Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Dimarahin ayah dan abah


__ADS_3

Di teras rumah khas Joglo yang cukup luas ayah Beena dan abahnya Nizar sudah menunggu. Mereka menikmati obrolan sampai selarut ini sambil menunggu kedatangan Beena .


“ Assalamu’alaikum” Beena dan Nizar mengucapkan secara bersamaan.


“ Alaikumussalam “ Jawab ayah Beena dan Nizar.


Dengan bergantian mereka menyalami keduanya.


“ Dari mana saja Zar, sampe jam segini baru pulang” tegur abah Zulfa.


“ Maaf bah, tadi kami nonton teater di Loji”.


Beena menunduk, menyesali idenya yang memaksa Nizar menonton seni teater yang dibawakan seniman Jogjakarta.


“ Jam berapa ini? Tidak baik bawa anak gadis hingga larut begini” sergah abah.


Melihat Nizar jadi sasaran kemarahan Om Zulfa, Beena semakin tidak hati.


“ Maaf om, tadi Beena yang meminta mas Nizar ke Loji dan menonton teatrikal dari seniman Jogja sampai selesai.”


“ Siapapun yang mengajak, tidak baik berduaan hingga larut malam gini” ayah Beena menyanggah.


Bukan Beena namanya, jika harus menyerah tanpa beralibi.


Ia berusaha untuk menyanggah tuduhan ayahnya jika mereka berdua saja di sana.


“ Kami tadi pergi rame-rame yah, Bang Bily dan teman kru yang lain juga bersama kami, ya kan mas”.


Beena meminta persetujuan Nizar, jika yang dikatakan ayahnya adalah keliru.


" Iya om, kami tadi pergi berlima"


“ Sudah...sudah, yang penting mereka sudah sampai di rumah dengan selamat” Ummu Farida muncul dari dalam rumah memotong perdebatan mereka.


Ummu Farida lalu mendekati Beena dan menggandengnya.


“ Ayo nduk masuk, istirahat.


Kamu pasti capek”


"Iya te, terima kasih"


Beena berjalan ke dalam rumah sambil sesekali menoleh ke arah belakang memastikan jika Nizar baik-baik saja.


Beena pun masuk ke dalam kamar setelah membersihkan badan dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Ia melaksanakan shalat Sunnah dua rakaat, mengucapkan segala hajatnya.


Segala kebaikan untuknya, untuk keluarganya, untuk keluar Nizar dan tak lupa untuk kebaikan orang yang jauh di matanya namun selalu terpatri indah di hatinya, Akbar.


Beena melepas mukena dan menyimpannya di atas nakas. Lalu ia mengambil handphone dan menyeting alarm agar besok pagi ia jangan sampai terlambat berkumpul di tempat yang sudah ditentukan oleh bang Bily.


Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur tanpa memperdulikan apa yang terjadi di luar sana, sedang membahas apa mereka sehingga masih terdengar suara-suara tegas ayah dan om Zulfa.

__ADS_1


Tok...


Tok...


Ibu masuk ke kamar Beena,


“ Na, sudah tidur?”


“ Belum Bu, baru mau tidur ” Beena bangun dan langsung duduk bersandar di kepala ranjang ukir kayu.


Beena bersiap menjawab pertanyaan apapun dari ibunya.


“ Habis dari mana kok jam segini baru pulang?”


“ Hm...anu bu, tadi setelah selesai liputan. Beena sama teman-teman ke Malioboro. Terus jalan-jalan menikmati gedung Belanda. Eh ada pertunjukan teater. Beena keasikan nonton.”


"Kenapa tadi gak ngabarin ayahmu?"


"Maaf Bu, Beena lupa"


"Kamu itu kebiasaan, jika sudah asyik dengan pekerjaan sering lupa kasih kabar"


"Iya maaf Bu. Bu, apa mas Nizar dimarahin ayah?"


"Ayah tidak bermaksud memarahi Nizar. Cuma menasihati, pulang larut malam dengan anak perempuan itu tidak baik"


" Iya Bu" Beena hanya bis menundukkan kepalanya.


mengizinkanmu tinggal di Jakarta sendiri tanpa ada keluarga. Ayah takut jika kamu terperosok kehidupan bebas ala barat".


