
First Tv pukul 05.00
Sepagi ini, mobil jazz Beena sudah terparkir di basement. Hari ini ada siaran pukul 07.00 namun shooting dilakukan pukul 06.00
Dan seperti biasa, Beena selalu hadir satu jam sebelum acara di mulai.
Beena menuju ruang make up,
"Pagi mbak Na..."
" Pagi kak Tince " Balas sapaan untuk MUA yang memiliki nama asli Tanto.
" Duh, calon pengantin makin keluar aja nih aura cantiknya"
" Masa?"
Sambil membaca naskah berita yang akan ia bawakan sesaat lagi.
"Ih, kapan Tince boong mbak Na, mbak Na itu cantik cocok dapet abang Marinir. Cantik dan ganteng nanti anaknya imut,lucu kayak Tince.
Sambil menyapukan kuas blush on di pipi Beena,Tince nyerocos gak ada habisnya. Sesekali ia menggerakkan dagu Beena ke arah yang berbeda, mengambil beberapa angle. Dan tetap saja, wajah anggun dan ayu itu mempesona dari sudut manapun.
" Tuh kan, cukup pake blush on tipis aja mbak Na itu sudah cantik alami. Kumeroh...eh...apa itu sebutannya, benerkan kumeroh".
"Khumaeroh, kak Tince"
Jawab Beena sambil senyum tipis.
"Eh, iya itu pokoknya. Ah, Tince tu udah bayangin betapa cantiknya mbak Na pas prosesi Pedang Pora, bikin merinding disco pokoknya."
"Emang kak Tince tau?"
" Jangan salah ye, eiyke itu sudah melanglang buana make up in pengantin-pengantin seantero jagad bumi"
Nampaknya obrolan kali ini tak akan ada habisnya. Untung saja, waktu siaran akan segera berlangsung. Mau tak mau Tince menyudahi pamernya.
Selesai make up, Beena segera menuju studio tempatnya siaran. Hanya satu jam siaran hari ini. Selesai siaran ia langsung menuju ruang kerjanya. Mengumpulkan cuplikan berita yang akan ia bawakan untuk besok pagi dengan menyusun naskah terlebih dulu tentunya. Bagi Beena, menyusun naskah sendiri akan mempermudah ia dalam membawakan berita. Maka, pekerjaannya semakin menumpuk tentunya. Namun ia tidak merasa terbebani karena ia lakukan dengan senang hati.
Beena sibuk dengan proses editing naskah narasi hingga jam makan siang. Tiba-tiba hp nya berdering.
Whenever you go,
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Beena menghentikan aktivitasnya, meraih hp yang berada tak jauh dari tangannya. Dilihat sebuah nama tertera di layar hp-nya dari Mary.
“ Mary, tumben“ gumamnya.
“ Ya, Hallo Mar”
__ADS_1
“ Sibuk Na?”
“ Masih di FirstTv, ada apa Mar?
“ Aku mau minta tolong, urgen. Bisa ke apartemenku?”
Beena melirik jam di tangannya, sebentar lagi jam makan siang. Mungkin bisa menemui Mary dulu sebelum nanti bertemu dengan mas Nizar.
“ Hallo Na, masih di situ kan? help me please!”.
“ Ok, aku ke sana sekarang”
“ Thanks ya Na”
Sambungan lalu terputus.
Beena menutup laptopnya lalu pamit pada Reyna.
“ Rey, kalo bang Billy tanya aku ada janji sama Miss Mary. Tapi kayaknya ga balik sini lagi deh.”
“ Trus naskahnya udah kelar?”
“ Aku bawa ke rumah, nanti lanjut di rumah”. Beena berjalan mendekati Reyna lalu berbisik,
“ Aku mau dinner sama mas Akbar” Beena tersenyum genit.
“ Ciye...ciye...Ok mbak Na, have fun ya...”
Beena menuju basement mencari jazz-nya di parkiran dan langsung melaju menuju apartemen Mary. Pada jam mejelang istrirahat kantor, jalanan kota Jakarta cukup macet. Sehingga Beena harus merelakan 25 menit waktunya untuk menuju apartemen Mary.
Beena menatap jam di tangan kirinya.
“ Ok , maksimal 20 menit “ gumam Beena memberikan jatah waktu pertemuannya dengan Marry.
Tiba di parkiran sebuah apartemen kelas luxury yang terletak di kawasan Kuningan, Beena memilih tempat parkir yang kosong. Ia lalu segera memuju unit apartemen tempat Mary menghabiskan sisa waktunya setelah bekerja. Apartemen mewah dengan segala fasilitas dan interior kelas wahid menunjukkan betapa tingginya selera penghuni apartemen tersebut.
