
"bagaimana jo, apa dia sudah pergi. "ucap axel tanpa mau menyebutkan nama amara.
"sudah tuan muda, baru beberapa menit yang lalu pesawat nya sudah terbang. " tutur jo hati hati
axel tidak menjawab pertanyaan dari asistennya itu, ia terdiam untuk beberapa saat.
"ohh iya tuan muda, anda di suruh datang ke rumah sakit x??? " ucap jo lagi.
"cihh... untuk apa kita kesana lagi. " cibir axel.
"entahlah tuan, sepertinya menawarkan suatu kerja sama. mungkin.. " tutur jo menggidikkan bahunya.
axel menghela nafas, ternyata uncle nya itu sangat gigih untuk bertemu dengannya.
"baiklah, kapan dia ingin bertemu??" tanya axel.
"hari ini tuan, " ucap jo lagi.
"yasudah kau atur saja, jam nya??? " ucap axel tanpa menoleh, karena dia sedang memeriksa berkas yang ada di tangannya.
jo pun menganggukkan kepala, lalu ia segera keluar dari ruang tuan mudanya itu.
axel menatap figura yang terpajang di atas meja kerja dirinya. ia menghela nafas panjang dan berjalan menuju jendela besar yang ada di depan sana. ia menatap gedung-gedung yang sangat menjulang tinggi, matanya menatap ke sembarang arah tapi hatinya entah kenapa merasa hampa dan kosong. seseorang yang sangat di cintai nya itu telah pergi jauh.
tok tok tok..
suara ketukan pintu membuyarkan lamunan axel dan menoleh ke arah sumber suara. ternyata asistennya.
cklek...
pintu pun terbuka seseorang yang sama tampan dan rupawannya yaitu asistennya sendiri telah datang menghampiri tuan muda nya itu.
"ada apa. " tanya axel tanpa menoleh.
"sudah waktunya tuan, dokter Hendrik ingin bertemu dengan anda saat makan siang." ucap jo
"beliau bilang ingin makan siang bersama . " timpal nya lagi.
axel menghela nafas, sebenarnya dia malas sekali pergi kesana. tapi karena uncle nya itu bersikeras ingin bertemu dengan dirinya. terpaksa menyetujui permintaannya.
"baiklah, apa semua sudah di persiapkan. " tanya axel.
"sudah tuan, mari kita berangkat. " jawab jo dan membukakan pintu untuk tuannya itu. dan berjalan menuju lift yang terbuka dan masuk ke dalamnya. sesampainya di basement, sopir membukakan pintu untuk tuan muda nya itu. begitu pun jo, ia membuka pintu depan untuk dirinya sendiri, dan memakai sabuk pengaman. sang sopir sudah berada di kursi pengemudi serta memakai sabuk pengaman.
"jalan" titah jo.
sopir pun menganggukkan kepala dan menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung perusahaan menuju jalan raya.
jalanan begitu Lenggang hingga tak butuh waktu lama, sampailah sudah di rumah sakit x .
jo pun melepaskan sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya, dan segera keluar untuk membukakan pintu untuk tuan muda nya itu.
axel pun segera keluar dari mobil dan memakai kacamata hitam untuk menghindari sinar matahari. mereka pun berjalan beriringan. ketika mereka sampai di lobby, semua mata tertuju pada mereka berdua. tapi jo dan axel terus berjalan menuju lift.
tiing...
pintu lift pun terbuka,,
axel dan jo pun segera masuk ke dalam nya.
"lantai berapa ruang direktur rumah sakit ini. " tanya axel.
"lantai 5 tuan muda. " jawab jo
axel menganggukkan kepala, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan.
__ADS_1
"tunggu" ucap zahra yang berlari mengejar pintu lift yang masih terbuka.
jo pun menghentikan pintu lift supaya tetap terbuka.
"huft, akhirnya sampai juga, Terima kasih tuan. " ucap zahra tanpa menoleh, dan mengatur nafasnya akibat berlari tadi.
"Sama-sama nona, " jawab jo.
zahra mengernyitkan keningnya, "kok suaranya begitu familiar. " ucap zahra dalam hati.
axel menatap wanita yang ada di depannya, seperti tidak asing melihat wajahnya seperti.... ucapannya terhenti tak kala pintu lift pun terbuka, axel dan jo pun akhirnya keluar dari lift dan berjalan menuju kantor direktur. tapi jo lupa dimana letak ruangan direktur. ia pun bertanya kepada zahra yang berjalan lebih dulu.
"emm nona permisi, " ucap jo yang menghentikan langkah zahra, lalu dia pun menoleh.
"iya tuan, ada apa ya?? " ucap zahra sopan.
zahra menatap pria yang ada di depannya itu.
"loh kamu kan. " ucap zahra terhenti.
"nona zahra bukan, " tanya jo tersenyum ramah.
zahra menganggukkan kepala membenarkan.
"emm kalau gak salah kakak, namanya kak jo bukan. " tanya zahra.
"benar nona, anda mengingat nama saya. " jawab jo tersenyum.
axel mengerutkan keningnya bingung, kok jo kenal dengan wanita itu.
"ohh iya kalau boleh tau, ruangan dokter Hendrik dimana ya ra?? " tanya jo.
