
"apa kamu tidak rindu dengan mommy mu axel" tanya hendrik pada keponakannya itu.
seketika axel diam membisu, ia tidak mampu menjawab pertanyaan dari uncle nya itu.
hendrik bisa membaca raut wajah axel, bahwa ia juga sangat merindukan ibu yang sudah melahirkan dirinya. namun karena dia memilih untuk keluar dari rumah dan menikah dengan pilihannya sendiri, dia terpaksa harus menjauh dari mommy nya itu. sebab mommy nya sangat menentang pernikahan axel dan amara, karena axel lebih memilih menikah dengan seorang model di bandingkan pilihan ibunya sendiri yang menurut nya sangat tepat.
"sudahlah axel turun kan ego mu dan kembali lah kesana. " pinta hendrik.
"tidak bisa" tegas axel.
"aku tidak akan kembali kesana, buat apa aku kembali. toh disana juga aku hanya di jadikan boneka oleh mereka, " desis axel.
"bukan begitu axel, mommy mu hanya kecewa. dia kecewa bahwa kamu menikah dengan pilihanmu sendiri secara diam-diam, ya aku tidak membenarkan dengan apa yang mommy mu lakukan. tapi bisakah kamu menemui mommy mu sekali saja, ia sangat terpukul anak satu-satunya dari keluarga Abelard harus pergi.
"aku tidak lagi memakai nama itu,karena nama belakang ku adalah Valdemar. " ucap axel tegas.
"sama saja namamu adalah axel valdemar Anderson Abelard, cuma kau memakai nama tengah dan nama keluarga tidak kau cantumkan. benarkan. " hendrik menaikan satu alisnya sembari tersenyum mengejek.
axel mengepalkan tangannya kuat kuat menahan kesal karena di ejek oleh uncle nya yang menyebalkan.
"sudah lah jadi gimana tentang kesepakatan kita... " ucapan axel terhenti tak kala asistennya itu masuk ke dalamnya.
"ada apa jo" tanya axel.
"maaf tuan sudah waktunya makan siang " tutur jo.
axel melirik jam di pergelangan tangannya, memang benar sudah waktunya makan siang. ia sampai lupa karena saking kesalnya berdebat dengan uncle nya itu.
axel pun bangkit dari kursi dan baru saja berdiri. suara teriakan uncle nya itu menghentikan niatnya.
"tunggu, kenapa tidak makan siang di ruangan ini. " hendrik memberi saran.
"tidak bisa" tegas axel.
hendrik lupa bahwa ini adalah ruangan untuk memeriksa pasien.
"baiklah mari kita ke kantin rumah sakit" ajak hendrik.
jo melirik tuan muda nya itu, meminta persetujuan darinya. dan dengan berat hati axel menganggukkan kepala. dan mereka pun berjalan menuju lift yang pintu nya terbuka.
mereka pun akhirnya masuk ke dalam lift .
tiing...
pintu lift pun terbuka mereka berjalan keluar dari lift, setiap mereka berjalan di lorong rumah sakit. semua mata tertuju ke arah ketiga nya, walaupun dokter hendrik pria dewasa yang belum mempunyai pendamping tapi ia sangat ramah kepada semua orang. setiap mereka berpapasan dengan orang lain, para suster menyapa ramah kepada dokter hendrik yang sedang berjalan menuju kantin.
sesampainya di kantin,
mereka bertiga telah duduk di kursi memanjang yang di sediakan oleh rumah sakit.
"kalian mau pesan apa?? " tanya dokter hendrik.
"terserah" ketus axel.
"kalau kamu mau pesan apa jo?? " tanya dokter hendrik ramah.
"emm terserah tuan saja. " jawab jo tersenyum sopan.
"baiklah biar asisten ku yang akan pesankan makanan untuk kita bertiga" ucap hendrik.
"ohh selly kemarilah " dokter hendrik melambaikan tangannya ke asistennya.
selly berjalan menghampiri dokter hendrik.
"iya dok, ada yang bisa saya bantu?? " tanya selly.
"ohh iya sel, perkenalkan ini keponakan saya dan asistennya. axel dan jo. " dokter hendrik memperkenalkan mereka berdua.
"selamat siang saya selly, asistennya dokter hendrik. " selly tersenyum sopan sembari mengulurkan tangannya.
"ohh salam kenal " ucap axel datar tanpa mau mengulurkan tangannya.