Beena menaiki lift menuju unit 103, sesampainya di sana tak menunggu lama setelah menekan bel, pintu langsung dibuka oleh Mary. Sepertinya ia memang sudah menunggu di depan pintu sejak memberi kabar Beena.
"Masuk Na"
Beena langsung membuntuti Mary menuju mini bar. Ia duduk beriringan.
Mary menuangkan Port ke snifter glass, lalu menghabiskannya dengan sekali tenggak. Setahu Beena port adalah jenis wine dengan kadar etanol tinggi, sekitar 20%. Melihat cara meminum wine yang dilakukan Mary menunjukkan jika teman yang ia kenal dari Mia, atasannya itu sedang tidak baik-baik saja.
“ Mau minum apa?”
“ Gak, terima kasih Mar. Aku cuma sebentar habis ini aku ada kegiatan lagi. Ada yang bisa saya bantu Mar?” Beena memulai percakapan, tak mau membuang waktu dengan banyak basa-basi.
Mendengar Beena yang tak mau bertele-tele, Mary pun tak mau kalah. Dengan tanpa ba bi bu ia menyodorkan beberapa lembar foto.
" Kamu lihat ini"
__ADS_1
Deg....
Foto kebersamaan Mary dengan Akbar.
Beena meraihnya dan dilihat satu persatu. Mulai dari foto saat Akbar berpakaian serba hitam ala bodyguard, foto wisuda Akbar, hingga foto liburan mereka selama di Semarang.
Sesaat ada rasa sesak yang Beena rasakan, lalu ia memejamkan matanya. Membayangkan betapa Akbar selalu mencari kesempatan untuk menceritakan sosok si Princess, namun selalu di tolak Beena. Kini ia tahu, siapa wanita yang mencintai calon suaminya. Dan kini Beena tahu siapa laki-laki spesial bagi Mary.
Dengan tenang Beena menanggapinya.
“ Jadi bantuan seperti apa yang kamu mau dariku?”
“ Na, aku sangat mencintai Akbar. Aku tidak bisa hidup tanpa Akbar. Aku mohon bantu aku, bantu aku mendapatkan cinta Akbar. Lepaskan dia untukku”
Dengan setengah mabuk, Mary meracau. Mungkin saja sebelum kedatangam Beena, ia sudah menenggak minuman beralkohol itu.
Mary terisak dan butiran cairan bening kini mengalir di pipinya.
Beena menggenggam tangan Mary, tak tega melihat temannya tersiksa dengan cinta yang tak berbalas.
“ Mar, kamu cantik , kamu baik dan akan ada laki-laki baik menantimu”.
Jawaban dari Beena hampir sama dengan Akbar ataupun papinya membuat Mary muak.
“ Tapi cuma Akbar yang baik untukku Na. Leave him for me please!” Mary beralih menggenggam tangan Beena memohon.
“ Mar, mas Akbar tentu sudah memberikan jawabannya padamu. Demikian pula dengan aku, maaf”.
“ Kamu masa lalu Akbar dan aku masa depannya” sanggah Mary dengan melepaskan kasar genggamannya
“ Mar, saat mas Akbar berjalan mencapai tujuannya sudah barang tentu dia transit dibeberapa tempat dan berjumpa dengan beberapa orang yang berbeda. Dan kamu salah satu orang yang mas Akbar temui di tempat transit itu. Tapi itu tidak merubah tujuan mas Akbar” terang Beena dengan lembut.
“ Tapi cuma aku yang bisa membuatnya bahagia, memuluskan jalan karirnya bukan kamu Na!”.
Teriak Mary sambil mengguncang bahu Beena.
Melihat Mary yang sudah begitu emosi, Beena dengan segera menyudahi perdebatannya. Percuma berpanjang lebar dengan orang yang sedang naik pitam dengan kesadaran rendah efek alkohol.
Beena mengangkat tangan kirinya, diliriknya jam. Waktu untuk bertemu dengan Nizar di sebuah kafe sudah telat setengah jam. Lalu ia berpamitan.
“ Maaf Mar, jika bantuan yang kamu maksud untuk melepas mas Akbar, aku tidak bisa. Kami sudah berjanji untuk selalu bersama dan persyaratan nikah dinas kami sudah diproses”.
Beena meninggalkan Mary.
Dengan penuh amarah dan kecewa Marry meluapkan kekesalannya.
“ Aaaaarrrrgggghhhh....”
teriak Mary sambil membanting pintu lalu keluar apartemen.
***
__ADS_1