
Dengan kecepatan tingggi Beena melaju dan akhirnya ia berhenti di sebuah taman kota. Menyadari kondisinya yang tak memungkinkan menyetir. Beena menghubungi Reyna, namun panggilannya tak direspon.
Ah, mungkin Reyna masih sibuk lembur. Akhirnya Beena mengirimkan pesan untuk Reyna agar ia menemuinya di taman. Sambil menunggu Reyna, Beena turun dari mobil dan berjalan menuju salah satu bangku panjang yang berada di taman.
Beena duduk lemas, menutup wajahnya sambil menangis sesenggukan. Bayangan Akbar yang sedang bermesraan dengan Mary melintas dibenaknya.
“Inikah kemesraan yang kamu maksud mas?” ucap Beena
Tak percaya dengan sosok Akbar yang ia anggap religius dan ksatria setelah beberapa bulan yang lalu melamarnya di Masjid Al Maghfirah. Lalu bagaimana dengan janji Beena yang akan setia menemani sapta marga Akbar sebagai prajurit? Benarkah ini hanya ujian? Pertanyaan itu silih berganti bergeming di pikirannya.
Saat Beena terhanyut dengan kesedihannya, tiba-tiba seorang laki-laki mendekat.
“ Beena...”
Panggilan laki-laki itu membuat Beena tersadar dan membuka kedua tangannya yang sedari tadi ia pakai untuk menutup sebagian wajahnya.
“ Mas Nizar...? “ ucap Beena lirih sambil menghapus air matanya.
Melihat Beena menangis sesenggukan, Nizar langsung memposisikan diri. Duduk di sebelah kanan Beena.
“ Kenapa?” tanya Nizar.
Namun Beena belum juga memberikan jawaban apapun.
" Na...?" kali ini Nizar menurunkan nada suaranya, berharap Beena mau bercerita. HP Beena berdering, Akbar memanggil namun tak dihiraukan Beena.
Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Suara Richard Mark di nada dering HP Beena kali ini hingga selesai di bait terakhir, namun tak dihiraukan Beena
" Kenapa gak diangkat?" Nizar menyeringai, ia sudah menebak-nebak ada sesuatu.
Mengetahui panggilan Akbar yang diacuhkan, Nizar tidak salah menebak. Pasti telah terjadi sesuatu pada mereka berdua.
“ Na, ceritalah! Jangan memberikan kesimpulan yang jelek untukku pada Akbar”.
Akhirnya Beena pun bercerita tentang apa yang ia lihat di apartemen Marry saat ia berniat mencari bros pemberian Akbar. Mendengar cerita Beena, Nizar menjadi sangat marah.
HP Beena berdering lagi, terlihat di layar ponsel ada nama My Hubby, jelas itu pasti Akbar. Tanpa pikir panjang, Nizar segera meraih ponsel Beena dan menekan tombol ok.
"Assalamu'alaikum, kamu dimana sayang" Suara Akbar dari seberang sambungan, dengan begitu gembiranya akhirnya panggilannya yang sedari tadi tidak dijawab Beena.
__ADS_1
"Bee, sayang kasih tahu posisi kamu di mana?" tanya Akbar sekali lagi.
"Wa'alaikumussalam"
Akbar tersentak, bukannya suara Beena yang ia dapatkan. Tapi malah suara laki-laki yang tak asing baginya. Ya, itu adalah suara Nizar.
"Zar, kamu ngapain sama Beena?" tanya Akbar.
" Harusnya kalimat itu lebih pantas buat kamu, ngapain sama perempuan mabuk di apartemen!" Kalimat skakmat dari Nizar.
"Maksud aku, kenapa HP Beena ada sama kamu. Beena mana?aku mau ngomong sama dia"
"Kalo Beena gak mau gimana?"
"Please, Zar. Aku harus menjelaskan semuanya sama Beena. Kasihkan HP-nya sama Beena" Akbar memohon.
Nizar menjauhkan ponsel Beena dari telinganya dan mengarahkannya pada Beena. Namun Beena masih sesenggukan dan ia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kalau ia enggan berbicara dengan Akbar.
"Zar, ayolah bantu aku. Aku bisa jelasin semuanya"
"Ok, kamu datang segera ke taman kota. Aku dan Beena tunggu kamu di sini"
Tentu saja Akbar senang mendengar Beena baik-baik saja meski sedikit khawatir dengan keberadaan Nizar di dekatnya. Karena ini akan sedikit memperumit keadaan, dan sulit rasanya menjelaskan pada Beena di depan Nizar. Tapi bukan Akbar jika ia harus jadi pecundang. Ia langsung menuju taman yang di maksud Nizar.
Akbar sampai di sebuah taman, melihat Beena dengan cucuran air mata dan masih sesenggukan dengan Nizar yang ada disampingnya.
