Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Pertemuan yang tertunda


__ADS_3

Hari ini, Beena merasa bahagia. Karena pada akhirnya ayah mengizinkannya mengikuti inaugurasi kontes jurnalis. Meski tanpa di hadiri keluarganya, karena ayah dan mas Zaky harus segera pulang ke Semarang. Begitupun mas Arief yang berhalangan hadir karena ada seminar. Ia hanya di antar teh Raya sebentar, karena kebetulan ada jadwal di kampus tempat ia bekerja.


" Na, maaf teteh gak bisa nemenin kamu ya?" dengan berat hati teh Raya harus menyampaikan ini.


" Gak apa-apa teh, lagi pula ini cuma selebrasi biasa. Aku juga ada temen sesama peserta yang lolos."


" Oh ya, nanti selesai acara jam berapa?"


" Kalau sesuai jadwal, jam 14.00 sudah selesai teh"


" Aduh, jam segitu teteh masih ada jadwal rapat dengan kajur".


" Tenang teh, aku sudah gede bisa pulang sendiri. Angkot banyak, taksi juga banyak " jawab Beena sambil menunjukkan senyum manisnya.


" Ok, nanti naik taksi aja. Pastikan magrib sudah di rumah, jangan keluyuran". Titah teh raya.


" Siap bu dosen..." jawab Beena menggoda kakak iparnya.


Selama empat jam acara inaugurasi berjalan dengan lancar. Beena senang karena di acara tersebut banyak dihadiri orang-orang penting first-TV. Suatu kebanggan tersendiri bis bertemu dengan mereka, berbincang dengan orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing.


Setelah acara selesai, Beena menikmati hidangan dengan duduk bersama peserta lain di salah satu sudut balroom hotel.


Saat sedang asyik-asyiknya bercengkerama dengan peserta lain, tiba-tiba hp Beena bergetar.


Drttt....drrrrt...


Sebuah pesan masuk,


“ Hai...Maryam Tabeena. Semoga harimu selalu indah dalam menanti kedatanganku.


AKBAR"


Beena tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh Akbar, lalu dengan cepat ia mengetik balasan.


" Ya mas, hari-hariku terasa indah dan nikmat menanti kamu".


" Ah, balasan seperti itu terkesan vulgar sekali Beena" gumamnya, lalu Beena menghapus pesan yang baru ia ketik dan menggantinya dengan yang lebih elegan untuk ukuran wanita yang baru mendapatkan sms.


“ Alhamdulillah, ini mas Akbar?” Beena menekan tombol send.


“ Ya, tentu saja ini mas Syaiful Akbar mu”


Beena semakin tersenyum bahagia mendapati kalimat balasan di layar handphone-nya. Lalu ia memasukkan hp ke dalam tas ranselnya tanpa membalas pesan terlebih dahulu.


Karena pesan yang dikirim Akbar lama tak mendapatkan respon, ia pun langsung menelpon Beena.


Whenever you go,


Whatever you do

__ADS_1


I will be right here waiting for you


Handphone Beena berdering, dilihatnya nomer Akbar di sana. Tanpa pikir panjang, kali ini Beena segera menjawab sambungan telponnya.


“ Assalamu’alaikum , mas”


“ Wa’alaikumsalam, kok lama balesnya. Lagi sibuk?


“ Emmmm, tadi ada sedikit kegiatan. Tapi udah selesai kok”


“ Aku lagi ada di Bandung nih!”


“ Seriously?” mata Beena terbelalak antara percaya dan tidak.


“ Thats right, habisnya nungguin jawaban lamaran dari bapak kamu lama sih. Mending tanya langsung orangnya aja, aku susul ke Bandung” Akbar terkekeh.


“ Kirim alamat rumah Bandung ya? Aku mau mampir sebentar karena aku harus segera kembali ke Jakarta ada tugas mendadak”


“ Hm, tapi...ayah sama mas Zaky sudah pulang semalem. Kebetulan Aku sekarang lagi ada keperluan di Hilton hotel mas”


“ Oke , aku langsung menuju Hilton ya. Soalnya buru-buru nih”.


