
sekitar lebih dari 20 menit, aku telah sampai di depan gerbang rumah pamanku. aku membuka dompet dan menyodorkan satu lembar warna biru ke driver ojek online. Lalu berjalan ke arah gerbang. Tak lama seorang security datang dan membukakan pintu itu untukku. Langkah kakiku terhenti tak kala aku berpapasan dengan hana yang baru saja pulang. ia berjalan mendahului ku tapi matanya menatapku begitu sinis seperti melihat musuh.
aku tetap masuk ke dalam mengabaikan tatapan mata itu dan buru-buru naik ke atas dan berjalan menuju kamarku dan menguncinya. Aku membanting tubuhku di atas tempat tidur yang begitu empuk. rasanya pegal sekali apa efek belum pernah kerja, jadinya badanku remuk semua.
Tapi badanku gerah sekali, lebih baik aku mandi dulu lalu rebahan. baiklah aku mandi dulu, aku mendorong pintu kamar mandi dan mulai mengisi air ke dalam bak.menanggalkan semua pakaian dan menaruh nya ke dalam keranjang baju kotor.
menceburkan diri ke dalam bak, memejamkan kedua mataku supaya lebih rilekskan badan supaya badan terasa segar. selesai mandi aku bergegas menuju lemari pakaian dan memakai pakaian santai. dan berjalan menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhku.
rasanya malas sekali untuk bangun, lebih baik aku merebahkan tubuhku dulu. baru aja aku memejamkan kedua mataku, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Aku menghela nafas dan terpaksa bangun untuk melihat siapa itu? Baru aja aku buka pintu terlihat sosok yang begitu aku kenal.
Aku begitu terkejut melihat bibi Rani berdiri di depan pintu kamarku dengan wajah yang tak bersahabat. Aku berusaha untuk sopan terhadap beliau, karena dia adalah istri dari pamanku Tio.
"ada apa ya bibi Rani kemari??" Aku bertanya padanya tapi dia malah diam tapi tatapannya mengisyaratkan bahwa dia sangat membenciku.
" ada apa...ada apa...enak kali kamu bersantai-santai di dalam kamar yang bukan milikmu." Teriak bibi Rani begitu keras sampai telingaku sakit.
Entah kenapa hatiku begitu sakit mendengar bentakan dan teriakan dari mulut bibi Rani yang begitu tajam itu
"sini kamu ikut bibi." Bentaknya sambil menarik tanganku begitu kasar dan lenganku di cengkeram dengan kuat hingga kuku bibi Rani menancap di kulit lenganku hingga merah dan tergores.
Aku meringis menahan sakit, karena bibi Rani menarikku begitu kasar sekali, "kita mau kemana bi, kenapa pula aku di tarik-tarik seperti ini." Keluh ku tapi bibi Rani terlihat acuh dan terus memaksaku mengikuti langkah kakinya itu.
Baru aja kami berdua turun tak sengaja bertemu dengan paman Tio yang berjalan cepat ke arah kami berdua. matanya membola melihatku ditarik paksa oleh istrinya sendiri. beliau melempar tas kerjanya secara asal dan berlari menghampiri kami berdua. Terlihat wajahnya menahan amarah tapi sebisa mungkin ia harus menahan itu semua.
"apa-apaan kamu ma, mau di bawa kemana zahra??" Suara bariton paman Tio menghentikan langkah kaki istrinya itu. Terlihat sekali kalau paman Tio kesal, karena aku di perlakukan tak baik oleh istri dan anaknya itu.
Bibi Rani terkejut melihat suaminya yang baru saja pulang dan langsung melepaskan cekalan tangannya pada lenganku yang terluka akibat kukunya yang begitu tajam. Paman Tio melipat kedua tangannya di depan dada dengan sorot mata yang begitu tajam. Seperti seseorang yang ingin menelanya hidup-hidup.
Bibi Rani gelagapan sendiri, pasalnya ia sudah kepergok oleh suaminya sendiri.
"kamu kenapa sih ma, masih aja jahat sama keponakanmu sendiri. Bisa gak sih sekali aja kamu bersikap baik pada zahra, jangan cari masalah terus yang membuat papa semakin pusing dengan tingkah kamu dan anak kita hana."ucap pamanku menghembuskan nafas frustasi, ia mengibaskan rambutnya ke belakang. Karena saking pusingnya melihat anak dan istrinya selalu saja membuat ulah.
"A-apa sih pa, M-mama gak ngapai-ngapain dia kok." Ucap bibi Rani gugup dengan wajahnya yang pucat pasi itu, sekaligus panik karena sudah ketauan oleh suaminya sendiri.