"saya jo, asistennya tuan muda axel. " hanya jo yang menerima uluran tangan selly.
dokter hendrik menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya itu.
__ADS_1
"yasudah pesankan yang biasa aku pesan saja" tutur dokter hendrik.
axel tak sengaja melihat zahra dan teman-temannya baru saja sampai kantin dan berjalan menuju penjual seperti bakso dan mie ayam. itu adalah makanan yang sangat asing bagi axel. dia penasaran dengan nama dua makanan itu. axel pun bangkit dari kursinya, tetapi dia berhenti dan menoleh ke pada dua orang pria itu.
"aku seperti nya pesan makanan sendiri" ucap axel santai dan berjalan menuju penjual bakso dan mie ayam yang ada di ujung dekat tembok.
jo mengernyitkan dahinya melihat tingkah laku tuan muda nya yang membuat nya heran. lalu ia segera menyusul tuan muda nya itu.
"selly pesankan satu untukku saja yang seperti biasanya. " tutur dokter hendrik.
selly pun menganggukkan kepala patuh, "baik dok, ada lagi?? " tanya selly.
"ohh iya hampir lupa tolong pesankan jus jeruk 3 . " titah dokter hendrik.
"baik dok, saya permisi dulu. " selly membungkukkan badannya dan bergegas menuju makanan yang selalu di pesan dokter hendrik yaitu nasi campur mbok iyem.
"ehh neng selly mau pesan apa?? " tanya mbok iyem.
"mbok saya pesan seperti biasa?? " jawab selly ke mbok iyem.
"ohh untuk dokter hendrik ya neng, " tanya mbok iyem lagi.
selly menganggukkan kepala, "pesannya 2 ya mbok" tutur nya lagi.
"siap atuh neng, di tunggu bentar yahh atau nanti di anter sama cucu saya. " ucap mbok iyem.
selly pun menyodorkan uang kepada mbok iyem, ia pun berjalan menghampiri dokter hendrik.
"loh tuan muda mau nyoba makan bakso??" tanya jo yang ada di sebelah tuan muda nya itu.
"ishh bikin kaget aja jo, kirain siapa! " desis axel.
"aku ingin mencoba aja, rasanya seperti apa. " timpalnya lagi.
"kau pesankan 3 makanan itu ya jo, aku akan tunggu di sana " axel menunjuk kursi yang sama dengan dokter hendrik.
"baik tuan muda" ucap jo
axel pun balik lagi menuju meja yang ada dokter hendrik nya yang lagi duduk.
"loh gak jadi pesan makanan" tanya dokter hendrik.
dokter hendrik menghela nafas, "sekali-kali kamu beli sendiri axel".
" buat apa kalau ada asisten " ucap axel santai.
jo pun berjalan menuju meja yang di duduki tuan muda nya itu.
"sudah jo" tanya axel.
"sudah tuan muda, makanan akan di antar kemari. " jawab jo.
semua mata tertuju pada mereka bertiga, apalagi para wanita bahkan sampai tak berkedip melihat ketiga nya yang sangat tampan rupawan. bahkan ada yang berbisik-bisik melihat ketampanan mereka bertiga. bahkan sampai heboh di kantin bahwa yang datang adalah keponakan dari yang punya rumah sakit ini. mereka semua pada kepo seperti apa keponakan dokter hendrik. ternyata sangat sangat tampan dan gantengnya bukan kaleng-kaleng .
di sisi lain..
lebih tepatnya di kantin yang sama,
"ada apaan tuh rame-rame di kantin??" tanya Mia.
"kalian gatau mi, ra.??? " Sinta balik bertanya.
aku dan Mia menggelengkan kepala, karena memang tidak tahu saking sibuknya sama laporan yang menumpuk.
"emang kami gatau" celetuk Mia menahan kesal.
"ishh sewot mulu, " Sinta terkekeh.
"tau ahh" Mia memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"itu loh keponakannya dokter hendrik" tunjuk Sinta ke arah axel.
"yang mana??" tanya Mia.
"itu loh yang wajahnya ganteng. " Sinta menunjuk lagi.
__ADS_1
"yang mana..! perasaan cakep semua dah. " mia menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
"ishh, itu loh yang di depan selly. " Sinta ngotot sembari menunjuk ke arah sana.
"ohh yang wajahnya seperti orang bule bukan?? " tanya Mia.
"iya yang itu, semua orang lagi gosipin dia. bahkan sampai ada yang kepo untuk melihat orangnya seperti apa . sampai pada histeris ngeliat wajahnya yang cakep + ganteng banget. " ucap Sinta santai.
