
Suasana di taman, hening seketika.
Beena menyeka air matanya yang entah mengapa masih saja meluncur bebas dengan otomatis di pipi mulusnya.
Nizar dengan langkah gontainya mencoba berdiri setelah beberapa kali mendapatkan bogem mentah dari Akbar yang tentu saja membuat tubuhnya menjadi babak belur.
"Ah..." Nizar memekik meraba sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
Lalu Akbar?
Ya, laki-laki gagah itu segera melangkah, mendekat ke arah Beena. Sambil mengibaskan tangan ke arah celana dan lengan bajunya yang sedikit kotor terkena tanah akibat jatuh karena efek belum siap ketika Nizar menyerangnya.
“ Bee, aku cuma mengantar Mary karena dia mabuk. Aku tidak melakukan seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak sehina itu. Aku mencintaimu, sayang
. Aku tidak mungkin menghianatimu!”
Ucap Akbar mencoba menjelaskan pada Beena saat ia telah bersiap-siap menjemputnya tiba-tiba atasannya meminta bantuannya untuk mencari Mary setelah ia mengamuk di rumahnya.
Beena tak merespon, di hati kecilnya yakin jika Akbar tidak serendah itu. Tapi ia tak melupakan begitu saja kesalahan Akbar yang membawa Mary dalam keadaan mabuk ke apartemennya. Mengapa tidak ke rumah orang tuanya? Andai Beena tak sengaja datang dan memergokinya bukankah kemungkinan apapun bisa terjadi?
"Bee..." ucap Akbar sambil mengulurkan tangannya, berharap penjelasannya bisa diterima oleh Beena.
Namun, sekali lagi ia tetap diam tak bergeming. Masih tidak merespon apapun yang di ucapkan Akbar. Ia masih shock dan bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Bee, sayang kamu masih gak percaya?" Kali ini posisi Akbar lebih dekat dengan Beena, ia duduk disamping Beena.
"Ayolah sayang, kita bukan anak abg yang berpacaran, kita sudah mau menikah Bee!"
"Mas, justru karena kita sudah mau menikah. Aku gak mau kejadian ini terjadi saat kita sudah menikah!"
"Kamu tahukan bee, aku tidak ada perasaan apapun sama Mary. Aku hanya mengantar dia yang dalam keadaan mabuk, dia gak mungkin mengendarai mobil dalam keadaan seperti itu!"
"Mas, kamu kan masih bisa minta bantuan orang lain!"
"Itu tidak mungkin bee, jendral Bram sudah memberi amar padaku!"
Kali ini Akbar semakin tak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa pada Beena, pasalnya perintah atasan adalah hal yang mutlak harus ia laksanakan. Bukankah Beena tahu konsekuensi menjadi pasangan seorang prajurit.
"Ok, paling tidak kamu masih bisa membawa Mary ke rumah orang tuanya mas.Bukan malah membawa dia ke apartemennya!"
Akbar terdiam, ia menyadari kesalahannya dengan membawa Mary ke apartemen.
__ADS_1
"****, bodoh" ucap Nizar meski pelan masih cukup terdengar oleh Beena dan Akbar.
"Hufth..."Akbar membuat kasar nafasnya, meyakini bahwa kali ini tindakannya cukup bodoh. Benar yang di katakan Beena, andai ia membawa Mary ke rumah pak Bram mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Tapi bukan tanpa sebab Akbar membawa Mary ke apartemennya. Ini ia lakukan karena jarak dari club ke apartemen lebih dekat, ketimbang rumah pak Bram. Dan Akbar harus cepat menyelesaikan tugasnya karena mau dinner dengan Beena.
Dan kali ini Akbar tidak mungkin memberikan sanggahan lagi, karena Beena bukan orang yang pas untuk diajaknya berdebat. Lagi pula ini memang kesalahan Akbar. Ia lebih memilih cooling down, berharap Beena mau menyambut niat baiknya.
" Ok, bee. Aku salah, aku minta maaf. Ayo aku antar pulang “ajak Akbar.
Beena berdiri, namun masih tidak menghiraukan Akbar. Ia malah berjalan ke arah lain. Beena mendekati Nizar.
"Hem..." smirk Nizar ke arah Akbar.
Dengan senyum menyeringai Nizar seperti mentertawakan kekalahan Akbar.
