Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Jogja itu... Romantis


__ADS_3

Nizar menggendong Beena menuju mobilnya. Sementara Bang Billy masih tampak panik melihat Beena masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


" Bang bisa kendalikan stir?aku di belakang nemenin Beena".


"Ok, tapi kau jadi navigatornya ya? aku gak paham jalan daerah sini"


Nizar mengangguk, dengan posisi memegang luka Beena dengan kapas. Darah masih saja mengalir, ia khawatir jika Beena sampai kebanyakan mengeluarkan darah tentu itu akan berakibat buruk bagi wanita yang ia cintai.


" Depan belok kanan bang"


Billy masih stay dengan aba-aba yang diberikan Nizar.


"Masih jauh Zar?"


Billy nampak gusar .


"Nggak bang, bentar lagi. Depan ada pertigaan lurus, terus belok kanan".


Jalan Gunung Kidul yang tak sehalus jalanan kota Jakarta membuat Billy tak bisa ngebut. Itu artinya ia tidak bisa membawa Beena cepat menuju rumah sakit.


Akhirnya mereka bertiga menuju RS .


"Selamat malam dokter Nizar"


Sapa seorang perawat laki-laki yang datang menghampiri dengan membawa brankar dorong.


Nizar yang saat itu sedikit panik, ia tidak membalas sapaan sang perawat. Ia tersenyum lalu segera mendorong brankar menuju ruang IGD di bantu sang perawat dan diikuti bang Billy.


Nizar langsung mengambil tindakan. Nizar yang menjahit langsung luka Beena, dibantu seorang perawat perempuan.


Billy mondar-mandir di ruang tunggu. Waktu terasa lama baginya untuk menunggu kemunculan Nizar dari ruang IGD.


Setelah 30 menit Beena tersadar, tak perlu bius lokal untuk tindakan medis kali ini.


Seorang perawat rambut pendek, dengan senyum manisnya memeriksa tensi Beena.


"Gimana sus?"


"Tensinya 120/100 dok, suhunya normal".


"Terima kasih sus"


Beena mulai membuka kelopak matanya. Ia mengerdilkan matanya berulang.


Memastikan dengan benar jika tempat ia berada saat ini adalah tempat yang berbeda dari sebelumnya.


Ia memperhatikan punggung laki-laki yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.


Melirik ke arah yang berbeda, ada tabung oksigen berukuran besar.


Nizar berbalik arah,


" Kamu sudah sadar, Na?"


"Aku di mana mas?"


"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan karena kebanyak mengeluarkan darah".


Beena melihat kaki kirinya yang saat ini sudah lebih bersih, tidak mengeluarkan darah lagi dan tertutup kain kasa dengan rapi berbeda saat Reyna menutupnya dengan kapas tadi.


Nizar mencuci tangannya di wastafel, lalu berjalan mendekati brankar tempat Beena merebahkan tubuhnya.


"Sebentar, aku panggilkan bang Billy"


Nizar keluar dari ruang IGD.

__ADS_1


Dengan cepat Billy menghampirinya.


" Gimana keadaan Beena, Zar?


"Dia sudah sadar bang, masuk aja"


Nizar dan Billy kembali masuk ke ruang IGD.


" Gimana Na?, masih sakit?"


Beena nyengir,


“ Gak ada yang mengkhawatirkan dengan lukanya kan, Zar? “ tanya Billy.


“ Tidak, tapi harus nunggu kering dulu untuk beraktifitas. Jangan terkena air untuk sementara”.


"Harus opname?"


"Gak bang , habis ini juga bisa pulang"


Beena merasa lega saat Nizar memberikan kabar bahwa ia tak perlu di rawat.


“ Syukurlah, peliputan juga sudah selesai. Rencananya lusa kita pulang. Tapi mengingat Beena masih luka mungkin kita undur”


“ Maaf dok, ada yang bisa kami bantu lagi?” tanya perawat yang membantu Nizar sambil merapikan alat-alat kesehatan yang telah dipergunakan.


“ Gak mbak, terima kasih ya”.


“Kalau begitu saya permisi dok”


Nizar mengangguk, melepas kepergian si perawat.


“ Oh ya bang, aku minta izin. Biar Beena aku bawa pulang saja ke rumah” tanya Nizar.


Billy melirik ke arah Beena meminta persetujuan.


" Mas, aku ikut bang Billy aja ya? kasihan Reyna". Beena sedikit memohon.


" Na, lihat kondisimu"


Dengan alasan kesehatan akhirnya Billy berhasil membujuk Beena untuk ikut dengan Nizar.


