Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Selamatkan komandan kami, dok...


__ADS_3

Pagi ini para pekerja pemburu berita melaporkan liputan terkini, tidak hanya wartawan domestik. Wartawan manca negara dari berbagai negara berkumpul memenuhi sebagian besar kota Aceh besar. Bencana dahsyat yang melanda Aceh dan sekitarnya menyedot perhatian dunia, termasuk PBB.


Akbar melihat kameramen dari FirstTv yang sedang melakukan liputan. Namun ia sedikit kecewa, saat gadis yang dilihatnya bersama sang kameramen ternyata bukan wanita yang ia harapkan.


Akbar langsung pergi dan bergabung dengan kerumunan TNI dan relawan yang sedang berusaha mengambil jenazah yang terjepit antara mobil dan batang pohon besar.


" Ada jenazah di bawah mobil ini ndan"' ucap salah satu prajurit TNI AD.


" Kamu panggil personil lain, kita butuh bantuan lebih banyak orang" ucap Akbar.


" Siap, ndan. Laksanakan"


Beberapa menit kemudian prajurit tersebut datang dengan beberapa orang berpakaian loreng dari satuan yang berbeda.


Setelah berdiskusi, akhirnya Akbar bertugas mengambil jenazah sedang yang lain mengangkat mobil dan sebagian menahan batang pohon.


" Dalam hitungan ke tiga kalian angkat mobil. Saya masuk ke bawah. Dan dalam hitungan ke lima dan enam saya geser kayu ini. Hitungan ke tujuh,kamu...kamu dan kamu menarik jenazah oke." Akbar menjelaskan teknis evakuasi dengan detail.


" Satu...dua...tiga" teriak beberapa prajurit serentak bak paduan suara.


Beberapa prajurit TNI mengangkat bangkai mobil.


dengan cepat Akbar langung masuk ke bagian bawah mobil.


" Empat...lima...enam..." beberapa prajurit lain menghitung dengan penuh semangat.


Akbar berusaha menggeser posisi pohon besar yang menindih jenazah.


" Tujuh..."


Personi relawan yang lain menarik jenazah.


Terpancar senyum penuh kemenangan melihat jenazah berhasil dikeluarkan dari kolong mobil.


Naas, saat jenazah berhasil dievakuasi, belum sempat Akbar keluar ia mengalami kecelakaan. Tiba-tiba mobil yang diangkat beberapa orang menimpa kakinya.


" Aaaaaaarrrgghhh..." teriak Akbar.


" Astaghfirullah..."


" Help...help...help..." teriak relawan PMI.


Beberapa prajurit tentara USA mendekat dan berusaha menolong Akbar.


Setelah berjibaku dengan lumpur, akhirnya Akbar berhasil dikeluarkan dari kolong mobil.


Akbar tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke posko.


" Dok, tolong dok. Komandan kami terluka" Ucap seorang prajurit.


Akbar segera mendapatkan pertolongan dari relawan tenaga medis.


Beruntung tidak ada luka serius, hanya mengalami patah kaki ringan dan luka robek di kaki yang harus mendapatkan beberapa jahitan. Mendengar kabar tersebut membuat Yoseph sedikit khawatir dan segera menemui Akbar.


“ Bagaimana teman saya dok?” tanya Yoseph.


“ Alhamdulillah gak apa-apa.


Patah ringan dan beberapa jahitan saja” jawab dokter.

__ADS_1


“ Terima kasih dokter”


Beberapa menit kemudian , Akbar siuman. Menatap langit-langit tenda memastikan jika ia berada di tempat yang berbeda dari tempat terakhir yang ia tempati.


“ Abang sudah sadar” Yoseph mendekat ke arah Akbar.


Akbar tersenyum “ Aku gak apa-apa “, lalu sedikit memaksa beranjak dari tempat tidur untuk membuktikan keadaannya baik-baik saja.


“ Hmmpttt” Akbar menahan sakit.


“ Tenang mas, jangan dipaksa bergerak dulu” saran dokter.


Dengan dibantu sang dokter dan Yoseph, Akbar duduk di brankar.


“ Pakaian saya mana ya dok?” tanya Akbar yang saat ini hanya menggunakan celana kolor dan kaos hijau khas TNI .


“ Maaf mas tadi pakaiannya terpaksa kami robek. Oh ya ini hp dan dompetnya” dokter menyodorkan hp dan dompet.


Akbar membuka dompetnya memastikan benda yang berharganya tak hilang. Sebuah bros emas inisal huruf dengan aksen batu swarowsky ungu masih bertengger di sana.


“ Oh ya mas...selama mas tidak sadar. Hpnya berdering terus” ujar dokter.


