Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Tragedi di bukit Nglanggerang


__ADS_3

Selama tiga hari di Gunung Kidul, Beena memilih untuk menginap di homestay yang sudah disediakan. Ia tidak mau merepotkan Nizar lebih jauh, Beena tidak mau kedekatannya dengan Nizar akan membuat pengharapan lebih oleh Nizar.


Dengan susah payah Beena mencari alasan, akhirnya Beena menemukan alasan Yang tepat.


Ia terpaksa memakai cara desa adat yang dipilihnya untuk menghindari Nizar. Di desa adat melarang wanita keluar di waktu maghrib.


Di mana dalam tim kru ada Beena dan Reyna. Sedangkan peliputan selesai menjelang magrib. Tidak mungkin rasanya jika Nizar menjemputnya di waktu Maghrib. Itu jelas di larang di desa tersebut.


Peliputan kali ini tentang berbagai kegiatan kebudayaan 15 desa di kawasan Wonosari Gunung Kidul, seperti budaya rasulan , kesenian Adi Luhung di Ponjong, dan sadranan di Gunung Gentong.


Selama kegiatan Beena merasa takjub dengan berbagai kebudayaan yang ada di negaranya. Betapa kayanya Indonesia akan kebudayaan. Tak heran jika Indonesia sering mendapatkan penghargaan dari dunia internasional dalam bidang kebudayaan.


Siang itu, setelah liputan selesai. Ia menikmati beberapa objek wisata yang ada di gunung Kidul. Ada beberapa pantai yang eksotis dengan hamparan pasir putih yang ia jumpai mulai dari pantai Indrayanti, Pantai Nguyahan, Ngrenehan, dan Pantai Ngobaran. Ia membayangkan suatu saat bisa mengunjungi salah satu pantai tersebut dengan orang yang special di hatinya.


Di akhir kegiatan peliputan, Beena dan teman-temanya mendaki gunung Purba yang berada di Nglanggeran Wonosari.


Di atas puncak mereka menunggu moment sunset langit Gunung Kidul. Ditempat ini ia merasakan hawa sejuk dan sedikit sendu. Tempat yang dulu dipakai sebagai tempat hukuman bagi warga yang melanggar karena telah merusak wayang sang dalang.


Diceritakan, pada ratusan tahun yang lalu. Penduduk desa sekitar mengundang dalang sebagai perayaan syukuran hasil panen. Namum karena kecerobohan, beberapa warga merusak wayang sang dalang.


Sang dalang murka dan mengutuk warga yang merusak menjadi wayang lalu di buang ke bukit Nglanggerang.


Sambil menunggu matahari terbenam Beena memilih ngobrol dengan seniornya Bang Billy yang sudah berpartner selama ia bekerja. Sedangkan Reyna asyik mengambil gambar pemandangan bersama Bimo.


Beena duduk di bebatuan aglomerat sambil sesekali membetulkan jilbabnya yang diterpa angin kencang.


“ Sepertinya dokter Nizar itu cinta sekali sama kamu?"


“ Maksud bang Billy?” Beena sedikit malas jika harus membahas urusan percintaan.


Sebab selama tiga tahun bekerja bareng dengan Billy, meski mereka dekat Beena jarang berbagi cerita. Lain dengan Billy, ia tak segan curhat dengan Beena jika ada perempuan yang sedang ia taksir.


“ Iya...Nizar si dokter ganteng itu. Apa kamu gak suka sama dia?”


Beena terdiam, “ Belum bang, aku belum bisa mencintainya”.


“ Kenapa? Dia ganteng, mapan, dan sepertinya sudah dekat pula dengan keluargamu”.


Beena semakin bingung, apa ini waktu yang tepat untuk meminta pendapat orang lain. Selama ini, tidak ada seorang pun yang tahu jika Beena adalah sosok gadis yang melankolis dalam urusan perasaan.

__ADS_1


Dari luar terlihat ceria, easy going tapi jika sudah menyangkut urusan hati, ia adalah orang yang paling miris. Menunggu seseorang yang belum pasti kehadirannya.


“ Bang...” lirih Beena memanggil Billy, ragu antara harus cerita dan tidak. Sedang di seberang ada Bimo yang sesekali melirik kearah mereka berdua.


“ Hm...” jawab Billy.


“ Aku lagi nunggu seseorang “ akhirnya Beena mengucapkannya juga.


“ Siapa? Bukan aku kan!“ goda Billy.


