
seketika amara terkesiap, apa telinganya gak salah dengar kalau Jack berada di sekitar sini. wanita cantik itu mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. dia melongo dan terperangah, amara dibuat tak percaya bahwa Jack benar-benar ada di seberang jalan sana.
__ADS_1
dia juga melambaikan tangannya sambil tersenyum manis sekali.
entah kenapa di dalam perut amara seperti merasa di aduk-aduk, amara mencoba menahannya supaya rasa mual itu hilang.
Jack langsung menghampiri kekasihnya itu. yap Jack dan amara masih berhubungan sampai sekarang, semenjak dirinya bercerai dari axel. Jack selalu memantau setiap apa yang di lakukan calon istrinya kelak.
"Hai baby." ucap Jack tersenyum manis sekali.
Jack mengernyit merasa heran melihat kekasihnya itu tampak pucat.
"kamu gpp kan sayang, ayo kita pulang. wajah kamu pucat sekali." Jack menuntun amara dengan lembut layaknya ibu hamil.
amara lalu mengambil kaca kecil yang selalu dia bawa di dalam tas miliknya. benar saja wajahnya tampak pucat. padahal dia hari ini hanya memakai bedak dan lipstik saja.
sesampainya di mobil, Jack membukakan pintu untuk pujaan hatinya itu. amara pun langsung masuk ke dalam. begitupun Jack juga ikut masuk ke dalamnya.
Jack memerintahkan sang supir untuk jalan tapi harus pelan-pelan jangan terlalu ngebut. sang supir mengangguk patuh dan menyalakan mobil itu dan segera pergi dari sana.
"kita ke rumah sakit sekarang." titahnya tanpa menoleh ataupun bertanya lebih dulu ke kekasihnya itu.
amara langsung menoleh ketika Jack menyuruh supir itu ke arah rumah sakit.
"Jack siapa yang sakit, aku baik-baik saja. aku ingin sekali makan rujak." pinta amara pelan.
tanpa aba-aba memerintahkan sang supir untuk mencari rujak yang di inginkan amara. sang supir itu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari permintaan dari majikannya itu. setelah di dapat, supir itu memarkirkan mobilnya di tepi jalan. dan langsung membuka pintu mobil dan menuju tukang rujak yang ada di depannya itu.
"sabar ya sayang, itu rujak kamu lagi di beli." ucap Jack menggenggam tangan amara, tangan satu lagi mengusap lembut perut amara.
entah kenapa perut amara yang semula mual, Tiba-tiba saja langsung hilang, setelah Jack mengusap-ngusap perutnya dengan lembut.
"daddy akan selalu menjaga kalian." gumam Jack dalam hati.
tak berselang lama akhirnya supir itu membawa satu kantong plastik berisikan rujak dan menyodorkannya ke majikannya itu.
"makasih." singkat Jack.
ia lalu membuka wadah itu dengan hati-hati dan menyodorkannya ke arah amara.
__ADS_1
amara pun mengambil sepotong buah mangga dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan-pelan. Jack terkekeh dan mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya itu.