
Setelah pertemuannya dengan Beena di apartemennya tidak berjalan mulus. Mary langsung membanting pintu apartemennya dan berjalan keluar menuju parkiran.
Arrrrghhhh...
Mary berteriak sekecang-kencangnya.
"sialan kamu Beena, liat aja. Akbar tidak akan aku lepasin dengan mudah"
Dengan kecepatan tinggi Mary melaju Land Rover ke rumahnya.
Tin...tin...
Bunyi klakson dengan berulang dan terdengar betapa tidak sabarnya si pengemudi menandakan minta dibuka dengan cepat.
Pak Darmin, satpam di rumah jendral Bram lari tergopoh-gopoh menuju pintu gerbang. Pria berusia 50 tahunan yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun bersama keluarga jendral Bram. Begitu gerbang, Mary langsung tancap gas hingga hampir saja tubuh pak Darmin tersermpet.
"Astagfirullah" Pak Darmin berteriak, sontak dengan teriakan ajudan pribadi yang sedang bertugas di rumah jenderal Bram berlari ke arah pak Darmin.
"Ada apa pak Darmin?" tanya serda Roby.
"Gak apa-apa mas, cuma kaget aja"
"Wah, kayaknya terjadi perang dunia ke tiga ini"
"Emang ada apa mas?"
" Itu, muka mbak Mery kayak baju belum disetrika" kata Roby sambil menunjuk ke arah Mary.
Mary langsung turun dari mobil dan membanting pintu mobilnya dengan kencang.
Braaak...
Mendengar suara pintu mobil di tutup, bu Rossa segera berjalan ke arah Mary. Ia disambut hangat oleh mami Rossa namun Mary bersikap sebaliknya, ia terlihat acuh tak acuh.
“ Hi sayang...” Rosa berniat memeluk Mary.
Dengan segera Mary menjauhkan tangan maminya dan langsung berlari menuju kamarnya.
Braakk....
Kali ini pintu kamarnya yang dibanting,
Bu Rossa tahu jika ini bukan hal yang baik tentang putrinya. Datang tiba-tiba lalu menolak pelukan seorang ibu. Ah, pasti telah terjadi sesuatu. Lalu mami Rossa mengetuk pintu.
Tok...tok...
“ Sayang, buka pintunya “
Tak ada jawaban dari penghuni kamar.
“ Kita bicarakan ini baik-baik nak” ucap Mami. Namun tetap sama, Mary tak tak bergeming. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Jangankan sahutan, bunyi nafas saja tak terdengar.
Pintu diketok lagi,
Bukannya Mary menjawab atau membukakan pintu malah hal lain yang terjadi.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pecahan barang-barang yang berada di dalam kamar.
Prang...prang...
Suara pecahan benda-benda dari dalam kamar semakin mendominasi.
"Sayang, buka pintunya dong. Mami perlu bicara" Bu Rossa masih berusaha membujuk Mary sambil menggerak-gerakkan gagang pintu.
Mendengar suara benda-benda pecah yang bisa saja melukai Mary membuat mami Rossa khawatir. Ditambah pintu terkunci dari dalam. Mami kebingungan harus berbuat apa.
"Bi, bibi...panggilkan pak Darmin kesini"
Dengan langkah setengah berlari Bi Sumi mendekat ke arah Bu Rossa.
" Iya bu, ada apa bu?"
__ADS_1
"Bi Sumi, tolong panggilkan pak Darmin. Sekarang, cepat!". Kali ini Bu Rossa menginstruksikan dengan nada lebih tegas.
"Baik bu, bibi ke depan dulu"
"Cepat"
Bi Sumi segera berlari menuju pos satpam.Dengan nafas tersengal-sengal bi Sumi meminta pak Darmin untuk segera menghadap Bu Rossa.
"Pak, Pak Darmin..." teriaknya.
"Ya bi Sumi"
"Nganu pak, nganu..."
"Apa bi Sumi?jangan bikin saya bingung"
"Ada apa ini bi Sumi?" tanya serda Roby .
"Nganu mas Roby, bu Rossa minta pak Darmin dan mas Roby segera ke dalam. Non Mary ngamuk-ngamuk, pintunya dikunci dari dalam"
"Ok, bi kita kesana"
Satpam, tukang kebun hingga ajudan berusaha mendobrak pintu, nyatanya itu tidak berhasil. Asisten rumah tangga pun tak menemukan duplikat kunci kamar nona muda-nya.
Tut...tut...
“ Ya , mi ada apa?”
“ Pi bisa pulang sekarang?, Mary pi...Mary”
“ Ada apa dengan Mary, mi?”
“ Dia mengunci diri pi, terdengar suara pecahan barang dari dalam kamar. Mami jadi takut pi. Kalau terjadi apa-apa dengan Mary”. Dengan nada penuh kekhawatiran Rossa menjelaskan sama suaminya.
“ Ya sudah papi pulang sekarang, pastikan tetap komunikasi dengan Mary”
Setelah mami Rossa menelpon Jenderal Bram, pintu kamar pun terbuka. Dengan kondisi yang kacau, kamar penuh pecahan beling. Mary keluar kamar.
“ Kenapa sayang? Cerita sama mami!”
