
Pukul 13.00 sebuah sedan Camry tiba di sebuah rumah joglo khas Jogjakarta sarat nuansa Jawa . Beena menyetujui kemauan ayahnya diantar ke Jogja terpisah dari rombongan kru FirstTv. Alasan orang tua Beena akan menengok cabang butik di Jogja merupakan sebagian kecil agenda mereka. Agenda terbesarnya tentu saja tentang pertemuan Beena dengan Nizar, anak kedua Om Zulfa.
Om Zulfa memiliki dua anak laki-laki. Yang pertama, mas Azhar seumuran dengan mas Arief, ia seorang arsitek dan menetap di Surabaya. Sedang Nizar menjadi seorang dokter di salah satu RS swasta terbesar di Jogja. Nizar tiga tahun lebih tua dari Beena. Pertemuan terakhir mereka saat Beena duduk di bangku SD kelas 5 dan Nizar kelas 2 SMP. Mereka terpisah saat Om Zulfa memilih mutasi ke kota asal kelahirannya, Jogjakarta.
Pertemuan mereka kali ini benar-benar membuat mereka terkejut satu sama lain. Bagaimana tidak, Nizar dulu berperawakan subur dengan tampilan rambut selalu klimis disisir ke samping. Kini, sosok Nizar berubah menjadi atletis dan gaya rambut mirip Ariel Peterpan.
“Wow...it’s realy, Mas Nizar?”
“ Hajimemashite watasi wa Avicenna Muhammad Nizar desu”
goda Nizar dengan gaya sedikit membungkuk seperti gaya perkenalan orang Jepang.
“ Gimana, sudah Japanese belum nih? “tanya Nizar.
“ Hm...boleh...boleh...
Dari nama...sudah ok, tinggi badan? masuk kriteria Japanese lah. Warna kuli?hm...mendekati. Tapi matanya kurang sipit”
Beena mengukur dengan jari telunjuk dan jempolnya dari kejauhan mencari engle yang pas. Digerakkannya kedua tangannya maju mundur hingga menemukan titik pandangan yang pas. Hingga akhirnya mereka saling pandang.
“ Sudah...sudah, jangan saling menatap begitu nanti jatuh cinta” goda ayah. Beena langsung melotot.
“Pak dokter yang satu ini pacar di mana-mana yah” ledek Beena.
Nizar menggaruk kepalanya tak gatal.
“ Etapi bener lho, om pengen punya anak perempuan kayak kamu Na. Serius!” kata Om Zulfa.
“ Sudah ah ga asyik kalo sama orang tua, kita kedepan aja yuk”.
Nizar menarik tangan Beena menuju taman, mengajaknya ngobrol terpisah. Tentu saja Beena merasa risih dengan gandengan paksa Nizar. Pasalnya, ia merasa bukan Beena gadis kecil yang dulu sering dipaksa main dengan Nizar saat mereka bertemu.
Beena segera menarik tangannya dari genggaman Nizar.
" Maaf Na, aku lupa jika kamu bukan gadis kecil yang cerewet lagi. Gadis yang suka aku ajak berantem kalo main" Nizar melepaskan tangan Beena
Mereka duduk di bangku taman samping rumah. Di bawah rindang pohon flamboyant yang memberikan kesejukan. Bunga merah oranye yang berjatuhan menambah cantik visualisasi rumah Om Zulfa yang luas.
" Kamu banyak berubah, Na"
"Berubah? maksudnya?"
" Jadi lebih cantik"
Mendengar kalimat pujian dari Nizar tampak serius, membuat Beena harus memutar haluan menjadi pembicaraan yang lebih santai.
" Mas Nizar yang berubah, dulu kan gemuk. Mas punya ilmu malih rupa? " Tanya Beena sambil menggoda dengan gayanya yang khas .
" Dulu aku gemuk, klimis, berkacamata dan sering di tolak cewek karena itu. Sepertinya mereka gak suka sama tipe cowok bolo-bolo kayak aku waktu dulu". Balas Nizar sambil tersenyum kecut.
"Mas Nizar ditolak cewek?"
__ADS_1
Beena terbahak membayangkan muka gembul Nizar yang saat itu harus menerima banyak penolakan cewek Jogja.
" Kelas 3 SMA aku mulai banyak olah raga karena aku ingin masuk militer".
Mendengar cita-cita Nizar dulu, membuat Beena mengingat sosok seseorang yang selama ini ia tunggu.
Hai, apa kabarnya Syaiful Akbar? Di mana kamu sekarang? Apa kamu masih menunggu jawabanku?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti di otak Beena.
" Na...kamu ngelamun?" Petikkan ibu jari dan telunjuk Nizar tepat di depan wajah Beena membuat ia kembali ke alam sadarnya.
"Eh, iya mas." Beena mendadak gugup. "Lalu kenapa mas malah jadi dokter?"
" Dokter?" Nizar mengulangi pertanyaan Beena.