Akbar membuka Hp-nya, ada sekitar 29 panggilan dan 12 sms dari nama yang sama, PRINCESS .


Ya, selama Akbar di Aceh, ia jarang membalas messenger dari Mary. Cuma sesekali menghubunginya agar Mary tidak terus-terusan menanyakan kabarnya. Selain sibuk dan harus menghemat baterai, Akbarpun sengaja untuk tidak terlalu membuat Mary ketergantungan.


“ Terima kasih dok...” Akbar menyodorkan tangan kanannya tanda meminta perkenalan.


“ Aku dokter Nizar”


“ Aku Akbar, dokter dari daerah mana?”


“ Aku dari Jogja,kamu? ”


“ Wah, kota lumpia. Semarang kota yang indah. Masa kecilku juga disana”


“ Benarkah? Lama di Semarang ?”


“ Cuma sampai SMP, SMA dan kuliah di jogja karena kebetulan orang tua pindah tugas ke kota asal. "


" Kapan-kapan kalau dokter ke Semarang bisa mampir ke rumah saya"


" Insyaallah , dan mudah-mudahan bisa tinggal di Semarang lagi” tandas Nizar.


“ Maksud dokter?”


“ Jangan panggil dok, Nizar aja." Nizar mengajur napas, "Aku mau nyari jodoh gadis Semarang aja”. Seringai Nizar.


Akbar terbahak, “ Cewek Semarang emang manis-manis dan menghanyutkan seperti Kali Brantas”.


“ Betul, aku sampe gak bisa ngelirik cewek lain. Sayang sejak kemarin dia udah gak disini lagi”.


" Maksud kamu dia juga relawan di Aceh?"


" Ya, tapi dia hanya tiga hari di sini"


“ Wah...wah segitunys pesona cewek Semarang. Gak dokter Nizar gak bang Akbar sampe gak bisa ngelirik cewek lain”


tak mau kalah Yoseph nimbrung.

__ADS_1


Nizar melirik pada baju PDL yang tadi ia robek, jika melihat dari pangkatnya Akbar ini merupakan Peltu.


" Tumben seorang Peltu masih single"


Akbar menundukkan kepalanya. Suasana mendadak hening.


" Aku masih mencari gadis Semarang" jawabnya lirih.


" Sabar bro, semua akan indah pada waktunya"


sebuah kalimat klise yang menggambarkan pengharapan. Seperti Nizar yang mengharap sesuatu yang indah di akhir penantiannya pada Beena. Ia masih yakin, jika keberuntungan berpihak padanya.


Takdir akan menuntunnya mendapatkan cinta Beena, meski ia harus sabar menunggu Beena melepas seseorang yang menunggu jawaban lamaran Beena.


" Aku pun sama, masih menunggu seseorang menerima perasaanku" ucap Nizar.


" Bukankah gadis Semarang mu itu sudah tahu perasaanmu?"


" Sudah, tapi dia selalu menyuruhku untuk tidak menunggunya ."


"Maksud kamu?" Akbar menernyitkan dahi.


" Sudahlah panjang ceritanya. Oh ya, jangan terkena air dulu dan jangan terlalu banyak melakukan aktifitas berat. Nanti luka jahitnya lama mengering."


" Iya betul bang, biar abang cepat sembuh"


" Tenang saja, ini tidak akan lama.Tiga hari juga mengering"


" Ya...ya...biar Yoseph yang sibuk. Aku cukup makan dan tidur di posko" Akbar terkekeh.


" Sialan kau bang, mengambil kesempitan dalam kesempatan"


" kebalik, kesempatan dalam ksesempitan!" ucap Akbar.


" Ya, itulah pokoknya yang sempit-sempit kau suka bang macam-"


Belum sempat Yoseph melanjutkan kalimatnya, ponsel Akbar sudah bergetar. Sebuah panggilan masuk.


Drrrttt....drrrrrttt...


" Dunia memang sempit bang, kemanapun kau pergi pasti cewek yang satu ini menemukanmu"


Yoseph melirik ponsel Akbar dengan sebuah panggilan dari si Princess.


" Ya, Mar"


" Kamu baik-baik saja kan di Aceh".


" Alhamdulillah , aku sehat"


" Kenapa telponku sering tidak diangkat, sms juga tidak di balas"


" Disini banyak kegiatan,lagi pula harus menghemat baterai. Agak susah mengisi baterai."


" Oh, ya sudah take care ya"


" iya" Akbar menutup sambungan.


Akhirnya mereka bertiga terlarut dalam obrolan, sebagai hiburan selama berada di posko sangat jarang para relawan mendapatkan kesempatan seperti ini.

__ADS_1


Saling memuji profesi masing-masing membuat mereka kagum atas pengalaman yang dimiliki keduanya.


***


__ADS_2