" lalu itu kamu ngapain narik-narik tangan zahra hah." Bentak paman Tio menatap tajam ke arah sang istri. Seketika bibi Rani susah menelan ludahnya sendiri, karena telah ketauan sudah berbuat sesuka hatinya. Ia mencoba menetralisir wajahnya yang gugup menjadi santai dengan menarik nafas , bibi Rani bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"papa kenapa sih bela dia terus, aku ini istri kamu loh." Cetus bibi Rani tak terima bila dia telah di tuduh yang enggak-enggak oleh suaminya sendiri.
Paman Tio hanya diam dan ingin tau istrinya itu sampai mana terus berkelit dan berbohong. jelas-jelas Paman Tio melihat mata kepalanya sendiri bahwa Zahra telah di tarik layaknya karung beras yang tak berguna.
"mama dari awal gak suka sejak dia pertama kali datang kesini, papa kenapa sih gak pernah nurutin permintaan mama sekali aja." Ketus nya lagi dan menjadikan ku sebagai kambing hitam. ya ampun kasian banget aku, seolah-olah aku ini adalah seonggok barang atau sampah yang tak berguna sedikit pun.
"lebih baik usir dia dari sini pa, mama eneg lihatnya. bisa-bisa darah tinggi mama naik bila melihat wajahnya yang sok lugu itu." Bentak bibi Rani matanya melirik tajam ke arahku. Terlihat jelas dari matanya begitu benci kepadaku. Tapi salahku tuh apa? aku selalu menebak-nebak kesalahan apa yang pernah aku perbuat. Sehingga bibi Rani dan Hana begitu tak menyukai ku berada di rumah ini. air mata yang semula aku tahan akhirnya luruh juga. aku memberanikan diri menatap wanita paruh baya yang wajahnya masih terlihat muda , karena memakai makeup itu.
" A-apa salahku bibi Rani, sehingga bibi Rani selalu saja menghina dan selalu menyudutkan aku sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini. "ucapku lantang dan menatap tajam ke arahnya. Aku menumpahkan segala keluh kesah yang selama ini aku pendam sendiri.
Dan akhirnya aku tak sanggup lagi mendengar mereka berdua selalu menghina,mencaci dan menyudutkan ku seolah aku ini adalah sampah yang tak berguna. bibi Rani terdiam, mungkin dia ingin membalas ucapan ku tapi dia lagi menyusun kata-kata itu
__ADS_1
"kamu itu hanya beban di rumah ini, kamu itu nyusahin tau gak. Lebih baik kamu pergi dari rumah ini, lagi pula disini tuh kamu gak di anggap tau. "bentaknya tak kalah nyaring sambil melipat kedua tangannya begitu angkuh sekali.
Paman Tio begitu terkejut mendengar ucapan pedas yang di lontarkan dari mulut sang istri. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan gejolak kekesalan yang selama ini dia pendam. emang dari awal Rani tak suka Zahra tinggal disini, entah kenapa melihat wajahnya saja membuat hatinya begitu emosi.
" MAMA." bentak pamanku dengan nafas yang memburu, dadanya kembang kempis akibat menahan amarah yang sudah berkobar itu. bibi Rani seolah tak terima bila suaminya itu lebih membela orang lain di bandingkan istri dan keluarganya sendiri
"cukup ma.. cukup...kamu sudah keterlaluan dengan mulut pedasmu itu." bentak paman Tio pada istrinya itu. Matanya memerah karena saking kesalnya melihat istrinya itu berbuat sesuka hatinya.
"kenapa sih pah...kenapa...apa ucapan mama ada yang salah, memang benar kan dia tuh hanya bisanya nyusahin kita." ucapnya tak kalah sengit. ia menumpahkan rasa kekesalannya dan melemparnya ke arahku. hatiku tercelos mendengar hinaan dan cacian dari mulut itu.
Aku mencoba memberanikan diri untuk menatap mereka berdua, "baiklah kalau memang ingin mengusir zahra dari sini...zahra akan keluar dari rumah ini." ucapku menatap bibi Rani dengan begitu berani. Aku menatap nyalang ke arah wanita tua itu. Bibi Rani berdecih dengan begitu angkuhnya, ia malah menatapku tak kalah tajam bak pisau.
"bagus kalau kamu sadar diri, sekarang kamu pergi dari rumah ini sekarang juga." pungkas bibi Rani menunjukku dengan tatapan sengit nya. Aku mencoba menguatkan hatiku dan menepis rasa sakit ini. Entah kenapa rasanya ingin menangis tapi sebisa mungkin harus aku tahan supaya lelehan air mata ini tak jatuh di hadapan wanita itu. Nanti kalau aku cengeng, yang ada malah semakin di injak.