“Aku tahu, dengan siapa seharusnya aku pulang” ujar Beena tegas.
Nizar mengulurkan tangannya ke arah Beena sebagai tanda kemenangan karena kali ini ia akan membawa Beena pulang.
Namun dari arah berlawanan, datang Reyna.
“ Mbak Beena, ada apa ini?” tanya Reyna sambil mengamati dua laki-laki yang babak belur.
“Antar aku pulang Rey...”titah Beena sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Reyna.
Akbar tersenyum kecut ke arah Nizar. Ia yakin tidak mungkin wanitanya akan mudah mengambil tindakan yang bodoh. Ya, itu adalah hal yang paling disukai oleh Akbar pada Beena. Ia adalah wanita yang penuh pertimbangan.
Akbar bahagia, meski Beena menolak ajakannya. Namun tindakan Beena memilih Reyna adalah hal yang tepat.
Lalu Nizar, ia harus merasakan penolakan yang kedua dari Beena. Tapi bagi Nizar, Beena memang wanita yang berprinsip dan tidak mudah ia lupakan begitu saja. Dan butuh waktu untuk bisa move on darinya.
Mereka berempat akhirnya pergi meninggalkan taman, berpisah dipenghujung jalan dengan beban masing-masing.
Sepanjang jalan, Reyna fokus menyetir tanpa ada pertanyaan yang terlontar darinya, meski ia tahu banyak hal yang ingin ia tanyakan pada seniornya. Tapi melihat keadaan yang tak memungkinkan, membuat Reyna mengurungkan niatnya. Ia hanya fokus pada jalanan kota Jakarta yang macet.
“ Rey, antar aku ke apartemen. Nanti mobil kamu bawa saja ya” Beena mengawali percakapan memecah keheningan.
“ Terus, besok mbak Na gimana? Mau izin? Biar aku sampein sama bang Billy kalo mbak Na tidak enak badan”
Beena menggeleng,
“ Ga usah, besok aku tetep kerja”.
__ADS_1
"Hah, mbak Na serius? Mau tetep kerja !" Reyna membelalakkan matanya, tidak percaya akan tindakan Beena. Meski sedang tidak baik-baik saja ia tetap akan memaksa masuk kantor
"Ya, besok aku tetep ngantor" Ucap Beena dengan meyakinkan.
“ Trus naik apa? Mbak Na mau aku jemput?”.
“ Ga usah, aku bisa naik taksi”
“ Yakin?” tanya Reyna memastikan jika pilihan Beena tidak salah.
Beena mengangguk, lalu ia memejamkan matanya. Melihat Beena terpejam, Reyna langsung memutar musik jazz untuk pengantar tidur. Berharap Beena bisa melupakan kejadian tadi dengan tidur di mobil.
Selama 1 jam perjalanan Beena menikmati tidurnya dalam mobil hingga akhirnya Reyna membangunkannya karena sudah sampai di apartemennya.
Mata sembab, muka lesu tak bisa disembunyikan dari wajah cantiknya.
“ Mbak Na, bangun...”Reyna menepuk bahu Beena namun Beena masih saja tertidur.
"Ya Alloh mbak Na, sebegitu lelahnya kamu" Reyna membatin, ia tidak tega membangunkan Beena. Tapi, mau tidak mau harus dibangunkan.
"Mbak...mbak Na udah sampe mbak" Kali ini Reyna mengguncang Beena dengan sedikit keras, berharap seniornya segera sadar.
Beena membuka matanya perlahan,
“ Maaf Rey, aku ketiduran”
"Gak papa mbak, mbak Na pasti capek"
Keduanya keluar dari mobil, berjalan ke arah pintu lift menuju kamar Beena. Saat pintu lift terbuka, Beena langsung masuk.
" Udah Rey, gak usah mengantar sampai ke atas. Nanti kamu kemaleman di jalan"
"Tapi mbak Na-"
" Dont worry, I'm okay sista!"
“Ok, Aku pulang ya mbak Na, telpon aku kalo butuh bantuan”
“ Terima Kasih ya Rey”
Mereka berpisah di pintu masuk apartemen.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan Beena, tiba-tiba handphone Reyna berdering sebuah panggilan masuk. Dilihatnya, ternyata Akbar menelponnya.
***