" Bee, kamu ga apa-apa kan sayang?" Tanya Akbar, sambil mengecek kondisi badan Beena. Akbar menggenggam tangan Beena, dan kali ini Beena menepisnya.
Beena masih tak merespon, ia hanya masih dengan air matanya
“ Bee, dengarkan penjelasanku dulu” ucap Akbar sambil meraih pundak Beena.
"Apa yang harus aku dengar mas?Laki-laki yang melamarku di masji Al maghfiroh dan akan mengikat janji dan sumpah prajuritnya bermesraan didepan mataku?"
"Bee, kamu harus dengar dulu penjelasanku!" kali ini suara Akbar meninggi, membuat Nizar tak tahan dengan gaya militernya terkesan memaksa.
Bug...
Sebuah pukulan mendarat di perut Akbar, tanpa perlawanan.
“ Brengsek...bajingan...Jangan salahkan aku jika setelah ini akan kuperjuangkan Beena jadi milikku”
Selanjutnya bogem mentah mendarat di bibir Akbar. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Mendengar kalimat yang diucapkan Nizar membuat Akbar tak mampu berdiam diri.
Kali ini ia membalas serangan yang dilayangkan Nizar selanjutnya. Hanya dengan sekali pukulan tepat di dada Nizar membuat lawannya itu jatuh tersungkur.
__ADS_1
Melihat pemandangan yang makin tak sehat, terjadi baku hantam, duel antar Akbar dan Nizar, jelas menjadi titik balik yang memperburuk posisi Akbar di mata Beena.
Ini tak seharusnya dilakukan Akbar, karena bagaimanapun Nizar yang tak memiliki skill bela diri bukan lawan yang imbang. Dan ini pun tak seharusnya dilakukan oleh Nizar, ia tidak memiliki kewenangan apapun atas hubungannya dengan Akbar.
Beena berdiri dan mengambil sikap.
“ Cukup, hentikan!” teriak Beena.
“ Mas Nizar,jangan kotori tangan sucimu dengan hal yang menjijikan!”
“ Dan kamu mas,”
Beena melirik pada Akbar.
“ Jelaskanlah apa yang ingin kau katakan, tapi jangan menuntut aku untuk memaafkan atas apa yang telah kamu lakukan”
“ Bee...” Akbar mencoba bernegosiasi.
“ Katakan atau aku pergi sekarang!”
"Ok, aku jelaskan" Akbar tarik nafas, dan membuangnya perlahan. Berharap semuanya akan tenang dan bisa diterima oleh Beena.
"Bee, aku hanya menjalankan perintah dari atasanku. Jenderal Bram"
Akbar menyodorkan pesan dari Jendral Bram untuk mencari Mary.
" Aku baru tahu kalau ternyata Mary bertemu denganmu Bee, dan setelah itu dia mengamuk di rumahnya. Setelah beberapa jam mengunci diri di kamar, Mary pergi meninggalkan rumah. Dan Jenderal Bram memberiku perintah untuk mencari Mary"
"Apa sebegitu pentingnya Mary?bukankah kamu ada janji dinner dengan calon istrimu sendiri?" sindir Nizar.
Pertanyaan Nizar harus ia jawab, namun bukan untuk Nizar melainkan Beena. Akbar mendekati Beena, menggenggam tangannya.
"Bee, you are the only one and most important. Tapi perintah atasan harus aku laksanakan, kamu tahu kan sumpahku sebagai prajurit?"
Kali ini Beena tidak bisa menyangkal, jika ia harus siap jika dihadapkan dengan urusan sumpah prajurit.
Masih ingat dengan jawaban Beena saat pengajuan syarat proses nikah militer yang mereka Ajukan mulai dari mendapatkan izin atasan Akbar.
"Siapkah anda, jika harus merelakan suaminya menjalankan perintah atasan?"
"Ya, saya siap"
"Siapkah anda, yang di tinggal tugas negara dan suami pulang tinggal nama?"
Dengan mantap dan keteguhan hati luar biasa saat itu, sambil menahan air mata agar tak jatuh Beena menjawab "Ya, saya siap dengan segala kemungkinan terburuk"
Ah, rasanya kini dada Beena seperti di hantam batu besar. Sesak rasanya menerima jika Akbar akan selalu berbagi dengan kepentingan atasannya, jenderal Bram. Ia tahu, Mary tak akan mudah melepas Akbar. Mary akan selalu mencari kesempatan menggunakan kewenangan papinya.
__ADS_1
Sekalipun, Akbar sudah meyakinkan jika Beena adalah satu-satunya wanita di hati Akbar. Namun Beena merasa perlu memikirkan kembali niatnya untuk hidup bersama Akbar.
***