Aku harus tegar dan mencoba menjadi lebih berani menghadapi wanita itu, ya wanita itu adalah bibiku sendiri.
"baik aku akan pergi dari rumah ini." Ucapku lantang dan aku pun menoleh ke arah paman tio. Aku tersenyum tipis dan menatap wajah pamanku yang berubah jadi Sendu itu
"tadinya aku mau minta ijin ke paman, aku mau nge' kost. tapi karena kejadian ini lebih baik zahra pergi dari sini." tutur ku memberi pengertian kepada pamanku. Supaya jangan menghalangiku untuk pergi darisini.
"tapi Zahra, apa tak apa kamu ngekost? Masalahnya kamu baru tinggal di sini beberapa hari, takut kamu gak tau jalan gimana?" Tanyanya sekali lagi.
aku menganggukan kepala, " gpp paman, karena kalau aku bolak-balik kesini sangat jauh. lebih baik zahra ngekost aja supaya lebih hemat waktu dan hemat segalanya. "tutur ku padanya supaya Paman Tio mengerti kondisiku. Paman Tio menghela nafas dan akhirnya dia menyetujui permintaanku. Entah kenapa rasanya berat sih tapi mau gimana, kalau aku disini terus yang ada bibi Rani dan hana semakin menjadi.
Mereka berdua akan menghina,mencaci dan menyudutkanku, kalau aku tinggal lebih lama disini. nanti yang ada mereka berdua akan menyebutku beban dan benalu di rumah ini, padahal sebenarnya aku tak ingin ikut paman tio. Tapi beliau memaksaku untuk ikut ke kota dan tinggal di rumah ini.
aku menganggukan kepala lalu bergegas menuju ke atas. bibi Rani baru saja akan mengejar ku tapi di tahan oleh pamanku. ia pun menatap tajam ke arahnya dan itu berhasil membuat istrinya tak berkutik sedikitpun.
" sudahlah ma, kenapa sih selalu saja menggangu zahra. biarkan dia bebas dari sini daripada di rumah ini selalu kamu hina dan di ejek sana-sini." tekan paman tio menatap istrinya dengan tajam.
lalu naik ke atas untuk pergi ke kamarnya. Bibi Rani mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi tapi dia senang," akhirnya anak itu pergi juga, kalau dia disini terus lama lama aku bisa darah tinggi." ucapnya tersenyum lebar dan melenggang naik ke atas menyusul suaminya ke atas untuk menyiapkan keperluan suaminya itu dengan hati senang gembira.
hati ini masih terasa sakit setelah mendengar bentakan dari bibi Rani dan mengusir dirinya dari sini padahal aku tidak punya salah apa-apa padanya, aku terisak menangis sesegukan dan berlari ke arah tempat tidur dan membanting tubuhku, menumpahkan keluh kesahku. setelah tangisan ku mereda. aku mulai mengemasi baju-bajuku kedalam tas berukuran besar dan menelpon kak sinta. apakah benar ada kosan kosong di sebelah nya. aku mengambil ponselku dan mulai menelpon kak sinta. di dering pertama ka sinta tidak menjawab telepon ku. barulah dering ketiga ia mulai mengangkat nya.
"iya halo zahra, kamu kenapa??"tanya Sinta terdengar khawatir padaku.
"aku gpp kok ka." ucapku mencoba untuk bersikap biasa-biasa aja.
"oh iya kak, katanya kosan kakak ada yang kosong yah boleh gak aku kesana sekarang." Seruku padanya.
"hah apa zahra, tadi kamu bilang apa?? "Sinta mengulang nya
"apa aku boleh ke kosan kakak sekarang." ucapku mengulanginya lagi.
" ahh yaudah kamu kesini saja, aku ingin memberitahu kamu. nanti aku kirim alamat nya ke WA kamu yah zahra." Katanya lagi
"okay kak." kataku padanya, lalu tidak lama kak Sinta mengirim alamat kosannya padaku.
__ADS_1
aku menekan aplikasi ojek online dan menunggu drivernya datang. setelah dapat driver ojeknya, aku pun segera merapikan barang-barang ku dan menunggu drivernya datang.
triing,...
tidak lama ponselku berbunyi, ternyata ojek ku sudah sampai. cepat juga sampai nya, padahal baru sepuluh menit yang lalu aku memesannya. lalu aku bergegas keluar dari kamar dan turun ke bawah membawa tas besar yang lumayan berat.
"loh non zahra mau kemana sore sore begini??" tanya bi Nur dengan mengerutkan keningnya bingung.