"iya sih cakep, tapi kayanya sombong dah. " celetuk Mia.
" iya sih keliatan dingin dan angkuh. "jawab Sinta.
zahra hanya diam sembari menatap axel tanpa berkedip sedikit pun. saking asyiknya menatap wajah axel, sang empunya merasa seperti di tatap tapi dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang di cari. setelah di rasa sudah di dapat , axel pun menatap balik ke arah zahra. karena jarak meja axel dan zahra hanya 2 meja saja. dia bisa melihat seluruh wajah zahra dengan jelas.
"kenapa aku tak berkedip menatap wanita itu" batin axel berucap.
buru buru zahra menundukkan Kepala nya untuk tidak menatap axel.
Mia mengernyitkan dahinya melihat tingkah aneh zahra, "lah kamu kenapa ra?? " timpalnya
"emmm gpp kok, aku laper belum makan. " ucap zahra bohong.
"iya nih, kok lama yahh kita pesan bakso kok gak dateng-dateng" rengek Mia.
"sabar atuh mi, tuh gak liat rame gitu. banyak yang ngantri" Sinta menunjuk penjual bakso.
tak berselang lama pesanan mereka bertiga pun sudah sampai ke meja mereka.
"akhirnya sudah dateng, siap siap kita eksekusi ra" ucap Mia.
yang di angguki oleh zahra.
"kalian kok lama-lama seperti kembar yak" ucap Sinta terkekeh.
"ohh iya dong pasti, ya gak ra" ucap Mia tersenyum bangga.
"yaudah ahh jangan banyak bicara, kita makan nih. udah laper" rengek zahra.
dan akhirnya mereka bertiga menyuapkan makanan ke dalam mulutnya masing-masing, dan sesekali mereka bercanda dan tentu saja Sinta dan Mia selalu saja bertengkar karena hal sepele tapi itu lah yang membuat zahra senang bisa dekat dengan mereka berdua.
"cantik" celetuk axel dalam hati.
"tuan itu pesanan kita udah sampai" jo menunjuk penjual bakso yang membawa pesanan mereka.
"silahkan di nikmati bakso nya den, " ucap penjual bakso yang menaruh 3 mangkuk bakso ke atas meja.
"Terima kasih pak, " ucap dokter hendrik.
"Sama-sama den, mari.. " pamit penjual bakso itu menuju gerobaknya karena banyak yang mengantri.
"silahkan di coba, pasti kamu belum pernah makan kan" tutur dokter hendrik.
memang benar dia tidak pernah makan makanan seperti ini, biasanya ia selalu makan di restoran ataupun cafe.
axel mencium aroma dari bakso itu, sepertinya enak. ia pun mulai menyuapkan setengah bakso ke dalam mulutnya.
"hmmm enak juga" axel berucap dalam hati.
"bagaimana enak bukan" ucap dokter hendrik terkekeh, ia bisa melihat kalau axel sangat menyukai bakso itu.
"disini bakso nya sangat enak, apalagi nasi campur yang saya makan juga sangat enak. " timpalnya lagi.
jo pun menyuapkan bakso nya ke dalam mulutnya, dan menikmati makanan yang menurutnya sangat enak.
"coba kamu kasih saus dan sambal, rasanya sangat menggugah selera. " dokter hendrik menyodorkan saus dan sambal ke arah jo dan axel.
axel pun mencoba menuangkan saus dan sambal kedalam mangkuk bakso nya dan mulai mencobanya. "wahh seger banget kuah bakso nya kalau pakai saus dan sambal" batin axel berucap lagi.
"kok kamu pesannya banyak sekali axel" dokter hendrik menggelengkan kepala nya, merasa heran melihat keponakannya itu sampai pesan 2 mangkuk.
"aku hanya ingin mencoba keduanya saja" tutur axel jujur.
"benar tuan hendrik, tuan muda belum pernah makan makanan seperti ini" jawab jo.
"ohh benarkah. " dokter hendrik menaikan satu alisnya.
__ADS_1
selly yang di sebelah dokter hendrik hanya mampu tersenyum tipis sembari melanjutkan menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.
dan ketiga pria itu pun menikmati makanan mereka masing-masing dengan tenang, hanya suara denting sendok dan garpu yang berbunyi. dan tanpa terasa makanan yang ada di mangkuk dan piring masing-masing pun telah habis tak tersisa.