Dengan bantuan kursi roda, Beena menuju mobil Nizar yang berada di parkiran khusus para dokter. Jadi tidak terlalu jauh dari pintu masuk.


Nizar membukakan pintu depan Billy kembali ke homestay dengan ojek, sedangkan Nizar dan Beena kembali ke Bantul..


Billy kembali ke homestay dengan menggunakan ojek dan Beena kembali ke Bantul.


Tak tega rasanya melihat wanita yang disayanginya terluka. Dalam perjalanan menuju bantul perut Beena keruyukan.


Tiba-tiba Nizar memarkirkan Nissan yang dikendarainya di daerah perbukitan.


Antara ragu dengan lapar. Kali ini tentu saja bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


Logikanya tak bisa menolak jika ia membutuhkan logistik.


Ingat Beena, logika berbanding lurus dengan logistik.


Gumamnya, setidaknya isi dulu perut sebelum nanti ia harus bertarung hebat dengan Nizar.


Beena yang masih bingung tetap saja tak membuatnya diam dan akhirnya bertanya.


“ Kok berhenti disini mas?”


“ Kamu belum makan? Perutmu nge-band gitu”.

__ADS_1


Akbar mematikan mesin mobil dan berjalan ke arah luar,menuju pintu mobil sisi Beena.


Tanpa mendengar dulu jawaban dari Beena.p


“ Iya , tadi belum sempat mas”.


Jawab Beena yang tentu saja tak didengar Nizar.


Ceklek,


pintu dibuka dari luar.


“ Ayo turun”


Beena bersusah payah berusaha turun dari mobil dengan menahan sedikit sakit di kakinya. Tanpa pikir panjang , Nizar segera mengangkat tubuh Beena menuju tempat duduk yang tersedia di salah satu sisi bukit.


Dengan sedikit terkejut Beena menanggapi tindakan Nizar.


“ Ini darurat, ayahmu gak akan memarahiku hanya karena menggendongmu” bisik Nizar.


Dengan kedua tangan Beena menutup wajahnya menahan malu karena dilihat beberapa pengunjung bukit.


“ Romantisnya...” celetuk salah satu pengunjung.


Nizar tersenyum manis.


“ Turunkan aku mas, aku bukan pesakitan. Masih kuat jalan”


Tanpa peduli dengan kata-kata Beena dan pukulan yang mendarat di dadanya, Nizar tetap membopongnya.


“ Lek...” Nizar memanggil salah satu asisten pedagang.


“ Nggeh mas, mau pesan apa?”


“ Jagung bakar 1, roti bakar 1 sama wedang jahe ga pake susu”


“ Wedang jahenya berapa mas?”


“ Dua”


“ Gak pake susu semua?” tanya pelayan.


Nizar melirik ke arah Beena.


“ Sama, aku juga gak pake”


“ Oh nggeh, ditunggu sebentar ya mas, mbak”


Beena mengarahkan pandangannya ke segala arah, rata-rata pengunjung di sini adalah remaja yang berpasangan.


“ Tempat apa ini mas?


“ Ini namanya bukit bintang, romantis ga?”


“ Indah...” satu kata yang keluar dari bibir tipis dengan senyum merona.


Beena menjawab dengan kata indah bukan romantis. Ditempat ini ia bisa melihat keindahan siluet Gunung Merbabu dan Gunung Merapi dari kejauhan yang terbiaskan oleh lampu-lampu seluruh penjuru Jogjakarta.


“ Jadi ini tempat nge-date? Kita ga sedang pacaran kan?”


“ Kenapa emang? ga suka? “


Beena berniat langsung menjawab, namun pelayan warung datang membawa pesanan. Ia langsung menyantap jagung bakar karena perutnya sudah tidak bisa berkompromi. Dan melupakan pertanyaan yang ia lontarkan pada Nizar.


Setelah perutnya terisi dan cukup menikmati pemandangan Bukit Bintang yang memanjakan setiap mata pengunjungnya. Beena meminta untuk segera pulang, dan melarang Nizar memberitahukan insiden jatuhnya Beena di Gunung Purba.

__ADS_1


Toh ini merupakan bagian dari konsekuensi pekerjaannya, lagi pula ini hanya luka jahit kurang dari 10 centimeter saja. Menurutnya , masih banyak resiko yang di alami pemburu berita di luar sana yang lebih parah darinya, bahkan bertaruh nyawa sekalipun mereka siap.


***


__ADS_2