“ Oke mas, aku tunggu di lobby “


Selama dua jam Beena menunggu ke datangan Akbar di sudut ruang tunggu berdinding mirror glass sebuah hotel bintang lima. Kegelisahan tak dapat ia sembunyikan di wajah manisnya, terlihat dari sikap duduk Beena yang berubah-ubah. Sesekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir sampai akhirnya ia memilih untuk berdiri di depan dinding kaca melihat keindahan senja di tengah keriuhan kendaraan berlalu lalang di seberang hotel.


Membayangkan hal yang akan ia lakukan, bercerita tentang keadaan selama menunggu, dan tentu saja Beena tak sabar menceritakan pekerjaannya kelak di Jakarta yang akan lebih mendekatkan mereka karena tinggal di kota yang sama.


Whenever you go,


Whatever you do


I will be right here waiting for you


Melirik handphone yang ternyata panggilan dari Akbar. Beena menekan tombol hijau lalu menempelkan di telinganya. Tak ada suara Akbar dalam sambungan sampai akhirnya panggilan terputus.


Drrrttt...drrrt...


Tak lama sebuah pesan masuk menggantikan sambungan yang tadi terputus.


“ Dear gadis unguku,


Hm...nada dering yang indah, masih lagu yang sama kamu nyanyikan dulu di perkemahan”


Beena celingukan, melempar pandangan ke segala arah. Berharap menemukan objek yang ia maksud. Lalu ia mengetik balasan di hp nokia-nya.


“ Mas di mana?”


“ Mas ada di dekatmu, lebih dekat dengan urat lehermu”

__ADS_1


Beena senyum-senyum sendiri sambil balas pesan.


“ Ga lucu deh, ada di mana sih?


Sudah lama nunggu nih, Aku balik ke rumah kakak lho . Bentar lagi mau maghrib”


Beena sedikit mengancam.


“ Segitu aja ngambek, tunggu bentar ya. Mas habis dari toilet”


“ Ya..ya...gak pake lama pokoknya”


“ Jangan pernah berhenti menungguku, Gadis Unguku”


Saking asyiknya membalas messenger dari gadis yang membuat Akbar meleleh pada pandangan pertama dan jatuh cinta pada pertemuan selanjutnya saat debat disebuah event lomba kepanduan, membuat Akbar tak memperhatikan sekitarnya. Dari arah berlawanan ia menabrak gadis yang berlari terburu-buru.


Bruuuuk,


“Auww”


Gadis berambut lurus sebahu, dengan kemeja putih blazer hitam berpadu dengan rok hitam 5 cm di atas lutut jatuh ke lantai menabrak sosok tentara tegap berseragam lengkap membuat tubuh rampingnya terpental.


Handphone Akbar pun jatuh berkeping sampai-sampai terpisah antara simcard denga body hp.


“ Sory...sory...aku ga sengaja”


kata wanita itu sambil memunguti kepingan handphone Akbar.


“ Its ok, aku juga salah. Jalan gak lihat-lihat”


“ Hp kamu jadi rusak nih, aku ganti deh”


“ Nggak...gak usah” Akbar masih berjongkok mencari simcard.


Tiga puluh menit mencari benda pipih kurang dari 2cm ternyata sia-sia, mungkin karena simcard berukuran kecil dan warnanya hampir sama dengan warna lantai hotel membuatnya sedikit kesulitan. Akbar memutuskan untuk menghentikan pencariannya, mengingat dia sedang buru-buru.


“ Perkenalkan, aku Mary” gadis cantik itu menyodorkan tangannya dan memberikan sebuah kartu nama.


Akbar membaca kartu itu, sedikit mengernyitkan dahi. Karena Mary adalah seorang menejer hotel ini.


“ Akbar, Syaiful Akbar”


membalas uluran tangannya,


“Maaf saya buru-buru, permisi mbak”.


Sementara di ruang lain, Beena sedang merasa gelisah karena terlalu lama menunggu. Ditambah hp Akbar tak bisa dihubungi. Dengan berbagai pertanyaan dikepalanya dan akhirnya Beena memutuskan kembali ke rumah Mas Arief karena maghrib hampir tiba.


Pertemuan indah yang sudah didepan mata, nyatanya tak seindah ekpektasi mereka. Lagi-lagi takdir seperti sedang menguji keduanya untuk lebih bersabar lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2