Mary tak bergeming,
"Sayang, jangan begini dong" bujuk Bu Rossa sambil mengikuti langkah Mary meninggalkan kamar menuju ke luar rumah ke arah mobilnya terparkir.
"Mar, cerita sama mami. Mami akan --"
Belum selesai ucapan Bu Rossa, Mary sudah menutup pintu mobilnya.
Mary memilih diam dan meninggalkan maminya dengan mengendarai Land Rovernya.
"Ah, si papi kenapa lama gini sih" umpat bu Rossa dengan kesal.
Tak berselang lama mobil pak Bram muncul dari arah pintu gerbang.
Bu Rossa menyambut pak Bram, di ciumnya punggung tangan suaminya. Dan pak Bram membalas dengan mengecup kening istrinya.
"Gimana Mary mi?" tanya pak Bram sambil berjalan menuju kamar Mary.
"Papi telat, Mary sudah keburu pergi".
Pak Bram tetap melanjutkan ke dalam untuk melihat kondisi kamar Mary.
"Gak papa mi, biarkan Mary mencari obatnya sendiri. Mami tenang aja"
"Papi gimana sih, kondisi begini masih nyuruh mami untuk tenang"
Pak Bram dan bu Rossa kini berada di kamar Mary. Melihat rupa kamar dengan kondisi yang porak poranda, menandakan emosi Mary yang takbterkendali.
"Lihat ini pi!" Bu Rossa menunjuk beberapa pecahan beling yang sudah memenuhi 80 persen ruangan.
"Bi, bi Sumi tolong bersihkan kamar Mary" titah pak Bram.
__ADS_1
"Baik , pak" Bi Sumi segera masuk dan memebereskan ruangan yang seperti kapal pecah, di bantu pak Darmin.
Dua jam setelah Mary mengamuk di kamar, ia tak bisa di hubungi baik oleh maminya ataupun papinya. Ini membuat kedua orang tuanya khawatir. Mereka tidak tahu harus mencari Mary kemana.
“ Pi, gimana ini! Apa yang harus kita lakukan?”
“ Tenang mi, papi tahu harus bagaimana”.
Jenderal Bram, mengambil hp di sakunya lalu menghubungi seseorang.
Drrrttt...drrrrt...
“ Bar, maaf harus melibatkanmu. Tolong cari Mary”
“ Mohon izin, siap laksanakan ndan!”
“ Papi menghubungi siapa?”
“ Sudahlah mi, insyaallah Mary baik-baik saja.”
Setelah mendapatkan pesan dari Jendral Bram, Akbar tahu harus mencari Mary ke mana. Tempat yang sering dituju oleh Mary saat pikirannya kalut. Ya, sebuah club malam yang terletak di pusat kota.
Benar saja, Mary sedang asyik menenggak minuman beralkohol dan ditemani laki-laki yang memanfaatkan situasi. Alex, si playboy bar yang memang sedang menunggu momen-momen seperti ini.
"Habiskan gelasmu,lets dance the floor baby" bisik seorang pria bertubuh atletis.
Bak seperti terhipnotis, karena sudah menenggak banyak alkohol. Mary menuruti semua permintaan laki-laki hidung belang itu.
Dengan gerakan yang erotis dan penuh gairah, Mary menari. Ia membayangkan jika itu ia lakukan di depan Akbar.
Pinggangnya kini sudah diraba-raba, lalu laki-laki itu mencium tengkuknya. Dan Akbar dengan cepat menghentikan gerakan liar pria hidung belang.
"Hei, siapa kamu mengganggu kesenangan orang" ucap Alex dengan emosi.
Antara sadar dan tidak, Mary melihat sosok bodyguardnya.
"Hey, My bodyguard, my lovely..."
Tanpa membuang waktu, Akbar segera menghampiri Mary dan menariknya pulang.
Tiba - tiba Alex melayangkan pukulannya, namun bisa di hindari Akbar. Dan Alex terjerembap diantara kursi pengunjung.
"Sialan lu" Alex mengayunkan tangannya ke arah Akbar. Dan kali ini, Akbar menangkisnya lalu memelintir tangan Alex.
"Gue gak mau nyari perkara disini" ucap Akbar.
Lalu seoran bartender segera berbisik ke kuping Alex. Seperti mantra ajaib. Alex tidak melanjutkan, sangat kontras dengan karakter Alex, yang tidak dengan mudah melepas lawannya.
"Cewek itu anak jenderal dan itu ajudannya, lu jangan nyari gara-gara deh"
"Sialan lu, kenapa gak bilang dari tadi!"
Akbar segera menggendong Mary, merebahkannya di mobil Akbar. Sepanjang jalan Mary meracau seputar pertemuannya dengan Beena di apartemennya.
Tut...tut..
“ Gimana Bar?” dari seberang pak Bram. Menelpon
“ Mohon izin, Putri bapak sudah aman saya bawa ke apartemen”.
“ Ya, sudah. Terima kasih Bar”
“ Mohon izin, sama-sama ndan”
"Oh ya, kamu kirim lokasi mobil Mary, nanti biar supir yang ambil"
"Mohon izin, laksanakan ndan"
Jenderal Bram merasa lega mengetahui putrinya sudah di tempat yang aman. Akbar memang paling bisa diandalkan.
***
__ADS_1