"Insyaallah tidak Bu, bekal pendidikan agama yang ibu dan ayah berikan akan membentengi Beena sepanjang masa".


"Itu dari dalam, tidak cukup hanya itu Na lingkungan luar sangat berpengaruh."


"Doa ibu dan ayah yang selalu melindungi Beena,Bu. Alhamdulillah di Jakarta, Beena memiliki teman dengan lingkungan yang baik semua"


"Alhamdulillah"


Beena menjelaskan berharap ibunya mau mengerti keadaan. Lagi pula pulang larut bukan hal yang baru bagi Beena. Selama jadi reporter lapangan ia tak jarang pulang dini hari. Apalagi jika ada pemberitaan yang sifatnya urgen atau live memaksa, ia kadang tidur di kantor.


“ Ya sudah, istiratlah. Oh ya besok pagi ayah dan ibu balik ke Semarang”


“ Lho, katanya mau dua minggu disini. Ini kan baru sepuluh hari bu”


“ Ayahmu sudah kangen sama Hassan Husein”.


"Oh ya Beena nitip sesuatu buat Hassan dan Husein ya Bu"


Beena beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil kaos Jogja dan miniatur becak yang sudah dibelinya untuk kedua keponakannya itu.


"Tolong kasih ini buat mereka ya Bu, maaf setelah dari Jogja kayaknya Beena langsung ke Jakarta".


"Gak mampir ke rumah dulu Na?"

__ADS_1


"Ga Bu, mungkin tahun baru Beena ambil cuti."


"Oh ya sudah, nanti ibu sampaikan sama si Kembar. Mereka pasti senang."


“ Terima kasih ya bu. Oh, ya Beena istirahat dulu bu. Besok Beena berangkat pagi-pagi”


Ibu keluar kamar bergabung dengan ayah dan om Zul di teras.


Nampak mereka masih berbicara serius dengan Nizar.


“ Sekali lagi maafin Nizar bah, om Hadi” Nizar terlihat menyesali sikap tidak tegasnya kepada Beena.


“ Ya, om mengerti. Kamu pasti sulit menolak kemauan perempuan yang kamu sayangi. Bukan begitu bu?” Ayah melirik pada ibu.


“ Lho...lho kok jadi bawa-bawa ibu” Bu Halimah tak terima baru bergabung langsung disebut-sebut namanya.


“ Kamu suka sama Beena, Zar?” tanya ummu Farida.


Nizar tak menjawab. Namun diamnya cukup jelas jawaban apa yang ada pada Nizar.


Pak Hadi merangkul Nizar dan meneouk-nepuk bahunya.


“ Besar harapan om, jika kamu bisa menjadi pendamping Beena”. Ujar pak Hadi.


“ Insyallah om, kita serahkan semuanya pada takdir Allah. Saya hanya bisa berikhtiar saja”


Mendengar jawaban Nizar membuat pak Hadi senang, setidaknya saat besok mereka meninggalkan Jogja ada Nizar yang bisa mereka andalkan selama empat hari kedepan.


“Oh ya Zar, besok kami balik ke Semarang. Nitip Beena ya“


“ Insyallah om”


“ Jangan panggil om lah, panggil ayah. Kayak sama siapa aja, ya kan Zul ?“ ayah melirik pada sahabatnya.


"Iya om, eh yah..."


" Nah, gitu dong. Kan enak di dengarnya ya Bu?"


Ibu mengangguk dan tersenyum bahagia. Kini tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mereka menikahkan anak ragilnya.


“ Kalau Nizar saja manggil kalian ayah dan ibu, biar adil Beena juga harus manggil kami abah sama ummi. Impas kan?” pak Zulfa tak mau kalah.


" Ah, itu perkara mudah. Beena pasti senang memanggil kalian Abah dan ummi. Lagian Beena itu sudah sejak kecil ngekor sama Nizar."


“ Ngapunten Abah, ayah, Nizar permisi mau istirahat dulu besok ada jadwal operasi pagi-pagi”.


"Iya nak, lagi pula besok kamu mau nganter Beena juga kan?" tanya ibu.


"Nggeh Bu"


Nizar berlalu meninggalkan empat orang yang sedang asyik membahas dunia perbesanan.


***

__ADS_1


__ADS_2