
Akbar menaiki lift menuju tempat yang di maksud dalam messengernya. Tak butuh waktu lama untuk menemukan Mary.
Di sudut bar counter terlihat wanita menggunakan dress selutut rancangan Louise Vuiton berwarna hitam tanpa lengan sedang menikmati racikan sang bartender.
“ Mary..” teriak Akbar.
Mary segera menoleh ke arah Akbar dan melambaikan tangannya.
Akbar duduk disebuah bangku tinggi di samping Marry.
Mary menenggak cocktailnya.
“ Mau minum apa?”
“ Blue lagoon mocktail satu, mas". Ucap Akbar pada bartender.
" Sejak kapan di Semarang?” tanya Akbar.
“ Baru datang semalem. Ada monitoring di hotel ini”
“ Berapa lama?”
“ Cuma seminggu” Mary meletakkan minumannya.
Tak lama bartender pun menyerahkan pesanan Akbar.
" Terima kasih mas" ucap Akbar pada bartender, dan dibalas dengan senyum ramah sang bartender.
“ Oh ya selama aku di Semarang. Kamu maukan nemenin aku?” Ucap Mary dengan sedikit tatapan memaksa.
“ Boleh” Akbar menenggak minumannya.
“ Tapi gak ada yang cemburu kan?” tanya Marry, memastikan jika Akbar tidak memiliki pacar.
Akbar mengangkat bahunya.
“ Mumpung kamu ada di Semarang, nanti mampir ke rumah ya. Pasti bunda senang”.
“ Are you sure?” Mary kegirangan, tentu ini adalah awal yang tepat untuk mengenal keluarga dari orang yang dicintainya.
Meski sampai saat ini, Mary belum mendeklarasikan perasaannya pada Akbar. Namun ia yakin jika Akbar tidak akan mengecewakannya.
Sebelum pergi kerumah Akbar, Mary singgah di Bakery shop yang ada di hotel tersebut.
" Bar, sebentar " Mary menghentikan langkahnya.
"Ada apa?"
" Bunda suka croissant?" tanya Mary pada Akbar sambil menunjuk ke arah etalase yang mendisplay aneka pastry.
" Bunda suka semua pastry" jawab Akbar sambil masuk ke toko kue.
Mary meminta pelayan toko untuk membungkus beberapa pastry yang ada di etalase.
Akbar berjalan beriringan dengan Mary menuju kasir.
Akbar mengeluarkan dompet dari saku celananya.
" Bar, please " Mary meminta untuk memasukkan kembali beberapa lembar uang dari dompet Akbar.
__ADS_1
" Kali ini jangan tolak pemberianku, lagi pula ini untuk bunda. Bukan buat kamu"
Akbar menyadari sikapnya sudah berlebihan pada Mary. Tentu saja Mary akan merasa tidak suka atas sikapnya kali ini.
"Sory, Mar. Aku hanya tidak mau membuatmu repot"
"Hei, siapa yang direpotkan? aku yang selalu merepotkan mu Bar"
Mary masih bingung, bagaimana mungkin pria yang ia cintai masih menganggapnya seperti orang baru kenal.
" Ini bukan sogokan karena kamu harus menemaniku selama di Semarang kok"
Akbar tersenyum.
Mereka segera melaju kendaraannya menuju rumah Akbar.
Dalam perjalanan, Akbar memperkenalkan beberapa destinasi yang ada di Semarang yang mereka lewati.
" Mar, ini namanya simpang lima atau lapangan Pancasila alun-alunya kota Semarang. Jadi landmark dan ramai saat malam Minggu dan pagi harinya"
Mary hanya menganggukkan kepalanya, ia tak begitu tertarik dengan tempat wisata seperti ini. Karena sedikit berbeda dengan kebiasaan Mary yang memang hedonis. Tapi tak terlalu buruk, ia masih menerimanya asal itu bersama Akbar.
Mereka tak singgah hanya melihat dari kaca jendela saja, menikmati keramaian jalan simpang lima.
Lalu Akbar melanjutkan perjalanannya.
"Nah, kalau ini namanya Lawang Sewu. "
Akbar menunjukkan tangannya ke arah bangunan kuno yang belantai dua penuh dengan pintu dan jendela.
" Angker gak?"
"Ogah kalo serem. Dari fisiknya aja sudah kelihatan angker hiiih..." Mary bergidikan.
" Jangan mengambil kesimpulan sebelum melihat langsung" kata Akbar.
"Ok asal ada kamu aku mau" Mary mengembangkan senyum cantiknya.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mereka sampai di rumah Akbar.
Rumah sederhana jika dibandingkan dengan rumah keluarga jenderal Bram. Namun nampak asri dengan beberapa tanaman bunga dan pot gantung.