" Kenapa aku menjadi dokter?Aku ingin mewujudkan doa Abah. Ya, aku hanya ingin membuat impian Abah menjadi kenyataan"
"Do'a om Zulfa melalui nama mas Nizar?"
"Tepat, Abah menyukai tokoh Ibnu Shina. Abah ingin aku jadi seperti Ibnu Shina".
" Hm, Abu Ali Huseyn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina seorang ahli filsfat yang mahir dalam ilmu kedokteran"
Beena menyebut nama sang filsuf dengan urutan nasab yang lengkap.
" Avicenna yang mulai menghafal Al Qur'an di usia 5 tahun disamping ilmu tafsir, fiqih, tasawuf. Ibnu Shina yang mempelajari ilmu hitung dari saudagar rempah India di usia 10 tahun. Dan ia pun belajar ilmu politik hingga disempurnakan dengan ilmu kedokteran dengan di hasilkannya buku Asy Syifa sebuah buku terpenting dan terbesar sepanjang ia berkarya". Terang Beena dengan gaya yang anggun menjabarkan biografi singkat Ibnu Sina
Semakin takjub Nizar dibuatnya, dengan segala pengetahuan yang Beena miliki.
Tak salah jika kedua orangtuanya berniat menjodohkannya dengan gadis cantik dan cerdas seperti Beena.
" Mas.."
Kini Nizar yang terbengong-bengong.
" Di ajak ngobrol kok malah ngelamun. Tar kesambet lho"
"Kesambet cewek cantik sepertinya gak rugi " goda Nizar.
Beena memonyongkan bibirnya ke arah Nizar.
" Eh, terus..terus...kalo udah jadi dokter dan gak gemuk lagi. Berapa cewek yang mas tolak?"
Nizar menggerakkan jari tangan kanannya mulai dari telunjuk, tengah, manis kelingking.
Beralih ke tangan kirinya
" Oh no..." teriak Beena.
" Aku bercanda Na"
__ADS_1
Keduanya tertawa lepas.
“ Oh ya Na, Kamu lama gak di Jogja ?”
“ Kalau sesuai rencana dua Minggu mas?”
“ Eh, selama di Jogja. Om Hadi bilang kamu nginep disinikan?”
Beena mengangguk, “ iya mas, mana bisa aku nolak keinginan ayah”.
“Termasuk...” Nizar semakin penasaran dengan rencana orang tua mereka.
“ Perjodohan kita maksud mas?"
Nizar mengangguk.
" Maaf mas, untuk hal ini aku belum tahu. Aku masih punya hutang jawaban lamaran seseorang mas”
Beena memotong arah pembicaraan Nizar, lalu ia menceritakan semuanya pada Nizar.
Menceritakan jika ada seseorang yang sedang ia tunggu kedatangannya. Seorang yang selalu ia sebutkan dalam doanya.
Beena berharap semoga ini menjadi awal yang baik andaikata mereka benar-benar memilih untuk menikah.
Agar tidak menjadi penyesalan atas apa yang ia pilih untuk hidup dan kehidupannya.
Raut muka Beena berubah saat pembicaraan jadi serius, menambah kekaguman Nizar pada gadis yang dulu sering diajak berebut lumpia basah buatan ibunya Beena. Siapa sangka gadis yang dulu mudah emosi berubah jadi wanita dewasa yang mempesona.
“ Mas Nizar tak perlu menungguku, karena aku tahu menunggu itu tidak enak. Lagi pula aku masih punya kontrak kerja satu tahun lagi”.
“ Iya mas ngerti, setidaknya mas masih boleh antar jemput kamu selama di Jogja. Anggap saja tukang ojek”
Beena tersenyum dan mengangguk.
“Enak ya kerja di TV, bisa keliling kota bahkan ke luar negeri”.
“ Enak dan tidak itu bagai dua sisi mata uang mas. Ada kesenangan dan resiko yang berdampingan. Dan aku menjalani semua dengan senang. Mungkin sama halnya dengan profesi lainnya, dokter misalnya".
"Kamu benar Na. Sebelum di RS Jogja, aku menerima tawaran menjadi dokter di pedalaman. Jauh dari fasilitas memadai, jalan yang terjal tapi nyatanya aku senang. Aku menikmatinya".
Merekapun terhanyut dengan cerita pengalaman mereka selama menuju perjalanan karir mereka masing-masing. Saling memberi pujian tak lepas dari keduanya.
Kadang, mereka terbahak karena cerita konyol dan lucu yang pernah mereka alami.
Di teras rumah, kedua orang tua Beena dan Nizar menikmati pemandangan dua sejoli yang mereka gadang-gadang menjadi pasangan ideal.
"Zul, kamu lihat anak kita?"
" Kamu benar Di,Mereka memang cocok ya "
"Aku senang melihat Beena tertawa lepas seperti itu" kata Pak Hadi.
__ADS_1
Ini adalah awal pertemuan mereka yang menentukan jalan indah bagi keduanya.
***