"emm... zahra mau pergi dari sini bi," tutur ku pada bi Nur.
"mau pergi kemana emang non??" tanya nya lagi yang semakin penasaran.
"Zahra mau ngekost bi, "cicit ku pelan.
Sontak aja bi nur terkejut mendengar ucapan ku, ia sampai menutup mulutnya karena saking tak percayanya dengan ucapanku itu. Entah kenapa wanita paruh baya itu tak rela bila aku pergi dari sini.
aku menghampiri bi Nur dan mengusap bahu nya dengan lembut, "nanti kapan-kapan bi Nur main ke kosan zahra ya." pintaku pada bi Nur.
bi Nur menganggukkan kepala. memeluk ku begitu erat, "bi Nur kesepian dong nanti kalau tidak ada non zahra," tuturnya lagi dengan menahan tangisnya. aku mendengar bi Nur mau menangis entah kenapa aku ikutan pingin nangis juga, namun sebisa mungkin aku harus menahannya.
"Jaga diri baik-baik ya bi nur, kalau zahra punya salah. Maafin ya, walaupun hanya sebentar tapi Zahra sudah menganggap bi nur seperti ibu kandungku sendiri."cicit ku lirih.
bi Nur menggelengkan kepala, "non zahra gak punya salah apa-apa sama bi Nur kok, malah baik banget sama bi Nur." ucapnya lirih sambil menyeka sudut matanya.
"hadehh...segala ada drama queen banget sih elah." ujar Hana tersenyum mengejek sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"kasian banget sih di usir dari rumah ini, ya bagus deh kalau pergi dari sini." Katanya lagi tersenyum senang akhirnya beban di rumah ini minggat juga.
Tak lama bibi Rani turun ke bawah begitu angkuhnya, dan menghampiri anaknya. mereka berdua akhirnya bisa nyingkirin Zahra juga. Mereka berdua TOS ria dan tersenyum puas melihatnya terusir darisini
"udah buru sana kamu pergi dari rumah ini, gak usah ada acara meluk-meluk. udah cepet sana kamu minggat dari sini," teriak bibi Rani dengan suara begitu keras.
" udah bi Nur usir dia dari sini, saya eneg lama-lama lihat dia. apalagi dekat-dekat dia, bisa-bisa darah tinggi saya kambuh." ucapnya sewot dengan mata melotot dan mengibas-ngibaskan tangannya seperti seolah-olah mengusirku supaya cepat-cepat pergi dari sini.
"byee," hana melambaikan tangannya dan menepuk-nepuk pundakku dengan tatapan mengejek tapi mungkin dalam hati dia senang kalau aku sudah tidak tinggal di sini. Tapi sebisa mungkin aku harus kuat mendapat hinaan seperti tadi.
" non zahra jangan di masukin ke hati dengan ucapan nyonya dengan non hana." tutur bi nur pelan agar aku tak mudah tersinggung.
"aku gpp kok bi Nur, sudah biasa aku. "ucapku tersenyum tipis. Dan berniat untuk segera pergi dari sini.
"yaudah zahra pamit yah." aku mencium punggung tangan bi Nur dan melambaikan tanganku pada nya dan membawa tas yang lumayan berat itu, aku pun menghampiri ojek yang menungguku di depan gerbang lalu motor yang aku tumpangi melaju ke luar gerbang komplek menuju jalan raya besar . dan tak terasa aku sudah sampai ke kosan kak Sinta. ia sudah menungguku di depan gerbang kosan. aku tersenyum dan melambaikan tanganku padanya setelah aku membayar tukang ojek itu.
"kak Sinta sudah lama menunggu aku ya, maaf tadi macet soalnya." Ucapku merasa tak enak hati padanya.
Sinta menggelengkan kepalanya, "baru kok, ada kali 5 menit yang lalu, tadi aku sudah tanya sama yang punya kosan katanya kosong. dan yahh ini kuncinya soalnya yang punya sedang pulang kampung nanti saja kalau mau bayar DP nya. di dalam nya sudah lengkap kok zahra." tutur Sinta dan aku menerima kuncinya dan bergegas masuk ke dalamnya untuk melihat isi ruangan nya.
memang benar di dalam kosan sudah lengkap dengan berbagai macam perabotan. ada kasur, AC, lemari, kulkas dan ada dapur untuk masak beserta kamar mandi di dalam. memang kosan ini terbilang cukup mahal. tapi daripada masih di rumah paman lebih baik aku tinggal disini. baiklah semoga aku betah disini dan memulai awal yang baru juga di tempat ini.
__ADS_1