Dari arah sebersng Reyna menimpali, “ Mbak Beena itu cantik, mana mungkin mau sama abang”.


“ Jadi maksud lu, gue gak ganteng?”


“ Hm, gimana ya?Ganteng sih, tapi galak” Reyna menjulurkan lidahnya.


Cuma Bimo yang tak ikut-ikutan dengan obrolan mereka. Dia lebih memilih membidikkan kameranya ke arah yang lain.


“ Udah sana, nimbrung aja” Billy membalas dengan ketus.


“Kamu lagi nunggu siapa sih?” tanya Billy semakin penasaran.


Akhirnya Beena menceritakan pada Billy, berharap ia bisa memberi pencerahan akan sikap yang harus Beena tempuh.


“ Jadi ini alasanya kamu suka warna ungu?” tanya Billy


“ Aku suka warna ungu karena ada filosofinya abang, bukan karena hal ini saja. Ungu itu warna selendang nyai Roro Kidul dalam mitologi jawa memberikan perlindungan dan pengamanan. Dan ungu itu seperti bunga bougenvill yang tak pernah layu”


“ Seperti cinta kamu sama si Akbar yang tak pernah layu?” sergah Billy .


“ Dan... warna ungu warna janda hahaha...” ledek Reyna.


“ Hey anak tulait, turun sana” titah Billy pada Reyna yang terkenal tulalitnya kalo lagi briefing.


Tak lama Reyna mengajak Bimo turun dari puncak gunung Purba.


Beena berdiri memandang jauh sunset yang indah diatas puncak.


“ Menurut abang, tindakanku menunggu Akbar konyol gak?”

__ADS_1


“ Ini nih...yang aku suka bingung sama cewek. Sepertiga logikanya suka dikalahin sama perasaan”


“ Maksud abang? Perempuan itu bodoh?”


“ Tapi kadang intuisi wanita itu selalu tepat”. Lanjut Billy. “ Udah waktunya kita turun, nanti keburu gelap”.


Akhirnya Beena dan Billy menyusul Reyna dan Bimo yang sudah lebih dulu turun. Entah karena terburu-buru dan tidak memperhatikan bebatuan, atau karena model sepatu kanvas yang dikenakan Beena sedikit licin menyebabkan Beena terperosok jatuh. Kaki Beena membentur bebatuan tajam yang menyebabkan celananya robek menembus kakinya.


Darah segar keluar, namun tidak ia hiraukan. Semakin lama menyebabkan darah mengalir tak henti. Mendapati Beena terluka, Billy memapah Beena menuju homestay yang tak jauh dari gunung Purba. Sesampainya di sana, Reyna membantu membersihkan luka dan mengganti pakaian Beena. Namun karena luka robeknya cukup dalam hingga luka menganga. Darah masih terus mengalir. Beena meringis menahan sakit.


“ Gimana ini bang, lukanya lumayan!” ujar Reyna.


“ Disini jauh dari pelayanan kesehatan, kita juga ga punya kendaraan, akan tidak baik jika mbak Beena mengeluarkan darah terus”


Sambung Bimo, kalimat ini adalah kalimat terpanjang yang Bimo ucapkan selama mereka berinteraksi mengenal Bimo.


Billy berfikir sejenak, “ hm... mana hp mu?” Billy melirik pada Beena.


“ Hallo Zar, Ini aku Billy”


Mendengar dari seberang Nizar kebingungan, mengapa hp Beena ada pada Billy.


“ Iya bang, ada apa?


“ Beena terluka, kamu bisa kesini ga? Disini jauh dari kota kita juga ga ada kendaraan”


“ Ok bang saya ke sana, kebetulan aku lagi ada kegiatan di RS Wonosari.”


Karena banyaknya darah yang dikeluarkan Beena membuat ia hilang ke sadaran. Tak berapa lama, Nizar datang.


“ Beena kenapa bang?” tanya Nizar yang sudah mendapati Beena pingsan.


“ Tadi terperosok waktu kami turun dari gunung Purba”


Nizar memeriksa keadaan kaki Beena.


“ Ini harus di jahit bang, aku bawa ke RS aja. Aku ga bawa alat bedah”.


Nizar mengangkat Beena ke dalam mobil.

__ADS_1


“ Aku ikut” sergah Reyna dengan cepat karena merasa khawatir dengan keadaan seniornya.


“ Tidak usah, lu disini saja sama Bimo, gue yang ke rumah sakit” jawab Billy.


__ADS_2