
mereka bertiga sibuk membahas masalah perusahaan. Tiba-tiba reza celetuk. "jo kamu kapan menikah." ejek reza. sedangkan yang di ejek hanya melirik saja dengan ekpresi datarnya. reza yang melihat jo hanya diam saja tersenyum kecut, lalu bibirnya mencibir.
"cih..., percuma aku ejek, lah wong yang di ejek datar kayak aspal." reza semakin mengejek
"ternyata sifatnya 11 12 sama majikannya." reza semakin mengejek keduanya.
hingga dia mendapat tatapan tajam dari keduanya. reza yang merasa terpojok pun menelan saliva nya, dengan gerakan cepat ia kabur dari ruangan itu dan meninggalkan keduanya. axel yang melihat tingkah reza yang menyebalkan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.
"sampai kapan itu kutu kupret disini jo." tanya axel.
"sepertinya seminggu dia akan berada di kantor pusat tuan muda." jawab jo dan meninggalkan ruangan tuan mudanya itu.
axel hanya manggut-manggut, sebenarnya dia ingin sekali menjahili gadisnya tapi karena si reza sialan itu yang mengerjai nya untuk datang kesini. dengan terpaksa dia pun melanjutkan pekerjaan yang sempat di handle oleh jo.
tak lama jo pun balik lagi ke ruangan ini,
"tuan sebentar lagi kita akan ada meeting dengan pihak rumah sakit."
ternyata dewi fortuna mengabulkan keinginannya untuk datang kembali ke tempat itu.
"kalau begitu ayo jo." axel melenggang keluar dengan bibirnya melengkung sempurna, kadang ia tertawa-tawa sendiri. jo yang melihat tuan mudanya itu hanya melongo dan terperangah. ternyata keberadaan nona zahra berpengaruh juga yahh. jo pun akhirnya mengikutinya dari belakang.
tak butuh waktu lama akhirnya dua pria tampan itu pun telah sampai juga di rumah sakit, seperti biasa mereka masuk ke dalam lift dan menekan angka 5, suara denting lift pun menandakan telah terbuka. jo dan axel segera ke luar dan menghampiri uncle nya itu. jo yang mengetuk pintu itu. seseorang yang di dalam menyuruh mereka masuk ke dalamnya. jo pun membuka handle pintu itu dan segera masuk ke dalamnya. dokter hendrik yang sedang fokus pun tidak sadar kalau axel yang datang. dokter hendrik mendongakkan kepalanya melihat siapa itu ternyata mereka berdua. tanpa basa basi axel langsung duduk begitu saja . padahal dokter hendrik belum mempersilahkan mereka untuk duduk.
"ada apa menyuruhku kemari." ketus axel.
dokter hendrik menyodorkan sebuah map berwarna merah kepadanya. akhirnya axel dengan terpaksa membukanya dan membaca isi dari map merah itu.
"jadi." jawab axel to the point.
"aku niat nya mau menambah gedung baru lagi, karena kamu investor baru disini. jadi aku memberitahumu." tutur dokter hendrik.
"terus apa hubungannya denganku." hardik axel.
"ya jelas ada hubungannya lah, aku ingin kamu membuat sketsa untuk gedung baru ini." pinta dokter hendrik.
__ADS_1
axel menaikkan satu alisnya, "kenapa harus aku." ucapnya datar.
"ya kan kamu arsitek gimana sih xel." dokter hendrik mendengus kesal.
axel pun mengembalikan map itu di atas meja dan bersidekap dada, terlintas ide licik itu ada di pikiran axel.
"tapi aku punya beberapa syarat, tapi kalau tidak mau ya sudah. aku gak akan mau menggambar." jawabnya acuh.
"oke, apa syaratnya." dokter hendrik berucap sangat enteng.
hingga membuat axel terperangah, ia juga di buat melongo. segampang itu menjawabnya.
"oke baik, ini syarat ku yang pertama.aku pengin mempercepat pernikahanku. seminggu lagi." jawab axel enteng.
"dan ahh aku pengin kamu dan jo mengurus semuanya dan kamu juga harus jadi saksi ku. ya walaupun ini hanya nikah siri. tapi aku ingin pernikahan ku ini di hadiri sahabat gadisku, kamu, dan jo tentunya." axel berkata dengan begitu enteng.
hingga dokter hendrik melongo melihat kelakuan keponakannya yang seenak jidat memerintah dirinya.