Sesampainya di rumah Akbar , ia di sambut hangat oleh Bunda Ramy.
Ini bukan kali pertama Mary bertemu dengan bunda Ramy, setelah sebelumnya mereka bertemu di acara wisuda Akbar untuk gelar sarjana hukumnya di Jakarta tahun lalu.
Kala itu wisuda yang hanya di hadiri Bunda Ramy, karena ayah Akbar meninggal saat ia masih duduk di bangku SMA. Dan kakak perempuan satu-satunya Akbar berhalangan hadir karena sedang menemani suaminya yang merupakan pengusaha asal Singapura.
“ Sore bun”
“ Wah, nak Mary makin cantik aja” puji bunda Ramy.
“ Terima kasih bun “ sambil menyerahkan jinjingan berisi aneka pastry.
“ Oalah kok repot-repot ya “
“ Oh ya bun, dapat salam dari Mami sama Papi”
“ Sampaikan salam balik dari bunda ya, ayo..ayo masuk. Bunda udah masak makanan kesukaan Akbar. Kita makan malam bareng ya”. Ajak bunda Ramy menuju ruang makan.
__ADS_1
Mary melirik ke arah Akbar lalu berbisik,
“ Aku kebelet pipis” raut muka Marry merona menahan isi kemihnya yang kebanyakan minum cocktail di Lounge Bar tadi.
Akbar berjalan ke arah bunda Ramy, “ sebentar ya bun, Akbar antar Mary dulu”,
“Kemana?” tanya bunda dengan lirih
Akbar berjalan menggandeng Marry lalu menoleh ke arah belakang dan memberikan kode pada bunda Ramy “ kebelet pipis”.
Bunda hanya senyum tipis sambil menggeleng.
“ Pakai toilet di kamarku aja, aku tunggu di ruang makan ya” Akbar membukakan pintu kamarnya.
Mary langsung berlari menuju toilet.
Selesai mengosongkan kemihnya, Mary menatap takjub dengan seisi kamar Akbar. Kamar yang bergaya maskulin dengan pernak pernik kemiliteran.
Beberapa medali dari kejuaraan renang tersusun rapi di dinding kamar yang berwarna putih. Ada sudut baca, dengan sofa memanjang dekat jendela.
Mary berjalan menuju rak buku, di pegangnya beberapa buku dengan telunjuknya seperti sedang mengabsen tiap judul buku . Mary mengambil satu buku secara acak.
Sebuah buku Biografi Khalid Bin Walid karya Manshur Abdul Hakim. Lalu di bukanya halaman depan, sebuah ucapan yang ditulis tangan dengan cukup rapi
...“Happy birthday...wish you all the best”...
...From me...
...Beena...
Mary duduk di sofa, dan semakin penasaran dengan ucapan yang ada di cover buku tersebut. Berharap ada sesuatu yang bisa ia temukan di dalam buku tersebut perihal si pemberi buku tersebut.
Siapa Beena? Gumamnya dalam hati.
“ Mar... “ panggil Akbar dari ruang makan.
Terkejut dengan panggilan mendadak, Mary meletakkan buku tersebut dengan asal di atas meja yang berada di samping sofa.
Buku itu menimpa sebuah bingkai foto ukuran 6 R yang berisi beberapa foto polarid yang disusun random. Foto itu diambil pada kegiatan kepramukaan, terlihat beberapa pose menggemaskan beberapa anggota peserta perkemahan.
Ada beberapa foto yang sama, foto Akbar dengan seorang perempuan berhijab. Salah satu bagian foto yang membuat Mary semakin penasaran, Akbar sedang menatap gadis itu.
“ Mar...” panggilan Akbar yang ke dua sambil mengetuk pintu kamarnya.
“ Ya...”
Panggilan kali benar-benar harus menghentikan rasa penasaran Mary. Ia bergegas menuju pintu.
“ Kamu gak apa-apa kan? “ tanya Akbar.“Lama amat!” lanjutnya.
Mary menggeleng, lalu berjalan meninggalkan kamar Akbar.
“ Sorry...sorry... bunda lama ya nungguin aku?” tanya Mary pada Akbar sambil merapikan dressnya.
Akbar menarik kursi untuk Marry, mereka duduk bersebelahan.
“ Ayo makan nak, maaf lho makanannya ala daerah”. Ujar Bunda Ramy
“ Mary suka kok bun”.
__ADS_1
Mereka bertiga menyelesaikan makan malam dengan penuh keceriaan. Ibu menceritakan proses Akbar menuju cita-citanya. Pernah gagal masuk Akpol dan taruna Akmil di AD. Sampai akhirnya bisa masuk di marinir.