"ohh dokter Hendrik.. itu lurus aja nanti ruangan nya di sebelah kanan, ada papan namanya kok " tutur zahra sembari tersenyum simpul.
"ohh okayy baiklah , emmm apa tidak apa-apa saya manggil nama kamu??? " tanya jo hati hati.
"yasudah zahra permisi dulu ya kak, " ucap zahra sopan dan pergi dari sana tanpa menoleh sedikit pun dengan axel.
"dia siapa jo??? " akhirnya axel bertanya siapa wanita itu.
"ohh nona itu yang pernah tuan muda tabrak, " ucap jo santai dan tetap berjalan menuju ruangan yang di tuju.
axel mengerutkan kening nya bingung, dan berpikir mengingat-ngingat wajah itu sembari terus berjalan menuju ruangan uncle nya.
setelah sampai ruangan yang di tuju, jo pun mengetuk pintu itu.
tok tok tok.. *
"masuk" titah dokter hendrik dari dalam.
jo pun membuka pintu dan kami berdua pun masuk ke dalamnya. terlihat dokter hendrik sangat sibuk melihat berkas yang ada di tangannya.
"permisi tuan hendrik. " ucap jo sopan.
hingga dokter hendrik menghentikan pekerjaannya, dia lalu mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memanggil namanya.
"loh axel. " ucap dokter hendrik tersenyum bahagia.
"wah seorang tuan muda axel akhirnya datang juga, " sindir hendrik santai sembari melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda.
"bukannya anda yang mengundang saya kemari. " ketus axel.
dokter hendrik menghela nafas, melihat keponakannya itu ketus kepada dirinya.
"silahkan duduk dulu. " titah dokter hendrik
__ADS_1
axel menghembuskan nafas kesal melihat tingkah uncle nya yang menurut dirinya menyebalkan. hingga terpaksa ia dan jo duduk di kursi yang di sediakan.
"apa yang membuat anda mengundang saya untuk kesini. " sembur axel
"baiklah saya gak akan berbasa-basi lagi, tapi sebelum memulai berbicara serius. saya akan menyuruh OB untuk membuatkan minuman untuk kita bertiga. " ucap dokter hendrik penuh penekanan.
"terserah." jawab axel acuh.
dokter hendrik pun menelpon OB melalui interkom untuk membuatkan 3 cangkir kopi dan membawanya ke ruangan dirinya.
setelah menelpon, ia pun menyodorkan berkas ke hadapan mereka berdua.
"ini apa?? " tanya axel.
"baca saja. " jawab dokter hendrik datar.
tanpa banyak bicara axel pun membaca isinya dari berkas-berkas itu.
"apa harus aku jadi investor disini. " tanya axel
"itu terserah padamu, aku hanya menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan. " jawab dokter hendrik santai.
axel menimang-nimang tawaran yang di berikan oleh uncle nya itu, memang benar sih sangat menguntungkan dan ini adalah investasi yang sangat pas. karena di perusahaan axel belum pernah kerja sama dengan pihak rumah sakit .
"baiklah aku akan membaca berkasnya lagi. " ucap axel tanpa mau menoleh sedikitpun.
"bukankah kamu sudah membaca keseluruhannya. " cibir dokter hendrik.
"sial," umpat axel.
"baiklah tanpa basa-basi aku menyetujui kerjasama ini, dan untuk mengurus sisanya, kau bisa tanyakan dengan asisten ku. " ucap axel acuh. ia pun segera bangkit dari kursi, untuk segera pergi dari ruangan yang terkutuk ini.
"oke deal. " ucap dokter hendrik tersenyum tipis.
"ohh iya jo, bisa tolong tinggalkan kami berdua saja. " pinta dokter hendrik kepada jo.
jo pun dengan berat hati mengganggukkan kepalanya dan bergegas keluar dari ruangan itu..
"kamu ingin berbicara apa dengan saya? " ucap axel .
"ini mengenai ibumu axel??? " tutur dokter hendrik.
deg
jantung axel berdegup kencang setelah mendengar nama sang ibu disebut.
"kenapa dengannya?? axel bertanya tanpa mau menyebutkan nama sang ibu tercinta nya.
" beliau rindu padamu, ia memintamu untuk kembali. " tutur hendrik hati hati.
"untuk apa aku kembali, toh di saat aku menikah dulu dia tidak datang. " ketus axel.
hendrik menghela nafas pasrah melihat sifat axel yang begitu keras kepala.
"kamu sendiri, sudah tau kan resikonya bukan?? "tutur dokter hendrik.
axel menghela nafas, membenarkan ucapan uncle nya itu.
" mungkin ibumu akan kesini tapi entah kapan itu. belum di pastikan."ucap dokter hendrik memberitahu nya .
memang benar dokter hendrik dan mom adalah saudara kembar. tapi karena menikah dengan dad jadi ia terpaksa harus tinggal di sana mengikuti suaminya,
"apa dia memberitahu Anda??? " tanya axel.
"iya benar, karena aku adalah kakak kandung dari ibu mu. kami adalah saudara kembar. " ucap hendrik.
__ADS_1
"apa kamu tidak merindukan mommy mu axel??? " tanya hendrik lagi.
axel terdiam, sebenarnya dia rindu pada ibu yang telah melahirkan dirinya. tapi gengsi yang membuat dirinya menutup mata dan telinganya untuk menyangkal semua itu.