"oke gak masalah." jawabnya
"kapan aku harus mengerjakan itu???" tanya axel.
"sekarang boleh, besok pun boleh. lebih cepat lebih baik." pinta dokter hendrik santai.
Lagi-lagi axel di buat melongo mendengar permintaan uncle nya itu. tapi karena dia sudah janji, jadi mau gak mau ia harus mengerjakannya.
"ahh aku ingin mengerjakannya di ruang zahra." pinta axel.
"ahh dan tolong meja dan kursi harus udah siap besok." katanya lagi.
dokter hendrik hanya diam, begitupun jo diam tanpa ekpresi.
tapi dokter hendrik dan jo saling beradu pandang satu sama lain, sekilas mereka mengerti arti tatapan masing-masing dan tentunya dokter hendrik tersenyum senang melihat perubahan axel. begitu pun jo, dia hanya tersenyum tipis.
"semoga zahra bisa merubah sifat axel kembali seperti dulu." gumam dokter hendrik pelan. tapi masih bisa di dengar oleh jo. tidak dengan axel. ia sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. pasti zahra akan terkejut kalau dirinya akan satu ruangan dengannya. axel bisa membayangkan wajah judes dan jutek zahra. tapi di mata axel sangatlah menggemaskan rasanya ia rindu kalau tidak sehari mencubit pipi gembul nya.
__ADS_1
di ruangan zahra dan mia...
suara ketukan pintu membuat dua wanita cantik itu pun menoleh, ketika sudah memberi izin untuk masuk. Mia dan zahra di buat terkesiap dengan beberapa orang yang sedang menggotong meja dan kursi di taruh di sebelah bilik zahra.
"emm maaf itu meja sama kursi untuk apa yahh??" zahra bertanya sama orang yang menggotong meja dan kursi.
"maaf mba kami gatau, kami hanya di beri perintah oleh dokter hendrik untuk membawa meja dan kursi saja." kata petugas itu.
"ohh baiklah makasih." ucap zahra. dia tetap melanjutkan pekerjaannya. begitu pun Mia.
setelah kepergian petugas itu pun, Mia yang merasa penasaran pun menoleh ke arah zahra.
"ra, itu meja sama kursi buat apaan yak." celetuk Mia.
"mana aku tau mi." zahra menggidikkan bahu acuh dan tetap fokus ke layar komputer nya.
tanpa terasa sudah waktunya pulang, ternyata cepat juga yahh. Mia dan zahra pun membereskan sisa-sisa yang ada di meja masing-masing. mereka berdua bersiap untuk pulang. baru saja menutup pintu. seseorang menepuk bahu zahra. sontak saja zahra menoleh siapa itu yang berani-berani nya menepuk pundaknya.
"kamu ngapain kesini lagi." sewot zahra.
axel berjalan cepat menghampiri zahra. tanpa permisi, dia mencubit gemas pipi itu. zahra yang terkejut menepis tangan itu yang ada di pipinya.
"jangan megang-megang." ketus zahra.
"ya ampun galak banget sih, makin gemes deh." goda axel.
zahra mendelik tajam, axel yang di tatap semakin merasa tertantang untuk semakin menggodanya.
"kamu tuh makin gemes tau gak." axel mencubit pipi favoritnya.
"ihh di bilangin jangan megang-megang pipi." zahra mendengus kesal.
zahra dan Mia mengacuhkan axel yang melongo melihat kearah mereka berdua. dokter hendrik tiba-tiba terkekeh melihat kejadian langka ini. dia baru kali ini melihat sifat axel yang dulu. yang selalu jahil kepada mommy nya. tapi semenjak dia mau menikah dengan amara dan di tentang ibundanya. sikap axel berubah seratus delapan puluh derajat. menjadi dingin, arogan, dan keras kepala.
semoga saja zahra bisa mengembalikan axel yang dulu. yah semoga ketika zahra sudah menjadi istrinya. semoga dia bisa bertahan. dokter hendrik merasa takut kalau gadis cantik nan baik hati itu di sakiti oleh axel. takutnya jika sewaktu-waktu amara kembali dan melabrak zahra, mengatai nya seorang pelakor. ia berjanji akan melindungi zahra dan membantai semua rumor apapun itu. yahh dia berjanji pada dirinya sendiri.
__ADS_1